Selasa, 17 September 2013

Budaya tentang Upacara Siram Pusaka Srigati, Desa Babadan, hutan Ketonggo, Paron, Kabupaten Ngawi, di dalam Seni Budaya/ Culture of Ceremony SiramPusakaSrigati, Babadan village, forest Ketonggo, Paron, Ngawi, at the Cultural Arts

Budaya tentang Upacara Siram Pusaka Srigati, Desa Babadan, hutan Ketonggo, Paron, Kabupaten Ngawi, di dalam Seni Budaya

(sumber/ source:_.1997. Upacara Adat Jawa Timur. Surabaya: Departemen P dan K Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur.)

Latar Belakang Budaya. Upacara adat Siram Pusaka Srigati Ngawi ini berdasarkan ceria lisan para sesepuh, dimulai sejak runtuhnya kerajaan Mataram. Pada waktu itu yang disiram (dijamas) adalah pusaka yang berupa tumbak yang dikenal dengan sebutan Kyai Pleret. Tumbak Kyai Pleret semula adalah pusaka Danang Sutawijaya sewaktu berperang melawan Adipati Aryo Penangsang dari Jipang-Panelan. Setelah Mataram jatuh, masyarakat setempat meyakini bahwa pusaka tersebut berada di suatu tempat (di tengah hutan) yang disebut Srigati Sekaran tempat tersebut berada di desa Babadan, hutan Ketonggo, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi. Sesudah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, pusaka itu yang tertinggal adalah duplikatnya. Jamas tumbak Kyai Pleret dan tumbak Kyai Singkir (milik Pemda Dati II Kab. Ngawi), biasanya dilaksanakan setahun sekali, yakni setiap menjelang satu Sura (satu Asyura). Jamas tumbak Kyai Pleret dan tumbak Kyai Singkir, para tetua adat yang melaksanakan upacara selalu dipayungi oleh payung Tunggul Naga dan payung Tunggal Rana, milik Pemda Dati II Kab. Ngawi. Kedua payung tersebut selalu dikirab pada Hari jadi Kabupaten Ngawi yang jatuh pada tanggal 7 Juli. Kebiasaan siram pusaka pada hari menjeleang satu Sura, sampai sekarang tetap dilestarikan oleh masyarakat. Di Srigati masyarakat setempat ikut menjamas pusakanya masing-masing, misalnya tumbak, keris, cundrik/cuntrik, tetapi sebagain besar pusaka berbentuk keris. Pada awal upacara, Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ngawi menyerahkan pusaka tumbak Kyai Pleret, Kyai Singkir, Payung Tunggul Naga dan Payung Tunggul Rana ke sesepuh daerah, yakni ketua adat Ki Soma Darmodjo yang juga pernah menjabat kepala desa di Babadan. Masyarakat setempat menitipkan pusakanya yang akan disiram ke Kepala Desanya atau pamong desanya masing-masing. Upacara siram pusaka diawali dengan selamatan di Srigati. Sesudah upacara siram pusaka pada siang harinya, maka pada malam harinya selalu diadakan pertunjukan wayang dengan dalang pada jamannya, misalnya pada tempo dulu Ki Narto Sabdo, pada masa sekarang (tahun 1980-an sampai akhir abad XX) Ki Dalang Anom Suroto atau Ki Manteb  Sudarsono. Kesenian lain yang digelar adalah kesenian rakyat kethoprak, Ludruk, Gambyong (tandak tayub) lawak/ dagelan. Srigati sekalipun berada di wilayah hutan, tetapi pada bulan Sura amat ramai dkunjungi orang, baik yang berasal dari masyarakat Ngawi maupun warga di luar Ngawi. Mereka mempunyai kepercayaan tertentu yakni meminta berkah dari Hyang Maha Kuasa. Bentuk aktivitas masyarakat pada satu Sura bermacam, misalnya samadi, tirakatan, menyelenggarakan selamatan, tidak tidur semalam suntuk (Jawa: melekan) disekitar Srigati (hutan Ketonggo).
Kronologis Upacara Siram Pusaka
1) Babak pertama-penyerahan pusaka dan selamatan. Bupati Kepala daerah tingkat II Ngawi beserta pejabat setempat mengenakan busana Jawa hadir di Srigati. Selanjutnya diadakan upacara penyerahan pusaka ke Ketua Adat. Upacara penyerahan pusaka ini diikuti oleh tokoh masyarakat yang bermaksud menyerahkan pusakanya yang akan disiram. Setelah upacara siraman, dilanjutkan dengan upacara selamatan. Upacara selamatan terdiri dari:
a) Nasi uduk (nasi gurih), ingkung ayam, lauk pauk, pisang ayu dan bunga setaman.
b) sesaji yang berupa paduan, kembang telon (bunga tiga warna) kepala kerbau atau kepala sapi
2) Babak kedua- Upacara menanam sesaji. Kepala kerbau/ kepala sapi setelah diberi sesaji, ucapan doa dan mantra ditanam di perempatan jalan masuk ke Srigati. Bunga telon, dupa selanjutnya diletakkan di atasnya (di atas timbunan tanah kepala Kerbau/ kepala sapi).
3) Babak Ketiga-pelaksanaan siram pusaka. Ketua adat dibantu beberapa cantrik atau muridnya mulai memandikan pusaka dengan dipayungi payung Tunggul Naga dan payung Tunggul Rana. Pertama yang dijamas adalah pusaka Kyai Pleret, kedua Pusaka Kyai Singkir, selanjutnya pusaka milik Bupati atau pejabat Kabupaten dan dilanjutkan dengan pusaka para pejabat yang level kepangkatannya lebih ke bawah sampai ke pusaka milik masyarakat pada umumnya.
4) Babak keempat-doa bersama. Seusudah upacara jamas, kepala adat memimpin doa. Isi doa berupa ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas perlindungan/ berkat dan rahmatNya yang telah dilimpahkan ke seluruh warga Kabupaten Ngawi. Doa selanjutnya permohonan kepada Tuhan agar warga masyarakat Ngawi dan seluruh warga yang berkunjung ke hutan Ketonggo (Srigati, Ngawi) diberi keselamatan, berkat dan rahmat, agar secara bersama-sama (saiyekan saeka praya) mampu membawa masyarakat Ngawi semakin maju dalam berjuang, sesuai dengan motto Kabupaten Ngawi yaitu “Berjuang”.
5) babak kelima- pesta rakyat suka ria. Pada malam hari sesudah upacara siraman, di Srigati dipentaskan kesenian rakyat berupa pertunjukan wayang kulit, kethoprak, ludruk, gambyong, dan lawak atau dagelan. Kesenian rakyat tersebut bila tidak digelar pada malam 1 syura, biasanya digelar pada tanggal 15 syura, bersama dengan bulan purnama raya.

Demikian tradisi/ upacara adat siram pusaka yang dijumpai di Kabupaten Ngawi berisi muatan kepercayaan terhadap warisan leluhur yakni pusaka, pusat upacara di hutan Ketonggo (Srigati0. Upacara ini dilestarikan dan diadakan pada 1 Sura atau hari Tahun Baru berdasarkan kalender Jawa.