Senin, 08 Juli 2013

Artikel mengenai Bahasa di dalam Keluarga/ Articles on language in the Family FOR GENERAL GENERAL

Artikel mengenai Bahasa di dalam Keluarga

(Sumber: _.2013.Banyak Mulut, Satu Bahasa. Surabaya: Deteksi Madiun Jawa Pos Edisi Kamis 27 Juni 2013.)

A) Perlu tidak ada bahasa sehari-hari dalam keluarga? Perlu: 54,44%, nggak: 45,56%

B) Paling sering bahasa apa yang sering kamu gunakan? Bahasa Indonesia:54,15%, bahasa Jawa: 37,55%, bahasa Inggris: 4,80%.

Profil Respondet

A) Jenis Kelamin: cowok:50%, cewek: 50%

B) Pendidikan: SMP:50%, SMA: 50%

C) Usia:

Ø 11-13 tahun: 24,9%
Ø 17-19 tahun: 51,4%
Ø 14-16 tahun: 23,7%

Siapa yang mempunyai Inisiatif Memakai bahasa tersebut?

Ø Aku sendiri: 43,23%
Ø Ibu:29,69%
Ø Ayah:19,21%

Apakah kamu punya bahasa sehari-hari dalam keluarga? Punya: 53,50%, Nggak: 46,50%

Respondet: Total responDet 446 terdiri atas pelajar SMP dan SMA di Surabaya. Metode poling: Cluster random sampling, closed question.Toleransi kesalahan: 4,5% Instrumen polling: Open closed question.

Apa jadinya kalau dulu Si Tarzan kecil ditemukan gajah, bukan gorilla? Dia jadinya bakal ngomong pakai bahasa apa ya? Nggak mungkin banget kalau juga berbahasa primate. Terbukti kalau bahasa yang kitapakai itu sebenarnya tergantung pada keseharian kita di dalam keluarga. Tahu tidak, ada 53,50 persen responDet yang punya bahasa keluarga. Maksudnya, bahasa yang dipakai sehari-hari di dalam rumah. Agar mudah, coba kamu membayangkan bagaimana jadinya kalau orang Ambon dan Surabaya berada di satu rumah. Mereka berbicara pakai bahasa apa? Bingungkan? Coba kita tanya Cindy Nanda, teman Si Det dari SMPN 3 Surabaya. Karena, orang tua Cindy berasal dari dua daerah yang berbeda. Ayah dari Ambon dan ibu dari Surabaya. Kalau di rumah, agar bisa bersambung. Cindy dan keluarga berbciara pakai bahasa Indonesia. Sama seperti 29,26 persen responDet lainnya. “untungnya, cara berbicara orang Ambon mirip dengan bahasa Indonesia. Sehingga tidak terlalu aneh untuk didengar. Paling hanya beda di istilahnya. Jadi di translate ke istilah umum pakai bahasa Indonesia,” kata Cindy. Meski sudah sering berbahasa Indonesia, Cindy mengaku terkadang masih ada celetukan nuansa Jawa-Ambon begitu di rumahnya. Gado-gado bingilit! “Sat bercanda di rumah, kadang ayah suka ngomong pakai bahasa daerah Ambon. Terus juga mama kadang ngomong pakai bahasa Jawa pas lagi ngomel. Lucu ja kalau pas di rumah lagi suntuk. Jadi terhibur deh, hehe,” ucapnya sambil cekikian. Selain agar tidak miskomunikasi di dalam rumah, sebanyak 52,21 persen responDet mengaku memang sudah dibiasakan berbicara dengan bahasa tertentu saat di rumah. Seperti Yusya Rugaya, teman si Det dari SMAN 3 Surabaya. Dia kalau di rumah berbicara pakai bahasa Jawa halus. “Biasanya aku pakai bahasa Jawa madya, bukan bahasa Jawa Suroboyoan. Soalnya lebih halus, sopan, dan enak didengar. Apalagi kalau sudah berhadapan dengan sama orang yang lebih tua,” jelasnya. Berarti rumah Yusya itu termasuk area no misuh dong! Tetapi, uniknya, karean kebiasaan berbahasa Jawa halus, ketika ngobrol bareng teman sekolah, dia jadi sering mencampuradukan bahasa Jawa halus dengan bahasa Indonesia. “Temen-temen sih jadi sering ketawa gitu kalau dengar aku ngomong. Kadang juga jadi bahan bully-an gitu. Soalnya terlalu sopan gitu sama teman sendiri.” Katanya sambil sedih. Tidak sedih ya? Karena lemah lembut banget cara Yusya berbicara, selembut tatapan matanya. Serupa tapi tak sama dengan Yusya, Moh. Syaiful Anam dari SMA Wahid Hasyim Surabaya juga sering lidahnya kebelit pas berbicara. Soalnya, YFI aja, lidah Syaiful yang Madura ini susah banget melafalkan vocabulary bahasa Inggris. “Iya, pas lagi pelajaran bahasa Inggris di sekolah, kadang itu susah buat ngucapin vocabnya. Medok Maduranya selalu keluar sendiri gitu. Hahaha,” ungkapnya. Meski begitu, cowok asal Bangkalan, Mandura ini mengaku sangat bangga karean dapat menggunakan bahasa adatnya. Logat bicaranya justru membuat temannya tertarik untuk ikut mempelajarinya,” Awalnya temen-temen ketawa dengar logatku ngomong menggunakan bahasa Madura. Tapi, lama-lama jadi banyak yang interes sama bahasa Madura. Soalnya, di Surabaya banyak orang Madura, jadi mereka pengen ngerti juga,” jelasnya. Biar wawasan kamu makin banyak. Det memberi fakta menarik. Ternyata, 91,27 persen responDet mengaku nyaman sekali kalau berbicara dengan menggunakan bahasa keluarga. Ada 71,8 persen responDet yang mencoba berbicara pakai bahasa lain. tapi, mereka juga merasa aneh sendiri (28,2%) dan malu-malu (25,7%). Kalau bahasa keluarga Det mudah, cuma bahasa kalbu. Tapi, tetep penuh cinta.