Senin, 08 Juli 2013

Artikel tentang Leptospirosis/ Articles about Leptospirosis FOR GENERAL MEDICINE

Artikel tentang Leptospirosis

(Sumber: _.2013. Leptospirosis Renggut 8 Nyawa. Sampang: Jawa Timur Jawa Pos Edisi Sabtu 4 Mei 2013.)

            Penyakit infeksi akut karena bakteri Leptospira atau urine tikus kembali mengakibatkan kematian. Korban meninggal kedelapan dalam sebulan terakhir adalah Sukdi, 65, warga Pangelen, Kecamatan Kota Sampang. Hingga keramin (3/5). Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang mencatat 55 orang yang terjangkit Leptospirosis. Sejak dinyatakansebagai kasus kejadian luar biasa (KLB) pada akhir April, jumlah penderita penyakt tersebut semakin bertamha. Jika awal pejkan Dinkes Sampang masih mencatat jumlah penderita 38 orang, kemarin jumlah tersebuttelah menembus angka 50. “Inalilahi, Kamis malam pasien bernama Sukdi,65, wargaPangelen, Kecamatan Kota, dinyatakan meninggal dunia. Dia juga didiagnosis menderita Leptospirosis,” ujar dr Bhakti Setyo Tunggal, coordinator KLB Leptospirosis kemarin. Selain Sukdi, ada 25 penderita yang dirawat di RSUD Sampang. Lima oarng lainnya memilih dirujuk ke rumah sakit di luar Sampang. “Yang dinyatakan sembuh 15 orang,” jelas Bhakti saat ditemui diposko KLB dinkes kemarin. Ironisnya, dr Bhakti belum bisa memastikan sampai kapan penyakit Leptospirosis terus menghantui masyarakat Sampang. Menurut dia, ditinjaudari masa inkubasi, seharusnya Leptospirosis hanya bertahan paling lama 10 hari pasca banjir. “Namun, bakteri Leptospira berkembang biak di dalam tanah. Jika tidak terkena matahari, bakteri Leptospira bisa bertahan selama 2 bulan,” ungkapnya. Guna menekan angka korban Leptospirosis, Pemkab Sampang terus menerjunkan tenaga dari dinkes, RSUD, puskesmas, pustu, dan polindes. Para tenaga medis menyisir rumah warga di daerah yang terjangkit penyakit tersebut. Bahkan, tim siaga dinkes datang bersama tamu dari Kementrian Kesehatan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan (BBTKL), tim sukarelawan Balai Besar Penellitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga, serta Surveilan Provinsi Jatim. “Tim tersebut akan mendatangi rumah warga. Seluruh tim siaga KLB Leptospirosis menyampaikan secara door to door ke wilayah yang terjangkit Leptospirosis,” papar Bhakti. Selain itu menyosialisasikan penyakit itu, tim B2P2VRP mencari sampel darah dan daging tikus diwilayah terjangkit untuk diuji di laboratorium. Tim siaga KLB dinkes dan BBTKL yang turun ke wilayah terjangkit mendapat tugas untuk mengambil sampel air. Selain itu, masyarakat diminta memeriksa diri ke rumah sakit, puskesmas, pustu atau polindes. Terutama, jika mereka mengalami gejala Leptospirosis. Jadi, supaya penderita segera tertangani. Menurut Bhakti, penyakit tersebut ditandai oleh tiga criteria kasus. Yakni, kasus suspek, kasusu probable, dan kasus konfirmasi. “Tnada-tanda penyakit ini dimulai dengan deman dan sakit kepala hebat yang disertai pegal-pegal, rasa lemah, gejala nyeri betis, batuk dengan atau tanpa darah, kulit kuning, manifestasi perdarahan, iritasi meningeal, anuaria, sesak napas, aritmia jantung, dan ruam kulit,” jelasnya.