Minggu, 25 Agustus 2013

Mengetahui tentang Bipolar Disorder, bagian 2, dalam Kesehatan/ Knowing about Bipolar Disorder, part 2, in Health

Mengetahui tentang Bipolar Disorder, bagian 2, dalam Kesehatan

(sumber/ source:_.2012. Mood harus selalu stabil. Surabaya: Jawa Pos Edisi 8 Maret 2012.)           

Penanganan tepat akan mempengaruhi kondisi pasien. Untuk penderita Bipolar Disorder, tenaga medis harus jeli mendiagnosis. Dengan begitu, penangan tidak bias (rancu) dengan gangguan jiwa lainnya. “pasien harus rutin periksa ke psikiater,” kata dr Soetjipto SpKj. Awalnya, terapi dilakukan demi mengatasi keadaan akut. Misal, pasien masuk fase dperesi, maka harus dicegah ide untuk mengakhiri hidupnya menjadi kenyataan. Begitu juga, tindakan yang meunjukkan gresivitas harus ditekan agar terkontro. Penderita Bipolar Disorder juga akan mendapatkan obat antipsikotik serta terapi menstabilkan mood. Bila mood stabil, frekuensi kekambuhan bisa dikurangi. Terapi lain, kata Soetjipto, dilakukan dengan terapi kognitif. Tindakan itu bertujuan mengenal pola pikir yang salah dan mengembangkan pola pikir yang lebih rasional. “mereka diarahkan untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari,” papar psikiater dari RSUD dr Soetomo itu. Di sini, tegas dia, peran keluarga sangat berperan. Terapi tersebut membantu memperkuat strategi dalam menangai permaslahan. Yakni mengenali, episode baru secara dini dan membantu orang yang mereka cintai. Juga meningaktkan komunikasi dan pemecahan masalah. “orang tua diberi pengertian tentang bipolar sepreti apa yang sehigga bisa memberikan perlakukan yang tepat pada mereka,” ungkapnya. Terapi perilaku juga mengarahkan pasien Bipolar Disorder. Si pasien diharapkan meniadakan atau mengurangi pola perilaku yang salah, menampilkan perilaku baru yang positif, dan bisa diterima masyarakat. Dengan demikian, pasien tidak focus melakukan aktivitas negative, mungkin mengudnang bahaya. “aktivitas sehari yang rutin dan jadwal tidur dapat membantu melindungi terhadap episode maniak.” Kata Soetjipto, juga, psikoedukasi berkelompok yang mengajarkan penderita Bipolar Disorder tentnag penyakit mereka dan terapinya. Pengobatan itu membantu seseorang untuk, mengenali tanda kekambuhan. Dengan demikian, mereka dapat mencari bantuan pengobatan lebih awal sebelum episode penuh terjadi. Psikoedukasi, menurut Soetjipto, dapat berguna untuk anggota keluarga, para perawat atau pengasuh yang kontak langsung dengan pasien. “Jadi, bisa mencegah kekambuhan lebih parah. Sekaligus langkah deteksi dini bila muncul gejala. Sehingga, penyakitnya tidak kambuh-kambuhan,” katanya.