Minggu, 25 Agustus 2013

Tanda Baca, di dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Bahasa Indonesia/ Punctuation, Spelling in the Enhanced (EYD), Indonesian

Tanda Baca, di dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Bahasa Indonesia

(sumber/ source: Keraf, Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Jakarta: PenerbitNusaIndah.)
Tanda baca yang berikut dan huruf yang mengikutinya dipisahkan oleh satu spasi: (,)(.)(:)(;)(?)(..))(…),(…”)(…’)(!)
Tanda baca berikut dipisahkan satu spasi dari huruf atau tanda baca yang mendahuluinya. ((…)(…)(“…)(‘…)
I) Titik (.)
Tanda titik dipakai dalam hal yang berikut.
a) Mengakhiri kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.misalnya: Ayahku tinggal di Surabaya.;Biarlah mereka duduk di sana.
b) Pada akhir singkatan nama orang. Misalnya: A. F. Sujadi; Muh. Yamin
c) Pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.misalnya: Dr. (Doktor); dr. (dokter); M. B. A./ MBA (Master of Business Administration); Yth. (Yang terhormat)
d) Pada singkatan kata atau ungkapan yagn sudah sangat umum. Pada singkatan yang terdiri dari atas tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda titik. Misalnya:a.n. (atas nama);d.a. (dengan alamat);u.b.(untuk beliau);u.p. (untuk perhatian);y.l. (yang lalu);dkk. (dan kawan-kawan);dll. (dan lain-lain);dsb. (dan sebagainya);dst. (dan seterusnya);hlm. (halaman);tgl. (tanggal);tsb. (tersebut)
e) Dibelakang angka atau huruf dalam satu abgain, ikhtisar, atau daftar. Misalnya:
Ø  III. Departemen Dalam Negeri
Ø  A. Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa
Ø  B. DIrektorat Jenderal Agraria
Ø  Penyiapan Naskah           : 1. Patokan Umum
1. 1. Isi Karangan
1.2. Ilustrasi
                1.2.1. Gambar Tangan
                1.2.2. Tabel
                1.2.3. Grafik
f) memisahkan angka jam, menit dan detik yang menunjukkan waktu, maupun jangka waktu. Misalnya:Pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik); 1.35.20 (1 jam, 35 menit, 20 detik)
Tanda titik tidak dipakai dalam hal berikut:
a) memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukkan jumlah. Misalnya:Ia lahir pada tahun 1936 di Bandung; Lihat halaman 2353 dan seterusnya.
b) singkatan yang terdiri dari huruf awal kata atau suku kata atau gabungan keduanya. Misalnya:ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia);SMA (Sekolah Menengah Atas);Deppen (Departemen Penerangan);Sekjen (Sekretaris Jenderal);Tilang (bukti pelanggaran)
c) Singkatan lambang kimia, satuan ukur, takaran, timbangan dan mata uang. Misalnya:Cu (kuprum);TNT (Trinitrotoluene);10 cm (panjangnya 10 cm lebih);Kg (berat yang diizinkan 100 kg ke atas);Rp 567,00 (harganya Rp 567,00 termasuk pajak)
d) pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, table, dan sebagainya. Misalnya:Salah Asuhan;Bentuk Kedaulatan;Acara Kunjungan Presiden
e) di belakang alamat pengirim dan tanggal surat, atau nama dan alamat penerima surat. Misalnya:
Ø  Jalan Diponegoro 82
Jakarta
1 April 1973
                Yth. Sdr. Moh. Hasan
                Jalan Salemba 6
                Jakarta
II) Tanda Koma (,)
Tanda koma dipakai dalam hal yang berikut ini.
a) memisahkan unsure dalam suatu pemerincian atau pembilangan. Misalnya:Saya membeli kertas, pena, dan tinta; Satu, dua… tiga!
b) Memisahkan kalimat setara yang satu dari yang lain yang didahului kata seperti tetapi, melainkan. Misalnya:Saya ingin datang, tetapi hari hujan.;Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.
c) Memisahka anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimat. Misalnya:Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.; Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.
Catatan: tanda koma tidak dipakai apabila anak kalimat tersebut mengiringi induk kalimat.
Ø  Saya tidak akan datang kalau hari hujan.
