Minggu, 25 Agustus 2013

Memilih Beli Tunai atau Kartu Kredit (Gesek Saja)? dalam Manajemen Keuangan Pribadi/ Selecting Buy Cash or Credit Card (Swipe Only)? the Personal Financial Management

Memilih Beli Tunai atau Kartu Kredit (Gesek Saja)? dalam Manajemen Keuangan Pribadi

(sumber/ source: K, Asih.2006. Cerdas Mengelola Uang Belanja. Yogyakarta: PenerbitMediaPerssindo.)

Dalam berbelanja, hanya ada dua alternative cara pembayaran. Yakni tunai (cash atau menggunakan kartu debet) atau kredit. Pembayaran degnan cara kredit pun bisa bermacam bentuknya. Yang paling konvensional adalah dengan cara angsuran periodic (harian, mingguan atau bulanan). Yang lebih modern adalah menggunakan kartu kredit. Pembelian dengan cara angsuran periodic dewasa ini pun masih sering dijumpai. Pembelian secara kredit dimaksudkan untuk mengatasi kesulitan bagi konsumen yang sangat membutuhkan barang, tapi tidak sanggup membayar tunai. Terutama dalam kasus pembelian alat dan perabotan rumah tangga, alat elektronika, rumah/ property, maupun kendaraan bermotor.
Menyiasati Beban Bunga
Yang membedakan antara pembayaran tunai dan kredit adalah biaya bunga. Tentu saja, membayar dengan cara cicilan (kredit) jatuhnya lebih mahal dibandingakn dengan pembelian tunai. Sebab ada beban bunga sebagai pengganti opportunity cost. Biaya bunga merupakan penerapan dari perhitungan nilai waktu dari uang (time value of money). Kalau memang kita sedang sangat membutuhkan barang tertentu, dan hanya sanggup membayar secara angsuran, mengapa ditolak? Kendati suku bunganya tinggi, konsumen tidak mempunyai pilihan lain. tentu saja, ini berlaku untuk jenis barang yang benar primer. Namun, tentu saja, konsumen harus pandai menegosiasikan besarnya suku bunga yang harus dibayar. Selain itu, bicarakan pula keungkinan penurunan beban cicilan kalau suatu saat suku bunga turun. Juga potongan penalty kalau suatu saat melunasi hutang. Bagaimana dengan pembelian kredit dengan menggunakan kartu kredit? Keuntungan jelas, yakni kepraktisan. Bagi orang yang menghargai kepraktisan lebih dari harga mahal, tentu saja suku bunga tinggi tidak menjadi masalah. Apalagi, kalau kredit kini memiliki fungsi sebagai :pengaman”. Dalam era ketika uang palsu beredar di mana-mana, adalah sesuatu yang biasa apabila sesorang pramuniaga mencurigai uang tunai anda “palsu”, kemudian ia akan memeriksa uang tersebut secara seksama, sebelum memutuskan untuk menerima atau mengembalikan uang yang meragukan tersebut ke tangan anda. Penggunaan kartu kredit dapat menghindarkan anda dari situasi yang kruang mengenakan; “dicurigai” sebagai pembawa uang palsu. Mana yang lebih baik, pembelian secara cash atau kredit? Cash biasanya lebih murah sedangkan kredit dibebani dengan biaya bunga yang mencekik. Selain itu ada pula risiko pengenaan harga baru untuk utang Anda. Ketika setiap saat harga melonjak naik, berarti nilai utang Anda pun sangat mungkin dihitung dengan harga baru. Kalau ada kenaikan suku bunga, saldo utang Anda pun bisa dihitung dengan tingkat bunga (interest rate) yang baru. Karena itu, dengan alasan penghemat, usahakan untuk selalu membayar tunai tiap transaksi yang dilakukan. Untuk menghindari risiko memegang uang palsu, lebih baik gunakan kartu debet.
CaraHemat Menggunakan kartu Kredit

