Minggu, 25 Agustus 2013

Mengapa kita memiliki Sikap Rasional dan Disiplin Anggaran? dalam Manajemen Keuangan Pribadi/ Why do we have a rational attitude and Budget Discipline? the Personal Financial Management

Mengapa kita memiliki Sikap Rasional dan Disiplin Anggaran? dalam Manajemen Keuangan Pribadi

(sumber/ source: K, Asih.2006. Cerdas Mengelola Uang Belanja. Yogyakarta: PenerbitMediaPerssindo.)


Disiplin anggaran serta sikap rasional merupakan kunci keberhasilan dalam mengelola uang belanja keluarga secara cerdas. Disiplin anggaran adalah seberapa taat kita kepaa apa yang sudah direncanakan. Sikap rasional merupakan cara kita memandang pengeluaran uang; tentnag bagaimana uang dikeluarkan, dan tentang apa yang kita harus peroleh pada saat kita mengeluarkan sejumlah uang. Memang, selalu ada godaan untuk keluar dari rel yang telah ditentukan. Selalu tersedia alasan untuk tidak mematuhi anggaran yang telah dirancang. Namun ada cara efektif untuk mengatasinya, yaitu sebagai berikut: Pertama, selalu mengingat keinginan atau rencana jangka panjang yang  menjadi impian Anda, misalnya “kalau saya beli lemari ini sekarang, nungkin 6 bulan lagi saya tidak bisa menukar mobil yang umurnya lebih muda.”; kedua, berpegang teguh pada manfaat dari pembelian suatu barang. Hindari beli barang yang hanya untuk memenuhi keinginan, bukan kebutuhan; ketiga, perhitungakn kemungkinan cepat bosan dalam menggunakan suatu barang. Misalnya: “kalau saya beli treadmill itu, saya bisa sisihkan uangnya. Tapi, apakah tiga bulan lagi saya masih akan menggunakannya?” disiplin anggaran harus ditopang perilaku konsumsi yang rasional. Selain berorientasi pada kebutuhan riil, berpeganglah pada asas value for money (nilai untuk uang). Jika mengeluarkan uang sejumlah sekian, kenikmatan atau kegunaan seperti apa yang layak anda dapatkan. Jangan terkecoh gengsi. Pada tahun 80-an perilaku konsumen seringkali tidak rasional. Orang muda pancing oleh impulsive buing. Misalnya, tetangga punya televisi baru, kita pun ingin membeli yang baru, padahal yang laam masih bagus. Tetangga punya tiga sepeda motor, kita ingin membeli lima sepeda motor. Tetangga pasang antena parabola, kita juga pasang dengan diameter dua kali lebih besar. Begitu seterusnya. Kenapa kita bisa muncul perilaku tersebut? Sebab mereka mengejar gengsi. Zaman dahulu, gnegsi menjadi pertimbangan penting. Dengan membeli produk yang memiliki merek tertentu, orang berharap gengsinya naik. Status sosialnya bisa diperbaiki. Pada prinsipnya, gengsi adalah ego yang bisa menghancurkan diri sendiri. Pepatah lama bisa kita gunakan untuk mengatasi hal ini “jangan mengukur diri sendiri dengan baju orang lain”. uang memang bisa mengubah perilaku membeli. Ketiga segalanya terasa mudah, kita sering lupa bahwa nilai suatu produk terletak pada core product (produk inti), bukan pada atributnya. Produk inti sepatu adalah sebagai alat kaki. Core product t-shirt adalah sebagai pakaian untuk melindungi tubuh. Mungkin kita sekarang baru tersadar bahwa ketika kita membayar harga mahal untuk sepatu impor bermerek, sebetulnya kita hanya membeli atribut. Bukan membeli produk. Kini yang menjadi tren adlaah gaya hidup (life style) rasional. Kita harus membandingkan harga (cost) dan kegunaan (utility) dalam berkonsumsi. Gaya hidup rasional dicerminkan oleh pengendalian dalam berkonsumsi. Kita membeli sesuatu bukan semata-mata karena punya uang, tetapi apakah kita membutuhkan atau tidak. Ketika membeli sesuatu, ktia semata-mata berorientasi pada kegunaan (utility). Gaya hidup rasional dan pola konsumsi rasional menunjukkan kecerdasan kita sebagai konsumen.