Ø  Dia lupa akan janjinya karena sibuk.
d) di belakang kata seperti: o, yah, wah, aduh, kasihan, yang terdapat pada awal kalimat. Misalnya:O, begitu.;Wah, bukan main!
e) memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. Misalnya:Kata ibu, “Saya gembira sekali.”“saya gembira sekali,” kata ibu, “karena kamu lulus.”
f) antara nama dan alamat, bagain alamat, tempat dan tanggal, dan nama tempat dan wilayah atau negeri yagn ditulis berurutan. Misalnya:Sdr. Abdullah, Jalan Kayumanis I, Jakarta.;Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, Rawangmangun, Jakarta.
g) Antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya, untuk membedakannya dari singkatan nama keluarga atau marga. Misalnya:B. Ratulangi, S. H.;Ny. Endang, M. A.
h) untuk menyataan angka persepuluhan (decimal). Misalnya:15,57 cm;Rp 12,50
i) Untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi. Misalnya:Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.;Di daerah kami, mislanya, masih banyak orang laki-laki makan sirih.
III) Tanda titik Koma (;)
a) Memisahkan bagian kalimat yang sejenis dan setara. Misalnya:Malam kian larut; kami belum selesai juga.
b) Memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.misalnya:Ayah mengurus tanamannya di kebun; ibu sibuk bekerja di dapur; adik menghafalkan nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran pilihan pendengar.
IV) Tanda titik Dua (:)
a) Pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian. Misalnya:Yang kita perlukan sekarang ialah barang yang berikut: kursi, meja, dan lemari.;Fakultas Ekonomi mempunyai dua jurusan: Ekonomi Umum dan Ekonomi Perusahaan.
Catatan: tanda titik dua tidak dipakai kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan:Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.;Fakultas itu mempunyai jurusan Ekonomi Umum dan Ekonomi Perusahaan.
b) Pada kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian. Misalnya:
Ketua                    : Ahmad Wijaya
Sekretaris            : S. Handayani
Tempat                                : Ruang 203
Hari                        : Senin
Acara                     : Menghadapi Tahun Kuliah Baru
c) Dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan. Misalnya:
Ibu         : “Bawa kopor ini, Mir!”
Amir      : “Baik, Bu.”
Ibu         : “Jangan lupa. Letakkan baik-baiak!”
d) Di antara jilid atau nomor buku/ majalah dan halaman, antara bab dan ayat dalam kitab suci, atau antara judul dan anak judl suatu karangan. Misalnya:Budaya Jaya, II (1975, 34:7);Surat Yasin: 9;Karangan Ali Hakim, Pendidikn Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.
V) Tanda Hubung (-)
a) Menyambung suku kata yang terpisah oleh pergantian baris.
Ø  …ada cara ba-
ru juga.
Ø  … cara baru meng-
ukur panas.
Ø  … cara baru me-
ngukur kelapa.
Ø  … alat pertahan-
an yang baru.
b) menyambung unsure kata ulang. Misalnya:Anak-anak;Dibolak-balik;Berulang-ulang;Kemerah-merahan
c) menyambung huruf dan kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian penanggalan. Misalnya:P-e-r-u-m-a-h-a-n;8-7-1945
d) merangkaikan se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf capital; se- dengan angka; dengan –an; singkatan huruf capital dengan imbuhan atau kata. Misalnya:se-Indonesia;se-Jawa Barat;hadiah ke-2;tahun 50-an;ber-SMA;KTP-nya;bom-H;sinar-X
e) merangkaikan unsure bahasa Indonesia dengan unsure bahasa asing. Misalnya:di-charter;pen-tackle-an
f) tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian ungkapan. Misalnya:Berevolusi dengan be-revolusi; Dua puluh lima-ribuan (20X5000) dengan dua-puluh-lima-ribuan (1X25000);Istri-perwira yang ramah dengan istri perwira-yang ramah
VI) Tanda Pisah ()
a) tannda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan khusus di luar bangun kalimat. Misalnya:Kemerdekaan bangsa itu— saya yakin akan tercapai— diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
b) Tanda pisah menegaskan adanya aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas. Misalnya:Pembelahan atom— telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.
c) tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti ‘sampai dengan’ atau di antara dua kota yang berarti ‘ke’ atau ‘sampai’. Misalnya:1910—1945; Tanggal 5—10 April 1974;jakarta—Bandung
VII) Tanda Elipsis (…)
a) Menggambarkan kalimat yang terputus-putus. Misalnya:kalau begitu… ya, marilah kita pergi.
b) Menunjukkan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dihilangakn. Misalnya:sebab-sebab kemerosotan… akan diteliti lebih lanjut.
