Kamis, 11 Juli 2013

Seni Keramik, di dalam Seni Budaya/ Ceramic Arts, Art in Culture Art Culture

Seni Keramik, di dalam Seni Budaya

(Sumber:Jarumi.2012. Seni Budaya 9. Ponorogo:AnugerahAgung.)

Keramik adalah suatu hasil seni dan teknologi untuk menghasilkan barang dari tanah liat yang dibakar seperti gerabah, genteng, porselen dan sebagainya.

a) Media yang dipakai

1) Bahan:
Ø tanah liat
Ø air untuk dicampur dengan tanah agar menjadi liat
Ø plastic untuk membungkus tanah agar tetap lembab
Ø jerami, rumput, dan kulit padi dipakai untuk membakar keramik jika tidak menggunakan oven
Ø ampelas, dan
Ø cat minyak

2) Alat yang dipakai:

Ø saringan untuk menyaring tanah
Ø oven/ tungku
Ø roda putar untuk membentuk keramik, dan
Ø kuas untuk mewarnai keramik

b) Cara pembuatan keramik

Ø tanah liat yang berupa bubuk diolah dengan disaring dalam kondisi basah. Maksudnya, ketika akan disaring, tanah diberi air agar debunya tidak berterbangan, selain itu agar tanah menjadi liat.

Ø Tanah yang sudah disaring lalu dijemur  selama satu sampai dua minggu

Ø Agar tetap lembab dan lait saat akan dipakai, tanah harus di simpan di dalam plastic dan terlindung dari cahaya.

Ø Ambil tanah secukupnya dan pukul tanah sampai berbentuk kerucut.

Ø Bentuk tanah yang berbentuk kerucut tadi menjadi mangkuk basah atau model yang kita inginkan dengan tangan atau bentuk keramik dengan menggunakan roda putar.

Ø Perhalus bentuk yang telah kita buat dengan pukulan lembut.

Ø Setelah dibentuk, keramik dikeringkan dengan cara di angin-anginkan.

Ø Keramik mengalami proses pembakaran dua kali. Pada pembakaran pertama, keramik di bakar pada suhu 900 derajat celcius, selama Sembilan jam. Setelah sampai pada suhu tersebut, oven dimatikan, tetapi tidak boleh dibuka untuk menghindari thermal shock (perubahan suhu yang drastic). Thermal shock bisa menyebabkan keramik pecah dan oven rusak. Oven baru boleh dibuka setelah suhu mencapai 0 derajat celcius. Untuk mencapai suhi ini, diperlukan waktu dua hari dua malam. Proses pembakaran ini juga dipantau terus menerus untuk melihat apakah panas suhu terus meningkat atau berhenti pada tingkat tertentu. Jika suhu berhenti pada 300 derajat celcius, misalnya, dan tidak terpantau, maka proses pembakaran jadi semakin lama.

Ø Setelah keramik bisa dikeluarkan dari oven, kemudian dihaluskan dengan ampelas atau diberi warna sesuai desain yang diinginkan.

Ø Keramik dibakar lagi dengan suhu 1220 derajat Celcius, selama 10 jam. Sebenarnya lama pembakaran tergantung pada jumlah baring yang dibakar. Jika hanya sedikit, waktu yang dibutuhkan mungkin hanya tujuh jam.


Ø Jika tidak terdapat oven, keramik dapat dibakar dengan menggunakan jerami, rumput, dan kulit padi. Ketiga bahan tersebut dibakar terlebih dahulu, kemudian keramik dibakar di atasnya. Putar-putarlah keramik dengan menggunakan kayu agar kering dengan merata.