Rabu, 19 Desember 2012

Interaksi Sosial Dalam Dinamika Kehidupan Sosial/ Social Interaction in the Dynamics of Social Life FOR CLASIS X SEMESTER 1 SOCIALISM


Interaksi Sosial Dalam Dinamika Kehidupan Sosial

(Sumber: Ali, Nur. Modul Bahan Ajar Sosiologi. Ponorogo: Gandini.)

A) Pengertian dan Faktor Pendorong Interaksi Sosial.

I) Interaksi Sosial dan Tindakan Sosial. Interaksi Sosial adalah proses perhubungan yang saling mempengaruhi yang terjadi antara manusia, baik individu dengan individu, individu dengan kelompok maupun kelompok dengan kelompok. Interaksi social juga dapat diartikan sebagai proses pengaruh timbale balik (give and take) melalui berbicara, bertindak atau menukar tanda yang dapat menimbulkan perubahan dalam perasaan, pikiran maupun tindakan. Interaksi social terdiri dua unsur yaitu tindakan social dan keterkaitan antar tindakan social. Tindakan social merupakan unsur pembentuk interaksi social. Menurut Max Weber, tindakan social adalah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dengan memperhitungkan keberadaan orang lain. Max Weber membagi tindakan social menjadi beberapa tipe, yaitu:

a) Tindakan rasional instrumental adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang memperhitungkan kesesuaian antara cara yang digunakan dengan tujuan yang akan dicapai. Contoh: dalam rangka menghadapi Ujian Akhir Nasional, Rudi mengikuti les ekonomi dan bahasa Inggris baik di sekolah maupun diluar sekolah; belajar.

b) Tindakan rasional beriorientasi nilai adalah tindakan social yang dilakukan oleh seseorang yang memperhitungkan manfaatnya tetapi tujuan yang hendak dicapai tidak terlalu dipentingkan. Yang paling penting tindakan itu termasuk dalam criteria baik dan benar menurut ukuran dan penilaian masyarakat sekitar. Contoh: sebelum mengerjakan ujian para siswa berdoa terlebih dahulu; cara makan.

c) Tindakan tradisional adalah tindakan social yang dilakukan oleh seseorang atas dasar kebiasaan yang dilakukan oleh nenek moyang. Contoh: pada Hari Raya Idul Fitri, Tobroni melakukan sungkeman (meminta maaf) terhadap ayah, ibu, kakek dan neneknya; Grebeg Suro.

d) tindakan afektif adalah tindakan social yang dilakukan oleh seseorang atas dasar ekspresi emosional yang bersifat spontanitas. Contoh: setelah membaca pengumuman dikoran bahwa dirinya diterima di Universitas Gadja Mada, Yogyakarta, Paramita bersorak kegirangan.

II) Faktor Pendorong Terjadinya Interaksi Sosial. Menurut Soerjono Soekanto, manusia melakukan interaksi social karena didorong oleh faktor sebagai berikut:

a) adanya naluri untuk hidup bersama (gregariousness),

b) Adanya keinginan untuk menyesuaikan diri dengan orang lain,

c) adanya keinginan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan alam.

Naluri di atas merupakan kebutuhan manusia yang paling dasar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, yakni:

a) Kebutuhan afeksi yaitu kebutuhan akan cinta kasih sayang.

b) Kebutuhan inklusi yaitu kebutuhan untuk mendapatkan kepuasaan dan mempertahankan hidupnya.

c) Kebutuhan control yaitu kebutuhan akan pengawasan dan kekuasaan (hidup teratur), norma atau nilai.

Selanjutnya Aristoteles mengatakan bahwa manusia sebagai “zoon politicon” yaitu binatang social yang menyukai hidup bersama. Dengan kata lain, di dunia ini tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri atau disebut isolasi social, yaitu mengasingkan diri dan tidak bergaul dengan orang lain. Jadi manusia dalam hidupnya harus berinteraksi dengan orang lain dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.

B) Proses terjadinya interaksi Sosial.

I) Syarakt terjadinya interaksi social.

a) Kontak Sosial yaitu suatu usaha untuk menyentuh atau menghubungi orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Kontak social dibedakan menjadi:

i) Kontak Primer yaitu kontak social yang terjadi secara langsung atau bertemu muka.

ii) Kontak Sekunder yaitu kontak social yang terjadi melalui perantara atau penghubung. Kontak sekunder dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

Ø   Kontak Sekunder langsung yaitu kontak social yang terjadi dengan menggunakan alat tertentu, misalnya telepon, surat dan sebagainya.

Ø   Kontak Sekunder tak langsung yaitu kontak social yang terjadi dengan perantara orang lain (pihak ketiga).

b) Komunikasi yaitu proses pemberitahuan dan penyebaran berita, pengetahuan, dan buah pikiran atau nilai dengan maksud menggugah keikutsertaan orang lain agar hal yang diberitahukan menjadi milik bersama. Ada lima unsur pokok dalam komunikasi. Yaitu: komunikator (orang yang menyampaikan informasi), komunikan (orang yang menerima informasi), pesan (penerangam), media (materi), efek (pengaruh).

II) Jadwal dalam Interaksi Sosial. Edward T. Hall, pakar sosiolologi Amerika Serikat mengatakan ada 4 jarak dalam pelaksanaan interaksi social yaitu:

1) Jarak Intim berkisar antara 0-18 inci (0-45 cm). jarak intim ditandai dengan kontak tubuh dan panca indera (penglihatan). Contoh: orang sedang bercinta, orang terlibat olah raga gulat.

2) Jarak pribadi berkisar antara 0-18 inci (0-45 cm). jarak pribadi ditandai dengan kontak tubuh apabila orang yang berinteraksi merentangkan tangannya, kontak tubuh dan panca indera mulai berkurang. Contoh interaksi antar 2 siswa yang duduk satu bangku.

3) Jarak Sosial berkisar antara 4-12 kaki (1,22 m-3,66 m). pada jarak social, orang yang berinteraksi dapat berbicara secara normal dan tidak saling menyentuh. Contoh: orang yang berinteraksi dengan pertemuan santai.

4) Jarak Publik di atas 12 kaki (di atas 3,66 m). pada jarak ini, suara menjadi perhatian utama artinya semakin jauh jaraknya semakin keras pula suara yang harus dikeluarkan. Kata dan kalimat yang diucapkan semakin dipilih dengan seksama. Contoh: interaksi antara seorang politikus, artis, actor dengan pendukung atau fansnya.

III) Tahap dalam Interaksi Sosial. Mark L. Knap pakar sosiologi Inggris membagi tahap Interaksi Sosial menjadi dua tahap yaitu:

1) Tahap mendekatkan, dibagi:

a) Tahap memulai (Initiating). Pada tahap ini pihak yang berinteraksi mulai membuka pembicaraan. Misalnya mulai saling tegur-sapa disertai obrolan kecil.

b) Tahap menjajaki (Experiment). Pada tahap ini pihak yang berinteraksi mulai mendugaa, menelaah berbagai kemungkinan apakah hubungan dilanjutkan atau tidak.

c) Tahap Meningkatkan (Intensifying). Pada tahap ini pihak yang berinteraksi saling mempertegas hubungan yang ditandai dengan keakraban hubungan.

d) Tahap penyatupaduan (Integrating). Pada tahap ini pihak yang berinteraksi mulai merasakan bahwa dirinya merupakan bagian dari satu kesatuan, dan pihak luar pun mulai memperlakukan kedua individu sebagai satu kesatuan.

e) Tahap Pertalian (Bonding). Pada tahap ini menjadi proses mempersatukan yang ditandai dengan peresmian jalinan hubungan. Misalnya melalui pernikahan, kontak kerja yang memperkuat hubungan dan sekaligus mempersulit masing pihak untuk menarik diri dari hubungan tersebut.

