Minggu, 25 Agustus 2013

Apakah Struktur Anggaran Keluarga itu? di dalam Manajemen Keuangan Pribadi/ Is the structure of the family budget? in the Personal Financial Management

Apakah Struktur Anggaran Keluarga itu? di dalam Manajemen Keuangan Pribadi

(sumber/ source: K, Asih.2006. Cerdas Mengelola Uang Belanja. Yogyakarta: PenerbitMediaPerssindo.)

Struktur anggaran keluarga pada prinsipnya sama dengan struktur anggaran Negara (APBN) atau anggaran perusahaan. Struktur anggaran rumah tangga adalah peta keuangan Anda. Dengan struktur yang benar, Anda akan mendapatkan semacam alat navigasi yang akurat. Sehingga Anda tahu posisi Anda sekarang di mana, dan berada di mana Anda lima atau sepuluh tahun yang akan datang. Fungsi struktur anggaran keluarga adalah: pertama, sebagai alat pengendalian (Anda jadi tahu pos pengeluaran mana yang terlalu berlebihan, dan pos mana yang masih wajar; sehingga bisa menentukan dengan tepat pos mana yang bisa dipangkas dan pos mana yang masih perlu dipertahankan); kedua, sebagai informasi pengambilan keputusan (Anda jadi paham posisi financial Anda, apakah dalam status deficit, surplus, atau berimabg; sehingga bisa menentukan apakah akan berhemat, atau boleh membeli barang yang harganya mahal). Secara umum, struktur anggaran pendapatan dan belanja keluarga dapat dituliskan ke dalam persamaan sederhana sebagai berikut:
Pendapatan-Pengeluaran=Saldo
(pendapatan dikurangi pengeluaran sama dengan saldo)
Saldo bisa positif, bisa pula negative. Saldo positif berarti anggaran surplus, sedangkan saldo negative berarti anggaran minus. Kalau saldo positif (anggaran surplus), maka persamaannya bisa menjadi demikian:
Pendapatan-pengeluaran=tabungan
(pendapatan dikurangi pengeluaran sama dengan tabungan)
Atau
Pendapatan-pengeluaran=investasi
(pendapatan dikurangi pengeluaran sama dengan investasi)
Namun jika yang terjadi sebaliknya, apabila saldonya ternyata negative (anggaran deficit), apa yang terjadi? Tentu saja harus dicari sumber untuk menambal sebesar selisih negative itu. Yaitu utang. Dengan demikian persamaannya menjadi:
Pendapatan-pengeluaran=utang
(pendapatan dikurangi pengeluaran sama dengan utang)
Jika terjadi deficit pada anggaran bulan ini, anggaran bulan berikutnya mestinya surplus. Sehingga utang tidak menumpuk, dan kita bisa tidur nyenyak. Beberapa item pokok dalam struktur anggaran keluarga adalah:
A) Pemasukan (Income)
Banyak jenis pemasukan yang pelru dimasukkan ke dalam struktur anggaran pendapatan dan belanja keluarga. Pada umumnya, pendapatan diklasifikasikan sebagai berikut: pertama, pemasukan rutin bersih (gaji tetap dikurangi pajak penghasilan); kedua, pemasukan tidak rutin (misalnya bonus, uang lembur, mendapat arisan, dll.); ketiga, pemasukan tidak terduga (misalnya mendapat hadiah undian, memperoleh warisan, dll.); keempat, pendapatan lain-lain atau passive income (yang dapat dari investasi, bunga deposito setelah Pajak Penghasilan, dan lainnya); kelima, pendapatan kas dari ahsil menjual asset (misalnya menjual kendaraan, koran bekas, dan lainnya).
B) Pengeluaran (Expenditures)
Pengeluaran tidak hanya mencakup biaya hidup (living cost), tetapi juga uang yang dibayarkan untuk membayar cicilan rumah atau mobil, yang kelak akan menjadi asset. Termasuk juga arisan, atau membayar asuransi unit link (yang berfungsi sekaligus sebagai tabungan atau investasi). Berdasarkan jenis kebutuhannya, pengeluaran dibagi menjadi tiga, yaitu: pertama, pengeluaran untuk kebutuhan primer; kedua, pengeluaran untuk kebutuhan sekunder; ketiga, pengeluaran untuk kebutuhan tersier. Yang dimaksud dengan kebutuhan primer adalah kebutuhan pokok yang tidak bisa ditiadakan, tetapi hanya bisa dikurangi pengeluarannya. Kebutuhan primer dibagi lagi menjadi dua jenis, yaitu kebutuhan primer biologis (yang bila tidak dipenuhi akan menggangku kelangsungan hidup kita), dan non biologis (yang bila tidak dipenuhi tidak akan menbuat kita meninggal, tetapi tetap hidup walaupun dalam keadaan sangat menderita). Contoh kebutuhan primer biologis adalah makan dan minum, sedangkan kebutuhan primer non biologis adalah pakaian. Yang dimaksud dengan kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang