Jumat, 06 Juli 2012

Perkembangan Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia/ Development of the Hindu-Buddhist kingdom in Indonesia FOR CLASIS XI IPS SEMESTER 1 HOSTORY


Perkembangan Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia

(Sumber: Nur, Ali. Modul bahan ajar Sejarah kelas XI Semester Gasar. Ponorogo: MGMP  Sejarah.)

A)     Aspek-aspek kehidupan Kerajaan-kerajaan Indonesia yang berbudaya Hindu-Budha


                    I.            Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai terletak di daerah Muarakaman, Kalimantan Timur atau tepi Sungai Mahakam. Sumber sejarahnya berupa tujuh buah prasasti yang disebut Yupa, yaitu tiang batu atau menhir yang digunakan untuk mengikat korban yang dipersembahkan. Bahasa yang digunakan adalah Sansekerta dan huruf Pallawa. Dalam prasasti-prasasti tersebut secara garis besar dijelaskan bahwa: “Sang Maharaja Kudungga yang amat mulia mempunyai putra yang mashur bernama Aswawarman. Aswawarman mempunyai 3 orang putra seperti api, yang terkemuka di antara tiga putranya adalah Sang Mulawarman, raja yang besar yang berbudi baik dan kuasa yang telah mengadakan upacara korban di tempat suci Vaprakeswara (tempat suci untuk menghormati dewa Siwa). Dalam upacara korban tersebut, Mulawarman juga memberikan hadiah 20,000 ekor sapi kepada golongan Brahmana.


                  II.            Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Tarumanegara didirikan oleh Raja Purnawarman dan terletak di Jawa Barat. Sumber sejarahnya 7 buah prasasti yang berbahasa Sansekerta dan menggunakan huruf Pallawa. Dari ketujuh prasastinya, diketahui di Bogor (Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Jambu, Prasasti Pasir Awi dan Prasasti Muara Cianten), sebuah lagi dditemukan di Tugu, Jakarta (Prasasti Tugu), dan sebuah lagi di Lebak, Banten Selatan (Prasasti Lebak). Adapun prasasti tersebut adalah:

a)      Prasasti Ciaruteun, yang berbunyi: “ Ini bekas dua kaki, yang seperti kaki Dewa Wisnu, ialah kaki yang Mulia Purnawarman, raja di negeri Taruma”.


b)      Prasasti Kebon Kopi, yang berbunyi: “Di sini Nampak sepasang kaki yang seperti Airawata (Gajah kendaraan Dewa Wisnu), gajah penguasa Taruma”. Berada di Kecamatan Cibubungbulang.


c)       Prasasti Jambu, yang berbunyi: “Raja Purnawarman memerintah Taruma”. Berada di bukit Kolengangkat.


d)      Prasasti Tugu, berbunyi: “Penggalian di sungai Gomati sepanjang 6,112 tumbak (11 kilometer) yang dilakukan tahun ke-22 pemerintah Raja Purnawarman. Setelah selesai raja Purnawarman memberikan hadiah 1,000 ekor sapi kepada golongan Brahmana”. Selain itu, juga disebutkan adanya penggalian di Sungai Chandrabaca (Sungai Bekasi sekarang). Berada di Cilancang, Jakarta.


e)      Prasasti Lebak, yang berisi: “Inilah tanda keagungan yang mulia Purnawarman.


f)       Prasasti Pasir Awi dan Muara Cianten (belum bisa di baca sampai sekarang).

Selain sumber-sumber dalam negeri yang berupa prasasti, juga terdapat sumber-sumber luar negeri terutama dari Cina, di antaranya adalah:

a)      Kronik Dinasti Tang yang memberitakan bahwa:


         i.            Kerajaan Ho-lo-an (Aruteun) di She-po (Jawa) telah mengirimkan utusannya ke Cina pada tahun 430, 437, dan 452 Masehi.

       ii.            Kerajaan To-lo-mo (Taruma) mengirimkan utusannya ke Cina pada tahun 528, 535, 630, dan 69 Masehi.

Istilah Aruteun (Ho-lo-an) merupakan nama asli dari kerajaan Tarumanegara, kemudian akhir abad ke-5 Masehi dirubah menjadi Taruma (To-lo-mo) setelah mendapat pengaruh budaya India.


b)      Berita pendeta Fa Hien yang datang ke Tarumanegara pada tahun 414 Masehi bahwa masyarakat di kerajaan Taruma memeluk 3 agama, yakni: paling banyak beragama Hindu, sedikit yang beragama Budha dan ada lagi yang beragama kurang baik (kepercayaan asli animism dan dinamisme).

                III.            Kerajaan Sriwi jaya

a)      Kehidupan Politik

Kerajaan Sriwijaya didirikan Raja Dapunta Hyang Sri Jayanaga pada abad ke-7 Masehi, ibu kotanya mula-mula terletak di Muara Takus, kemudian dipindahkan ke Palembang. Pada masa pemerintahan Raja Balaputra Dewa (856 Masehi), kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya. Ia mengadakan hubungan persahabatan dengan Raja Dewapala Dewa dari Kerajaan Benggala (India Selatan). Selain itu, dalam prasasti Nalanda juga disebutkan Balaputra Dewa adalah putera dari Samaragravira (Samaratungga) dari Dinasti Syailendra di Pulau Jawa, sedangkan ibunya bernama “Tara” puteri dari Raja Dharmasetu dari Sriwijaya. Oleh karena itu Balaputra Dewa selalu menekankan kepada keturunannya untuk merebut kembali daerah kekuasaan di Jawa. Terbukti pada tahun 1016 Kerajaan Sriwijaya yang bekerjasama dengan Kerajaan Wurawari menyerang kerajaan Jawa yang dipimpin Raja Dharmawangsa yang nantinya mengakibatkan terjadinya “Pralaya”.

Pada abad ke-10 Kerajaan Sriwijaya mulai mengalami kemunduran dan akhirnya runtuh, hal ini disebabkan oleh:

         i.            Semakin lemahnya pertahanan Sriwijaya terhadap wilayah kekuasaannya, sehingga banyak daerah-daerah yang melepaskan diri.


       ii.            Serangan kerajaan Cola oleh Raja Rajendracoladewa tahun 1023 dan 1030 dan Raja Sriwijaya Sangrama Wijayatunggawarman dapat ditawan.


      iii.            Serangan Kertanegara dari Singasari dengan melaksanakan ekspedisi Pamalayu tahun 1275 dan berhasil menguasai Melayu dari tangan Sriwijaya.


     iv.            Serangan Raja Kamheng dari kerajaan Thai tahun 1292 dan berhasil menguasai Ligor dan daerah-daerah lainnya di Semenanjung Malaka.


       v.            Serangan Kerajaan Majapahit pada tahun 1477 yang mengakibatkan kerajaan Sriwijaya runtuh buat selama-lamanya.

b)      Kehidupan ekonomi. Sriwijaya yang terletaknya strategis yaitu di tengah-tengah jalur pelayaran dan perdagangan antara India dan Cina serta berdekatan dengan Selat Malaka, maka aktifitas perekonomian masyarakat tergantung pada pelayaran dan perdagangan. Bahkan Sriwijaya berhasil menguasai Selat Malaka yang nantinya sebagai pusat pelayaran dan perdagangan di wiliayah Asia Tenggara.


c)       Kehidupan social. Pada masa pemerintahan Balaputra Dewa, pendidikan berkembang pesat seperti diberitakan dalam prasasti Nalanda, bahwa pelajar Sriwijaya yang belajar agama Budha di Universitas Nalanda di India. Dalam perkembangan selanjutnya, Sriwijaya tampil sebagai pusat study agama Budha di Asia Tenggara. Terbukti: pertama, menurut Itsing (China) terdapat 1,000 pendeta Budha yang belajar agama Budha di Sriwijaya; kedua, Sriwijaya memiliki guru besar seperti Dharmapala, Syakyakirti, dan Dharmakirti; Ketiga, banyak pendeta luar negeri yang belajar agama Budha di Sriwijaya, seperti Itsing (China), Atisa (Tibet), dan lain-lain.


d)      Kehidupan Budaya. Dalam bidang budaya, tidak banyak peninggalan Sriwijaya yang sampai kepada kita. Peninggalan budaya yang paling banyak hanya berupa arca-araca Budha yang sekarang di simpan di Museum Rumah Bari di Palembang, Sumatera Selatan dan Candi Muara Takus.


