Rabu, 31 Juli 2013

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Pengantar)/ General Guidelines for Improved Spelling Indonesian (Introduction)

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Pengantar)
 (Sumber: Keraf, Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Jakarta: PenerbitNusaIndah.)Sejk peraturan ejaan bahasa Indonesia dengan huruf latin ditetapkan pada tahun 1901 berdsarkan konsep Ch. A. van Ophuyen, usaha penyempurnaan berkali-kali dilakukan. Usaha itu pertama kali disarankan dalam Kongres Bahasa Indonesia I di Solo pada tahun 1938. Langkah penyempurnaan berikutnya ialah penetapan Edjaan Republik atau Edjaan Soewandi pada tahun 1947, dengan Surat Keputusan No. 264/ Bhg. A tanggal 19 Maret 1947. Dalam Kongres Bahasa Indonesia II di Medan pada tahun 1954 diputuskan pula gar Edjaan Soewandi disempurnakan. Hasilnya ialah konsep Edjaan Pembaharuan yang selesai pada tahun 1957.
Sebagai tindak lanjut perjanjian persahabatan antara Republik Indonesia dan Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1959 antara lain disepakati usaha mempersatukan ejaan bahasa kedua Negara. Pada akhir tahun 1959 dihasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). Konsep ini tidak pernah diresmikan karena perkembangan politik sesudahnya.
Dalam pada itu bahasa Indonesia berkembagn terus dan penyempurnaan ejaannya tetap merupakan keharusan.
Sebab itu Lembaga Bahasa dan Kesustraan pada tahun 1968 menjadi Lembaga Bahasa Nasional, dan akhirnya pada tahun 1975 menjadi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, ditugaskan menyusun program pembakuan bahasa Indonesia secara menyeluruh, termasuk ejaannya. Konsep-konsep yang terdahulu dikaji kembali beberapa kali, akhirnya ditetapkan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) degnan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 20 Mei 1972, No.03/A.I/72, dan dinyatakan resmi dipergunakan mulai tanggal 17 Agustus 1972, dengan Surat Keputusan Presiden No.52, tahun 1972.
Tujuan penyempurnaan ini bertolak dari keperluan:
1) menyesuaikan ejaan bahasa Indonesia dengan perkembagnan bahasa Indonesia;
2) membina ketertiban dalam penulisan huruf dan tanda baca;
3) memulai usaha pembakuan bahasa Indonesia secara menyeluruh;

4) mendorong pengembangan bahasa Indonesia.
IN ENGLISH (with google translate Indonesian-english):
General Guidelines for Improved Spelling Indonesian (Introduction)
(Source: Keraf, Gorys., 1984. Tata Indonesian. Jakarta: PenerbitNusaIndah.)
Sejk regulations Indonesian spelling with Latin letters set in 1901 berdsarkan Ch concept. A. van Ophuyen, business improvement done many times. Attempt was first suggested in Congress Indonesian first in Solo in 1938. The next refinement step is the designation spelling or spelling Soewandy Republic in 1947, by Decree No.. 264 / BHG. A dated March 19, 1947. In the Indonesian Congress II in Medan in 1954 also approved the enhanced Soewandy gar spelling. The result is that the concept of spelling renewal completed in 1957.
As a follow-up treaty of friendship between the Republic of Indonesia and the Malay Land Alliance in 1959 inter alia agreed spelling uniting the two countries. At the end of 1959 produced with spelling concepts that became known as the Spelling Melindo (Malay-Indonesian). It was never opened because of political developments thereafter.
Within the Indonesian on berkembagn continue and keep improving your spelling is a must.
Therefore kesustraan Language Institute and in 1968 became the National Language Institute, and finally in 1975 to foster and Language Development Center, commissioned preparing Indonesian standardization program as a whole, including spelling. Previous concepts are reviewed several times, finally established Spelling Enhanced (EYD) Degnan Decree of the Minister of Education and Culture dated May 20, 1972, No.03/AI/72, and declared officially used starting on August 17, 1972, with letter Presidential Decree No.52, 1972.This contradicts the purpose of perfecting the purposes of:
1) adjust the spelling of Indonesian with Indonesian perkembagnan;
2) establish order in writing letters and punctuation;
3) start a business as a whole Indonesian standardization;
4) encourage the development of Indonesian.