2)Tahap Menjauhkan, tahap ini dibagi menjadi 5 tahap, yakni:

a) Tahap membeda-bedakan (Differemtiating). Pada tahap ini segala sesuatunya yang dikerjakan bersama mulai dikerjakan sendiri. Keakuannya mulai ditonjolkan. Milik kita berubah menjadi milikku dan milikmu. Selain itu, toleransi terhadap kekhasan pihak lain mulai menurun.

b) Tahap Membatasi (Circumscribing). Pada tahap ini pembahasan mengenai hubungan mulai dihindari. Komunikasi mulai bersifat disosiatif (perbedaan kepentingan). Suatu pernyataan biasanya ditanggapi dengan bantahan, sangkalan, keluhan, larangan, dan perintah.

c) Tahap memacetkan (Stagnating). Pada tahap ini komunikasi mulai macet, walaupun ada komunikasi dilakukan secara terpaksa dengan sangat hati-hati. Pembicaraan kedua pihak mulai dihindari karena khawatir terjadi benturan.

d) Tahap menghindari (Avoiding). Pada tahap ini masing pihak mulai menghindar untuk tidak ketemu atau bahkan berusaha untuk tidak melakukan kontak dalam bentuk apapun. Mula dengan berbagai atasan, akhirnya tidak disertai dengan alasan apapun.

e) Tahap Memutuskan( Terminating). Pada tahap ini biasanya dimanivestasikan dalam bentuk pernyataan “hubungan kita putus”. Masing-masing mulai meneruskan hidupnya sendiri tanpa kehadiran pihak lain.

IV) Jenis Interaksi Sosial.

a) Interaksi social dengan percakapan (conversation) yaitu interaksi social yang dilakukan dengan menggunakan bahasa verbal. Melalui percakapan terjalin hubungan tahap muka dan terjadi hubungan saling mempengaruhi.

b) Interaksi social dengan bahasa isyarat (Interaksionisme simbolis) yaitu interaksi social yang dilakukan dengan menggunakan bahasa isyarat atau symbol tertentu. Misalnya memberi bunga, melambaikan tangan, dan sebagianya. Penggunaan bahasa isyarat atau symbol tersebut tergantung pada orang yang melakukan interaksi social. Dengan kata lain makna dari bahasa atau symbol yang digunakan antar masing-masing orang atau masyarakat memiliki arti yang berbeda. Misalnya warna merah bagi bangsa Indonesia berarti berani tetapi bagi bangsa Rusia, merah berarti symbol komunisme dan sebagainya.

V)  Ciri Interaksi Sosial. Menurut Charles P. Lomies, cirinya:

a) Jumlah pelakunya lebih dari satu orang,

b) komunikasi antar pelakunya menggunakan symbol,

c) ditentukan oleh dimensi waktu masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang, yang menentukan sifat interaksi social.

d) dilaksanakan melalui pola sistem social tertentu.

e) Mempunyai tujuan yang dapat dicapai dari hasil tersebut.

Selanjutnya agar pelaksanaan interaksi social dapat terjalin secara baik maka pola interaksi social harus selalu berdasarkan pada:

a) Kebutuhan yang nyata,

b) Efektifitas dan efisiensi,

c) Penyesuaian diri pada kebenaran,

d) Penyesuaian dengan kaidah tertentu,

e) tidak memaksa secara mental dan fisik.

IV) Faktor yang menghindari Interaksi Sosial.

a) Imitasi. Imitasi adalah tindakan seseorang untuk meniru tindakan  orang lain. Tindakan yang ditiru bisa berbentuk sikap, penampilan, gaya hidup bahkan semua yang dimiliki orang lain. G. Trade (Sosiologi Perancis) membagi anggota masyarakat menjadi dua golongan yaitu golongan yang mendapatkan pikiran baru (inventor) dan golongan peniru yang terdiri dari bagian terbesar anggota masyarakat. Selanjutnya A. M. J. Chorus berpendapat bahwa imitasi terjadi apabila ada persyaratan khusus sebagai berikut:

i) Harus mendapat perhatian orang lain untuk dapat ditiru.

ii) harus ada sikap menjunjung tinggi atau mengagumi hal yang yang mau diimitasi.

iii) harus ada taraf pengertian yang cukup pada orang terhadap hal yang mau ditiru.

Imitasi dapat menimbulkan dapat positif karena dapat mendorong seseorang untuk mematuhi nilai social dan norma social dalam masyarakat. Akan tetapi, imitasi juga menimbulkan dampak negative karena jika ang ditiru adalah tindakan yang menyimpang, orang yang meniru pun akan bertindak menyimpang. Selain itu imitasi juga dapat melemahkan dan mematikan pengembangan daya kreasi seseorang karena si peniru cenderung pasif dan tidak inovatif terhadap keadaan yang dialaminya.

b) Sugesti. Sugesti adalah suatu proses dimana seseorang atau kelompok menerima cara pandangan atau pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu, sugesti dapat juga diartikan sebagai pengaruh atau anjuran tertentu yang menimbulkan suatu reaksi tanpa pikir panjang bagi orang yang menerimanya. Wujud sugesti dapat berbentuk sikap, tindakan, pendapat saran maupun pertanyaan. Selanjutnya bentuk sugesti adalah sebagai berikut:

i) Sugesti hambatan berfikir biasanya orang yang memiliki hambatan berfikir akan mudah tersugesti.

ii) Sugesti karena disosiasi (pikiran terpecah belah). Seseorang yang terbebani fikirannya dan berat juga batinnya akan mudah tersugesti.

iii) Sugesti karena otoritas yaitu sugesti yang dilakukan orang yang memiliki kekuasaan atau wewenang tertentu terhadap orang lain.

iv) sugesti karena mayoritas, seseorang akan mengikuti apa yang dilakukan kebanyakan orang disekitarnya.

v) sugesti karena will to believe, artinya seseorang percaya terlebih dahulu sebelum disugesti. Bahkan seseorang datang sendiri untuk minta disugesti karena menganggap apa yang di sugesti itu baik dan bermanfaat bagi dirinya.

Pada umumnya sugesti diperoleh dari hal berikut:

i) Orang berwibawa atau mempunyai charisma. Misalnya ulama, pemimpin Negara, orang tua, cendikiawan, dan sebagainya.

ii) orang yang mempunyai kedudukan tinggi, misalnya gubernur, bupati dan sebagainya.

iii) kelompok selebritis, misalnya artis,  penyanyi dan sebagainya.

iv) Iklan dimedia masa, baik cetak maupun elektronik.

v) kelompok mayoritas atau yang berkuasa terhadap kelompok minoritas atau yang dikuasai.