                IV.            Kerajaan Mataram

a)      Kehidupan Politik. Di Jawa Tengah terdapat dua dinasti yang sama-sama mengaku dirinya sebagai Kerajaan Mataram, yaitu Dinasti Sanjaya yang didirikan tahun 732 Masehi oleh Raja Sanjaya (Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya) dengan ibu kotanya Medang ri Pohpitu dan beragama Hindu. Dinasti Syailendra didirikan oleh Raja Bhanu (Danupunta Syailendra) tahun 778 Masehi, ibukotanya diperkirakan terletak di Kedu Selatan, dan beragama Budha. Kedua dinasti nantinya disatukan melalui perkawinan politik antara Raja Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya dengan Pramodhawardani dari Dinasti Syailendra. Kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Raja Balitung (898-910). Ia menguasai daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam memerintah, ia dibantu oleh tiga orang Mahamantri, yaitu Mahamantri I hino, Mahamantri I halu, dan Mahamantri I sirikan. Sepeninggalan Balitung, kerajaan Mataram mengalami kemunduran. Pada masa pemerintahan Raja Rakai Pangkaja Dyah Wawa (924-929) terjadi bencana alam yang memporakporandakan Jawa Tengah, sehingga Mataram di pindahkan ke Jawa Timur oleh Mpu Sendok.


b)      Kehidupan Ekonomi. kehidupan ekonominya bertumpu pada pertanian. Perdagangan mulai mendapat perhatian mulai mendapat perhatian pada masa Balitung, yaitu dengan mendirikan pusat-pusat perdagangan di sekitar Bengawan Solo. Untuk memperlancar lalu linas perdagangan, desa-desa di sekitar Bengawan Solo dibebaskan dari pajak.


c)       Kehidupan Sosial. Kehidpuan social yang menonjol dari kerajaan Mataram adalah adanya hubungan akrab antara kalangan keratin dengan rakyat biasa di pedesaan. Masalah keamanan desa menjadi perhatian utama dari pemerintahan Mataram. Berbagai peraturan dikeluarkan guna menjaga keamanan desa yang harus dipatuhi semua orang, termasuk pegawai-pegawai kerajaan.


d)      Kehidupan Budaya. Peninggalan Dinasti Sanjaya yang terpenting adalah: Candi Dieng dan Candi Gedong Songgo yang dibangun Raja Sanjaya. Candi Prambanan yang didirikan Rakai Pikatan. Candi lainnya adalah candi Sambisari, candi Ratu Baka. Sedangkan peninggalan Dinasti Syailendra adalah: candi Borobudur yang dibangun Raja Samaratungga. Pada masa Pramodhawardani didirikan candi-candi Budha yang lain, seperti candi Mendut, candi Sewu, candi Plaosan, candi Sari, candi Sajiwan, dan Candi Lumbung.


                  V.            Dinasti Isyana dan Kerajaan Kediri

a)      Kehidupan Politik. Dinasti Isyana di Jawa Timur merupakan kelanjutan dari Kerajaan Mataram di Jawa Tengah. Pendirinya adalah Mpu Sendok (929-947) dengan gelar Mpu Sendok Sri Isyanatunggawijaya, dengan ibukotanya Watugaluh. Pada masa pemerintahannya terjadi serangan Sriwijaya tahun 939 tetapi berhasil dipatahkan. Serangan balasan Dinasti Isyana terhadap Sriwijaya dilakukan pada tahun 1003 pada masa Dharmawangsa Teguh (992-1016) dan berhasil menguasai selat Malaka. Penguasaan tersebut hanya berlangsung beberapa tahun, sebab tahun 1016 terjadi “Peristiwa Pralaya” (Kehancuran), yaitu peristiwa serangan mendadak terhadap Dinasti Isyana yang dilakukan oleh raja Haji Wurawari atas perintah Kerajaan Sriwijaya. Peristiwa tersebut terjadi pada waktu diadakannya pesta perkawinan antara puteri Dharmawangsa dengan Airlangga dari Bali. Dalam peristiwa tersebut seluruh anggota keluarga Dharmawangsa gugur kecuali Airlangga. Selang tiga tahun, Airlangga berhasil naik tahta (1019-1042) dengan ibukotanya Wutan Mas. Ia berusaha mempersatukan kembali bekas kerajaan yang terpecah belah. Pada masa pemerintahannya, dinasti Isyana mencapai puncak kebesarannya, pada tahun 1037 ia memindahkan pusat pemerintahannya ke Kahuripan. Pada waktu Airlangga turun tahta, penggantinya Puteri mahkota bernama Sri Sangramawijaya tidak bersedia menjadi raja dan lebih suka menjadi pertapa. Akibatnya pada tahun 1042, Kerajaan dibagi 2 oleh Mpu Barada, yakni: Kerajaan Jenggala dengan ibukotanya Kahuripan dan rajanya bernama Jayanengrana (Sri Garasakan) dan kerajaan Kediri dengan ibukotanya Daha, rajanya bernama Jayawarsa (Sri Samarawijaya). Kedua kerajaan tersebut nantinya berhasil disatukan kembali oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Kediri.


b)      Kehidupan Politik. Kehidupan ekonomi Kediri tergantung pada pertanian. Pada masa Airlangga dibuatlah bendungan untuk mengendalikan Sungai Brantas di daerah Waringin Pitu. Sedangkan perdagangan juga berkembang dengan pesat. Pelabuhan Hujung Galuh (Surabaya) menjadi pusat pelayaran dan perdagangan dari Kerajaan Kediri.


c)       Kehidupan Sosial. Kehidupan social masyarakat Kerajaan Kediri dapat diketahui dari berita Kronik Cina sebagai berikut: Pertama, Rakyat Kediri pada umumnya memiliki tempat tinggal yang baik; kedua, hukuman yang dilaksanakan ada 2 macam: hukuman denda dan hukuman mati (khusus pencuri dan perampok); Ketiga, pakaian rakyat cukup baik; Keempat, kalau sakit rakyat tidak mencari obat tetapi cukup memuja dewa; Kelima, Kalau raja bepergian dikawal pasukan berkuda dan pasukan darat.


d)      Kehidupan budaya. Peninggalan kebudayaan yang paling menonjol adalah kitab-kitab sastra. Pada masa Mpu Sendok terdapat kitab agama Budha Tantrayana yang berjudul Sanghyang Kamahayanikan karya Sambhara Suryawarana meskipun Mpu Sendok sendiri memeluk agama Hindu (Siwa). Pada masa Airlangga, terdapat kitab Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa. Pada masa Raja Kameswara, terdapat kitab Smaradhana karya Mpu Dharmaja. Sedangkan pada masa Raja Jayabaya terdapat kitab Bharatayudha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, dan kitab Hariwangsa serta Gatotkacasraya karya Mpu Panuluh. Sedangkan kitab sastra yang lain adalah kitab Lubdaka dan Wertasancaya akrya Mpu Tan Akung. Dalam bidang seni pahat, salah satu peninggalan Raja Airlangga adalah Candi Belahan (Malang), sedang arca perwujudannya adalah Wsnu menaiki burung garuda.


                VI.            Kerajaan Bali (Dinasti Warmadewa)

a)      Kehidupan Politik. Kerajaan Bali (Dinasti Warmadewa) didirikan oleh Sri Kesariwarmadewa (913-915), dengan ibukotanya Singhadwala. Pada masa pemerintahan Dharmo Udayana (986-1022) Kerajaan Bali memiliki hubungan erat denga Kerajaan Jawa. Permaisurinya yang bernama Gunapriya Dharmapatni adalah keturunan Mpu Sendok. Pada masa pemerintahan Raja anak Wungsu Kerajaan Bali mencapai puncak kerajaannya. Dalam pemerintahan Raja anak Wungsu Kerajaan Bali mencapai puncak kerajaannya. Dalam memerintah ia dibantu oleh Badan Penasehat yang terdiri dari Senapti, Pendeta Hindu dan Pendeta Budha. Pada tahun 1343 Kerajaan Bali runtuh setelah raja terakhir Sri Astasuraratna Bhumi Banten Astasuratna yang dikenal juga dengan nama Raja Bedahulu dikalahkan Majapahit. Sejak itu Kerajaan Bali diperintah oleh raja-raja keturunan Majapahit.


b)      Kehidupan Ekonomi. kehidupan ekonominya berkembang pesat pada masa Raja anak Wungsu. Mereka hidup dari pertanian dan peternakan. Berburu mendapat tempat yang utama dengan adanya pejabat yang menangani masalah berburu yang disebut “Nayakan Buru” dan pejabat yang menangani kuda yang disebut “Senapati Asba Samgat Asba”. Perdagangan juga mengalami kemajuan pesat. Saudagar laki-laki disebut “Wanigrama” dan saudagar wanita disebut “Wanigrami”.


c)       Kehidupan Sosial. Pengaruh agama Hindu sangat kuat di Bali sampai sekarang. Terbukti mereka mengenal sistem kasta yang disebut Tri Wangsa (Brahmana, Ksatria, Waisya) dan Jaba (Sudra). Pada masa Raja Anak Wungsu terdapat golongan pekerja khusus yang disebut pande (pande besi, pande emas, pande tembaga, dan lain-lain).


d)      Kehidupan Budaya. Pada masa Raja Jayasakti terdapat kitab Undang-undang yang disebut Uttara Widdi Balawan dan Raja Wacana atau Rajaniti. Kitab ini juga dipakai pada masa Ratu Sakalendukirana. Pada masa Raja Jayapangus terdapat kitab Undang-undang yang disebut Manakawakamandaka. Selain itu Raja Jayapangus juga menciptakan upacara agama baru yang disebut “Hari Raya Galungan”. Dalam bidang seni pahat diketemukan arca perwujudan dari Gunapriyadharmapatni. Peninggalan yang lain berupa Candi Air Madatu, Goa gajah, Candi Gunung Kawi, Pemandian Tirta Empul, dan lain-lainnya.


