Kamis, 11 Juli 2013

Sejarah Musik Arab, dari masa Prasejarah (3000-1000 Sebelum Masehi) sampai Masa Islam/ Arab music history, from the prehistoric period (3000-1000 BC) until the Islamic period ART CULTURE

Sejarah Musik Arab, dari masa Prasejarah (3000-1000 Sebelum Masehi) sampai Masa Islam

(Sumber:Jarumi.2012. Seni Budaya 9. Ponorogo:AnugerahAgung.)

Sumebr utama tentang music Arab terdapat pada prasasti Asyira pada abad VII Sebelum Masehi yang menyebutkan bahwa orang tahanan Arab bekerja sambil bernyanyi dengan begitu indahnya sehingga tuan Asyira terpesona dan ingin mendengar lagu lebih banyak. Sebelum lahir agama Islam, orang Arab memakai music juga untuk menjalankan ritual agama animism, sama dengan kebudayaan sekitar. Dewa Dhu’l-Shara dihormati dengan madah (syair yang dibawakan dengan gaya bernyanyi). Dukun (sha’ir) dipercaya dapat memanggil roh (jin) melalui music. Music Arab berkembagn di Ukas dan Mekah. Ukas adalah pusat perdagangan yang juga merupakan para penyakir dan pemusik berkumpul dan berlomba. Mekah menjadi pusat agama dan ziarah. Par peziarah di Mekah zaman itu juga memakai lagu sederhana yang hingga kini masih tampak pengaruhnya pada lafal tahlil dan talbiyah. Waktu itu bangsa Arab lebih menyukai music hiburan daripada music agama. Biasanya music dan lagu dibawakan dalam pesta oleh gadis yang disebut qaina (biduan). Samap seperti bangsa lain, bangsa Arab waktu itu pun berhubungan dengan bangsa sekitar. Hal ini menyebabkan terjadi saling pengaruh di antara mereka. Maka tidak mengherankan bila alat music sejenis kendang yang di Arab dinamai tabl, juga ditemui di tempat sekitar dengan nama yang mirip. Jenis kendang oleh bangsa Arab, dinamakan Tabl. Jenis kendang oleh bangsa Hibrani, dinamakan Tibela. Jenis kendang oleh bangsa Syria, dinamakan Tabla. Jenis kendang oleh bangsa India, dinamakan Tabla. Jenis kendang oleh bangsa Turki, dinamakan Dawul. Jenis kendang oleh bangsa Persia, dinamakan Duhul. Setelah agama Islam lahir, Nabi Muhammad membedakan music yang bertentangan dengan Islam dengan yang dapat diterima Islam. Pada masa ini berkembang music baru yang diiringi shahin (seruling) dan tabl (kendang). Dalam Islam, music juga ditemui dalam kegiatan ibadah. Ktia dapat menyaksikan hingga kini, unsure melodi muncul dalam berbagai aktivitas keagamaan. Berikut ini adalah beberapa contohnya.

Ø  Adzan   : mula-mula dilagukan dengan nada sedih, namun kini makin melodius dan bervariasi
Ø  Takbir    : lantunan madah untuk mengagungkan Allah saat menyambut Idul Fitri dan Idul Adha.
Ø  Qira’ah : seni baca Alquran yang bahkan dilombakan dalam MTQ (Musabaqah Tilawah Quran)
Ø  Masha’id: lagu hiburan rohani.

Music duniawi mula-mula ditentng, terutama dalam kaitannya dengan qaina (biduanita), tetapi di era Khalifah Bani Ummayah (661-750 Masehi) yang memindahkan ibukota ke Damsyik,Siria, malah mendirikan semacam konservatotium (akademi music) di sekitar istana. Kemudian di bawah Jasid Pertama (wafat 683 Msehi) yang antusias terhadap seni music, untuk pertama kali istana memiliki pemusik istana. Maka lahirlah pelopor music klasik Arab yang bernama Ibn Misdschah (wafat tahun 715 Masehi). Ciri khas lagu klasik Arab waktu itu adalah penyanyi tunggal yang diirigi lute (sejenis gitar mandolin) yang di Arab disebut Al’Ud. Kesenian klasik Arab berkembang terus dengan jaya di bawah khalifah Bani Abasiyyah pertama (750-847 Masehi) dan pusat music pindah ke Baghdad, Irak. Masa jaya dicapai di bawah Kalifah Hrun Al Rasyid (766-809 Masehi) yang terkenal dengan cerita Seribu Satu Malam. Seni music Arab Kuno diperjuangkan oleh Ischaq Al Mausisil (767-850 Masehi) seorang pemusik Islam terbesar. Bersamaan dengan perkembangan Islam ke Eropa lewat Spanyol, berbagai bentuk syair dan lagu dan alat music, teori music, dan ilmu akustik (bunyi-bunyian) dari Arab pun dikembangkan di Eropa. Selain tabl, rebab yang kemudian di Eropa disebut rebec, merupakan alat music gesek terpenting di Eropa sebelum ditemukan biola.