Kamis, 11 Juli 2013

Mengetahui tentang Kebudayaan Megengan, di Madiun, Jawa Timur / Knowing about the culture Megengan, in Madiun, East Java ART CULTURE

Mengetahui tentang Kebudayaan Megengan, di Madiun, Jawa Timur

(Sumber: Soenarwoto.2013. Saling Berbai dalam Megengan. Madiun: Radar Madiun Jawa Pos Edisi Kamis 11 Juli 2013.)


Udara musim anomaly dari lereng Gunung Wilis sore  itu berhembus memasuki perkampungan di pinggir kota Madiun, tempat saya tinggal. Saat saya menikmati semilir udara sore itu tiba-tiba seorang tetangga datang ke rumah. Dia membawa nampan berisi masakan lengkap lauknya serta kue apem. “Ini ater-ater megengan cak kaji,” kata tetangga itu kepada saya. Alhamdulillah. Ucap syukur saya dalam hati begitu dapat kiriman rejeki itu. Sementara kepada tetangga saya coba berbasa-basi dulu sebagai adat orang Jawa. Apalagi saya di perkampungan ini juga tercatat sebagai warga baru. “Aduh, panjenengan ini kok repot-repot saja,” kata saya. Seketika tetangga menjawab, “Oh tidak cak kaji…, ini sudah tradisi.” “Semu warga di sini juga akan melakukannya.: benar. Tak hanya seorang tetangga yang datang ater-ater megengan ke rumah saya. Sepekan menjelagn Ramadan terlihat sejumlah tetangga bergantian ater-ater megengan. Dan, mereka yang melakukan Megengan juga ada warga non muslim. Amboi. Adat saling berbagi dengan sesama (tetangga) ini masih kuat terasakan di pinggir Kota Madiun ini. Padahal, menjelang Ramadan hampir semua harga sembako melonjak naik seiring dengan kebijakan pemerintah menaikan  harga BBM. Tapi, masih banyak warga yang tetap menjaga dan melaksanakan tradisi Megengan. Sebuah pengorbanan budaya saling berbagi yang tidak gampang. Allahu Akbar. Maka, saya pun bangga dan kagum. Tradisi ini tak pernah saya temui selama saya tinggal di Jakarta dan Surabaya. Maklum, masyarakat Jakarta dan Surabaya sudah tercerabut akar budayanya, khususnya budaya saling berbagi dengan tetangga. Apalagi itu, sekadar bertegur sapa saja, sulit dilakukan meski bertetangga dekat. Masing-masing mereka sibuk dengan urusannya, dan egois. Budaya yang muncul adalah sikap elu.. elu.. gue..gue. Megengan adalah tradisi masyarakat Jawa dalam menyambut datangnya Rmadan. Megengan diambil dari bahasa Jawa yang artinya menahan. Ini merupakan suatu peringatan bahwa sebentar lagi akan memasuki Ramadan, bulan di mana umat Islam diwajibkan untuk tidak melakukan perbuatan yang dapat menggugurkan ibadah itu. Tak sekadar menahan lapar dan dahaga, tapi juga belajar tidak medit alias kikir bin bakhil. Belajar berbagi dengan sesamanya. Adapun kegiatannya ditandai dengan ebrmacam agenda sesuai dengan adat daerah setempat. Tapi umumnya masyarakat Jawa suka berziarah, membersihkan kubur orangtua atau leluhur. Tak lupa di sini berdoa serta membaca Yasin atau Tahlil. Sedang di rumah masak besar untuk dibagikan kepada para tetangga dan family. Terkadang menggelar selamatan atau kenduri di rumah atau bersama-sama di mushola dan masjid. Subhanallah. Seiring berjalannya waktu, tradisi Megengan mulai ditinggalkan. Tapi, tidak bagi masyarakat desa. Tradisi ini masih dipelihara, melekat kental, dan masih dianggap sacral. Maaf, Megengan ini saya pahami dalam koridor ranah social cultural (kemasyarakatan dan kebudayaan) dengan mengacu pada aspek kemaslahatan. Orang sedekah dengan membawa ambeng (makanan), itu jelas baik dan bermanfaat bagi yang masih hidup. Bisa menjadi media bersilaturahim dengan sesama. Doa pun sangat bermanfaat bagi yang sudah meninggal. Masyarakat Jawa memang memiliki banyak tradisi yang khas dalam mengimplemetasikan Islam. Dan Megengan ini sungguh merupakan salah satu tradisi khas, yang tidak dimiliki oleh pemeluk Islam di tempat lain. Megengan sebagai sebuah perayaan dan rasa antusias menyambut Ramadan, bulan penuh rahmat, penuh ampunan, bulan yang di dalamnya terdapat “lailatur qadar”. Kini, rasanya saya tidak malu jika Cuma mau menerima pemberian tetangga. Karena itu, saya pun ikut melaksanakan; membalas ater-ater Megengan kepada segenap tetangga. Sungguh, berbagi itu indah.