              VII.            Kerajaan Sunda

a)      Kehidupan Politik. Dalam prasasti Sanghyang Tapak (1030) dijelaskan bahwa Raja Jayabhupati berkuasa di Kerajaan Parahyangan Sunda. Ibukotanya berada di Pakwan Pajajaran, tetapi kemudian dipindahkan ke Kawali. Kerajaan Sunda mencapai puncak kebesarannya pada masa Raja Baduga Maharaja (1350-1357) yang bertahta di Pakwan Pajajaran. Pada masa pemerintahannya terjadi peristiwa “Pasundan Bubat” tahun 1357, yaitu pertempuran antara Kerajaan Sunda dengan Majapahit di Bubat. Dalam pertempuran tersebut seluruh tentara Sunda gugur termasuk Sri Baduga Maharaja. Sedangkan raja-raja penggantinya umumnya hidup berfoya-foya sampai akhirnya Raja Sunda terakhir yaitu Nusiya Mulya pada tahun 1579 ditaklukan oleh Kerajaan Islam Banten yang dipimpin oleh Maulana Yusuf.


b)      Kehidupan Ekonomi. Pada umumnya masyarakat Sunda hidup dari pertanian terutama perladangan. Perdagangan juga berkembang dengan pesat. Kerajaan Sunda memiliki 6 pelabuhan penting yang masing-masing dikepalai oleh seorang Syahbandar yang bertanggung jawab langsung kepala raja. Pelabuhan tersebut adalah: Banten, Pontang, Cegede, Tamgara, Kapala (Sunda Kalapa) dan Cimanuk.


c)       Kehidupan Sosial. Kehidupan social Kerajaan Sunda sudah bersifat heterogen. Masyarakat terdiri dari beberapa golongan, diantaranya pemain gamelan, pemain wayang, penari, badut, petani, dan lain-lain. Ada juga golongan masyarakat yang dianggap jahat, misalnya tukang copet, perampok, maling, dan lain-lain.


d)      Kehidupan Budaya. Kerajaan Sunda dipengaruhi oleh agama Hindu (Wisnu). Hal ini dibuktikan dengan dikemukakannya arca-arca di Cibuaya dan arca Rajarsi. Di samping itu, juga terdapat kitab-kitab sastra seperti Cerita Parahyangan dan Sanghyang Siskanda.


            VIII.            Kerajaan Singasari


a)      Kehidupan Politik. Kehidupan Singasari didirikan oleh Ken Arok (1222-1227) setelah mengalahkan Akuwu Tunggul Ametung dan Kertajaya dari Kediri. Ken Arok mendirikan Dinasti baru yang disebut Dinasti Rajasa (Girindra). Ibukotanya bernama Kutaraja, pada masa Kertanegara namanya dirubah menjadi Singasarigan. Sepeninggalannya Ken Arok, secara berturut-turut Singasari diperintah oleh: Anusapati (1227-1248), Tohjaya (1248), Ranggawuni (1248-1268) yang memerintah bersama Mahisa Cempaka sebagai Ratu Angabhaya. Pada masa pemerintahan Kertanegara (1268-1292) Kerajaan Singasari, mencapai puncak kebesarannya. Ia bercita-cita untuk menyatukan nusantara. Dalam rangka melaksanakan cita-citanya, ia mengirimkan ekspedisi Pamalayu tahun 1275 dalam rangka melemahkan Sriwijaya dan berhasil menguasai Melayu. Sedangkan dalam rangka membendung serangan Mongol (Raja Kubilaikhan) ia mengawinkan adiknya bernama Tapasi dengan Raja Campa yang bernama Singhawarman III. Namun sebelum cita-citanya berhasil, ia diserang secara mendadak oleh bawahannya bernama Jayakatwang dari Kediri. Akibatnya Kerajaan Singasari runtuh, sedangkan menantunya yang bernama Raden Wijaya melarikan diri ke Madura meminta perlindungan pada Arya Wiraraja di Sumenep.


b)      Kehidupan ekonomi masyarakat Singasari tergantung pada pertanian. Kegiatan perdagangan mulai mendapat perhatian yang serius pada masa Raja Kertanegara. Pengiriman ekspedisi Pamalayu untuk menguasai jalur perdagangan melakukan aktivitasnya di wilayah SIngasari.


c)       Kehidupan Sosial. Kehidupan social masyarakat Singasari mulai mendapat perhatian yang baik pada masa Raja Ranggawuni yang bergelar Wisnu Wardhana. Keadaan ini semakin stabil pada masa pemerintahan Kertanegara.


d)      Kehidupan Budaya. Peninggalan kebudayaan Singasari kebanyakan candid an arca. Seperti Candi Singasari, Candi Kidal, candi jago. Pada masa ini, unsur-unsur budaya asli Indonesia muncul kembali. Hal ini bisa kita lihat pada bentuk Candi Jago yang tidak lain menyerupai punden berundak-undak. Sedangkan arca-arca yang diketemukan adalah: Arca Ken Dedes sebagai Dewi Prajnaparamita lambang kesempurnaan ilmu, dan patung Kertanegara sebagai Joko Dolok (Aksobhya) di Taman Simpang, Surabaya dan sebagai Amonghapasa yang sekarang disimpan di Musium Nasional, Jakarta. Perwujudan patung Kertanegara tersebut memberikan bukti bahwa Kertanegara memeluk agama Budha aliran Tatrayana (Tantrisme).


                IX.            Kerajaan Majapahit

a)      Kehidupan Politik. Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya dengan bergelar Kertanegara Jayawardhana (1293-1309) setelah atas bantuan Arya Wiraraja (Bupati Sumenep) berhasil megalahkan Jayakatwang dari Kediri dan tentara Cina. Ibukotanya mula-mula berada di Tarik (Sidoarjo, Jawa Timur) kemudian dipindahkan ke Trowulan (Mojokerto, Jawa Timur). Penggantunya adala Raja Jayanegara (1390-1328) yang merupakan raja yang lemah dan kurang bijaksana, sehingga terjadi pemberontakan-pemberontakan seperti: Pemberontakan Ranggawale (1309), Gajah Biru (1313), Nambi (1318), Lembu Sora (1319), dan pemberontakan Kuti (1319). Pada masa pemberontakan Kuti, Raja Jayanegara melarikan diri ke Bedander, namun akhirnya pemberontakan ini dapat dipadamkan dengan pasukan Bhayangkara pimpinan Gajah Mada. Pada masa pemerintahan Raja Tribhuana Tunggadewi (1328-1350), terjadi lagi pemberontakan dipimpin Sadeng dan pemberontakan Ceta tahun 133. Namun pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan oleh Gajah Mada, dan atas jasanya beliau nantinya diangkat sebagai Mahapatih Majapahit. Kemudian pada tahun 1333 Gaja Mada Mahapatih Majapahit. Pada tahun 1333 Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa dalam rangka mempersatukan seluruh Nusantara di bawah panji-panji Majapahit. Setelah Hayam Wuruk naik tahta (1350-1389) yang bergelar Sri Rajasanegara dengan dibantu Mahapatih Gajah Mada, kerajaan Majapahit mencapai puncak kebesarannya. Seluruh nusantara termasuk Malaysia, Singapore, dan Brunai berhasil disatukan. Sepeninggalan Maha Patih Gajah Mada (1364) dan Raja Hayam Wuruk (1389), Kerajaan Majapahit mulai mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan oleh: Pertama, tidak ada tokoh-tokoh yang cakap sepeninggalannya Hayam Wuruk dan Gajah Mada; Kedua, terjadi perang saudara (paregreg) antara Majapahit Barat dan Majapahit Timur; Ketiga, struktur pemerintahan Majapahit mirip pemerintahan Serikat yang memudahkan daerah-daerah bawahan melepaskan diri; Keempat, banyak bupati-bupati pesisir yang memeluk agama Islam, sehingga tidak suka lagi mengabdi ke Majapahit yang beragama Hindu.

Terdapat dua pendapat tentang keruntuhan Majapahit: pertama, 1478, yaitu di waktu Raja Majapahit Bre Kertabumi dikalahkan Girindrawardhana dari Kediri; Kedua, 1517, yaitu di waktu Raja Majapahit Prabu Udara diserang Kerajaan Demak dipimpin Raden Patah.

Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Budha yang terbesar di India dan memiliki struktur pemerintahan sebagai berikut:

         i.            Pemerintahan Pusat. Pemerintahan Pusat dipimpin oleh seorang Raja yang bergelar Sri Paduka Maharaja dan di bantu oleh pejabat-pejabat sebagai berikut:

a.       Bhattara Sapta Prabhu (Dewan Kerajaan): beranggotakan 7 atau 9 orang dari keluarga raja dan tugas: menugurusi kepentingan keluarga raja, mengurusi pergantian Putra Mahkota dan memberikan nasehat kepada raja mengenai jalannya pemerintahan.


b.      Yuwaraja atau Kumararaja: dijabat oleh Putera Mahkota yang berfungsi sebagai Raja Muda yang dipersiapkan untuk menggantikan raja.


c.       Rakryan Mahamantri Kantrini: biasanya dijabat oleh keluarga raja atau orang-orang dekat raja yang beranggotakan tiga pejabat tinggi (Rakyan Mahamantri I hini, Rakryan Mahamantri I halu dan Rakryan Mahamantri I sirikan). Tugasnya menerima perintah langsung dari raja dan kemudian meneruskan kepada pejabat di bawahnya.


d.      Rakryan Mantri ri Pakiran-kiran: merupakan dewan mentri yang bertugas sebagai pelaksana pemerintahan. Badan ini beranggotakan lima orang yang disebut Sang PANCA ING Wilwatikta dan Menteri Amanca Negara yaitu sebagai berikut:

Ø  Rakryan Mahapatih atau Patih Hamangkubhumi yang berkedudukan sebagai Perdana Menteri atau Mantri Mukya. Tugasnya sebagai pemimpin badan pekansana pemerintahan.


Ø  Rakryan Tumenggung yang bertugas sebagai panglima kerajaan.


Ø  Rakryan Demung yang bertugas sebagai pengatur rumah tangga kerajaan.


Ø  Rakryan Kanuruhan yang bertugas sebagai penghubung pejabat-pejabat di tingkat bawah dan tugas-tugas protokoler kerajaan.


Ø  Rakryan Rangga yang bertugas sebagai pembantu panglima kerajaan.


e.      Dharmadyaksa: merupakan pejabat tinggi yang mengurusi masalah keagamaan dan beranggotakan dua orang pejabat, yaitu Dharmadyaksa ring Kasaiwan yang bertugas mengurusi agama Hindu dan Dharmadyaksa ring Kasagotan yang bertugas mengurusi agama Budha. Dalam menjalankan tugasnya, dua orang pejabat tersebut dibantu oleh sejumlah pejabat keagamaan yang disebut Dharma Upapatti.


       ii.            Pemerintahan Daerah. Pemerintahan daerah merupakan daerah atau Negara bagian yang bersifat otonom yang dipimpin oleh Paduka Bhattara atau Bhre. Setiap pemerintahan daerah dibagi menjadi beberapa Wadana yang dipimpin oleh seorang Wedana. Setiap daerah Wadana dibagi menjadi beberapa Pakuwon (gabungan dari beberapa desa) yang dipimpin oleh seorang Akuwu. Sedangkan setiap desa dipimpin oleh seorang Buyut.


b)      Kehidupan Ekonomi. kehidupan ekonomi Kerajaan Majapahit lebih mengutamakan perdagangan di samping juga pertanian. Beberapa kota pelabuhan yang penting di Majapahit pada saat itu antara lain: Canggu, Surabaya, Gresik, Sidhayu, Tuban dan Pasuruhan. Dengan didukung oleh hasil kekayaan alamnya yang melimpah, Kerajaan Majapahit tampil sebagai produsen dalam perdagangan dan sekaligus perantara, yaitu membawa hasil-hasil bumi dari daerah-daerah satu ke daerah yang lain.


c)       Kehidupan Sosial. Struktur masyarakat Kerajaan Majapahit selain didasarkan pada sistem kasta dalam agama Hindu (Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra), terdapat pula golongan masyarakat yang disebut Dasyu yang terbagi atas tiga golongan yaitu: Pertama, Candala: golongan masyarakat yang lahir sebagai akibat pencampuran antar kasta, biasanya ayahnya lebih rendah daripada kasta ibunya; Kedua, Mleca: golongan masyarakat yang tidak menganut Hindu maupun Budha; Ketiga, Tuca: golongan masyarakat yang melanggar hukum, seperti penjahat, pemberontak, dan lain-lain.


d)      Kehidupan Budaya. Perkembangan Budaya


         i.            Candi: candi Panataran (Blitar, Jawa Timur), candi Tegalwangi dan Surawana (Pare, Kediri, Jawa Timur), candi Sawentar dan Sumber Jati (Blitar, Jawa Timur), candi Tikus (Mojoketro, Jawa Timur), dan bangunan purbakala lainnya, terutama yang ada di Trowulan, Mojoketro, Jawa Timur.


       ii.            Kesusasteraan: Pertama, sastra Jaman Majapahit awal, diantaranya: Negarakertagama karya Mpu Prapanca, Sutasoma dan Arjunawiwaha karya Mpu Tantular, Kunjarakarya dan Parthayajna (tanpa pengarang); Kedua, sastra jaman Majapahit akhir, diantaranya: Sorandaka, Ranggalawe, Pararaton, Panju Wijayakrama, Usana Bali, Sundayana, Usana Jawa, dan lain-lain.


B)      Keberlanjutan Tradisi Hindu-Budha di Daerah-daerah Tertentu Setelah Runtuhnya Kerajaan Hindu-Budha

 I.            Kerajaan Bali (Bali Majapahit). Setelah serangan Kerajaan Majapahit runtuh akibat serangan tentara Islam dari Demak (1517), banyak bangsawan-bangsawan Majapahit melarikan diri ke Pulau Bali. Mereka mendirikan kerajaan di sekitar kaki Gunung Agung yang dipimpin oleh Raja Dewa Agung. Raja Dewa Agung membagi Pulau Bali menjadi Sembilan daerah kabupaten, yaitu: Klungkung, Badung, Gianyar, Tabanan, Mengwi. Bangli, Karangasem, Buleleng dan Jembrana. Namun sepeninggalannya Dewa Agung kerajaan pecah menjadi 9 kerajaan kecil-kecil seperti yang telah disebutkan di atas, dan dari 9 kerajaan tersebut Klungkung yang terbesar dan dianggap pewaris kerajaan raja Dewa Agung dan statusnya dianggap paling tinggi disbanding kerajaan-kerajaan lainnya.

1)      Agama: mereka memeluk agama Hindu Dharma yang merupakan perpaduan antara Animisme dengan Hinduisme. Mereka menyembah roh nenek moyang setelah dibakar mayatnya menurut ajaran Hindu. Dewa-dewa dalam agama Hindu dimanifestasikan sebagai Tuhan Yang Maha Esa dengan sebutan Sang Hyang Widhi yang nantinya menjelma sebagai Brahma (pencipta), Wisnu (pemelihara), dan Siwa (perusak).


2)      Kasta: mereka mengenal kasta Brahmana, Ksatria, dan Waisya sebagai Triwangsa. Sedangkan kasta Sudra disebut Jaba yang berarti di luar.


3)      Kalender: masyarakat Bali mengenal dua kalender yaitu: Pertama, Tahun Saka (Kalender Hindu) dan Kedua, Tahun Wuku (Kalender Jawa Bali)


4)      Budaya: Peninggalan budaya terpenting adalah Pura (bangunan keagamaan) yang memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai tempat untuk memuja roh nenek moyang dan sebagai tempat untuk memuja Sang Hyang Widhi. Dalam bidang sastra, kerajaan Bali mewarisi kitab-kitab peninggalan Majapahit seperti kitab Negarakertagama, kitab Sutasoma, Calong Arang, dan lain-lain diketemukan di Bali.


II.            Tengger (Jawa Timur). Setelah Kerajaan Majapahit runtuh akibat serangan tentara Islam dari Demak (1517), banyak bangsawan-bangsawan Majapahit yang melarikan diri ke Bali termasuk juga ke lereng Gunung Bromo (Probolinggo), yang nantinya terkenal sebagai suku Tengger. Pemimpin mereka bernama joko Seger yang bergelar Purbawasesa Mangkurat Ing Tengger dan memiliki permaisuri yang bernama Roro Anteng. Agama mereka merupakan perpaduan antara animism dengan Hinduisme. Mereka memuja Sang Hyang Agung sebagai penjelmaan Dewa Brahmana, Siwa, dan Wisnu, namun kepercayaan mereka lebih banyak animismenya ketimbang Hinduismenya. Hal ini dapat dilihat dari berbagai pemujaan yang berhubungan dengan roh leluhur seperti berikut: Pertama, mereka memuja “dhanyang” yaitu makhluk halus sebagai penunggu tempat-tempat tertentu. Tempat pemujaannya disebut punden; Kedua, mereka memuja roh leluhur pendiri desa, dan tempat pemujaannya disebut sanggar pemujaan; Ketiga, mereka memuja roh leluhur Batara Bromo yang berada di kawah Gunung Bromo Upacara pemujaan Batara Bromo disebut Upacara Kasodo. Dalam kehidupan sosialnya, mereka tidak mengenal perbedaan status social yang tajam. Ajaran agamanya mereka satukan dalam ktab suci yang disebut Primbon. Jika di pulau Bali pemimpin keagamaannya disebut Pedanda, dalam masyarakat Tengger disebut Dukun. Dukun selain tampil sebagai pemimpin upacara ia juga sebagai pemimpin adat. Dalam melaksanakan tugasnya Dukun dibantu oleh dua orang, yakni: Wong Sepuh yang bertugas mengurus upacara kematian dan Seorang Legen yang bertugas mengurus masalah perkawinan.