Apabila anda “terlanjur” memiliki kartu kredit, tentu saja bukan berate harus mengguntingnya seketika lantaran takut suku bunga tinggi.. bagaimana pun, kartu kredit berfungsi sngat penting dalam kondisi tertentu dan, yang jelas, praktis. Masih ada beberapa kartu kredit yang menawarkan suku bunga lunak, sanksi keterlambatan pembayaran yang juga ringan, jumlah iuran rendah (bahkan gratis), serta bersedia mencarikan solusi bagi nasabah yang terjerat oleh beban bunga tinggi. Yang perlu digarisbawahi adalah kebiasaan untuk selalu menggunakan kartu plastic itu utuk keperluan yang benar-benar mendesak. Seandaninya membawa cash, lebih baik membayar tunai. Igat beban bunga yang mencekik leher. Sebagai kredit yang bersifat kosumtif, credit card mematok suku bunga rata-rata dua kali lipat dibandingakn bunga kredit biasa. Kalau anda ingin tahu persis berapa pengeluaran untuk bunga, lihat saja di lembar tagihan kartu kredit anda. Kebanyakan orang tidak mencermatinya, sehingga tidak tahu persis betapa mahalnya suku bunga kartu kredit. Kecuali suku bunga yang mencekik leher, pengguna kartu kredit masih dibebani iuran tahunan, denda overlimit, denda keterlambatan, serta denda apabila kartu hilang. Jadi dapat dibayangkan betapa mahalnya penggunaan kartu kredit. Oleh karena itu, jangan menggunakan kartu kredit untuk tujuan irasional, misalnya sekedar menjaga gengsi atau untuk membayar pembelian barang yang semestinya bisa ditunda. Sekali lagi, ingat berbagai macam beban yang sangat memberatkan. Jadi, kembalikalah fungsi utama kartu kredit sebagai alat kepraktisan, bukan aksesoris untuk menunjukkan gaya hidup. Agar penggunaan kartu kredit lebih efektif, beberapa hal berikut ini mungkin dapat dijadikan pertimbangan: pertama, kalau bisa, jangan sampai menunggak tagiha untuk menghindari beban bunga berlipat ganda. Perlu di garisbawahi banyak peerbit kartu kredit berusaha agar nasabah tidak membayar tagihannya secara full. Maksudnya, agar penerbit kartu kredit memperoleh pendapatan bunga yang lumayan. Jjadi, jangan mau “dijebak” oleh bank penerbit kartu kreidt. Kalau  memang ada dana segar, lunasi saja utang Anda; kedua, usahakan pengendalian yang ketat terhadap penggunaan kartu kredit. Kiat hemat penggunaan kartu kredit mungkin lebih efektif dengan shock therapy, yakni dengan memperhatikan pengalaman beberapa orang pengguna kartu kredit yang apes akibat lonjakan pengeluaran. Adalah hal yang jamak apabila debt collector ikut campur dala penagihan tunggakan kartu kredit. Bahkan, seoorang pemegang kartu kredit bank tertentu, misalnya, pernah mengeluh dirinya dipaksa menjual rumah untuk melunasi tunggakan (Kontan, 10 Agustus 1998: hlm.8-9); Ketiga, usahakan menggunakan kartu kredit produk bank yang sanggup mentolerir kesulitan yang dihadapi nasabahnya. Ada bank tertentu yang tidak mau tahu dengan kepentingan nasabah. Bagi mereka, yang penting nasabah melunasi tagihannya. Tapi, ada pula bank yang toleran terhadap nasabah yang sedang kesulitan, misalnya terkena PHK. Biasanya, ada keringanan berupa rescheduling bagi nasabah yang terkena musihab, keringaan yang diberikan antara lain penyetopan bunga, penghapusan denda, hingga(bila benar dianggap perlu) dilakukan pemulihan atau peghapusan tunggakan; keempat, pada dasarnya, tunggakan an denda overlimit bisa ditawar. Karena itu usahakan untuk bernegosiasi mengenai hal tersebut.