Senin, 08 Juli 2013

Mengetahui tentang Cerebral Palsy (CP), bagian kedua/ Knowing about Cerebral Palsy (CP), the second part FOR GENERAL MEDICINE

Mengetahui tentang Cerebral Palsy (CP), bagian kedua

(Sumber: _.2013. Segera Latihan setelah Didiagnosis. Surabaya: FOR HER Bisnis Jawa Pos Edisi Kamis 2 Mei 2013.)

            Menderita CP (Cerebral Palsy) tak menghentikan langkah Krsitin Setiawati untuk menyelesaikan pendidikan layaknya mereka yang normal. Dengan kerja ekstrakeras, perempuan 32 tahun itu berhasil meraih gelar sarjana di Unesa.


            Disebut ekstrakeras karena usaha Kristin membutuhkan ketabahan hati tingkat tinggi. CP (Cerebral Palsy) yang diderita sejak lahir membuat dirinya mengalami kekakuan otot. Jari tangannya susah digerakkan. Dia pun sulit berbicara dengan jelas. Keterbatasan itu menjadikan dirinya sasaran ejekan lingkungan sekitar. Namun, cewek kelahiran 26 Agustus 1981 tersebut tidak patah semangat. Dia ingin bersekolah setinggi-tingginya. Namun, tidak sedikit sekolah umum yang menolak karena dia memiliki gangguan fisik dan kemampuan wicara. Kalaupun ada yagn menerima, dia tidak bertahan lama karena terus menerus diejek teman-temannya. Meski harus berkali-kali pindah sekolah  hingga ke Banjarmasin, cewek asli Surabaya itu bisa menuntaskan SD, SMP hingga terakhir sebagai SMA Cakra Widya Surabaya. Bahkan, pada 2006, Kristin lulus SMA dan diterima di Jurusn Pendidikan Luar Biasa di Universitas Negeri Surabaya atau Unesa. Kebahagian itu tercerabut dari Kristin ketika ibu kandungnya meninggal setahun kemudian. Tahun berikutnya, giliran sang nenek meninggal. Dua tahun berturut-turut, sosok yang selalu menghiburnya setiap menangis karean digaggu pergi meninggalkan Krsitin. “Saat Mma meninggal, hatiku tersayat-sayat,” ungkapnya. Momen menyedihkan itu membuat dunia Kristin sekana gelap. Dia enggan menuntaskan pendidikan. Namun, semua berubah ketika dia melihat sosok Rosiana Silalahi dalam salah satu acara televisi. Presenter yang selalu tampil khas dengan rambut pendeknya itu seakan hadir untuk mengganti sosok mama bagi Krsitin. Dia melihat Rosi sebagai perempuan yang keibuan, pintar, dan bersemangat. Sejak saat itu, Kristin menganggap Rosi sebagai ibu, meski hanya di angan-angan. Dia mengikuti perjalanan hidup Rosi. Mimpi terbesar Kristin untuk bertemu dan memeluk Rosi akhirnya benar-benar terwujud dalam sebuah acara yang dilangsungkan Global TV. Momen tersebut menjadi titik balik dalam kehidupan Kristin. Semangatnya kembali tumbuh. Tugasnya akhirnya bisa diselesaikan hingga tepat pada 2 Oktober 2010 dia meraih gelar sarjana. Saat ini Kristin sibuk mengajar di sekolah minggu di sebuah gereja di kawasan Petemon, Surabaya. Dia juga suka menulis cerpen, “Saya ingin cerpen saya ini terkumpul bisa dijadikan sebuah buku,” ujarnya. Dia berharap buku ini bisa terbit dan bermanfaat untuk orang lain.