Senin, 08 Juli 2013

Artikel tentang Wisata Gunung Merapi, di Kabupaten Sleman, Yogyakarta/ Travel articles about Mount Merapi in Sleman, Yogyakarta FOR GENERAL GENERAL

Artikel tentang Wisata Gunung Merapi, di Kabupaten Sleman, Yogyakarta

(Sumber: Nurhasana, Siti.2012. Nikmati Pemandangan yang Kontras. Surabaya: FOR HER Jawa Pos Edisi Selasa 2 Juli 2013.)

            Wisata ke Jogjakarta hampir selalu monoton. Kalau tidak ke Kraton, turis local maupun mancanegara hampir bisa dipastikan berkeliling memuaskan keinginan berbelanja di Malioboro. Tak banyak yang menjajal rute baru, mengunjungi kawasan Gunung Merapi dan sekitarnya misalnya. Padahal, pemandangan di sana tak kalah menawan.

            Pertengahan Agustus, HRD Manager emnyampaikan internal memo mengenai pengambilan cuti tahunan. Supervisor saya memberi saya cuti total tujuh hari. Enggan tinggal di rumah saja, saya menelepon teman halan saya, Taki, yang masih bekerja di Kuala Lumpur. Dari hasil diskusi sngkat, kami bersepakat untuk menghabiskan liburan ke Yogyakarta. Satu tempat yang menjadi jujukan kami adalah Kaliurang. Mencari hotel untuk ke Kaliurang pun menjadi seni tersendiri. Di situs booking mem-booking hotel online, sangat jaran ada yang menampilkan hotel di Kaliurang. Akhirnya kami berhasil menemukan hotel bagus yang “nyempil” di sebuah desa. Cangkringan Villa and Spa, namanya. Ternyata, vila yang sudah terlihat tersembunyi dipeta itu benar-benar “nyempil”. Sopir taksi kami yang orang local saja dibuat berputar-putar  selama dua jam. Meski berputar-putar, hikmahnya, kami bisa melihat abnyak hal. Sawah hijau, bukit yang menjulang, sebagain rumah, serta wilayah yang rusak karena muntahan Merapi. Perjuangan selaa tiga jam akhirnya berlalu. Kami sampai di lokasi tersebut dengan takjub. Tepat di sebelahnya ada Merapi Golf. Yang membuat saya takjub, kawasan ini terkena langsung dampak Merapi. Saat saya ke sana, terkesan tidak pernah terjadi apa-apa. Saat check in, kami ditawari tur ke Merapi seharga Rp400 ribu oleh resepsionis hotel. Karena penasaran, kami setuju untuk ikut. Tur dimulai pukul lima pagi keesokannya. Sekeliling masih gelap ketika kami berangkat. Kami dijemput kendaraan semacam jip dan touring off road selama lebih dari tiga jam. Kami mengira dibawa ke hutan, ke spot indah yang menarik untuk difoto. Tidak tahunya, kami dibawa ke jalanan sempit berbatu. Semakin naik ke atas semakin gundul. Ketika memasuki wilayah Merapi, pemandangan yagn sebelumnya hijau berganti cokelat dan abu-abu. Pepohonan kering kerontang, debu beterbangan, dan puing rumah yang terbakar terlihat jelas di depan mata. Kami pun sampai di tepi sebuah jurang. Di depannya terhampar sungai pasir yang hebat. Guide kami menerangkan, dulu itu adalah sungai yang diterjang Merapi. Material Merapi menumpuk di sungai tersebut mengeringkan sungai. Jika hujan turun, tentu sangat berbahaya karena lahar dingin sewaktu-waktu mengancam. Hari beranjang terang, Guide membawa kami ke batu alien, sebuah batu besar yang berwajah mirip alien. Kami pun berjalan kaki karena mobil tidak bisa lewat. Lautan pasir berundak dengan hiasan batu beraneka ukuran di tengah diselingi jurang dan bukit kecil tumpukan material Merapi. Di sisi kanan dan kiri, terhampar pemandangan kontras. Hutan hijau yang sedikit warna putih dari pohon yang mati bagaikan “menghidupkan” lukisan alam itu. Warna matahari semburat dari sisi kiri landscape tesebut, membingkai Merapi dengan gagahnya berdiri menjulang di tengah-tengah. Merapi memang menghancurkan segalanya, namun bekas jajahannya meninggalkan pemandangan yang tak kalah indah. Saat pulang. Sopir kami ternyata tidak membawa kami lewat jalan yang sama. Kami dibawa memutar, turun ke sungai pasir, menjajaki jalanan berbatu dan melewati tebing curam. Sesekali ada atraksi. Mobil berputar 360 derajat di kubangan pasir setinggi hampir tiga meter dengan kemiringan 45 derajat. Kami pun berteriak antara takjub, takut, dan tegang.