Senin, 08 Juli 2013

Mengetahui tentang Sejarah Islam di Andalusia, Spanyol/ Knowing about the history of Islam in Andalusia, Spain FOR GENERAL GENERAL

Mengetahui tentang Sejarah Islam di Andalusia, Spanyol

(Sumber:_.2011. Kejayaan Islam di Spanyol. Ponorogo: Lintang Rohis Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Ponorogo.)

            Dimulai dari 12 Juli 711 Masehi atau bertepatan dengan Ramadhan 92 Hijriah, Thariq bin Ziyad bersama sejumlah besar pasukannya, berhasil memasuki wilayah Spanyol memewati selat di antara Maroko dan Spanyol, yang kemudian diberi nama Jabal Thariq (sekaragn dikenal dengan nama Gibraltar yagn terletak di teluk Algeciras). Pemerintah Islamm di Andalusia, demikian nama Spanyol dikenal saat itu, pada abad VIII hingga VXV adalah pemerintahan Islam yang pertama kali berinteraksi dengan bangsa Eropa. Hampir 8 abad lamanya Islam berkuasa di Andalusia sejak tahun 711 Masehi hingga berakhirnya kekuasaan Islam di Granada pada tanggal 2 Januari 1492 Masehi/ 2 Rabiul Awwal 898 Hijriah. Berkat kedatangan Islam di Andalusia hampir delapan abad lamanya kaum Muslim menguasai kota penting seperti Toledo, Saragosa, Cordoba, Valencia, Malaga, Seville, Granada, dan lainnya. Mereka membawa panji islam, baik dari segi ilmu pengetahuan, kebudayaan, maupun segi arsitektur bangunan. Kini bukti kemajuan peradaban Islam di Spanyol masih dengan jelas terlihat dari sisa baangunan penuh sejarah dari Toledo hingga Granada, dari Istana Cordova hingga Alhamra. Menurut sebagian ahli sejarah, 2/3 geraja masyhur (katedral) yang ada di berbagai kota di Andalusia adalah bekas masjid. Di negeri Spanyol pila lahir tokoh muslim ternama yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan, seperti Agama Islam, kedokteran, fisafat, ilmu hayat, ilmu hisab, ilmu hukum, sastra, ilmu alam, astronomi dan lainnya. Andalusia kala itu boleh dikatakan sebagai pusat kebudayaan Islam dan ilmu pengetahuan yang tiada tandingannya setelah Konstantinopel dan Baghdad. Selain melahirkan ilmuwan dan penemuan. Andalusia juga menjadi saksi kegemilangan arsitektur Islam yang khas dan tidak tertandingi. Bahkan buku panduan resmi pemerintah Spanyol mengakui, meskipun jatuh ke tangan orang Kristen, negeri itu masih meneruskan bentuk arsitektur Islam dalam membangun istana mereka. Bahkan, Raja Ferdinand dan Ratu Isabella menempati Al Hambra sebagai tempat tinggal mereka dan menerima Collumbus sebelum melakukan perjalanan mengelilingi dunia. Raja Ferdinand dan isterinya Isabella berhasil menaklukan kekuasaan Islam dennga konsekuensi yang sangat suram dalam perjalanan sejarah umat. Pemaksaan konversi ke agama Katolik atau eksekusi missal dan pengusiran paksa. Bahkan semua bekas peninggalan Islam dibakar atau dikonversi menjadi pusat agama Katolik. Sebagai misal, Ibnu Massarah diasingkan, Ibu Hazm diusir dari tempat tinggalnya di Majorca, kitab karya Imam Ghazali dibakar, ribuan buku dan naskah koleksi perpustakaan umum Al Ahkam II dihanyutkan ke sungai. Ibu Tufail, Ibu Rushdy disingkirkan. Nasib yang sama juga dialami Ibu Arabi. Pada pertengahan abad XVI, terjadilah pemaksaan besar-besaran secara kejam terhadap orang Yahudi dan Muslim untuk menganut agama Katolik, yang dikenal dalam sejarah sepagai “Spanish Inquisition”. Pada masa itu