C)      Ciri-ciri Hinduisme dan Budhisme Berdasarkan Arsitektur Monumen Keagamaan

 I.            Candi. Candi adalah bangunan untuk memuliakan orang telah wafat, terutama raja atau orang-orang yang terkemuka. Biasanya yang ditanam bukan mayat atau abu jenasah melainkan potongan-potongan berbagai jenis logam, dan batu-batu akik. Benda-benda tersebut dinamakan “pripih” dan dianggap sebagai lambang dari zat-zat jasmaniah sang raja yang telah bersatu kembali dengan dewa penitisnya. Candi dalam agama Hindu berfungsi sebagai tempat pemujaan roh nenek moyang (sang raja sebagai dewa), sedangkan dalam agama Budha Candi dimaksudkan sebagai tempat pemujaan dewa belaka. Candi sebagai bangunan terdiri atas tiga bagian, yaitu:

a)      Kaki candi: kaki candi melambang alam bawah (Bhurloka) sebagai tempat manusia biasa. Kaki candi denahnya bujur sangkar dan biasanya agak tinggi serta dapat dinaiki melalui tangga menuju ke bilik candi. Di dalam kaki candi di tengah-tengahnya terdapat sebuah perigi sebagai tempat menanam pripih sang raja.


b)      Tubuh candi: tubuh candi melambangkan alam antara (Bhuwarloka) tempat manusia meninggal dunia dan dalam keadaan suci menemui dewa. Tubuh candi terdiri atas sebuah bilik yang berisi perwujudan sang raja yang biasanya berupa arca Siaw atau lambang dari Siwa yang disebut Lingga. Dinding-dinding bilik di sisi luarnya diisi dengan arca Bhatara Guru (Relung Selatan), arca Durga (Relung Utara), arca Ganesa (Relung Barat dan Timur).


c)       Atap candi: atap candi melambangkan alam atas (Swarloka) sebagai tempat bersemayam para dewa. Atap candi terdiri atas susunan tiga tingkatan yang semakin ke atas semakin kecil ukurannya untuk akhirnya diberi puncak semacam genta. Di dalam atap candi terdapat batu segi empat berpahatkan gambar teratai merah sebagai tahta para dewa.

Ditinjau dari sudut pengelompokannya, maka candi-candi di Indonesia dibagi menjadi dua jenis yaitu:

a)      Langgam Jawa Tengah yang memiiki ciri-ciri sebagai berikut:


         i.            Bentuk bangunan tambun.


       ii.            Atapnya nyata berundak-undak.


      iii.            Puncaknya berbentuk ratna atau stupa.


     iv.            Gawang pintu dan relung berhiaskan kala makara.


       v.            Reliefnya timbul agak tinggi dan lukisannya bersifat naturalistis.


     vi.            Letak candi di tengah halaman.


    vii.            Kebanyakan menghadap ke timur.


  viii.            Kebanyakan terbuat dari batu andesit.

b)      Langgam Jawa Timur (termasuk candi-candi di Bali dan Sumatera) yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

         i.            Bentuk bangunannya ramping.

       ii.            Atapnya merupakan perpaduan tingkatan.

      iii.            Puncaknya berbentuk ratna (kubus)

     iv.            Gawang pintu dan relung hanya bagian atas saja yang diberi kepala kala, sedangkan makaranya lebih sedikit.


       v.            Reliefnya timbul sedikit saja dan lukisannya bersifat simbolis menyerupai wayang kulit.


     vi.            Letak candi di bagian belakang halaman.


    vii.            Kebanyakan menghadap ke barat.


  viii.            Kebanyakan terbuat dari batu bata.


II.            Gapura. Gapura adalah bangunan yang berfungsi sebagai pintu gerbang masuk ke suatu bangunan. Gapura disebut pula candi karena bentuknya menyerupai candi hanya bentuknya lebih kecil. Ada dua macam bentuk gapura, yaitu: pertama, Kori Agung, yaitu bangunan menyerupai candi yang di bagian tubunya terdapat lubang pintu masuk atau keluar. Contohnya: kori agung Candi Bajang Ratu dan Candi Plumbangan di bekas ibukota Majapahit di Trowulan, Mojoketro, Jawa Timur; Kedua, Candi Bentar, yaitu bangunan menyerupai candi yang dibelah dua, dan bagian tengahnya untuk pintu keluar masuk. Contohnya: candi Bentar Wringin Lawang dibekas ibukota Majapahit, Candi Bentar Pura Luhur Gianyar Bali, dan lain-lain.


III.            Biara (Vihara). Biara adalah tempat tinggal para bhiksu dan bhiksuni dan biasanya dibangun di sekitar candi Budha. Biara biasanya terbuat dari bahan kayu atau batu yang berbentuk bujur sangkar. Di sekitarnya terdapat kamar para bhiksu dan bhiksuni dan di ruangan tengah digunakan untuk melaksanakan upacara keagamaan. Contoh: kelompok candi Gunung Tua di Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Sedangkan di Jawa Tengah diperkirakan kompleks biara adalah candi Sari dan candi Mendut.


IV.            Stupa. Stupa adalah bangunan suci agama Budha yang terbuat dari batu dan bentuknya seperti genta atau lonceng besar. Stupa biasanya berfungsi sebagai: Pertama, tempat menyimpan abu jenasah para pendeta Budha; Keuda, tempat menyimpan benda-benda suci milik pendeta Budha; Ketiga, sebagai tempat untuk memuja dewa.


IN ENGLISH (with google translate Indonesian-english)

Development of the Hindu-Buddhist kingdom in Indonesia
(Source: Nur Ali. Module teaching materials Gasar Semester History class XI. Roxburgh: MGMP History.)
A) Aspects of the life of the kingdom-the kingdom of Indonesia's Hindu-Buddhist culture

I. Kutai kingdom
Kutai kingdom located in the Muarakaman, East Kalimantan or Mahakam River. Historical sources of the seven pieces of tablet called Yupa, which is a stone pillar or menhir is used to bind victims offered. The language used is Sanskrit and letters Pallawa. The inscriptions are largely explained that: "The Maharaja Kudungga a very noble man who has named Aswawarman Mashur.Aswawarman had 3 sons like fire, is foremost among his three sons are the Mulawarman, a great king who are virtuous and who have held power in the holy sacrifice Vaprakeswara (shrine in honor of the god Shiva). In ceremonies, Mulawarman also give gifts 20.000 head of cattle to the Brahmin class.

II. Kingdom of Tarumanegara
Tarumanegara kingdom founded by King Purnawarman and is located in West Java. 7 pieces of historical sources Sanskrit inscriptions and use letters Pallawa. Of the seven inscriptions, known in Bogor (Ciaruteun Inscription, Inscription Kebon Coffee, Cashew Inscription, Inscription Inscription Sand Awi and Cianten Estuary), the more points were found in Monument, London (Monument inscriptions), and another in the valley, South Banten (Inscription Lebak ). The inscription is:
a) Ciaruteun inscription, which reads: "This marks two feet, which like the feet of Lord Vishnu, is the Noble Purnawarman foot, king of the country Taruma".

b) Coffee Kebon inscription, which reads: "This seems like a pair of legs Airawata (Elephant vehicle of Lord Vishnu), the ruler Taruma elephant". Located in District Cibubungbulang.

c) Jambu inscription, which reads: "The king ruled Purnawarman Taruma". Located on a hill Kolengangkat.

d) The monument inscription, reads: "The excavation along the river Gomati tumbak 6.112 (11 kilometers) carried out in the government of King Purnawarman-22. After completion of the king Purnawarman 1.000 cows give a gift to the class of Brahmins ". It also mentioned the excavations at Chandrabaca River (River Bekasi now). Being in Cilancang, Jakarta.

e) The inscription valley, which contains: "This is the sign of the glorious majesty of Purnawarman.

