Selasa, 17 September 2013

Budaya tentang Tingkeban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, di dalam Seni Budaya/ Culture of tingkeban, Tuban, East Java, in the Cultural Arts

Budaya tentang Tingkeban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, di dalam Seni Budaya

(sumber/ source:_.1997. Upacara Adat Jawa Timur. Surabaya: Departemen P dan K Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur.)

Dua ribu tahun perjalanan manusia di bumi Jawa menghadirkan aneka tradisi yang terangaki dalam tata cara peradaban dan kahirnya disebut kebudayaan Jawa. Sejak leluhur bangsa ini menganut faham animism, dinamisme, kemudian larut dalam perjalanan sejarah memperoleh masukan dari agama Syiwa, Budha dan Hindu, menyusul kemudian pengaruh Islam, Kristen dak akhirnya memasuki peradaban modern maka terekspresikan warna local budaya yang “bhineka tunggal ika”. Upacara tradisi “slametean” amat beragam banyaknya, dan salah satu ragam adalah “selamatan orang ahmil” (slamtena wong meteng). Upacara slametan ini dikaitkan dengan local wilayah Tuban, wilayah utara jawa timur yang menyimpan berbagai kisah, sejarah baik yang lain yang telah tertulsi di dalam berbagai buku, maupun kisah lain yang mungkin ribuan jumlahnya tetapi belum sepat dibukukan. Wilayah ini dikenal sebagai wilayah pelabuhan penting sejak jaman Sindhok berkuasa, berlanjut ke jaman Majapahit dan jaman perkembagnan agama Islam di Jawa (jaman para wali menyebarkan agama Islam). Khusus upacara selamatan untuk orang hamil, misalnya dalam buku “Kitab Primbon Betaljemur Adammakna” (Soemodidjojo Mahadewa, 1978). Dalam kitab primbon tersebut diterangkan bahwa selamatan untuk orang hamil dilaksanakan sebanyak 9 (Sembilan kali). Selamatan bulan pertama dalam masa hamil disebut “Jenang Sungsung”, selamatan bulan kedua “Sega Janganan”  selamatan bulan ketiga sama dengan bulan kedua, selamatan masa hamil pada bulan keempat “Sega Punar” apem dan kupat selamatan bulan kelima “Sega Janganan” uler-uleran dan ketan mancawarna” (mancawarna= 5 macam warna), selamatan hamil pada bulan keenam “Apem kocor”, selamatan pada bulan ketujuh disebut “Tingkeban” dengan upacara khusus, selamatan pada bulan ke delapan disebut “Bulus angrem” (bulus mengeram) kue klepon ditutupi serabi; dan akhirnya selamatan pada bulan kesembilan disebut eslamatan “Jenang procot”. Secara konvensional selamatan “Tingkeban” yang mengacu ke tradisi Jawa kultur Solo-Jogjakarta dengan kelengkapan sesajian “sega jangan lan jajan pasar, jenang abang” putih, sega garing, amping ketan, tumpeng robyong, penyon, sempora (glepung beras dijuri santen), dan pring sedhapur”. Upacara tingkeban di Tuban disebut juga “mitoni” (peringatan pada bulan ketujuh/ ) atau “ngrujaki” diterangkan secara tersebut dihidangkan “rujak”/ kata ‘tingkeban’ diterangkan secara etimolgis, disejajakra dengan akronim (singkatan kata) dari kata “titi wancine jangkeb” (telah genap waktunya). Dibalik pertanyaan tersebut terungkap maksudnya bahwa pada bulan ke tujuh bayi dalam kandungan dapat lahir (disebut “lahir metu pitu”) oleh karena itu wanita yang hamil pada bulan ketuhuh harus merawt dirinya, dilarang bekerja keras atau bepergian jauh. Ciri khusus di Tuban adalah adanya upacara siraman (wanita yang hamil disirami air dan bunga), tumpeng dilengkapi dengan dua kelapa muda (cengkir) dan sesudah itu pembagian “rujak” ke kerabat dan tamu undangna yang hadir. Seringkali kelapa muda (cengkir gading) itu digambarkan tokoh wayang yang diidolakan, misalnya Kamajaya-Dewi Ratih, Arjuna-Sumbadra, atau Panji-Candrakirana.  Dengan harapan bila bayi lelaki berwatak satria seperti Dewa Kamajaya (berwajah bagus). Arjuna atau pahlawan Panji; sebaliknya bila bayi lahir wanita berkarakter seperti Dewi Ratih, Sumbadra atau Dewi Skartaji Candrakirana (Epos cinta abadi Panji dan Sekartaji dari Kediri).
Tata upacara:
1) pemberian sengkala. Pemuka adat, sesepuh atau dukun membakar kemenyan di depan pitnu (ruang tamu, atau tempat upacara). Pasangna suami dan isterinya yang sedang hamil 7 bulan berada di dekat sesepuh yang membakar dupa.
2) Sungkeman. Pasangan suami dan isteri tersebut sungkemi ke orang tuanya dan sesepuh yang hadir dalam upacara tersebut.
3) siraman. Wanita yang hamil (didampingi suaminya) berada di dekat sesaji yang telah dipersiapkan. Kepala muda (cengkir) diletakkan berdekatan dengan pasangan itu. Wanita yang hamil disiram iair bunga yang telah dimantrai.
4) Tumpengan dan rujakan. Sesepuh membacakan doa, dilanjutkan dengan pembagian tumpeng gowok dan rujak kepada anggota keluarga dan tamu yang hadir.

5) wanita yang hamil ganti busana, upacara paripurna.