Rabu, 31 Juli 2013

Penulisan Kata, di dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Bahasa Indonesia

 Penulisan Kata, di dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Bahasa Indonesia
 (Sumber: Keraf, Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Jakarta: PenerbitNusaIndah.)
 I) Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satuan
Ø  Ibu percaya engkau tahu
Ø  Buku itu buku baru.
II) Kata Turunan
a) Imbuhan (awalan, akhiran, sisipan) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Ø  Bergetar
Ø  Dibiayai
Ø  Mempermainkan
b) awalan atau akhiran ditulis dengan serangkaian dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya kalau bentuk dasarnya berupa gabungan kata.
Ø  Bertepuk tangan
Ø  Garis bawahi
Ø   Menganak sungai
Ø  Sebar luaskan
c) Kalau bentuk dasar berupa gabungan kata dan sekaligus mendapat awalan dan akhiran, maka kata itu ditulis serangkai.
 Ø  Memberitahukan
Ø  Mempertanggungjawabkan
Ø  Penghancurleburan
 d) Kalau salah satu unsure gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.  > AmoralØ  Antarkota,  
 Catatan:1) Bila bentuk terikat tersebut diikuti oleh kata yang huruf awalnya huruf capital, maka di antara kedua unsure itu dituliskan tanda hubung (-).
 Ø  Non-Indonesia, pan-Afrikanisme
2) Maha sebagai unsure gabungan kata ditulis serangkai, kecuali jika diikuti oleh kata yang bukan kata dasar.
 Ø  Mahakuasa, Mahaesa tetapi Maha Pengasih.
 III) Kata Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung. Misalnya:
 Ø  Anak-anakan
Ø  Berjalan-jalan
Ø  Biri-biri
Ø  Undang-undang
 IV) Gabungan kata
a) Gabungan kata yagn lazim  disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, bagiannya umumnya ditulis terpisah.
 Ø  Duta besar
Ø  Simpang empat
 b) Gabungan kata, termasuk istilah khusus yang mungkin menimbulkan salah baca, dapat diberi tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsure yang bersangkutan.
 Ø  Alat pandang-dengar
Ø  Anak-isteri
c) Gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata ditulis serangkai.
 Ø  Akhirulkalam
Ø  Alhamdulilah
 V) Kata Ganti ku, kau, mu dan nya
 Kata ganti ku dank au ditulis serangaki dengan kata yang mengikutinya; ku, mu dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya:
 Ø  Apa yang kumiliki boleh kauambil.
Ø  Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
 VI) Kata depan di, ke dan dari
 Kata depan, di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
 Ø  Adiknya pergi ke luar negeri
Ø  Bermalam sajalah di sini.
Ø  Ia datang dari Surabaya kemarin.
 VII) Kata si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Misalnya:
Ø  Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.
Ø  Surat itu dikirim kembali kepada si pengirim.
 VIII) Partikel
a) Partikel lah, kah, tah ditulis serangkai dengan kata yagn mendahuluinya.
 Ø  Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Ø  Bacalah buku itu baik-baik.
Ø  Siapatah gerangan dia?
 b) Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
 Ø  Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
Ø  Hendak pulang pun, sudah tak ada kendaraan.
Ø  Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.
 Catatan: kelompok kata yang berikut, yang sudah dianggap padu benar, ditulis serangkai: adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun.
 c) Partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendampinginya.
Ø  Harga kain itu Rp 2.000,00 per helai.
Ø  Mereka masuk ke dalam ruangan satu per satu.
IX) Angka dan Lambang Bilangan
a) Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab dan angka Romawi. Pemakaiannya diatur lebih lanjut dalam pasal yang berikut ini.
Angka Arab         : 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9.
Angka Romawi  : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1000), V (5.000), M (1.000.000)
b) Angka digunakan untuk menyatakan (1) ukuran panjang, berat, dan isi, (2) satuan waktu, dan (3) nilai uang. Misalnya:
(1) 10 liter beras
4 meter persegi
Pukul 15.00
2.000 rupiah
c) Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut:
Ø  12 dua belas
Ø  22 dua puluh dua
Ø  3 2/3 tiga dua pertiga
d) Penulisan kata bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut:
 Ø  Bab II atau Bab ke-2 atau Bab kedua
Ø  Abad XX atau abad ke-20 atau Abad kedua puluh
 e) Penulisan kata bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti cara yang berikut:
 Ø  Tahun 50-an atau tahun lima puluhan
Ø  Uang 5000-an atau uang lima ribuan
f) Bilangan yang dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali dalam pemerincian dan pemaparan.
Ø  Amir menonton drama itu sampai tiga kali.
Ø  Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang memberikan suara setuju, 15 suara tidak setuju, dan 5 suara blangko.
g) Di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi, bilangan perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks.
Ø  Kantor kami mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai.

Ø  Saya lampirkan tanda terima sebesar Rp999.000 (Sembilan ratus Sembilan puluh Sembilan rupiah).