f) The inscription of Sand and Muara Cianten Awi (not to be read until now).
Apart from domestic sources in the form of inscriptions, there are also foreign sources, especially from China, among which are:
a) Chronic Tang Dynasty who reported that:

i. Kingdom of Ho-lo-an (Aruteun) in She-po (Java) has sent his envoy to China in 430, 437, and 452 AD.
ii. Kingdom of To-lo-mo (Taruma) sent his envoy to China in 528, 535, 630, and 69 AD.
The term Aruteun (Ho-lo-an) is the original name of the kingdom Tarumanegara, then the end of the 5th century AD converted into Taruma (To-lo-mo) after receiving the influence of Indian culture.

b) News pastor Fa Hien who came to Tarumanegara in 414 AD that the people in the kingdom Taruma embrace 3 religions, namely: the many Hindu, Buddhist and little else, who are less good (the original trust animism and dynamism).
III. Sriwi glorious kingdom
a) Political Life
King founded the kingdom of Srivijaya Dapunta Hyang Sri Jayanaga in the 7th century AD, the capital city located on the first Barelang, then moved to Palembang. In the reign of King Balaputra Gods (856 AD), Srivijaya empire reached its peak. He entered into friendly relations with the King of the Kingdom of God Dewapala Bengal (South India). In addition, the Nalanda inscription is also mentioned was the son of god Balaputra Samaragravira (Samaratungga) from Dynasty dynasty in Java, while his mother was named "Tara" daughter of the King of Srivijaya Dharmasetu.Therefore Balaputra god always stressed to his descendants to reclaim the power of Java. Proved in 1016 in cooperation with the Kingdom of Srivijaya kingdom kingdom Wurawari attack led by King Dharmawangsa Java that will result in "Pralaya".
In the 10th-century kingdom of Srivijaya began to decline and eventually collapse, this is caused by:
i. Sriwijaya increasingly weak defense against the territory, so many areas that escape.

ii. Attack by the King Rajendracoladewa Cola empire in 1023 and 1030 and the King of Srivijaya Sangrama Wijayatunggawarman be captured.

iii. Kertanegara attacks by carrying out an expedition of Singasari Pamalayu year 1275 and managed to master the Malay from the hands of Srivijaya.

iv. Attack of the royal Thai King Kamheng in 1292 and managed to control Ligor and other areas in the Malay Peninsula.

v. Attack the kingdom of Majapahit in 1477 that resulted in Srivijaya empire collapsed for ever.
b) Economic life. Sriwijaya is strategically situated in the middle of shipping lanes and trade between India and China as well as adjacent to the Strait of Malacca, the economic activities of society depend on the shipping and trade. Sriwijaya even managed to control the Straits of Malacca and later as a center of shipping commerce in Southeast Asia wiliayah.

 
c) social life. In the reign of God Balaputra, education growing rapidly as reported in the Nalanda inscription, that students who studied Buddhist Srivijaya at Nalanda University in India. In subsequent developments, Srivijaya emerged as a Buddhist study center in Southeast Asia. Proved: first, according to Itsing (China) contained 1.000 Buddhist monks who studied Buddhism in Srivijaya, secondly, Srivijaya had great teachers like Dharmapala, Syakyakirti, and Dharmakirti; Third, many foreign priests who studied Buddhism in Srivijaya, as Itsing ( China), Atisa (Tibet), and others.

d) Culture of Life. In the field of culture, not many relics of Srivijaya which come down to us. Cultural heritage of the most widely-Araca only Buddhist statues are now in store in Bari House Museum in Palembang, South Sumatra and Barelang Temple.

IV. Kingdom of Mataram
a) Political Life. In Central Java, there are two dynasties equally claiming to be the kingdom of Mataram, the Sanjaya dynasty founded in 732 AD by King Sanjaya (Rakai Mataram The Queen Sanjaya) with its capital in Medang ri Pohpitu and Hindus. Dynasty dynasty was founded by Raja Bhanu (Danupunta dynasty) in 778 AD, the capital is estimated to lie in the South Kedu, and Buddhists.The second dynasty politics will be united through the marriage between King Rakai Pikatan with Pramodhawardani Sanjaya Dynasty Dynasty dynasty. Mataram kingdom reached its peak during the reign of King Balitung (898-910). He ruled the Central Java and East Java. In the ruling, he was assisted by three Mahamantri, namely Mahamantri I Hino, Mahamantri I halu, and Mahamantri I sirikan. Sepeninggalan Balitung, Mataram kingdom suffered a setback. In the reign of King Rakai Pangkaja Dyah Wawa (924-929) of natural disasters that devastated Central Java, so Mataram moved to East Java by MPU Spoon.

b) Economic Life. their economy relies on agriculture. Trade began to receive attention began to receive attention during Balitung, namely by establishing trading centers around the Solo River. To smoothen the trade Linas, the villages around Solo exempt from tax.

c) Social Life. Kehidpuan social highlight of the kingdom of Mataram was the intimate relationship between the keratin with ordinary people in rural areas. Village security issues become a major concern of the government of Mataram. Issued regulations to safeguard the village that must be obeyed by all persons, including officials of the kingdom.

d) Culture of Life. Sanjaya Dynasty relics of the most important being: Dieng temple and the temple was built Gedong Songgo King Sanjaya. Prambanan Temple which was founded Pikatan Rakai.Other temples are the temples Sambisari, Queen Baka temple.While the legacy of the dynasty Dynasty: Borobudur temple built by King Samaratungga. At the Pramodhawardani established Buddhist temples, such as temples Mendut, Sewu temple, temple Plaosan, Sari temples, temples Sajiwan, and Temple Barn.

V. Isyana dynasty and the Kingdom of Kediri
a) Political Life. Isyana dynasty in East Java is a continuation of the Mataram kingdom in Central Java. Its founder is the MPU Spoon (929-947) with an MPU Spoon Sri Isyanatunggawijaya, with its capital Watugaluh. During his reign in 939 Srivijaya attacks but managed to break. Counterattack against the Srivijaya dynasty Isyana conducted in 1003 at the Dharmawangsa True (992-1016) and managed to control the Straits of Malacca. Mastery of these only lasted a few years, since the year 1016 occurred "events Pralaya" (devastation), the incident an assault on Isyana dynasty by the king on the orders of Haji Wurawari Srivijaya kingdom. The incident occurred at the time of the wedding between the daughter Dharmawangsa with Airlangga of Bali. In the event the whole family except Airlangga Dharmawangsa fall. Lapse of three years, Airlangga succeeded to the throne (1019-1042) with its capital Wutan Mas. He attempted to reunite the divided former kingdom.During his reign, the dynasty Isyana reach the top of his greatness, in the year 1037 he moved his government to Kahuripan center.Airlangga down at the throne, Princess crown his successor was named Sri Sangramawijaya not willing to become king and would rather be a hermit. As a result, in the year 1042, the Kingdom is divided by the MPU 2 Barada, namely: Jenggala kingdom with its capital city and its king named Jayanengrana Kahuripan (Sri Garasakan) and Daha kingdom with its capital Karachi, the king named Jayawarsa (Sri Samarawijaya). Both kingdoms eventually managed to put back together by the King of the Kingdom of Kediri Jayabaya.

b) Political Life. Kediri economic life depends on agriculture. At the Airlangga made dams to control the Brantas River in K. Pitu. While trade is also growing rapidly. Hujung harbor Galuh (Surabaya) became the center of shipping and commerce of the kingdom of Kadiri.

c) Social Life. Social life of the Kingdom of Karachi can be known from the chronicles China news as follows: First, Kediri People generally have a good place to live and secondly, the punishment is carried out there are two kinds: a penalty and the death penalty (especially thieves and robbers); Third, clothing good people; Fourth, if sick people are not looking for a cure but simply worshiping gods; Fifth, if the king's cavalry escorted travel and ground forces.

d) The cultural life. Cultural heritage of the most prominent are the books of literature. Spoon on the MPU Tantric Buddhism there is a book entitled Sanghyang Kamahayanikan Suryawarana Sambhara work despite his own spoon MPU to Hinduism (Shiva). At the time of Airlangga, there is a book Arjunawiwaha Kanwa MPU work. At the time of King Kameswara, there is a book Smaradhana Dharmaja MPU work. While at times there is a book of King Jayabaya Bharatayudha work Sedah MPU and MPU Panuluh, and books as well Hariwangsa Gatotkacasraya Panuluh MPU work.While the book is a book with other literary and Wertasancaya akrya Lubdaka Tan Akung MPU. In the field of sculpture, one of the relics of the Temple of King Airlangga Hemisphere (Malaysia), while the statue of its manifestations is Wsnu up the eagle.

