Minggu, 25 Agustus 2013

Bagaimana dengan Berbelanja via Telepon? dalam Manajemen Keuangan Pribadi/ How to Shop via phone? the Personal Financial Management

Bagaimana dengan Berbelanja via Telepon? dalam Manajemen Keuangan Pribadi

(sumber/ source: K, Asih.2006. Cerdas Mengelola Uang Belanja. Yogyakarta: PenerbitMediaPerssindo.)


Ada saja cara orang untuk berjualan. Setelah system mail order, kini muncul dial-marketing atu metode berbelanja lewat telepon. Konsumen tinggal memencet nomor telepon, menyebutkan item barang yangakan dibeli serta jumlahnya, kemudian menyebutkan nomor kartu kredit. Barang lantas diantar langsung ke tempat konsumen. Para penyelenggara dial-marketing berani menjamin barang sampai di tempat konsumen paling lambat 2x24 jam setelah pemesanan. Apa saja keuntungannya? Kecuali harga bisa lebih murah, system delivery membuat pembeli betul seperti raja. Konsumen hanya duduk manis di rumah, barang diantar dan harganya lebih murah. Dikson yang diberikan bervariasi antara 5 hingga 10 persen. Dibandingkan harga eceeran, discount sebesat itu tampaknya cukup layak mengingat nilai pembelian minimal Rp200000 sampai Rp250000 sekali antar. Anda boleh saja tertarik dengan system ini, karean memang menjanjikan efisiensi, baik dari segi biaya maupun waktu. Namun demikian beebrapa hal berikut ini cukup layak menjadi bahan pertimbangan: Pertama, tentu saja fsilitas dial marketing bukan tanpa biaya. Kedati harganya lbih murah, namun pelangga biasanya dipungut biasay membership atau iuran. Selain itu, ada pengelola dial-marketing yang mengharuskan para pelanggan menjadi nasabah kartu kredit yang dikeluarkan bank tertetnu. Dengan demikian ada “biaya keanggotaan” ganda; apada pengelola dial marketing plus iurang sebagai pemegang kartu kredit. Belu kwajiban bunganya. Jadi, perhitungkan secara cermat biayanya; relasiasi pengiriman barang mungkin saha lebih dari 2x24 jam. Tidak seperti yang dijanjikan. Realities saja, cukup sulit mengoperasikan system yang melayani ribuan pelanggan di area yang luas dan semrawut seperti Jakarta atau Surabaya, kemacetan lalu litas, kapabilitas kurir, serta ketersediaan barang yang harus diperhitungkan dengan cermat; ketiga, pelanggan harus jeli memeriksa barang pesanannya. Bukan tidak mungkin, barang yangdkirim sudah kadaluwarsa. Atau kualitasnya sangat buruk. Selain itu, risiko barang tertukar atau terselip juga tetap ada. Mungkin pelanggan dikirimi barang yang tidak dipesan, atau justru yang dipesan tidak ikut diantar. Tidak kalah penting adalah mencermati “atura main” antara konsumen dengan pengelola. Dengan menggunakan kartu kredit, berarti kewajiban konsumen sudah langsung dilaksanakan begitu transaksi disepakati. Pengelola dial marketing segera mengalihkan risiko tunggakan kredit kepada bank penyelenggara kartu kredit. Namun bagaimana dengan kewajiban pengelola dial marketing? Apa kompensasinya apabila pengiriman terlambat, barang terselip/ tertukar, kualitas barang buruk, dan sebagainya? Kalau sejak awal sudah ada kejelasan soal “aturan main”, pelanggan tidak akan kebigungan untuk mengajukan complain. Apa lagi kalau ada standar kompensasi yang jelas, misalnya denda keterlambatan yang dihitung perhari. Selain memuaskan pelanggan, jal itu juga akan memacu penyelenggara dial marketing untuk memberikan service yang lebih baik.