Seseorang dapat dengan mudah tersugesti karena disebabkan oleh faktor sebagai berikut:

i) ia sedang dilanda emosi sehingga menghambat daya nalarnya secara rasional.

ii) kemampuan berfikir seseorang terpecah belah dan tidak terkosentrasi.

iii) Pemberian sugesti mempunyai kekuasaan dan wewenang untuk menyampaikan saran atau pendapat kepada orang lain.

iv) dukungan mayoritas dari orang lainnya.

v) adanya dukungan pendapat dari orang disekitarnya kepada orang yang ragu-ragu.

c) Simpati. Simpati adalah adanya rasa tertarik yang mendorong seseorang untuk memahami atau menyukai orang lain. Simpati berbeda dengan empati. Dalam masyarakat umum, simpati tertarik pada hal yang baik, misalnya penampilan, kecantikan, wibawa atau prestasi seseorang yang akan menimbulkan simpati orang lain. Sedangkan empati, biasanya memahami orang lain karena mempunyai nasib atau hal yang tidak baik.

d) Identifikasi. Identifikasi  adalah cenderung dari seseorang untuk mempersamakan dirinya dengan orang lain. Dalam identifikasi biasanya ada tokoh yang diidolakan. Oleh karena itu dalam proses identifikasi, seseorang yang ingin menjadi dirinya persis sama dengan tokoh yang diidolakannya. Proses identifkasi tidak hanya meniru pola perilaku nya saja akan tetapi juga melalui proses kejiwaan yang sangat dalam.

e) Motivasi. Motivasi adalah dorongan yang mendasari seseorang untuk melakukan perbuatan atau tindakan social atas dasar pertimbangan rasionalitas. Seseorang yang termotivasi tersebut menuruti atau melaksanakan apa yang dimotivasi secara kritis, rasional dan penuh tanggung jawab.

C) Bentuk Interaksi Sosial.

I) Proses social Assosiatif. Proses social asosiatif adalah apabila orang perorangan atau kelompok melakukan satu interaksi social yang memiliki kesamaan pandangan dan tindakan sehingga mengarah pada kerja sama dan kesatuan. Wujud proses social yang asosiatif antara lain:

a) Koperasi (kerja sama). Koperasi adalah usaha dari dua orang atau lebih untuk melaksanakan kerjasama dalam rangka mencapai tujuan bersama. Koperasi atau kerjasama timbul karena disebabkan oleh: adanya kepentingan minat dan perhatinan yang sama, adanya kewajiban situasional, adanya motif untuk menolong orang lain, keinginan untuk mencapai nilai atau hasil yang lebih besar, adanya musuh bersama.

Ditinjau dari sifatnya, koperasi dibedakan menjadi:

i) Koperasi primer yaitu suatu  bentuk kerja sama dimana anggota melebur menjadi satu, masing saling mengejar untuk masing pekerjaan demi kepentingan dari seluruh anggota kelompok.

ii) koperasi sekunder yaitu bentuk kerja sama dimana anggotanya hanya membaktikan sebagian dari hidupnya dalam kelompoknya, meeka lebih bersifat individual dan selalu memperhitungkan untung atau rugi.

Ditinjau dari segi perwujudannya, koperasi dibedakan menjadi:

i) Kerukunan yang meliputi gotong royong dan tolong menolong.

ii) tawar menawar (bargaining) adalah suatu bentuk perjanjian antara dua orang atau prganisasi atau lebih mengenai pertukaran barang atau jasa.

iii) kooptasi (cooptation) adalah usaha  ke arah kerja sama yang dilakukan dengan menyepakati pimpinan yang akan ditunjuk untuk mengendalikan organisasi.

iv) Koalisi (coalition) adalah usaha dua organisasi atau lebih yang mempunyai struktur yang berbeda hendak mencapai tujuan dengan cara melakukan kerjasama.

v) Patungan (join venture) adalah usaha bersama untuk mengusahakan suatu kegiatan dengan saling mengisi kekurangannya untuk mencapai keuntungan bersama.

Ditinjau dari pelaksanaannya koperasi atau kerjasama dibedakan menjadi:

i) Kerjasama spontan yaitu bentuk kerja sama serta merta atau otomatis terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.

ii) kerjasama langsung yaitu bentuk kerjasama atas dasar perintah dari atasan atau penguasa.

iii) kerjasama kontak yaitu bentuk kerja sama atas dasar perjanjian atau kontrak.

iv) kerjasama tradisional yaitu bentuk kerjasama yang dilandasi nilai budaya tradisional masyarakat.

b) Asimilasi. Asimiliasi adalah proses pembauran antar individu atau kelompok untuk mengurangi perbedaan agar tercapai suatu kesatuan. Proses asimilasi bisa timbul apabila: terdapat kelompok manusia yang berbeda kebudayaannya, orang perorangan yang menjadi kelompok tadi, saling bergaul secara langsung dan intensif dalam jangka waktu yang lama, kelompok manusia tersebut masing berubah dan saling menyesuaikan diri.
Ada beberapa bentuk interaksi social yang mengarah kepada proses asimiliasi (interaksi yang asimilatif) yaitu: interaksi social tersebut bersifat pendekatan terhadap pihak lain dan pihak lain juga bersikap demikian, interaksi social tersebut tidak mengalami halangan atau pembatasan, interaksi social tersebut bersifat langsung dan primer, frekuensi interaksi social tersebut cukup sering dan tetap serta ada keseimbangan antara pola interaksi social tersebut.
Faktor yang yang mempermudah asimilasi antara lain: adanya sikap toleransi, adanya sikap menghargai orang lain dan kebudayaannya, adanya persamaan dan unsur kebudayaan. Kesempatan dibidang ekonomi seimbang, adanya sikap terbuka dari golongan penguasa, adanya musuh bersama di luar, adanya perkawinan campuran.
Sedangkan faktor yang menghambat asimilasi antara lain: adanya perbedaan fisik, perbedaan ekstrim latar belakang budaya, adanya prasangka, adanya perasaan superior dan pendukung kebudayaan tertentu yang menganggap kebudayaan kelompok lain rendah, adanya diskriminasi yang dilancarkan oleh pihak penguasa terhadap golongan minoritas, kurangnya pengetahuan suatu golongan terhadap golongan lain, terisolasi kebudayaan suatu golongan tertentu dalam masyarakat.

c) Akomodasi. Menurut Kiball Young istilah akomodasi digunakan dalam dua pengertian yaitu:

i) Menujuk pada suatu keadaan yaitu suatu usaha yang mencapai keseimbangan dalam interaksi social antara indicidu maupun kelompok yang saling berkaitan dengan pelaksanaan norma social yang berlaku di masyarakat.

ii) Menunjuk pada suatu proses yaitu suatu usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan agar tercapai kestabilan kembali.

Tujuan akomodasi: mengurangi pertentangan yang terjadi antara individu atau kelompok, mencegah meledaknya suatu pertentangan untuk sementara waktu, mencari kemungkinan kerjasama antar indivdu atau kelompok yang bertikai, mengusahakan peleburan antar kelompok yang terpisah.

