Selasa, 17 September 2013

Artikel tentang Pola Asuh Anak, bagian 2, di dalam Kesehatan/ Articles on Parenting Children, part 2, in the Health

Artikel tentang Pola Asuh Anak, bagian 2, di dalam Kesehatan

(sumber/ source:_.2012. Tak Selalu Bentuk Perlawanan. Jakarta: Jawa Pos Edisi 10 Mei 2012.)


Membatah boleh asal: ketika menolak keinginan bunda, anak harus menyampaikan pendapatnya dengan sopan; jika asalan anak bisa diterima diharapkan win-win solution, misalnya tetukaa batas waktu untuk dia; bunda bertindak sebagai evaluator, jika si kecil tidak memenuhi kesepakatan, ada konsekuansinya, pada ujungya, dia tetapa harus menuruti apa kata bunda.  Dulu si kecil selalu menurut apa kata bunda. Tetapi, ketika makin besar, dia mulai sering membantah dan menolak untuk melalukan perintah orang tua. Bunda khawatir, umur makin bertamha, sikapnya makin jadi. Bagaimana menghadapinya? Sebaiknya, bunda jangan terburu-buru negative thinking si kecil berani membantah perkatan bunda, apalagi sampai mempersulut emosi dan marah kepada anak. Lihat dulu seperti apa kondisinya, beri si kecil kesempatan untuk mengutarakan maksudnya. Misalnya, si kecil tidak mau ketikka di suruh tidur siang, mengerjakan PR, atau membereskan mainannya. “Aku nggak mau tidur!” atau “Aku mmalas kalau bunda nyuurhku ngerjain PR,” atau “Ngapain harus diberesin? nanti akau main lagi,” celoteh sianak. Ketika sedang jengkel, mungkin budna akan memarahi dan memaksa anak melakukan apa yang bunda mau. “Padahal, sebenarnya, jangan langsung marah. Dengarkan apa keinginan anak. Jika alasannya masuk akal, harus diterima,” ujar Monique Elizabeth Sukamto SPsi Msi, psikolog klinis. Monique menjelaskan bahwa seorang psikoanalis, Erik Erikson psikososial dalam bukunya. Mulai usia dua tahun, anak berada pada fase melatih eksistensi dan menyingkirkan hal yang tidak mereka sukai. “Terlepas dari karakter anak, ada yang kalem dan penurut, ada juga yang bertipikal suka protes. Ketika membantah orang tua, belum tentu dia ingin melawan. Bisa jadi, dia sedang ingin mempromosikan keinginannya. Orang tua, hendaknya juga bisa memberikan toleransi, papar dosen fakultas psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) itu. Menurut Monique, hal tersebut juga bisa memiliki arti positif. Artinya, anak mampu berpikir, mengenali, dan mengutarakan keinginanya. Yan terpenting, orang tua harus tahu kapan harus bersikap tegas. Dia mencontohkan anak yang ingin menonton pertandingan bola pada dini hari. Sudah dilarang, si anak bersikeras menonton karean itu merupakan pertandingan klub favoritnya. “Lihat sikonnya. Kalau pagi dia sekolah, sangat wajar jika orang tua melarang. Tetapi, jika esoknya libur, tidak apa-apa diizinkan. Dengarkan kebutuhan anak yang ingin melakukan hal kesukaannya,” papar ibu dua putra tersebut. Jika orang tua terlalu menekan anak dan tidak bisa menerima argument anak, dikhawatirkan timbul efek buruk. “Sering dicut bisa mematikan daya kritis anak. Lalu, anak menjadi takut krena merasa bahwa pendapatnya memalukan. Misalnya, ketika berada di sekolah, dia menjadi anak yang takut untuk menyampaikan pendapatnya,” jelas Monique. Dampak jangka panjang yang ditakutkan adalah timbulnya reaksi yang lebih keras. “anak akan memberontak. Atau, ketika di rumah terpaksa menurut, anak melampiaskannya secara berlebihan ketika berada di luar rumah,” terang Monique. Meski demikian, dsiplin tetap sangatlah pentng. Ketika keinginannya dipenuhi, anak juga harus bersedia untuk melakukan peritnah orang tua. Si kecil harus dilatih untuk menyampaika argumennya dengan sopan. Jangan sampai anak berkata keras, apalagi membentak orang tua. “Kalau sampai anak membentak orang tua, lalu orang tuanya diam saja, itu adalah sikap yang salah. Sikap tersebut buruk bagi perkembangan karakter si anak,” tutur Monique. Sebab, hal itu bisa berlanjut dalam sosialisasinya. “Si Kecil perlu tahu sukap mana yang pantas dilakukan kepada orang tua dan mana yang tidak boleh,” katanya.