Selasa, 17 September 2013

Artikel tentang Terjun Payung dan Layang Gantung/ Article about the Umbrella Falls and Kite Hanging

Artikel tentang Terjun Payung dan Layang Gantung

(sumber/ source:Syafi’ie, Imam. 1996. Terampil Berbahasa Indonesia 1. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.)


Sejak Federasi Aermodeling Seluruh Indonesia (FASI) didirikan pada tahun 1972, olahraga dirgantara di Indonesia semakin berkembang. Berbagai cabang olahraga dirgantara seperti terbang layang, aeromodeling, terjun payun, layang gantung, terbang bermotor, pesawat swayasa, dan balon udara, maju pesat perkembangannya. Di antara cabang olahraga dirgantara itu yang paling popular di kalangan masyarakat adalah terjun payung dan layang gantung atau gantole. Setiap kali diadakan demonstrasi terjun pyung atau pertandingan layang gantung, masyarakat selalu berduyun-duyun datang menonton. Olahraga dirgantara termasuk olahraga mahal. Inilah barang kali salah satu kendala dalam mengembangkan olahraga dirgantara di Negara kita. untuk melakukan olahraga terjun payung diperlukan payung atau parasut. Harga sebuah parasut bisa mencapai lima juta rupiah. Untuk terjun dari udara diperlukan pesawat terbang yang menerbangkan para penerjun ke ketinggian. Penerbangan pesawat udara ini memerlukan biaya yang mahal. Walaupun tidak semahal olahraga terjun payung, olahraga layang gantung juga memerlukan biaya yang tidak sedikit. Sebuah layang gantung berharga ratusan ribu rupiah. Bahkan, ada yang berharga di atas satu juta rupiah. Di samping sebagai olahraga mahal, terjun payung juga termasuk olahraga berisiko tinggi. Oleh karena itu, sebelum benar-benar melakukan penerjunan seorang penerjun lebih dahulu harus menguasai dasar teori dan teknik terjun payung. Mereka berlatih dengan sungguh-sungguh di bawah asuhan instruktur terjun payung yang berpengalaman. Keberanian, ketelitian, kecekatan, ketepatan mengambil keputusan, dan kepercayaan diri adalah sifat yang harus dipunyai oleh seorang penerjun. Begitu pula halnya dengan olahraga layang gantung. Walaupun risikonya tidak sebesar olahraga terjun payung, olahraga layang gantung juga dapat dikatakan sebagai olahraga yang berisiko tinggi. Walaupun terjun payung termasuk olahraga yang mahal dan berisiko tinggi, olahraga ini semakin banyak penggemarnya. Lebih-lebih setelah FASI Mengadakan Jakarta Aero Sport pada tahun 1987 yang lalu. Pada waktu itu diperkenalkan terjun tandem pertama kali di Indonesia. Dengan terjun tandem ini seorang awam yang belum pernah terjun dapat merasakan terjun benar-benar dengan ara digendong oleh penerjun dan bersama-sama terjun. Olahraga terjun payung di Indonesia bertambah semarak dengan diadakan pesta terjun internasional Bali Boogie (baca: bali bugi) pada tahun 1989 di pantai Kuta Bali. Dua tahun kemudian diadakan kejuaraan dunia terjun payung di Jakarta yang diiikuti penerjun-penerjun terkenal dari seluruh dunia. Olahraga layang gantung juga semakin banyak penggemarnya. Olahraga ini sekarang sedang digalakkan oleh FASI, antara lain dengan memasukkannya sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan dalam Pekan Olahraga Nasional.