Senin, 08 Juli 2013

Mengetahui tentang Cerebral Palsy (CP)/ Knowing about Cerebral Palsy (CP) FOR GENERAL MEDICINE

Mengetahui tentang Cerebral Palsy (CP)

(Sumber: _.2013. Segera Latihan setelah Didiagnosis. Surabaya: FOR HER Bisnis Jawa Pos Edisi Kamis 2 Mei 2013.)

CP (Cerebral Palsy) terjadi saat janin masih dalam kandungan. Pemicunya, infeksi toxoplasma, rubella, cytomegalovirus, dan herpes (TORCH). Bisa juga, trauma (kecelakaan) yagn memicu kecacatan pada otak janin. Spesialis saraf RSUD dr Soetomo dr Mudjiani Basuki Sps (K) menjelaskan, ukuran otak janin sangat kecil. Kondisi tersebut rentan terhadap trauma ataupun infeksi. Biasanya, pasien CP (Cerebral Palsy) didiagnosis saat usia balita. Sebab, orang tua merasa tumbuh kembang buah hatinya tidak wajar. Pasien ada yang ditemukan di posyandu,  lalu dirujuk ke puskesmas. Selanjutnya, dari puskesmas dirujuk ke rumahsakit terdekat. Penegakan diagnosis melalui observasi gejala klinis dan CT-scan. “Orang tua pasti down mengetahui anak mereka tidak normal. Kami para dokter juga harus mengatakan bahwa hingga kini CP (Cerebral Palsy) tidak bisa disembuhkan, tapi masih bisa diterapi,” ulas dokter yang akrab disapa Ani itu. Menurut dia, urgensi terapi kepada anak CP (Cerebral Palsy) sangat penting. Sebab, terapi tersebut akan memberikan stimulus yang tepat kepada anak CP (Cerebral Palsy). Contohnya, manifestasi dari kerusakan otak adalah otot yang kaku. Untuk melemaskannya, dibutuhkan stimulus dari terapi. Bila tidak mendapat stimulus, otot yang kaku tersebut akan mengalami atrofi atau mengecil. Sebab, otot yang lama tidak digunakan akan kehilangan massa dan kekuatannya. Untuk mendapat terapi yang tepat, biasanya spesialis saraf akan merujuk penyandang CP (Cerebral Palsy) ke spesialis kedokteran fisik rehabilitasi. Ani mengeaskan, sejatinya anak CP (Cerebral Palsy) memiliki perasaan seperti manusia normal. Mereka akan sedih dan kecewa bila diejek, dihina, atau ditolak karena kondisi yang juga tidak mereka inginkan tersebut. “Karena itu, sayang sekali kalau ada yang mendiskriminasi penyandang CP (Cerebral Palsy). Itu sama saja dengan melukai hati mereka,” jelasnya. Spesialis kedokteran fisik rehabilitasi RS Adi Husada Undaan Surabaya dr Anasthasia Tri Soesilaniati SpKFR menambahkan, tetapi yang diberikan kepada anak pengidap CP (Cerebral Palsy) sesuai dengan gejalanya. Dia memisalkan, penyandang CP (Cerebral Palsy) berusia lima tahun belum bisa berjalan. Salah satu bentuk terapi yang bisa diberikan adalah hidroterapi. Yakni, mengajak anak CP (Cerebral Palsy) “menceburkan diri” ke dalam air hangat. Di dalam air yang dipandu oleh fisioterapis, tungkainya digerakkan. “Tekanan dalam air sangat membantu melemaskan otot. Apalagi, air yagn digunakan adalah air hangat. Jadi anak bisa semakin rileks,” paparnya. Menurut Anasthasia, apa pun terapinya sebaiknya penyandang CP (Cerebral Palsy) melakukan secara teratur. Terutama jika penyandang masih anak-anak. Tujuannya, melatih kemandirian penyandang CP (Cerebral Palsy). Bahkan, anak tersebut bisa berjalan pun melakukan semua aktivitasnya secara mandiri. Hal tersebut diamini oleh dr Noor Idha Handajani SpKFR. Menurut dokter yang  berdinas di RSUD dr Soetomo itu, terapi yang dilakukan oleh terapi professional hanya berlangsung singkat. Paling tidak, orang tua ikut mengerti latihan apa saja yang seharusnya mereka lakukan di rumah. “Terapi lama pasti bersama keluarga, khususnya orang tua,” tegasnya.

Tipe CP (Cerebral Palsy) Sesuai Lokasi
terdapat beberapa tipe CP (Cerebral Palsy) sesuai dengan lokasi otak yang mengalami kecatatan:

A) Lobus Frontalis. Lous frontalis bertugas mengatur motorik kasar. Bila kerusakan otak terjadi di bagian ini, penyandang CP (Cerebral Palsy) menjadi lumpuh.

B) Lobus Temporalis. Pada jenis ini, kecatatan otak yang terdapat di bagian lobus temporalis (bagian kanan dan kiri otak yang mengatur kemampuan otak). Manifestasinya, penyandang CP (Cerebral Palsy) memiliki IQ yang rendah.

C) Lobys Parietalis. Kerusakan otak terdapat pada area tengah atas kanan dan kiri. Fungsi bagian ini mengatur sensorik. Alhasil, penyandang CP (Cerebral Palsy) menjadi lumpu separo bagian.

D) Lobus Occipitalis. Pada jenis ini, kerusakan otak terjadi di bagian belakang otak. Namanya lobus occipitalis yang berfungsi mendukung penglihatan mata. Manifestasinya, penyandang CP (Cerebral Palsy) mengalami gangguan penglihatan hingga buta.

(Sumber: dr Mudjani Basuki SpS(K))

Latih Kontinu Lebih Optimal

Penyandang CP (Cerebral Palsy) membutuhkan latihan secara kontinu. Aktivitas itu diperlukan agar tumbuh kembagn pengidap CP (Cerebral Palsy) optimal. Setelah mendapat panduang dari terpis, ada beberapa gerakan yang bisa dilatih sendiri di rumah.

1) Melatih Motorik Kasar. Belajar duduk lebih lama, berjalan lebih lama.
2) Melatih Motorik Halus. Belajar makan sendiri, mengancingakn kancing baju, mengikat tali sepatu.
3) Latih Bahasa. Selain terapi wicara, keluarga harus terus memberikan stimulus bahasa dengna mengajak penyandang CP (Cerebral Palsy) mengucapkan kata yang mudah sampai sulit.
4) Personal Sosial. Ajak anak CP (Cerebral Palsy) berinterksi dengan lingkungan sekitar. Secara tidak langsung, mental penyandang CP (Cerebral Palsy) bisa terlatih. Selain itu, wawasannya akan dunia luar bisa terbuka.

(Sumber: dr Noor Idha Handjani SpKFR)