keadaan orang Yahudi dan orang Islam sangat menyedihkan, karena penganiayaan dari pihak Gereja Katolik Roma yang dilaksanakan oleh inkuisisi tersebut. Ada tiga macam sikap orang Yahudi dan orang Islam dalam menghadapi inkuisisi itu. Pertama, yang tidak mau beralih agama, mereka disiksa, dieksekusi dengan dibakar atau dipancangkan di kayu sula. Kedua, beralih agama menjadi Katolik Roma. Mereka diawasi pulaapakah memang serius dalam konversi atau sekedar mencari penyelamatan. Kelompok orang Islam yang beralih agama itu disebut kelompok “Morisko”. Ketiga, melarikan diri dengan hijrah menyeberangi Laut Atlantik yang dahulunya dinamakan Samudera yang gelap dan berkabut menuju Afrika Utara di bawah Khilafa Utsmaniyah. Penganiayaan itu mencapai puncaknya semasa Paus Sixtus V (1585-1590). Raja Spanyol Carlos V mengeluarkan dektrit pada tahun 1539 agar mereka yagn masih mempertahankan agamanya (Islam/ yahudi) dihukum bakar dan dieksekusi di kayu salib. Yang kedua dekrit itu diratifikasi pada 1543 dan disertai perintah pengusiran muslimin keluar dari jajahan Spanyol secara total di seberang laut Atlantik. Tak hanya itu, petaka Perang Salib juga telah melenyapkan perpustakan paling berharga di Tripoli, Maarah, al-Quds, Ghazzah, Asqalan, dan kota lainnya yang dihancurkan mereka. Buku yang dimusnahkan tetnara salib Eropa di Tripoli sebanyak tiga juta buah. Granada tinggal kenangan, sejak berkecamuk perang salin, tepat pada 2 Januari 1492, Sultan Islam di Granada, Abu Abdullah, untuk terakhir kalinya melihat Hambra, Granada, benteng pertahanan terakhir umat Islam jatuh apda 1492. Granada merupakan kota yang terletak di selatan kota Madrid, ibukota Spanyol sekarang adalah salah satu pusat ilmu pengetahuan Islam dan tergolong dalam kawasan lainnya yang tak kalah menarik dan bersejarah setelah Andalusia, Cordova, Balansiah, Bahrit, Ichiliah, Tolaitalah dan lainnya. Granada juga termasyhur sebagai kiblat menjadi tumpuan harapan pelajar yang datagn dari segenap kawasan yang berada di sekitar Granada, baik kaum muslim maupun nonmuslim. Pusat pengkajian yang masyhur di Granada adalah al-Yusufiah dan an Nashriyyah. Di sini, juga telah melahirkan banyak limuwan Islam yang terkenal. Di antaranya Abdul Al QASIM AL Majrithi sebagai pencetus kebangkitan ilmu astronomi Andalusia pada tahun 398 Hijriah atau 1008 Masehi. Beliau telah memberikan dasar bagi salah satu pusat pengkajian ilmu matematika. Selain beliau, Granada juga masih memiliki sejumlah ilmuwan dan ulama, diantaranya adalah al Imam as Syabiti, Lisanuddin al Khitab, as Sarqasti, Ibu Zamrak, Muhammad Ibnu ar Riqah, Abu Yahya ibnu Ridwan, Abu Abdullah Al Fahham, Ibu as Sarah, Yahya Ibnu al Huzail at Tajiibi, as Shaqurmi, dan Ibnu Zuhri. Di kalangna perempuan tercatat nama seperti Hafsah binti al Haj, Hamdunah binti Ziad dan saudaranya Zainab. Bahkan ilmuwan sekelas Emmanuel Deutch berkomentar, “Semua ini memberi kesemaptan bagi kami (bangsa barat) untuk mencapai kebangkitan (renaissance) dalam ilmu pengetahuan modern. Oleh karena itu, sewajarnyalah jika kami slalu mencucurkan airmata manakala teringat saat terakhir jatuhnya Granada,” (M. Hashem. Kekaguman Dunia Terhadap Islam, hlm.100). Granada adalah benteng terakhir kaum muslimin di Andalusia (Spanyol) yang jatuh ke tangan bangsa Eropa.