cukup penting, tetapi pemenuhannya bisa ditunda untuk sementara waktu. Misalnya, kebutuhan untuk memiliki rumah atau kendaraan sendiri. Atau kebutuhan untuk bersilahturahmi dengan keluarga yang tinggal di luar daerah. Sedangkan kebutuhan tersier adalah kebutuhan yang pemenuhannya lebih mengarah kepada kepuasan hidup. Di penuhi atau tidak dipenuhi, tidak akan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup. Barang mewah pada umumnya merupakan kebutuhan tersier. Kalung berlian, liburan ke luar negeri, mobil mewah, dan sepatu bermerek adalah jenis kebutuhan tersier. Berdasarkan frekuensinya, pengeluaran dapat dibagi menjadi empat kategori besar, yaitu: pertama, pengeluaran harian (misalnya makan dan minum, uang saku anak sekolah, dan lainnya); kedua, pengeluaran mingguan (misalnya arisan, beli pulsa, dan lainnya); ketiga, pengeluaran bulanan (misalnya cicilan kendaraan, cicilan rumah, biaya telepon, listrik dan air, biaya gaji pembantu, pembayaran tagihan kartu kredit, dan lainnya); keempat, pengeluaran tahunan (misalnya biaya rekreasi pada liburan sekolah, biaya kontrak rumah, pembayaran pajak penghasilan, dan lainnya). Berdasarkan sifatnya, pengeluaran terbagi menjadi dua:Pertama, pengeluaran yang terencana, yaitu pengeluaran yang telah dirancang sebelumnya (misalnya membayar tagihan listrik, telpon, atau cicilan rumah); kedua, pengeluarna yang tidak terencana atau  tidak terduga, yaitu pengeluaran yang tidak direncanakan sebelumnya (misalnya biaya berobat karena ada anggota keluarga yang sakit, dan lainnya). Dengan memahami karakteristik pengeluaran uang belanja, Anda akan bisa mengelolanya dengan baik. Prinsipnya, pengelolaan pengeluaran bertujuan untuk: pertama, memaksimalkan manfaat dan nilai guna dari setiap rupiah yang dikeluarkan; kedua, membantu perencanaan jangka panjang; ketiga, agar tidak kesulitan bila satu saat ada kebutuhan yang bersifat mendadak.
C) Saldo
Saldo terbagi menjadi tiga jenis, yaitu surplus (saldo positif), deficit (saldo negative), dan balance (saldo nol). Saldo surplus mencerminkan adanya sisa uang setelah dipakai untuk pengeluaran. Saldo deficit mencerminkan bahwa anggaran “tekor”. Selisihnya mesti ditutup dengan utang. Sedangkan saldo nol mencerminkan balance budget (anggaran berimbang), yang berarti pemasukan sama dengan pengeluaran.
Apa yang harus dilakukan kalau terjadi saldo surplus? Pertama, Disimpan. Kalau jumlahnya sedikit, Anda bisa menyimpannya sebagai tabungan di bank. Namun bila jumlahnya cukup besar, deposito bisa menjadi pilihan lantaran suku bunganya lebih besar. Tabungan/ deposito pada prinsipnya adalah menyimpan nilai untuk penggunaan di masa mendatang. Jadi, tabungan atau deposito itu sebaiknya memiliki arah penggunaan yang jelas; Kedua, Diinvestasikan. Jika surplus tersebut belum tahu mau dipakai untuk apa, sebaiknya disimpan dalam bentuk asset yang mudah dijual setiap saat. Investasi yang ideal adalah emas atau valuta asing. Ketiga, membeli asset. Jika Anda yakin bahwa surplusnya akan terjadi dalam kurun wktu lama (misalnya 1-3 tahun), maka tidak ada salahnya untuk menghitung pembelian asset seperti kendaraan atau rumah. Surplus tersebut digunakan untuk membeli ased dengan cara mencicil. Sangat ideal jika surplus tersebut mencapai sekurangnya 33% total budget Anda, sesuai kriteri yang diterapkan bank untuk membiayai kredit pemilikan rumah atau mobil.
Yang menjadi masalah bila saldo anggaran Anda deficit. Apa yang harus segera dilakukan pada saat terjadi saldo deficit? Pertama, mencari pinjaman untuk menambal deficit; kedua, melakukan evaluasi menyeluruh terhadap anggaran belanja Anda, untuk meneliti pos mana yang sebetulnya tidak perlu dan bis dieliminasi untuk menyeimbangkan anggaran; ketiga, merencanakan perampingan atau pengetatan anggaran untuk periode yang akan datang; keempat, memaksimalkan pendapatan untuk anggaran periode mendatang.

Kalau terjadi adalah balance budget, apa artinya itu? Itu berarti, Anda tidak bisa menabung atau berinvestasi. Cobalah membuat proyeksi pendapatan dalam jangak dua atau tiga tahun ke depan, apakah ada kemungkinan naik atau tidak. Sesuaikan anggaran belanja Anda dengan proyeksi tersebut.