Selasa, 17 September 2013

Artikel tentang Cara Mengajarkan Sex Education/ Articles on How to Teach Sex Education

Artikel tentang Cara Mengajarkan Sex Education

(sumber/ source:_.2012. Tak Selalu Bentuk Perlawanan. Jakarta: Jawa Pos Edisi 10 Mei 2012.)


Memberikan pendidikan seks untuk anak memang tak segampang teorinya. Apalagi, anak  sekarang jauh lebih cepat matang ketimbang anak zaman dahulu, matang dlam arti fisik. Teman Putri, anak saya yang masih SD, sudah ada beberapa yang menalami menstruasi pada saat kelas 3 SD. Beda dengan saya yang baru mendapat menstruasi pada kelas dua SMP. Saya ingat ketika Putri masih kelas 5 SD. Di sebuah sore, tiba-tiba dia mendatangi saya dan bertanya langsung tanpa basa basi. “Ma, diperkosa itu apa?” terus terang, saya bingung harus jawab apa. Akihirnya, saya menjelaskan dengan diplomatis. Bahwa, diperkosa itu bila ada penjahat yang memaksa kita untuk melakukn sesuatu yang tidak kita inginkan. Sebenarnya, dari raut wajahnya, saya yakin Putri masih belum puas dengan jawaban saya. Tapi, jujur saja, saya bingung juga. Mau menjelaskan dengan detail tentu tak mungkin. Tapi, bila tak detail dan terkesan menutupi, Putri tampaknya belum puas. Untung, saya bisa mengalihkan pembicaraan kami dengan topic yang lain. tapi, saya sadar bahwa saya harus segera menyiapkan metode penjelasan sesuai dengan mentalnya untuk menghadapi puberitas yang akan menjelang. Untung, saya bisa menjelaskannya dari kehidupan sehari secara perlahan. Salah satunya, ketika Putri tanya kenapa di hari tertetnu saya tidak melakukan salat karena menstruasi. Saya pun pelan menjelaskan hal tersebut sesuai dengan pola pikirnya, kata kuncinya adalah berdarah. Jadi, Putri tahu kalau saya libur salat atau puasa, itu artinya saya berdarah. Tentu, saya juga beloum bisa menjelaskan menstruasi itu apa. Sebab dia memang belum mengalami. Hanya, saya katakana bahwa suatu saat Putri akan berdarah juga dan itu tidak sakit. Namun, tetap saja Putri cemas. Sebab, pada dasarnya dia memang takut sama darah. Lecet saja dia sudah teriak. Inilah pentingnya kehadiaran orang tua. Saya mendampngi Putri ketika melewati masa itu. Sesudah menstruasi, rasa ingin tahu semakin menjadi-jadi. Apalagi, saat kelas 6 SD, sudah ada materi pelajaran IPA tentang perkembangbiakan. Saya pun mengajaknya belajar bersama dengan dasasr buku materi pelajarnya. Saya beri tahu bahwa pertemuan antara sel sperma dari pria dan sel telur perempuan akan terjadi pembuahan. Bahwa, dia pun (dan saya juga) terbentuk dari prose situ juga. Saya pun kemudian menejlaskan tentang konsep pernikahan. Bahwa, proses pembuahan itu baru bisa dilakukan bila sudah menikah. Putri pun berlaru menuju kamar adiknya. Di sana dia mengajak adiknya bercanda. Di sela gurau, putri bermaksud memberi tahu tentang apa yang dia tahu. “tahu nggak gimana caranya mama hamil kamu.” Untuk, saya menyusul ke kamar adiknya. Sst… sayam mengingatkan Putri bahwa adiknya belum saatnya untuk tahu.