Kamis, 11 Juli 2013

Sejarah Musik di Yunani Kuno (mulai tahun 1100 Sebelum Masehi)/ History of Music in Ancient Greece (starting in 1100 BCE) ART CULTURE

Sejarah Musik di Yunani Kuno (mulai tahun 1100 Sebelum Masehi)

(Sumber:Jarumi.2012. Seni Budaya 9. Ponorogo:AnugerahAgung.)

Meskipun dalam sejarah Yunani takluk kepada kekaisaran Roma, kekuatan kebudayaannya masih tetap eksis. Terbukti dari tetap digunakan bahasa Yunani sebagai bahasa pengantar di wilayah Laut Tengah sampai abad II, para filosof, teolog, sastrawan, arsitek, dan pemusik sering menoleh ke masa Yunani kuno untuk mencari inspirasi bagi karyanya. Masa keemasan kebudayaan Yunani kuno terjadi pada tahun 546-323 Sebelum Masehi. Pada waktu itu filsafat, kesusasteraan, seni patung, arsitektur, drama, sains, dan music berkembang pesat. Menurut mitos Yunani kuno, music dianggap sebagai ciptaan dewa dewi atau setengah dewa, seperti Apolo, Amphion dan Orpheus. Mereka menganggap bahwa music memiliki kekuatan gaib yang dapat menyempurnakan tubuh dan jiwa manusia serta membuat mukjizat dalam dunia alamiah. Oleh karena itu music tidak dapat dipisahkan dari upacara keagamaan. Pada masa itu dikenal Sembilan Dewa Musik yaitu:

Ø  Kalliope: Dewi Seni Sastra Syair

Ø  Kilo: Dewi Sejarah

Ø  Erato: Dewi Sastra Erotis

Ø  Euterpe: Dewi Sastra Liris

Ø  Thalia: Dewi ria jenaka

Ø  Melpomene: Dewi drama sedih

Ø  Terpsichore: Dewi tari

Ø  Polyhmnia: Dewi seni music (olah nada)

Ø  Urania: Dewi ilmu bintang

Music lyra (lyra adalah alat music petik sejenis harpa kecil) dan kithara (alat music petik berdawai lima sampai tujuh) terkait dengan keberadaan aliran agama Apollo. Sedangkan aulos (sejenis alat music tiup terbuat dari kayu yang terdiri dua batang yang memiliki lubang jari) berkiatan dengan aliran Dionysus, Lyran dan kithara biasa digunakan untuk mengiringi puisi epic (sejenis Illiad, ciptaan Homer dari abad VIII Sebelum Msehi) dan juga sebagai alat music solo. Aulos biasa dipakai untuk mengiringi sajian dithyramb (suatu jenis puisi yang khusus diperdengarkan dalam ibadah Dionysus). Aulos juga dipakai untuk untuk mengiringi sekelompok paduan suara dan music bagian lain yang dibutuhkan dalam drama agung ciptaan Sopocles dan Euripides. Bukti keberdaan alat music lyra dan aulos dalam kebudayaan Yunani kuno dapat dilihat dari ditemukan gambar alat music itu dalam periuk keramik kuno yang masih dipertahankan hingga kini. Lyra dan aulos juga dimainkan secara solo dan acara pekan olah raga. Ada catatan tentang permainan aulos oleh Sakadas pada pekan olahraga di Pythia pada tahun 596 Sebelum Masehi. Ia memainkan sebuah lagu yang menceritakan tentang pertempuran Apollo dengan naga. Lagu ini merupakan diskripsi untuk music pertama yang terdapat sejarah music. Selanjutnya, perlombaan permainan aulos dan kithara dalam pekan music instrumental dan vocal menadi semakin popular setelah abad V Sebelum Masehi. Hal ini menyebabkan lahirnya virtuoso (orang yang luar biasa mahir dalam memainkan alat music dan membawakan lagu) penggarapan music dan lagu pun otomatis semakin kompleks dan rumit. Dalam kaitannya dengan pendidikan music. Kompleksitas dan kerumitan yang menjadi kecenderungan para virtuoso ini kemudian dikritik oleh seorang filsof kenamakan yaitu Aristoteles (sekitar abad IV Sebelum Masehi). Setelah kejayaan masa Yunani kuno, mulai muncul reaksi terhadap kompleksitas teknik dalam music, baik secara teoritis maupun secara praktis. Reaksi penyerderhanaan atas kompleksitas music Yunani kuno dilakukan sejak awal Kristen.
 Contoh notasi music zaman Yunani Kono memang tidak banyak. Namun ada yang masih hingga kini, yaitu:

Ø  Dua lagu pujian kepada Apollo (sekitar 150 Sebelum Masehi)

Ø  Sebuah agu untuk acara minum (sekitar tahun 150 Sebelu Masehi)

Ø  Tiga lagu dari Mesomedo, Kreta (sekitar abad II Masehi)

Berdasarkan lagu yang ditemukan dapat diketahui bahwa music Yunani kuno umumnya memiliki sifat sebagai berikut:

Monofonis (satu suara) dengan heterofoni pada waktu alat music mengikuti suara. Sudah improvisasi namun diatur mellaui konvensi bentuk dan gaya dengan pola melodi yang mendasar. Music dan teks berhubungan sangat erat dengan melodi dan irama, teks yang dimaksud adalah puisi, sangat menentukan cara penyusunnya dalam music. Meskipun demikian teori music zaman Yunani kuno menghasilkan karya yang sangat banyak dan monumental. Bahkan teori music yang lahir pada zaman itu masih berpengaruh dan menjadi acuan hingga masa kini. Interval music termasuk pembagian oktaf ke dalam delapan nada yang dibuat Pytagoras pada abad VI Sebelum Masehi masih digunakan hingga kini. Rumusan ide Harmoni dan alam semesta (music of the Spehres) juga menjadi ide yang sangat popular dikalangan ahli teori music dari abad pertengahan.

Ide teori music Yunani kuno yang lahir dari para filosof, diantaranya adalah:

Ø  Harmonic (risalah teori music tertua) yang menguraikan tetrakord (kumpulan empat nada berjalan satu kuart) karya Aristoxemus (tahun 330 Sebelum Masehi). Teori ini kemudian di sederhanakan oleh Ptolomeus, ahli matematika abad II Masehi.

Ø  Ethos yaitu teori tentang efek music terhadap moral, karya Plato (tahun 427-347 Sebelum Masehi) dan Aristoteles (tahun 384-322 Sebelum Masehi). Dalam teori ini mereka menyatakan bahwa music dapat berpengaruh terhadap emosi pendengarnya. Music yang baik akan berpengaruh baik terhadap pendengarnya, begitu pula sebaliknya music yang buruk pula terhadap pendengarnya.



Dalam periode Yunani kuno muncul dua aliran music, yaitu music untuk ibada dan music untuk persembahan dewa Apollo. Musik aliran Dionsyian berkecenderungan membangkitkan semangat, kegemparan, dan sifat lain yang kurang baik. Sedangakn music Apollonian berkecendurangan menimbulkan ketenangan dan dorongan spiritual. Berdasarkan kecenderungan ini music aliran klasik disebut Apollonian dan aliran romatik disebut Dionysian. Tokoh music yang terkenal pada zaman Yunani kuno adalah Plato (427-247 Sebelum Masehi), Aristoteles (348-322 Sebelum Masehi), dan Aristexemos (350-300 Sebelum Masehi).