Catatan: kalau bagian yang dihilangakn mengakhiri sebuah kalimat perlu dipakai empat titik; tiga untuk penghilangan teks dan satu untuk mengakhiri kalimat. Misalnya:dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati….
VIII) Tanda Tanya (?)
a) tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya. Misalnya:kapan ia berangkat?;Saudara tahu, bukan?
b) Tanda tanya dipakai di antara tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya. Misalnya:Ia dilahirkan pada tahun 1683 (?);Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.
IX) Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan berupa seruan atau perintah, atau yang  menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat. Misalnya:Alangkah seramnya peristiwa itu!;Bersihkan kamar ini sekarang juga!;Masakan! Sampai hati juga ia meninggalkan anak istrinya!;Merdeka!
X) Tanda Kurung ((…))
a) mengapit tambahan keterangan atau penjelasan. Misalnya:DIP (DaftarIisian Proyek) kantor itu sudah selesai.
b) Mengapit keterangan atau penjelas yang bukan bagian integral pokok pembicaraan. Misalnya:Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis tahun 1962.;Keterangan itu (lihat table 10) menunjukka arus perkembangan baru dalam pasaran dalam negeri.
c) mengapit angka atau huruf yang memerinci satu seri keterangan. Angka atau huruf itu dapat juga diikuti oleh kurung tutup saja. Misalnya:
Ø  Factor-faktor produksi menyangkut masalah berikut:
(1) alam;
(2) tenaga kerja; dan
(3) modal.
Atau:
a) alam;
b) tenaga kerja; dan
c) modal.
Atau: Faktor-faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.
XI) Tanda Kurung Siku ([…])
a) tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain, dalam naskah aslinya. Misalnya:Sang Spurba men(d)engar bunyi gemerisik.
b) Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung. Misalnya:(perbedaan antara dua macam proses ini [lihat  Bab I] tidak dibicarakan)
XII) Tanda Petik (“…”)
a) tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. misalnya:“sudah siap?” tanya Awal.;“Saya belum siap,” sru Mira, “tunggu seebntar!”
b) Tanda petik yang mengapit judul syair, karangan, dan bab buku apabila dipakai dalam kalimat. Misalnya:Bacalah “Bola Lampu” dalam buku Dari Suatu Masa, Dari Suatu Tempat.; Sajak “Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku itu.
c) Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang masih kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus. Misalnya:Pekerjaan itu dilaksanakannya dengan cara “coba dan ralat” saja.; Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama “cutbrai”.
Catatan: perhatikan bagaimana menempatkan tanda petik penutup:
Ø  Kata Tono, “Saya juga minta satu.”
Bukan: Kata Tono, “Saya juga minta”.
Ø  Karena warna kulitnya Budi mendapat julukan “si Hitam”.
Bukan: Karena warna kulitnya Budi mendapat julukan “si Hitam.”
Ø  Bang Komar sering disebut “pahlwan”; ia sendiri …
Bukan: Bang Komar sering disebut pahlawan;” ia sendiri …
XIII) Tanda Petik Tunggal (‘…’)
a) tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain. misalnya:Tanya Basri, “Kaudengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”; “Waktu kubuka pintu kamar depan, kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang’, dan rasa hatiku lenyap seketika,” ujar Pak Bambang.
b) Tanda petik tunggal mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing. Misalnya:Rate of inflation ‘laju inflasi’
XIV) Tanda Garis Miirng (/)
a) Tanda garis miring dipakai dalam penomoran kode surat. Misalnya:No.7/PK/1975
b) Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau per atau nomor alamat. Misalnya:Mahasiswa/mahasiswi;Harganya Rp 15,00/ lembar; Jalan Dksinapati IV/3

V) Tanda Penyingkat (Apostrof) (‘). Tanda apostrof menunjukkan penghilang bagian kata. Misalnya:Ali ‘kan kusurati (‘kan= akan);Malam ‘lah tiba (‘lah=telah)