Bentuk akomodasi:

i) Paksaan (coercion) adalah bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan karena adanya paksaan dari salah satu pihak yang lebih kuat.

ii) kompromi (compromise) adalah bentuk akomodasi dimana pihak yang bertentangan masing mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada.

iii) penenggangan (toleransi) adalah bentuk akomodasi dimana kedua belah pihak yang bertentangan masing mempertahankan kepribadiannya tetapi kedua bela pihak bersedia menghormati pendirian masing-masing.

iv) Arbitasi (arbitration) adalah bentuk akomodasi yang menggunakan pihak ketiga yang dipilih oleh kedua belah pihak untuk menyelesaikan perselisihan. Pihak ketiga dapat membuat keputusan atas dasar ketentuan yang ada.

v) mediasi (mediation) adalah bentuk akomodasi yang menggunakan pihak ketiga sebagai perantara untuk mengusahakan penyelesaian secara damai. Pihak ketiga tersebut tidak punya wewenang untuk membuat keputusan melainkan hanya sebgai penasehat saja.

vi) peradilan (adjudication) adalah bentuk akomodasi melalui pengadilan untuk menyelesaikan perselisihan kedua belah pihak yang bertikai.

vii) konsiliasi (konsiliation) adalah bentuk akomodasi dengan cara mempertemukan keinginan dari pihak yang berselisih bagi tercapainya suatu penyelesaian bersama.

viii) gencatan senjata (armistice) adalah bentuk akomodasi dengan cara menunda pertikaian maksud untuk memberi kesempatan kepada pihak tertentu untuk melakukan sesuatu pekerjaan tertentu yang tidak boleh diganggu gugat.

ix) konversi (konvertion) adalah bentuk akomodasi dimana salah satu pihak bersedia melepaskan pendiriannya dan menerima pendirian pihak lain.

x) stalemate adalah bentuk akomodasi dimana pihak yang bertikai karena mempunyai kekuatan yang seimbang berhenti pada suatu titik dalam melakukan pertentangan tanpa bisa maju maupun mundur.

II) Proses social Disosiatif. Proses social Disosiatif terjadi apabila orang atau perorangan atau kelompok melakukan interaksi social yang memiliki perbedaan kepentingan atau tindakan untuk mencapai tujuan tertentu. Proses social yang Disosiatif kadang dapat menimbulkan perpecahan jika pelaksanaannya tidak memenuhi aturan yang berlaku. Bentuk proses Disosiatif antara lain:

a) Persaingan (kompetisi) yaitu proses social yang mengandung perjuangan untuk memperebutkan tujuan yang sifatnya terbatas. Persaingan memiliki fungsi sebagai berikut: dapat menyalurkan keinginan yang kompetitif dari orang perorangan atau kelompok, sebagai alat untuk melakukan seleksi social, sebagai alat untuk menempatkan seseorang dalam bidang kerja yang seusai dengan kemampuannya. Sedangkan manfaat dari persaingan antara lain: mengembangkan kepribadian seseorang, memajukan masyarakat, meningkatkan rasa solidaritas antar anggota kelompo. Persaingan mempunyai dua tipe, yaitu persaingan pribadi (rivalry) dan persaingan kelompok. Tipe tersebut nantinya akan melahirkan beberapa bentuk persaingan antara lain persaingan di bidang ekonomi, persaingan dibidang kebudayaan, persaingan dan peran, dan persaingan ras. Sedangkan faktor yang mempengaruhi intensitas (mempermudah dan memperkuat) terjadinya persaingan dalam masyarakat antara lain:

i) tingkat kebebasan di dalam masyarakat artinya apabila kemerdekaan pribadi dapat direalisir dalam kehidupan yang demokratis maka semangat kompetitif masyarakat akant tumbuh dan berkembang.

ii) tingkat perubahan dalam masyarakat artinya apabila masyarakat tersebut sangat dinamis dan selalu berubah dengan sendirinya merangsang semangat kompetitif.

iii) tingkat rasionalitas suatu masyarakat artinya apabila masyarakat dalam hidupnya selalu rasional dan pragmatis dengan sendirinya semangat kompetitif akan berkembang.

iv) pandangan masyarakat terhadap nilai berlaku artinya apabila suatu masyarakat selalu menjunjung tinggi nilai atas dasar kemampuan dan prestasi maka dengan sendirinya semangat kompetitif akan berkembang.

b) Pertikaian (konflik). Pertikaian adalah proses social dimana orang perorangan atau kelompk berusaha untuk mencapai tujuan dengan jalan menentang pihak lawannya yang disertai dengan ancaman dan kekerasan. Terjadi pertikaian disebabkan oleh: adanya perbedaan pendirian, adanya perbedaan kebudayaan, adanya benturan antar kepentingan, terjadi perubahan social. Terjadi konflik juga dapat menimbulkan akibat negative sebagai berikut: retaknya persatuan kelompok, terjadinya perubahan kepribadian individu, hancurnya harta benda dan jatuhnya korban manusia, dominasi dan jatuhnya salah satu pihak. Selain tiu, konflik dapat menimbulkan akibat positif sebagai berikut: dapat menimbulkan solidaritas kelompok, dapat berfungsi sebagai alat perubahan social, sebagai tanda adanya dinamika masyarakat, dapat mengakibatkan lahirnya lembaga pengamanan. Konflik mempunyai dua tipe yaitu konflik pribadi (individual) dan konflik non pribadi. Tipe tersebut yang nantinya melahirkan beberapa bnetuk konflik antara lain: konflik antar kelas social, konflik antar ras/ suku/ agama/ golongan, konflik antar generasi, konflik politik dan ideology, dan konflik internasional.

c) Kontravensi. Kontravensi adalah suatu sikap mental yang tersembunyi terhadap orang lain atau terhadap unsur kebudayaan suatu golongan tertentu. Sikap yang tersembunyi tersebut dapat berubah menjadi suatu kebencian.

i) Kontravensi umum, contoh: penolakan, protes, perlawanan, menghalangi, mengganggu, mengacau pihak lain.

ii) Kontravensi sederhana, contoh: menyangkal, memaki, memfitnah, Mencerca.

iii) Kontravensi intensif, contoh: menghasut, menyebar gossip, mengecewakan.

iv) Kontravensi rahasia, contoh: khianat, membuka rahasia pihak lain.

v) Kontravensi taktis, contoh: mengejutkan/ membingungkan orang lain.

D) Keteraturan dalam Interaksi Sosial

I) Pengertian, Syarat dan Ciri Keteraturan Sosial. Keteraturan Sosial adalah suatu kondisi yang dinamis, dimana sendi kehidupan bermasyarakat berjalan secara tertib dan teratur, sehingga tujuan kehidupan bermasyarakat dapat tercapai secara berdaya guna dan berhasil guna. Syarat terciptanya keteraturan social dalam masyarakat adalah: kesadaran dari warga masyarakat akan pentingnya Keteraturan Sosial dalam masyarakat, adanya nilai dan norma yang memadai, adanya pengendali social dalam masyarakat. Selanjutnya ciri Keteraturan Sosial adalah adanya kesesuaian antar perilaku orang dalam masyarakat dengnan nilai dan norma yang ada dalam masyarakat, adanya kesesuaian antar peran social masing orang dengna status social yang dimilikinya, terpenuhnya segala kebutuhan dan kepentingan seseorang dalam masyarakat, tidak ada pihak yang dirugikan oleh pihak lain.