VI. Balinese kingdoms (Dynasty Warmadewa)
a) Political Life. Kingdom of Bali (Warmadewa Dynasty) was established by Sri Kesariwarmadewa (913-915), with its capital Singhadwala. In the reign of Udayana Dharmo (986-1022) Royal Bali has a close relationship Javanese kingdom premises. Queen who is a descendant named Gunapriya Dharmapatni MPU Spoon.In the reign of the kingdom of Bali Wungsu children reach the top of his kingdom. In the reign of the kingdom of Bali Wungsu children reach the top of his kingdom. In the reign he was assisted by an Advisory Board consisting of Senapti, Reverend Hindu and Buddhist priest. In the kingdom of Bali in 1343 collapsed after the last king of Sri Bhumi Astasuraratna Bantam Astasuratna also known by the name of the King of Majapahit Bedahulu defeated.Since then the kingdom of Bali was ruled by hereditary kings of Majapahit.

b) Economic Life. their economy booming at the time of King Wungsu children. Their living from agriculture and livestock. Hunting had a major place in the presence of officials who deal with hunting the so-called "Nayakan Buru" and the official handling the horse called "Senapati Asba Samgat Asba". Trade also increased considerably. Merchant of men called "Wanigrama" and the merchant woman called "Wanigrami".

c) Social Life. Very strong influence of Hinduism in Bali today.Proven they know the caste system called Tri Dynasty (Brahmana, Kshatriya, Vaishya), and Jaba (Sudra). At the time of King Wungsu Children are a special class of workers called Pande (blacksmith, gold Pande, Pande copper, etc.).

d) Culture of Life. At the time of King Jayasakti there is a law book called Uttara Widdi Balawan and King Discourse or Rajaniti. The book is also used at the time of Queen Sakalendukirana. At the time of King Jayapangus there is a law book called Manakawakamandaka. In addition Jayapangus King also created a new religious ceremony called "Galungan". In the field of sculpture statue found the embodiment of Gunapriyadharmapatni. Other relics of Madatu Air Temple, Goa elephant, Gunung Kawi Temple, Tirta Empul Baths, and others.

VII. Kingdom of Sunda
a) Political Life. In the inscription Sanghyang Tread (1030) explained that the king ruled the kingdom Parahyangan Jayabhupati Sunda. Its capital was at Pakwan Pajajaran, but later moved to Kawali. Sunda kingdom reached the peak of his greatness at the time of King Baduga Maharaja (1350-1357) who reigned in Pajajaran Pakwan. In the event of his reign "Pasundan Bubat" in 1357, the battle between the kingdom of Majapahit in the Sunda with Bubat. In the battle of the entire army killed Sunda including Maharaja Sri Baduga. While his successor kings generally riotous living until the last King of Sunda Nusiya Mulya in 1579 conquered by the Kingdom of Banten Islam led by Maulana Yusuf.

b) Economic Life. In general, the Sundanese people live from agriculture, especially farming. Trade is also growing rapidly.Kingdom of Sunda has 6 key port, each headed by a Syahbandar directly responsible for the king's head. These ports are: Bantam, helter, Cegede, Tamgara, Kapala (Sunda Kalapa) and Cimanuk.

c) Social Life. Social life of the Kingdom of Sunda are heterogeneous. Community consists of several groups, including gamelan players, puppet players, dancers, clowns, peasants, and others. There are also the people who are considered evil, such as pickpockets, robbers, thieves, and others.

d) Culture of Life. Sunda kingdom is influenced by Hinduism (Vishnu). This is evidenced by proposed his statues, and statues in Cibuaya Rajarsi. In addition, there are also books of literature such as stories and Sanghyang Siskanda Parahyangan.

VIII. Kingdom of Singasari

a) Political Life. Singasari life was founded by Ken Arok (1222-1227) after defeating Akuwu Ametung stumps and Kertajaya of Kediri. Ken Arok establish a new dynasty called Rajasa Dynasty (Girindra). Its capital was named Kutaraja, in the name was changed to Singasarigan Kertanegara. Sepeninggalannya Ken Arok, respectively Singasari governed by: Anusapati (1227-1248), Tohjaya (1248), Ranggawuni (1248-1268) who reigned as Queen of Taytay with Mahisa Angabhaya. In the reign of Kertanegara (1268-1292) Singasari kingdom, reached the peak of his greatness. He aspires to unite the archipelago. In order to carry out his ideals, he sent an expedition Pamalayu year 1275 in order to weaken and had mastered the Malay Srivijaya. Meanwhile, in order to stem the Mongol invasion (King Kubilaikhan) he wed his sister named Tapasi with King named Singhawarman Campa III. But before his ideals succeed, he was attacked suddenly by a subordinate named Jayakatwang of Kediri. Consequently Singasari kingdom collapsed, while the law, Raden Wijaya fled to Madura asked for protection at Arya Wiraraja in Sumenep.

b) Economic life Singasari society dependent on agriculture.Trading activity began to receive serious attention at the time of King Kertanegara. Delivery Pamalayu expedition to master the trade route to activities in the region Singasari.

c) Social Life. Singasari social life of the community began to receive attention at the time of good King who holds Vishnu Ranggawuni Ward. This situation is more stable during the reign of Kertanegara.

d) Culture of Life. Cultural heritage Singasari mostly candid's statue.As Temple Singasari, Kidal temple, the temple master. During this period, indigenous cultural elements Indonesia reappeared. This could take a look at Candi Jago form which is nothing like punden staircase steps. While the statues that were found are: The image of Ken Dedes as a symbol of perfection goddess Prajnaparamita science, and sculpture as Joko Dolok Kertanegara (Aksobhya) in Taman Simpang Surabaya and as Amonghapasa are now held at the National Museum, Jakarta. Kertanegara statue embodiment provides evidence that the Buddhist religion Kertanegara Tatrayana flow (Tantrism).

IX. Majapahit kingdom
a) Political Life. Majapahit kingdom was founded by Raden Wijaya by title Kertanegara Jayawardhana (1293-1309) after the help of Arya Wiraraja (Regent Sumenep) successfully megalahkan Jayakatwang of Karachi and the Chinese army. The capital at first was in Pull (Sidoarjo, East Java) and then transferred to Trowulan (Mojokerto, East Java). Penggantunya adala Jayanegara King (1390-1328) who is the king of the weak and ill-judged, resulting in such revolts: Uprising Ranggawale (1309), Blue Elephant (1313), Nambi (1318), Ox-Sora (1319), and the rebellion Kuti (1319). At the time of the rebellion Kuti, King fled to Bedander Jayanegara, but ultimately this rebellion can be quelled by troops led Bhayangkara Gajah Mada. In the reign of King Tribhuana Tunggadewi (1328-1350), another rebellion and insurrection led Sadeng Ceta year 133. But the rebellion was put down by Gajah Mada, and for his services he was later appointed as Mahapatih Majapahit. Later in the year 1333 Gaja Mada Mahapatih Majapahit. In 1333 Gajah Mada said Amukti Palapa Oath in order to unite the whole archipelago under the banner of Majapahit. After Hayam Wuruk ascended the throne (1350-1389) who holds the assisted Mahapatih Rajasanegara Sri Gajah Mada, the Majapahit empire reached the peak of his greatness. Throughout the country including Malaysia, Singapore, and Brunei managed to put together. Maha Sepeninggalan Patih Gajah Mada (1364) and King Hayam Wuruk (1389), the Majapahit Empire began to decline. This is caused by: First, there are no good figures sepeninggalannya Hayam Wuruk and Gajah Mada; Second, civil war (Paregreg) between Majapahit Majapahit West and East; Third, the governance structure similar Majapahit States government that allows subordinate areasescape; Fourth, many of the coastal district chiefs who embraced Islam, so it no longer attracted to serve the Hindu Majapahit.
There are two opinions about the collapse of Majapahit: first, 1478, ie at the time the King of Majapahit BRE Kertabumi defeated Girindrawardhana of Karachi; Second, 1517, ie at the time the King of Majapahit Empire conquered the Air King led Prince Broken Demak.
Kingdom of Majapahit Hindu-Buddhist kingdom is the largest in India and has a governance structure as follows:
i. Central Government. Central government headed by a king who holds Sri Paduka Maharaja and in aid by the authorities as follows:
a. Sapta Bhattara Prabhu (Imperial Council): consisting of 7 or 9 members of the royal family and work: menugurusi interests of the royal family, looking after the turn of the Crown Prince and give advice to the king about the running of the government.

b. Yuwaraja or Kumararaja: chaired by Crown Prince who serves as the Raja Muda who are prepared to replace the king.

c. Rakryan Mahamantri Kantrini: usually occupied by the royal family or those close to the king which consists of three high-ranking officials (Rakyan Mahamantri I hini, Rakryan Mahamantri I halu and Rakryan Mahamantri I sirikan). His duties receive direct orders from the king and then went to the officials under him.

d. Mantri Rakryan ri Pakiran thoughts: a board of ministers who served as executor of government. This five-member body called the ING PANCA Amanca Wilwatikta and Minister of State, as follows:
 Rakryan Mahapatih or Patih Hamangkubhumi who serves as Prime Minister or Mantri Mukya. Pekansana duties as leader of government agencies.

 Rakryan Hero who served as commander of the kingdom.

 Rakryan demung who served as a regulator of the royal household.

 Rakryan Kanuruhan who served as liaison officers at lower levels and the duties of royal protocol.

 Rakryan Rangga who served as the assistant commander of the kingdom.

e. Dharmadyaksa: a high-ranking officials who deal with religious issues and consists of two officials, namely the duty Dharmadyaksa ring Kasaiwan care Hinduism and Dharmadyaksa Kasagotan ring on duty taking care of the Buddhist religion. In performing its duties, the two officials are assisted by a number of religious officials called Dharma Upapatti.

ii. Local Government. Regional or local government is an autonomous state is headed by His Majesty Bhattara or Bhre. Each local government is divided into several Wadana led by a district officer. Each region is divided into several Pakuwon Wadana (a composite of several villages), led by a Akuwu. While each village is headed by a Buyut.

b) Economic Life. economic life of the kingdom of Majapahit prefer the trade in addition to agriculture as well. Some of the important port city of Majapahit at the time, among others: Canggu, Surabaya, Gresik, Sidhayu, Tuban and Pasuruhan. Supported by the abundant natural wealth, the Kingdom of Majapahit in the trade show as a producer and at the same intermediary, which brings the results from the regions of the earth to the other one.

c) Social Life. The structure of the kingdom of Majapahit in addition based on the caste system in Hindu religion (Brahmana, Kshatriya, Vaishya and Sudra), there is also a community group called Dasyu, divided into three groups, namely: First, candala: the people who were born as a result of mixing between the ranks , is usually lower than the caste of her father's mother; Second, Mleca: the people who do not adhere to Hindu and Buddhist; Third, Tuca: the people who break the law, such as criminals, rebels, and others.

d) Culture of Life. Cultural Developments

i. Temple: Temple Panataran (Blitar, East Java), and the temple Tegalwangi Surawana (Pare, Kediri, East Java), temples and Resources Sawentar Teak (Blitar, East Java), rat temple (Mojoketro, East Java), and other ancient buildings, especially in Trowulan, Mojoketro, East Java.

ii. Literature: First, the early Majapahit era literature, including: Negarakertagama Prapanca MPU work, and Arjunawiwaha Sutasoma Tantular MPU work, and Parthayajna Kunjarakarya (no author); Second, the literary end of the Majapahit era, including: Sorandaka, Ranggalawe, Pararaton, Panju Wijayakrama, UsanaBali, Sundayana, Usana Java, and others.

B) The sustainability of Hindu-Buddhist tradition in certain areas after collapse of the Hindu-Buddhist kingdom
I. Kingdom of Bali (Bali Majapahit). After the attacks of the Majapahit Kingdom collapse under attack from the Islamic Army Demak (1517), many nobles Majapahit fled to the island of Bali.They established the kingdom in the foothills of Mount Agung, led by Raja Dewa Agung. Raja Dewa Agung of Bali divided into nine districts, namely: Klungkung, Badung, Gianyar, Tabanan, Mengwi.Bangli, Karangasem, Buleleng and Jembrana. But Dewa Agung sepeninggalannya empire broke up into small kingdoms 9 as mentioned above, and from 9 Klungkung kingdom's largest and is considered the heir to the kingdom of King Dewa Agung and his status is considered high compared to most other kingdoms.
1) Religion: Hindu Dharma their religion which is a blend of animism with Hinduism. They worship ancestral spirits after his body was burned by Hindu teachings. The gods in the Hindu religion is manifested as God Almighty as the Sang Hyang Widhi which later manifests as Brahma (the creator), Vishnu (maintainer) and Shiva (destroyer).

2) Caste: they recognize caste Brahmin, Kshatriya, and Vaishya as triwangsa. While the Sudra caste called Jaba, which means outside.

3) Calendar: Balinese people familiar with the two calendars are: First, the Year of Saka (Hindu calendar), and second, Wuku Year (Calendar Java and Bali)

4) Culture: The most important cultural relics is the temple (religious buildings) which has a double function, namely as a place to worship the spirits of ancestors and as a place to worship Sang Hyang Widhi. In the field of literature, inherit the kingdom of Bali Majapahit relics books like Negarakertagama book, the book Sutasoma, Calong Charcoal, and others found in Bali.

II. Tengger (East Java). After the Majapahit Empire collapsed in the attacks of the Islamic army Demak (1517), many nobles Majapahit who fled to Bali as well as the slopes of Mount Bromo (Probolinggo), which later known as the Tengger tribe. Their leader was named george who holds Purbawasesa Seger Mangkurat Ing Tengger and have a consort named Roro Anteng. Their religion is a blend of animism with Hinduism. Sang Hyang they worshiped as an incarnation of God the Supreme Brahman, Shiva, and Vishnu, but their confidence more than Hinduismenya animismenya. It can be seen from a variety of worship associated with ancestral spirits as follows: First, they worship "dhanyang" ie as guardian spirits of certain places. Place of worship called punden; Second, they worship the ancestral spirits founder of the village, and called the studio where his cult worship; Third, they worship the ancestral spirits in the Batara Bromo crater of Mount Bromo Bromo Batara worship ceremony called Kasodo ceremony. In social life, they do not recognize the sharp differences in social status. Their religion they united in holy ktab called Primbon. If the religious leaders on the island of Bali called Rauh, the Tengger community called Shaman. Shamans than he appears as master of ceremonies as well as traditional leaders. The work of shamans assisted by two persons, namely: Wong Sepuh are in charge of funeral ceremonies and Legen A charge of taking care of the problem of marriage.

C) The characteristics of Hinduism and Buddhism Based Architecture Religious Monuments
I. Temple. The temple is a building to honor the dead, especially the king or prominent people. Normally not planted corpse or ashes, but the pieces of various kinds of metals, and precious stones. These objects are called "pripih" and considered a symbol of the bodily substance of the king who has reunited with god penitisnya. The temple in the Hindu religion serves as a place of worship of ancestral spirits (of the king as a god), while the Buddhist temple is intended as a place to worship god alone. Temple as a building consists of three parts, namely:
a) The foot of the temple: the temple symbolize foot below the natural (Bhurloka) as a human being. Schematics of the temple square feet and are usually quite high and can be climbed via stairs leading to the chamber of the temple. At the foot of the temple in the middle there is a place to plant pripih well as the king.

b) The temple: the temple symbolizes the nature of (Bhuwarloka) where people die and see god in a state of purity. The temple consists of a chamber that contains the realization of the king who is usually a statue or symbol of Shiva Siaw called Linga. The walls of the chamber on the outside filled with statues of Lord Guru (South niches), statues of Durga (North niches), Ganesa statues (niches West and East).

c) The roof of the temple: the roof of the temple represents the nature of (Swarloka) as the dwelling place of the gods. The roof of the temple consists of three levels of the arrangement to the smaller size to eventually be a kind of bell top. On the roof of the temple there is a rectangular stone berpahatkan image as a red lotus throne of the gods.
Terms of the classification, the temples in Indonesia is divided into two types:
a) Idioms of Central Java who coined the following characteristics:

i. Building form fat.

ii. The roof is concrete staircase steps.

iii. Ratna or stupa-shaped peak.

iv. Wicket doors and niches decorated with makara time.

v. Arise rather high relief and naturalistic paintings.

vi. The location of the temple in the middle of the page.

vii. Mostly facing east.

viii. Most are made of andesite stone.
b) Idioms of East Java (including the temples in Bali and Sumatra), which has the following characteristics:
i. Slender shape of the building.
ii. The roof is a combination of levels.
iii. The peak-shaped jewel (cube)
iv. Wicket doors and niches are just the top of the head given time, whereas less makaranya.

v. Little relief arises and symbolic paintings resemble shadow puppets.

vi. The location of the temple in the back yard.

vii. Mostly westward.

viii. Most are made of brick.

II. Gate. The gate is a building that serves as a gateway entrance to a building. The gate of the temple is also called because its shape resembles the shape of the temple only smaller. There are two kinds of gates, namely: first, Kori Agung, the building resembles a temple which contained tubunya the entrance or exit holes. For example: kori Great Temple and the Temple of Queen Bajang Plumbangan in the former capital of Majapahit in Trowulan, Mojoketro, East Java; Second, Bentar Temple, the building of the temple resembles a halved, and the middle to the doorway. For example: the temple Bentar Wringin Lawang dibekas Majapahit capital, Bentar temple Pura Luhur Gianyar Bali, and others.

III. Monastery (Vihara). Monastery is home to monks and nuns, and usually built around a Buddhist temple. Monastery typically made of wood or stone square. In the vicinity there is a room of the monks and nuns and the room was used to perform religious ceremonies.Example: the temple mountain in the Padang Sidempuan Tua, North Sumatera. While in Central Java monastery complex is estimated to Sari temple and temple Mendut.

IV. Stupa. Stupa is a Buddhist shrine made of stone and shaped like a large bell or bells. Stupa usually serves as: First, a place to store ashes of Buddhist monks; Keuda, a place to store sacred objects owned by Buddhist monks; Third, as a place to worship the gods.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar