Minggu, 25 Agustus 2013

Memilih Memborong atau Beli Eceran?/ Choosing or Buy Retail buy?

Memilih Memborong atau Beli Eceran?

(sumber/ source: K, Asih.2006. Cerdas Mengelola Uang Belanja. Yogyakarta: PenerbitMediaPerssindo.)

Ketika harga barang kebutuhan pokok cenderung membumbung tinggi, sementara stoknya di pasaran juga belum tentu terjamin, strategi berbelanja dengan cara memborong (untuk keperluan bulanan atau dua mingguan) tampak diminati oleh banyak kalangan. Akibatnya dapat kita lihat, pusat kulakan (sentra grosir) atau hypermarket banyak dikunjungi orang, sehingga tampak parkir pun selalu penuh sesak. Mengapa demikian? Memang menyenangkan pergi berbelanja bersama keluarga ke pusat perbelanjaan. Biasanya, aktivitas itu dilakukan pada tanggal muda. Banyak keluarga datang ke pusat perkulakan atau hypermarket membawa daftar kebutuhan pokok selama dua minggu atau sebulan. Berbelanja menjadi suatu aktivitas rekreasi yang menyenangkan. Selain keasyikan dalam berbelanja, mereka yakin bahwa harga di pusat perkulakan itu jatuhnya lebih murah dibandingakn bila membeli eceran. Membeli satu dus sabun deterjen misalnya, bisa menghemat sekitar 10 sampai 20 persen bila dibandingkan membeli eceeran. Membeli mie instan bisa menghemat sekitar 5 persen. Juga untuk jenis barang lain. selain itu, membeli dengan cara memborong kadang juga bisa memberikan rasa aman, di Negara dengan inflasi tinggi seperti di Indonesia semua konsumen selalu berpikir, siapa tahu besok harga naik lagi. Lebih parah lagi, ada yang  selalu cemas mungkin besok sulit mencari kebutuhan. Siapa yang menjamin bahwa barang yan bisa diborong sekarang, besok masih ada di pasaran? Padahal, barang itu merupakan kebutuhan pokok yang tidak bisa digantikan.
Belum Tentu Lebih Hemat
Namun sebenarnya, belum tentu setiap item barang menjadi lebih ekonomis dengan cara membeli yang main borong. Juga tidak setiap barang bisa “menghilang” dari pasaran. Banyak hal yang harus dipertimbangakn sebelum memutuskan untuk membeli dengan cara memborong atau eceran. Karena itu, beberapa pertimbangan berikut ini mungkin dapat bermanfaat.
a) Pertimbangan arus kas (cash flow)
bagaimana pun, pembelian dengan cara memborong mengharuskan Anda mengeluarkan uang dalam jumlah yagn besar. Perhatikan arus kas anggaran belanja rumah tangga Anda, jangan sampai tekor. Memang, Anda bisa menggunakan kartu kredit untuk memborong barang kebutuhan pokok. Tapi pakai kartu kredit berarti Anda berutang, dan ketika Anda berutang berarti sedang “menggadaikan pendapatan di masa depan untuk dinikmati saat ini”. Ada konsekuensi, yaitu harus membayar bunga. Perhitungan itu semua, sehingga jangan sampai apa yang dinikmati saat ini menjadi terlalu mahal.
b) Opportunity cost (biaya kesempatan)
opportunity cost adalah “biaya relative” yang Anda keluarkan ketika mengambil satu pilihan tertentu dan tidak mengambil pilihan yang lain. opportunity cost adalah biaya yang abstrak, dalam arti tidak sungguh keluar dari kantung Anda. Ini adalah teknik untuk mengukur apakah pilihan Anda sudah optimal secara ekonomis, dan bisa memberikan manfaat maksimal untuk kesejahteraan Anda sendiri. Membeli barang kebutuhan pokok degnan cara memborong, berate Anda menyimpan nilai guna dalam bentuk barang yang tidak likuid. Dengan demikian ,Anda secara tidak langsung “dipaksa” membayar opportunity cost dibandingakn menyimpan uang dalam bentuk tabungan atau deposito. Opportunity cost akan menjadi lebih besar bila Anda sebetulnya memiliki kesempatan untuk memutar uang tersebut dalam bisnis (yang tentunya mendatangkan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan bunga tabungan bank atau depostio). Bandingkanlah, apakah penghematan yang Anda raih dengan cara memborong bisa lebih bessar dibandingakn apabila: Perttama, aanda menyimpan nilai guna dalam bentuk saldo tabungan/ deposto, atau kedua, kalau uang tersebut diputar dalam bisnis. Kalau anda memborogn dengan menggesek kartu kredit, opportunity cost akan jadi lebih besar. Sebab ada komponen biaya bunga yang harus diperhitungkan. Bisa jadi, biaya bunga ini akan langsung menggerus “keuntungan semu” karena membeli barag secara borongan.
c) Tempat penyimpanan stok barang
tidak menjadi masalah kalau di rumah anda terdapat tempat khusus untuk menyimpan stok barang kebutuhan pokok. Tentu saja, tempatnya harus kering (tidak terlalu lembab) dan memnuhi standar penyimpanan. Kalau tidak ada ruang untuk menyimpan dengan baik, tentu saja ada risiko kerusakan barang selama disimpan. Berarti upaya penghematan menjadi sia-sia.
d) Penyusutan
kita harus pula mempertimbangakn nilai guna barang, khususnya bahan makanan, setelah disimpan dalam jangka waktu tertetu. Yang harus diperhatikan terutama adalah penyusutan volume, penurunan kualitas, dan seterusnya. Misalnya, Anda menyimpan beras untuk persediaan tiga bulan. Kendati ruang penyimpanan cukup memadai, akan tetapi beras tentu saja akan menyusut atau menurun kualitasnya kalau disimpan dalam jangka waktu lama. Itulah sebabnya, anda perlu membuat perencanaan pembelian beras dalam jangka waktu yang ideal, katakanlah sekali dalam dua minggu. Memborong sayuran segar, ikan segar, dan bahan makanan segar lain, memang harus memperhitungkan apakah semua itu bisa dikosumsi dalam waktu dekat. Sementara itu, kalau ingin menimbun baha makanan yang diawetkan (makanan kalengan), anda harus memperhitungkan kadaluwarsa (expired date). Jangan-jangan, makanan tersebut hanya ngendon di kulkas sampai ambang batas kadaluwarsa lewat.
Trik Para Saudagar
Anda sebaiknya mengenali trik penjual untuk membuat barangnya laku. Yang perlu diingat, mereka selalu memanfaatkan sisi psikologi konsumen. Berikut trik yang biasa mereka lakukan.
A) harga psikologis. Trik ini mduah dikenali. Produsen memasang label harga pada satuan nominal tertentu yang memberi kesan murah. Harga Rp99900 misalnya, secara psikologis akan seperti harga 90-an ribu. Padahal secara riil, harganya sudah seratus ribu rupiah.
B) Disko dengan Mark Up Harga. Kadang ada pula produsen yang memberlakukan diskon terhadap suatu item barang yang harganya dinaikkan lebih dahulu. Trik ini sudah jarang dilakukan produsen, sebab konsumen sudah makin pintar membandingkan harga di satu tempat dan tempat lain.
C) Diskon untuk Pembelian Minimal. Produsen kadang memberi diskon atau door prize untuk pengeluaran nominal tertentu. Mereka bertujuan meningkatkan angka rata-rata penjualan per transaksi. Misalnya, kalau konsumen berbelanja rata-rata Rp15000, maka produsen bisa saja memberi potongan khusus untuk pembelian minimal Rp25000. Untuk trik seperti ini, sebaiknya konsumen agar tidak terjebak pada pembelian yang berlebihan.
D) Membership. Melalui program keanggotaan (membership), penjul menambah daftar langganan. Tidak menjadi masalah bagi konsumen, apabila membership card tidak dikenakan biaya. Namun beda ceritanya kalau ada iuran keanggotan. Anda harus berhitung cermat, apakah iurang keanggotaan (membership fee) itu akan bermanfaat atau tidak. Banyak orang membayar iuran keanggotaan yang tidak pernah digunakan.
E) Kupon Undian. Promo hadiah menggiurkan telah menjadi tren. Biasanya, pembelian dengan nilai nominal tertentu akan mendapat kupon yang diundi di akhir periode undian. Penjual bertujuan merangsang konsumen untuk menaikkan anggaran pembeliannya. Ini tidak menjadi masalah bagi konsumen, asalkan tidak mempengaruhi kebiasaan. Namun, undian berhadiah dapat menjadi boomerang bagi konsumen yang tergiur oleh iming-iming hadiah, sehingga menaikkan volume pembeliannya secara drastic sehingga mendapatkan kupon lebih banyak. Tetaplah berpikir dan bertindak rasional, karena undian berhadia bear tidak dapat diprediksi. Anda bisa saja memperbesar peluang mendapat hadia dengan memiliki banyak kupon, namun tetap saja tidak ada jaminan.
F) Strategi Obral. Biasanya ada program obral (great sale) yag dilakukan peritel untuk menarik minat konsumen. Mereka menempuh strategi banting harga untuk jenis barang tertentu. Tapi, di sisi lain, mereka juga melakukan mark up untuk jenis barang lain. misalnya, mereka menjual gula pasir dengan harga 20% lebih rendah dibandingakn di tempat lain. namun untuk sepuluh jenis barang lain, mereka menaikkan harganya antara 2,5% sampai 5%. Jadi ada semacam subsidi untuk menutupi penurunan penerimaan akibat obral. Para penjual sudah mempelajari perilaku konsumen yang datang ke suatu tempat untuk berbelanja lebih dari satu jenis barang tertentu. Oleh karena itu, mereka bisa memangkas harga item tertetnu dan mendongkrak harga item yang lain. prinsip mereka membuat konsumen seolah-olah merasa untung karena adanya diskon. Namun secara total (overall), mereka mendapat profit yang sama.
Bagaimana konsumen menghadapi trik para saudagar yang semakin kreatif dan cerdik? Prinsipnya, sesuaikan pembelian dengan kebutuhan riil anda. Jangan sampai membeli suatu barang yang sebetulnya tidak dibutuhkan, tapi tetap dibeli, dengan alasan mumpung lagi diskon. Ini akan menyulitkan keuangan Anda sendiri.
Mengenali Kebutuhan Sendiri
Seringkali kita bingung ketika dihadapkan pada pilihan apakah harus beli secara eceran atau memborong. Beli eceran mungkin lebih mahal, tetapi lebih sesuai dengan volume kebutuhan riil. Beli borognan bisa jadi hemat, tetapi apakah jumlahnya sesuai dengan kebutuahn kita? jadi, mengenali kebutuhan sendiri adalah jawabannya. Tanpa mengenali kebutuhan, mungkin saja barang yang diborong justru memancing pola konsumsi yang tidak ekonomis. Menimbun daging kalengan banyak misalnya, cenderung memancing keinginan mengkonsumsi setiap saat. Dengan demikian, konsumsi justru semakin boros. Penghematan yang dilakukan pada saat membeli, akan menjadi sia-sia.

Kalau sudah bisa memahami kebutuah riil sendiri, metode apa yang bisa dipakai untuk mengekang pola konsumsi yang tidak rasional?Ada baiknya kalau kita mencoba menggunakan pendekatan EOQ(economic order quality) untuk menentukan kapan harus membeli barang dan berapa jumlah yang harus dibeli. Caranya, buatlah standar kebutuhan besi atau stok barang yang tersedia (misalnya 1 kaleng susu, setengah kilogram gula pasir, setengah gram minyak goreng dan kebutuhan pokok lainnya). Kalau stok anda suda menyentuh “standar besi” tersebut, berarti harus ada re-order. Artinya, anda harus mengisi stok lagi. Jangan lupa memperhitungkan transaction cost. Yakni biaya bolak-balik ke pusat perbelanjaan, dan waktu yang dihabiskan untuk itu. Selain standar besi sebagai plafon bawah stok barang, perlu juga menggunakan batas atas. Dengan kata lain, jumlah maksimal yang dapat disimpan. Menyimpan minyak goreng lebih 10 kilogram misalnya, risikonya cukup besar. Selain risiko penurunan harga (berarti Anda rugi), ada juga risiko bau tengik, kotor, dan lain-lain.