II) Unsur Keteraturan Sosial.

i) Orde Sosial. Orde social adalah suatu sistem atau tatanan norma dan nilai yang diakui dan dipatuhi oleh warga masyarakat.

ii) keajegan adalah segala sesuatu yang telah, sedang dan akan dikerjakan selalu sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam waktu yang terus menerus dipertahankan dan diyakini kebenarannya. Keajegan merupakan proses pelaksanaan order social yang terus menerus dijalankan di masyarakat. Cotnoh: peraturan yang diterapkan di sekolah diantara hari Senin-Selasa, siswa harus memakai seragam putih dan abu-abu, Rabu-Kamis seragam khas sekolah dan Jumat-Sabtu seragam pramuka. Jika peraturan tersebut dilakukan setiap hari dan terus menerus dinamakan keajegan.

iii) Pola (pola social). Pola berkaitan dengan bentuk suatu interaksi social, jadi pola adalah bentuk umum suatu interaksi social. Tahap pola terjadi apabila keajegan sudah terwujud, tahan uji, diterima oleh semuah pihak sehingga berkembang pola. Misalnya siswa belajar jia ada ulangan saja dan tidak ada ualngan mereka lebih senang santai. Kegiatan ini dilaksanakan kebanyakan siswa maka kegiatan itu dinamakan pola belajar siswa.

iv) tertib social adalah suatu kondisi yang di dalamnya terdapat keselarasan antara tindakan anggota masyarakat dengan nilai dan norma yang berlaku dimasyarakat. Tertib social dapat dicirikan oleh tiga hal berikut: terdapat suatu sistem nilai dan norma yang jelas, individu atau keompok dalam masyarakat mengetahui dan memamahi norma social dan nilai yang berlaku, individu atau kelompok dalam masyarakat menyesuaikan tindakannya dengan norma dan nilai yang berlaku.

III) Pola pendukung terciptanya Keteraturan Sosial. Menurut Koenjtaraningrat, pola yang dapat mendukung terciptanya Keteraturan Sosial sebagai berikut:

i) pola pembenaran tingkah laku termasuk peranan dan tata cara yang ditentukan secara membudaya.

ii) secara tertulis maupun tidak, setiap institusi (pranata) mengandung nilai, peranan dan tingkah laku yang diterapkan untuk mengikat anggota masyarakat.

iii) pola tingkah laku berkisar pada kebutuhan pokok dan terjalin sehingga mengarahkan pribadi anggota masing menuju pemenuhan kebutuhan.

iv) pola tingkah laku yang cukup lama ditetapkan secara ketat supaya menjadi sesuatu yang permanen.

V) dengan cara pergaulan terus menerus, tingkah laku tersebut menjadi pola dan berkembang menjadi kebiasaan.

Perwujudan Keteraturan Sosial nantinya dapat diimplementasikan melalui berbagai segi kehidupan, seperti Keteraturan Sosial dalam kehidupan keluarga, sekolah, kehidupan dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara termasuk pula keteraturan dalam kehidupan beragama.

E) Dinamika Sosial dalam Interaksi Sosial

I) Pengertian Dinamika Sosial dalam hubungannya dengan Interaksi Sosial.

a) Pengertian Dinamika Sosial. Dinamika Sosial adalah keseluruhan perubahan dan perkembangan dari seluruh komponen masyarakat dari waktu ke waktu. Dinamika Sosial dapat berupa perubahan yang progresif yaitu perubahan yang membawa kemajuan tetapi dapat pula berbentuk perubahan yang regresif yaitu perubahan yang menuju kemunduran. Di dalam Dinamika Sosial seluruh elemen masyarakat beserta dengan perangkatnya terjadi interaksi social dan korelasi pengaruh mempengaruhi sehingga mewujudkan gerak dari keseluruhan komponen yang ada di dalam masyarakat.

b) Hubungan Interaksi Sosial dengna Dinamika Sosial. Interaksi social merupakan bagian terkecil dari proses Dinamika Sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Interaksi social merupakan implementasi dari pemenuhan kebutuhan warga masyarakat baik secara individual atau secara kolektif dengan berpedoman  pada nilai dan norma social yang terdapat masyarakat. Melalui interaksi sisoal inilah masyarakat akan bergerak secara dinamis atau mengalami Dinamika Sosial bersifat progresif maupun bersifat regresif. Oleh karena itu dalam interaksi social kita mengenal tingkat hubungan yang menjadi cirri interaksi social mengalami Dinamika Sosial maupun tidak. Yang dimaksud dengan tingkat hubungan adalah sampai sejauh mana jalinan atau interaksi social yang dilakukan oleh orang perorangan atau kelompok terhadap orang lain atau kelompok lain dapat berlangsung dalam dua tingkat hubungan, yaitu:

1) Tingkatan hubungan interaksi yang dangkal yaitu apabila suatu interaksi social yang berlangsung hanya pada saat tertentu saja dan ditidak berkesinambungan serta antara pihak yang terlibat di dalamnya tidak sampai menimbulkan kekerapan jalinan. Contoh: interaksi social antara sesame penumpang bus.

2) Tingkatan hubungan interaksi yang dalam yaitu apabila suatu interaksi social yang berlangsung secara terus menerus dan berkesinambungan dalam jangka waktu yang tidak terbatas dan pihak yang terlibat dalam interaksi social satu dengan lainnya biasanya saling pengaruh mempengaruhi dan sama memiliki tujuan tertentu sehingga menimbulkan kekerapan jalinan. Contoh: interaksi social antara guru dengan siswanya.

II) Dinamika Sosial dalam pelaksanaan interaksi social. Dinamika Sosial dalam suatu interaksi social pada dasarnya tergantung pada para pelaku interaksi social sendiri. Dengan kata lain, apabila pelakunya bersifat statas maka interaksi sosialnya akan bersifat statis sebaliknya apabila pelakunya bersifat dinamis  maka interaksi sosialnya bersifat dimanis. Pikiran, sikap dan sifat manusia setiap waktu bisa berubah sesuai dengan perkembangan zaman atau gerak dinamika masyarakat, sehingga dengan kedinamisan itu secara tidak langsung akan membawa pengaruh terhadap pelaksanaan interaksi social.
Pelaksanaan suatu interaksi social akan berkembang dan berlangsung secara terus menerus atau mengalami dinamika social apabila: orang yang terlibat dalam interaksi social tersebut masih mempunyai harapan untuk mencapai tujuannya, adanya keuntungan yang hendak diraihnya, adanya penyesuaian diri antara pihak yang terlibat dalam interaksi social tersebut,  tidak ada persamaan pendapat antara kedua belah pihak.
Sebaliknya, pelaksanaan suatu interaksi social akan berubah atau berhenti atau tidak mengalami dinamika social apabila: orang yang terlibat dalam interaksi social tersebut sudah tidak mempunyai harapan untuk hidup, dirasakan tidak ada keuntungan dalam interaksi social tersebut, tidak ada penyesuaian diri antara pihak yang terlibat dalam interaksi tersebut, tidak ada persamaan pendapat antara kedua belah pihak, interaksi sosiap dapat pula berhenti apabila salah satu pihak yang terlibat dalam interaksi social tersebut meninggal dunia.

IN ENGLISH (with google translate Indonesian-english):

Social Interaction in the Dynamics of Social Life

(Source: Ali, Nur. Modules Sociology Teaching Materials. Ponorogo: Gandini.)

A) Definition and Incentives Social Interaction.

I) Social Interaction and Social Action. Social interaction is the nexus of the interplay that occurs between people, whether individuals with individuals, groups of individuals or groups with the group. Social interactions can also be interpreted as a process of reciprocal influence (give and take) through talking, acting or trade mark that can cause changes in feelings, thoughts and actions. Social interactions comprises two elements, namely social action and the relationship between social action. Social action is forming elements of social interaction. According to Max Weber, social action is an act committed by a person taking into account the presence of others. Max Weber's social action divides into several types, namely:

a) instrumental rational action is action taken by a person who takes into account the suitability of the methods used for the purpose to be achieved. Example: in order to face the National Final Examination, Rudi economic lessons and English both at school and outside of school; learning.

b) rational action beriorientasi value is social action performed by someone who takes into account the benefits of the goal but not too overlooked. The most important action is included in the criteria of good and true to size and assessment of the surrounding community. Example: before the exams the students prayed beforehand; way of eating.

c) traditional action is social action performed by a person on the basis of custom made by our ancestors. Example: on Eid, Tobroni do Sungkeman (apology) to the father, mother, grandfather and grandmother; Grebeg Suro.

d) affective actions are social acts committed by a person on the basis of emotional expression that is spontaneity. Example: after reading the announcement in the newspapers that he was accepted at the University of Gadja Mada University, Yogyakarta, Paramita cheering with delight.

II) The occurrence of Incentives Social Interaction. According Soerjono Soekanto, human social interaction driven by the following factors:

a) the instinct to live together (gregariousness),

b) The desire to fit in with others,

c) the desire to fit in with the natural environment.

Instinct above is the most basic human need to make ends meet, namely:

a) The need for affection is the need for love affection.

b) The need for inclusion of the requirement to obtain and maintain life satisfaction.

c) The need for control is the need for control and power (live basis), norms or values.

Furthermore, Aristotle said that man as "zoon politicon" are social animals that like to live together. In other words, in this world there is no human being can live alone or referred to social isolation, which isolate themselves and do not get along with others. So the men in her life have to interact with others in order to meet their needs.

B) The process of social interaction.

I) Syarakt the social interaction.

a) Social contact is an attempt to touch or contact others either directly or indirectly. Social contacts can be divided into:

i) Primary Contact the social contacts that arise directly or face to face.

ii) Secondary Contact the social contact that occurs through an intermediary or liaison. Secondary contacts are divided into two types, namely:

 Secondary contact directly the social contact that occurs by using certain tools, such as phone calls, letters and so on.

 Secondary indirect contact ie social contact that occurs with the mediation of others (third parties).

b) Communication is the process of notification and dissemination of news, knowledge, and ideas or values ​​for the purpose of inspiring the participation of another person in order to be notified of things belong together. There are five basic elements in communication. Namely: communicators (those that convey information), communicants (the person receiving the information), messages (penerangam), medium (material), effect (influence).

II) Schedules in Social Interaction. Edward T. Hall, USA sosiolologi experts say there are 4 gaps in the implementation of the social interaction that is:

1) Intimate distance ranges from 0-18 inches (0-45 cm). distance intimate body contact and is characterized by the five senses (sight). Example: people having sex, people involved in sport wrestling.

2) personal distance ranges between 0-18 inches (0-45 cm). personal distance is characterized by body contact when people interact stretched out his hands, body contact and senses begin to decrease. Example of the interaction between two students who sat the bench.

3) Social distance ranging between 4-12 feet (1.22 m-3, 66 m). the social distance, the interaction can speak normally and do not touch each other. Example: people who interact with a casual encounter.

4) Public distance above 12 feet (over 3.66 m). at this distance, the sound becomes a major concern means that the farther the distance the sound too loud to be removed. Spoken words and sentences more carefully selected. Example: interaction between a politician, artist, actor with the supporters or fans.

III) Stage in Social Interaction. Mark L. Knap British sociologist Social Interaction stage divide into two stages:

1) Stage closer, shared:

a) Phase start (initiating). At this stage the parties interact started the conversation. For example, began to rebuke-greet with small talk.

b) Phase probe (Experiment). At this stage the parties interact started mendugaa, examines the possibility of whether the relationship continues or not.

c) Phase Boost (Intensifying). At this stage, the parties mutually interact to reinforce relationships characterized by intimacy relationship.

d) Phase penyatupaduan (Integrating). At this stage interacting parties began to feel that he is part of a whole, and outsiders began treating both the individual as a whole.

e) Phase linkages (Bonding). At this stage a unifying process marked by the inauguration of the association. For example, through marriage, employment contacts and strengthen relationships as well as complicate the parties to withdraw from the relationship.

2) Phase separation, the stage is divided into five stages, namely:

a) Phase discrimination (Differemtiating). At this stage everything is done together began to be themselves. Ego began to find. Ours turned out to be mine and yours. In addition, the specificity of tolerance to other parties began to decline.

b) Stage Limit (circumscribing). At this stage of the discussion on the relationship of the FDA. Communication from the dissociative nature (different interests). A statement is usually met with denials, denials, complaints, prohibition and injunction.

c) Phase jam (Stagnating). In this stage communication from a standstill, although no communication had to be done with extreme caution. Talks the two sides began to be avoided for fear of collision.

d) Phase avoid (Avoiding). At this stage, the parties began to avoid to not see or even try to not make contact in any form. At the various superiors, ultimately is not accompanied by any reason.

e) Phase Decide (Terminating). At this stage dimanivestasikan usually in the form of a statement "our relationship broke up". Each one started to continue his life without the presence of others.

IV) Types of Social Interactions.

a) social interaction with the conversation (conversation) that social interaction is done by using verbal language. Through conversation and advance phase relationship can occur interplay.

b) social interaction with sign language (symbolic interactionism) that social interaction is done by using sign language or a specific symbol. For example, giving flowers, waved, and sebagianya. The use of sign language or symbol depends on the person doing social interaction. In other words, the meaning of language or symbols that are used between each person or community has a different meaning. For example, red means daring for Indonesia but for the Russians, red means the symbol of communism and so on.

V) Characteristics of Social Interaction. According to Charles P. Lomies, features:

a) The number of perpetrators of more than one person,

b) communications between the perpetrator using symbols,

c) is determined by the dimension of time past, the present and the future, which determines the nature of social interaction.

d) is carried out through a particular social system.

e) Have a goal that can be reached from these results.

Furthermore, the implementation of social interactions that can be established in both the patterns of social interaction should always be based on:

a) The need for a real,

b) effectiveness and efficiency,

c) Adjustment to the truth,

d) Adjustment to certain rules,

e) does not force mentally and physically.

IV) Factors that avoids social interaction.

a) Imitation. Imitation is the act of a person to imitate the actions of others. Actions that can be replicated in the form of attitude, appearance, lifestyle, even all that belongs to someone else. G. Trade (Sociology France) divides members of the community into two groups, namely the group who received a new thought (inventor) and copycat groups consisting of the largest members of the public. Furthermore, A. M. J. Chorus found imitation occurs if there are special requirements as follows:

i) must have earned the attention of others to be emulated.

ii) there must uphold attitude or admire things that would be imitated.

iii) there must be a sufficient level of understanding to the people of the things that would be imitated.

Imitation can lead to positive as it can encourage a person to comply with the social values ​​and social norms in society. However, imitation is also a negative impact because if ang copied is in defiance, one that mimics the act would be distorted. Besides imitation can also be debilitating and deadly developing one's creativity because the mimic innovative passive and not the circumstances that happened.

b) suggestions. Suggestion is a process by which a person or group receiving guideline how to view or behavior of another person without first criticism, suggestion can also be interpreted as a particular influence or suggestion that causes a reaction without a second thought to those who receive it. Being suggestion can shape attitudes, actions, opinions or suggestions of questions. Furthermore, the form of suggestions are as follows:

i) The Suggestion barriers usually think of people who have thought it would be easy tersugesti barriers.

ii) suggestions for dissociation (split mind). Someone also heavily burdened his thoughts and his mind will easily tersugesti.

iii) suggestions for authority is the suggestion that people do have a certain power or authority over others.

iv) suggestion for the majority, someone will follow what most people around him.

v) suggestion as will to believe, that someone believes before suggestible. Even someone come in person to ask suggestible because it considers what the suggestion was good and beneficial for her.

In general suggestion is obtained from the following:

i) The person has the authority or charisma. For example, scholars, leaders of the State, parents, academics, and so on.

ii) persons who have high positions, such as governors, regents and so on.

iii) a group of celebrities, such as actress, singer, and so on.

iv) Advertising mediated period, both print and electronic.

v) the majority or the ruling against minorities or controlled.

A person can easily tersugesti because it is caused by the following factors:

i) he was hit by the emotional power of his reason impeding rational.

ii) a person's ability to think and not terkosentrasi fragmented.

iii) Provision of suggestion has the power and authority to submit suggestions or opinions to others.

iv) support of the majority of other people.

v) the support the opinion of those around him to those who doubt.

c) sympathy. Sympathy is a keen sense of what drives someone to understand or like everyone else. Distinct sympathy with empathy. In the general population, sympathy interested in good things, such as appearance, beauty, prestige or achievements of someone who would arouse sympathy of others. As for empathy, understanding other people is usually because they have the luck or things that are not good.

d) Identification. The identification of a person is inclined to equate himself with others. In this identification there is usually an idolized figure. Therefore, in the process of identification, a person who wants to be exactly the same as the character he had idolized. The process of identification is not merely imitate his behavior patterns alone but also through a very deep psychological processes.

e) Motivation. Motivation is the drive that underlies a person to commit an act or acts on the basis of social rationality. Someone who is motivated to obey or carry out what motivated critically, rationally and responsibly.

C) Form of Social Interaction.

I) The process of social associative. Associative social processes is an individual or group performs a social interaction that have the same views and actions that lead to cooperation and unity. Being an associative social processes include:

a) Cooperative (work together). Cooperatives are businesses of two or more people to carry out cooperation in order to achieve common goals. Cooperation or co-operation arising caused by: the interests of the same interests and perhatinan, there is an obligation situational motives for helping others, a desire to reach a value or greater results, the existence of a common enemy.

Judging from the nature, cooperatives can be divided into:

i) Primary Cooperative is a form of collaboration where members merge into one, chasing each other for their respective work in the interests of all members of the group.

ii) secondary cooperatives that form of cooperation where members simply to dedicate a portion of his life in his group, Meeka more individual and always take into account the profit or loss.

In terms of its manifestations, cooperatives can be divided into:

i) Harmony which includes mutual cooperation and mutual help.

ii) bargaining (bargaining) is a form of agreement between two or more people or prganisasi regarding the exchange of goods or services.

iii) co-optation (cooptation) is a cooperative effort in the direction taken by the leadership agreed to be appointed to control the organization.

iv) Coalition (coalition) is the business two or more organizations that have a different structure was about to reach the goal by way of cooperation.

v) Joint venture (joint venture) is a joint venture to commercialize a complementary activity to the shortcomings in order to achieve mutual benefit.

Judging from the cooperative or joint implementation can be divided into:

i) Cooperation spontaneous forms of cooperation which necessarily or automatically happen in life.

ii) direct cooperation is the cooperation on the basis of orders from superiors or rulers.

iii) Contact cooperation is a form of cooperation on the basis of an agreement or contract.

iv) traditional cooperation is the cooperation that is based on traditional cultural values ​​of society.

b) Assimilation. Asimiliasi is a process of assimilation among individuals or groups to reduce disparities in order to achieve a unity. The process of assimilation can occur when: there is a group of people of different culture, a group of individuals who had, hanging out with each other directly and intensively in a long time, the one group of people to change and adapt to each other.
There are several forms of social interaction that leads to the asimiliasi (assimilative interactions), namely: the social interaction is an approach to the other party and the other party continued this way, social interaction is not experiencing hindrance or restriction, the social interaction is direct and primary, the frequency social interactions are quite frequent and remain and there is a balance between the patterns of social interaction.
Factors that facilitate the assimilation among others: the tolerance, the respect for other people and cultures, the similarities and cultural elements. Equal opportunity in the economy, the open attitude of the ruling class, the existence of a common enemy outside, a mixed marriage.
While the factors that inhibit the assimilation among others: the physical differences, the extreme differences in cultural background, a prejudice, a sense of superior and supporters of a particular culture are considered low culture of other groups, the discrimination that was launched by the authorities against minorities, lack of knowledge of a group the other group, isolated culture of a particular group in society.

c) Accommodation. According to Young Kiball term accommodation is used in two senses, namely:

i) assign it to a state that is an attempt to reach a balance in social interaction between indicidu or group of inter-related with the implementation of social norms prevailing in society.

ii) Refer to a process that is a human effort to defuse a conflict in order to achieve stability again.

Accommodation purposes: reducing the conflict that occurs between individuals or groups, to prevent the explosion of a controversy for a while, looking at the possibility of cooperation among indivdu or rival groups, commercialize fusion between separate groups.

Form of accommodation:

i) Duress (coercion) is a form of accommodation that the process is carried out because of the insistence of one of the stronger party.

ii) compromise (compromise) is a form of accommodation in which the opposing parties each reduce their demands in order to achieve a settlement of the dispute exists.

iii) penenggangan (tolerance) is a form of accommodation in which both parties retain their conflicting personalities but both are willing to defend the honor of their respective establishments.

iv) Arbitasi (arbitration) is a form of accommodation that uses a third party chosen by both parties to resolve the dispute. Third parties can make decisions on the basis of the existing provisions.

v) mediation (mediation) is a form of accommodation that uses a third party as an intermediary to seek a peaceful solution. The third party does not have the authority to make decisions but only sebgai advisory only.

vi) judicial (adjudication) is a form of accommodation through the courts to resolve disputes both sides of the conflict.

vii) conciliation (konsiliation) is a form of accommodation by way of the desire to bring the disputing parties to reach a solution together.

viii) truce (Armistice) is a form of accommodation by delaying dispute intent to allow certain parties to do certain jobs that can not be contested.

ix) conversion (konvertion) is a form of accommodation where one party was willing to release the stand and accept the establishment of others.

x) stalemate is a form of accommodation where the other players because it has a balanced stopping power at a point in doing conflict without being able to go forward or backward.

II) Dissociative social process. Dissociative social process occurs when a person or an individual or group social interaction with different interests or actions to achieve specific goals. Dissociative social process that can sometimes cause discord if the implementation does not meet the regulations. Forms of Dissociative processes include:

a) Competition (competition) is a social process that contains the struggle to fight the limited purpose. Competition has the following functions: to channel the competitive desires of the individual or the group, as a tool for social selection, as a means to put someone in the field of work in accordance with its capabilities. While the benefits of competition are: to develop one's personality, promote community, increase the sense of solidarity among the members kelompo. The competition has two types, namely personal rivalry (rivalry), and group competition. The type will be spawned several other forms of competition between economic competition, competition in the field of culture, and the role of competition, and competition race. While the factors that affect the intensity (simplify and strengthen) the competition in the community include:

i) the degree of freedom in a society where personal freedom means to be realized in the life of a democratic society akant the competitive spirit to grow and develop.

ii) the rate of change in society means that if the community is very dynamic and constantly changing in itself stimulates the competitive spirit.

iii) the level of rationality of a society means that if the people in his life always rational and pragmatic by itself will develop a competitive spirit.

iv) society's view of the value of policies means that if a society has always upheld the values ​​on the basis of ability and accomplishment then by itself will develop a competitive spirit.

b) dispute (conflict). The dispute is a social process in which the individual or faction trying to achieve the goal by the opposing party opponent accompanied by threats and violence. Conflicts occur due to: differences establishments, cultural differences, a conflict between the interests of social change. Conflicting also following negative consequences: the breakdown of the unity of the group, individual personality change, destruction of property and loss of human dominance and fall of one of the parties. Besides tiu, conflict can lead to a positive result as follows: it can lead to group solidarity, can serve as an instrument of social change, as a sign of the dynamism of the people, can lead to the birth of the security agencies. Conflict has two types of personal conflict (individual) and non-personal conflicts. Type, which later spawned several bnetuk conflict include: the conflict between social classes, conflicts between racial / ethnic / religious / class, intergenerational conflict, political conflict and ideology, and international conflict.

c) Kontravensi. Kontravensi is a mental attitude that is hidden to others or to the elements of the culture of a particular group. Hidden attitude can turn into a hatred.

i) Kontravensi common, example: denial, protest, resistance, deter, disrupt, disrupt others.

ii) Kontravensi simple, example: denying, cursing, slander, revile.

iii) Kontravensi intensive, eg inciting, spreading gossip, disappointing.

iv) Kontravensi secret, eg treasonous, unlock the secrets of the other party.

v) Kontravensi tactical, eg shock / confuse others.

D) Order in Social Interactions

I) Definition of Terms and Characteristics of Social Order. Social Regularity is a dynamic condition, in which the foundations of social life runs in an orderly and organized, so that the goal can be achieved in public life efficient and effective manner. Terms creation of social order in the society are: the awareness of the community about the importance of Social Order in society, the values ​​and norms are adequate, the social control in society. Further features of Social Regularity is the compatibility between the behavior of people in society dengnan values ​​and norms that exist in society, the role of social conformity between each person dengna its social status, Unfulfilled needs and interests of a person in society, no party aggrieved by the other.

II) Elements of Social Order.

i) Social Order. Social Order is an order system or norms and values ​​recognized and obeyed by citizens.

ii) constancy is everything that was, is and always will be done in accordance with the applicable provisions in a continuously maintained and is believed to be the truth. Constancy is the process of implementation of the social order that continuously run in the community. Cotnoh: the rules of the school between Monday-Tuesday, students must wear white and gray uniforms typical Wednesday-Thursday and Friday-Saturday school scout uniform. If the regulation is done every day and continually called regularity.

iii) Patterns (social patterns). Pattern relates to the form of a social interaction, so the pattern is a common form of social interaction. Phase pattern occurs when the regularity has been established, time-tested, accepted by semuah party that developed the pattern. For example, students learn jia a test only and no ualngan them more time relaxing. This activity is carried out most of the activities that the student named student learning patterns.

iv) social order is a condition in which there is harmony between the actions of members of the public with the values ​​and norms in society. Orderly social can be characterized by three of the following: there is a system of values ​​and norms are clear, individual or in society keompok memamahi knowing and social norms and values, individuals or groups in the community to adjust their actions to the norms and values.

III) The pattern of supporting the creation of Social Order. According Koenjtaraningrat, patterns that can support the creation of Social Order as follows:

i) justification patterns of behavior including the role and procedures determined entrenched.

ii) in writing or otherwise, any institution (institutions) contains the value, role and behavior applied to bind members of the public.

iii) behavioral patterns revolve around the basic needs and interwoven so personally directed towards meeting the needs of their members.

iv) patterns of behavior are strictly defined long enough to become something permanent.

V) by means of continuous relationships, behavior becomes a pattern and develop into a habit.

Embodiment of Social Order will be implemented through a variety of aspects of life, such as the Social Order in family life, school, life in community, state and nation including the order in religious life.

E) Social Dynamics in Social Interaction

I) Understanding Social Dynamics in conjunction with Social Interaction.

a) Understanding Social Dynamics. Social Dynamics is the overall change and development of the entire community from time to time. Social dynamics can be progressive changes that change brings progress but can also form a regressive changes are changes that led to a setback. Inside Social Dynamics all elements of the community and the interaction with the device influences the social and correlation thus realizing the overall motion of the components in the community.

b) Social Interaction Relations dengna Social Dynamics. Social interactions are the smallest part of the Social Dynamics occurring in the community. Social interaction is an implementation of the fulfillment of the needs of citizens, individually or collectively, based on the values ​​and social norms contained community. Through this interaction the sisoal will move dynamically or experienced Social Dynamics is progressive or regressive. Therefore, in the social interaction we know the level of relationship cirri social interaction experience of Social Dynamics or not. What is meant by the degree of relationship is the extent to which braid or social interaction is done by an individual or group against another person or group can take place in two levels of relations, namely:

1) Depth of superficial interaction that if a social interaction that takes place only at certain times only and ditidak sustainable and between the parties involved not to cause frequency braid. Examples: social interaction among fellow bus passengers.

2) the level of interaction that is if the social interactions that take place continuously and sustainably in an unlimited period of time and those who engage in social interaction with each other is usually mutual influence and shared a common purpose frequency causing fabric. Examples: social interaction between teachers and students.

II) Social Dynamics in the implementation of social interaction. Social dynamics in a social interaction depends essentially on the perpetrators of social interaction itself. In other words, if the culprit is statas the social interactions will be static instead of dynamic if the culprit is the social interaction is dimanis. Thoughts, attitudes and human nature can be changed at any time in accordance with the times or the motion dynamics of the community, so that the dynamism that would indirectly affected the implementation of the social interaction.
The implementation of a social interaction will evolve and take on a continuous basis or having social dynamics when: people who engage in social interaction still have hopes to achieve its goal, the profits going to reach, the adjustment between the parties involved in social interaction, not there is agreement between the two sides.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar