Senin, 08 Juli 2013

Artikel mengenai TBC, bagian 3/ Articles on tuberculosis, part 3 FOR GENERAL MEDICINE

Artikel tentang TBC, bagian ketiga

(Sumber: _.2013. Hingga Hari ini Penyakit TBC Masih Tetap Ada. Madiun: Radar Madiun Jawa Pos Edisi Rabu 29 Mei 2013.)

Semua orang Indonesia tentu mengenal TBC. Kenapa? Karena hingga hari ini penyakit batuk menahun itu sangat banyak menyerang. Hanya orang Indonesia? Ternyata tidak, menurut WHO, Badan Kesehatan Dunia, penyakit ini pernah menjangkit di Negara mana pun. Bahkan, sejarah membuktikan, penyakit ini telah mewabah sejak zaman Yunani Kuno. Mau bukti? Deskripsi ilmiah paling kuno, yang berasal dari Hippocrates di abad V SM, telah menyebut penyakit ini. Dan oleh Hippocrates penyakit ini disebut phtisis, yang dalam bahasa Yunani Kuno berarti mengurusnya tubih secara progresif. Lalu, secara detail ia menguraikan gejalanya. Menurutnya, gejalanya adalah tubuh menjadi kurus, orang itu terbatuk-batuk terus bahkan terkadang sampai berdarah, badannya panas, dan ia terkadang sampai menderita diare. Ia menduga penyakit ini penyakit keturunan. Alasannya, anak yang terserang TBC biasanya diasuh oleh orang tua yang juga menderita TBC. Setelah lebih dari 15 abad, Villemin (1827-1892) merupakan orang pertama yang membuktikan secara ilmiah bahwa TBC menular. Meski demikian,  ia belum tahu penyebabnya. Dengan ditemukan stetoskop oleh Laennnec tahun 1819, pemeriksaan jasmani menjadi semakin penting dalam penentuan diagnosis klinis TBC. Setelah basil TBC ditemukan Robert KOCH 24 Maret 1882, teori Hipocrates itu gugur dan semua pihak mengakui TBC adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis, ditemukan oleh Robert Koch. Penemuannya ini disampaikan di Berlin Phtisiological Society, 24 Maret 1882. Tanggal ini dijadikan Hari TBC Sedunia. Yangdapat diserang bakteri ini hampir  seluruh tubuh, tapi yang paling banyak adalah paru-paru. Penyakit ini dapat menyerang semua orang, tetapi paling sering yang berusia 15-35 tahun, terutama yang bertubuh lemah, kurang gizi, atau tinggal satu rumah dengan penderita TBC. Bahkan, lingkungan yang lembab, gelap, dan tidak memiliki ventilasi akan memberikan andil yang besar bagi seorang untuk terjangkit TBC. Lalu, apakah penyakit ini dapat disembuhkan? Menurut ahli, TBC paru-paru dapat disembuhkan. Namun, kurang pekaan pendierta dan kurangnya informasi yang berkaitan dengan cara pencegahan dan pengobatannya, kematian pun tak jarang terjadi. Karena itu dibutuhkan tidnakan sejak dini untuk mencegah dan mengobati penyakit ini. Dengana apa? Tentu saja tak satu jalan ke Roma. Dan salah satunya adalah dengan menggunakan xanthone. Tapi, dari mana zat itu bsisa didapat? Zat alami ersebut terdapat dalam kulit buah manggis. Kalau begitu, pakah kita pasti memakan kulit buah manggs? Tentu saja tidak.