Selasa, 17 September 2013

Jejak Sejarah Masyarakat Indonesia , di dalam Ilmu Sejarah/ Traces History of Indonesian society, in the History of Science

Jejak Sejarah Masyarakat Indonesia , di dalam Ilmu Sejarah

(sumber/ source: Nur, Ali. Modul Bahan Ajar Sejarah. Ponorogo: MGMP Sejarah.)

I) Folklor (Folklore). Folkor adlaah sebagai kebudayaan yang disebarkan dan diwariskan secara turun temurun, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat bantu pengingat. Tokoh yang pertama kali memperkenalkan istilah ‘folklor’ ialah Wiliam John Thomas, seorang ahli kebudayaan Inggris, sedangakn di Indonesia, tokoh yang pertama kali menyelidiki folklore adalah James Dananjaya yang nantinya dikenal sebagai ‘bapak folklore Indonesia’. Beliau mengarang buku yang berjudul ‘folklor Jawa dan folklore indonesia’. Kemudian bermunculan tokoh folklore yang lain, seperti Igusti Ngurah Arinton Pudja dengna karyanya folklore Bali. Sugiarto Dakung dengan karyanya folklore Sunda dan A. A. M. Kalangie Padanay dengna karyanya Pengobatan Rakyat Indonesia. Folklore memiliki ciri sebagai berikut: disebarkan dan diwariskan secara lisan atau melalui gerak isyarat atau dengan alat pembantu pengingat lainnya; bersifat tradisional maksudnya disebarkan dalam bentuk relative sama/ standar; berkembang dalam versi yang berbeda;  bersifat anonym (pengarang tidak jelas); biasnaya mempunyai bentuk berpola; mempunyai manfaat dalam kehidupan kolektif/ bersama; bersifat pralogis (mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika yang berlaku umum); sifatnya lugu atau polos sehingga sering kelihatan kasar dan terlalu sopan; menjadi kolektif/ bersama dari masyarakat tertentu. Selain hal diatas, kegunaan folklore sebagai berikut: sebagai system proyeksi yakni alat pencermin angan suatu masyarakat secara kolektif; sebagai alat pengesahan pranata/ lembaga masyarakat; sebagai alat pendidikan anak, sebagai alat pemaksa dan pengawas agar nilai dan norma masyarakat selalu dipathui oleh anggotanya. Macam-macam folkor, menurut Jan Harold Brunvand (ahli folklore Amerika Serikat) dapat dibedakan menjadi tiga yakni:
1) Folkor lisan (verbal folklore) yaitu folklore yang bentuknya murni lisan dan dianggap sebagai fakta mental. Folklore lisan diantaranya meliputi: a) bahasa rakyat, diantaranya: i) Logat bahasa  (dialek) seperti logat Indramayu, logat Cirebon, logat Bangkalan; ii) bahasa yang bertingkat yaitu bahasa yang dipergunakan dengan mengingat adanya perbedaan dalam lapisan masyarakat; iii) slang yaitu bahasa rakyat yang dipergunakan untuk menyamarkan arti sesuatu terhadap orang luar, misalnya pencopet Jkarta berkata “Awas ada rumput” artinya hati-hati ada polisi, dan lainnya; iv) gelar kebangsawananan seperti raden, raden mas, dan lainnya; v) anomastis yaitu nama tradisional jalan atau tempat tertentu yang memiliki legenda sebagai sejarah terbentuknya, misalnya banyuwangi. b) ungkapan tradisional seperti peribahasa, pameo dan sindiran; c) pertanyaan tradisional seperti teka teki; d) sajak dan puisi rakyat seperti pantun, gurindan dan syair; e) cerita prosa rakyat seperti legenda, mitos dan dongeng; f) nyanyian rakyat.
2) folklore sebagai lisan (party verbal folklore) yaitu folklore yang bentuknya merupakan campuran unsure lisan dan bukan lisan dan dianggap juga sebagai fakta social. Diantarnya meliputi: kepercayaan rakyat (takhayul); permainan dan hiburan rakyat setempat; teater rakyat seperti lenong, ketoprak, dan ludruk, tarian rakyat seperti tari piring, tari kecak, tari reog ponorogo dan lainnya; adat istiadat seperti gotong royong; upacara tradisional seperti tingkeban, turun tanah dan lainnya; pesta rakyat tradisional seperti bersih desa, pesta panen, dan lainnya.
3) folklore bukan lisan (non verbal folklore) yaitu folklore yang bentuknya bukan lisan tetapi cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Folklore bukan lisan dikenal jgu sebagai artefak, diantaranya: rumah tradisional seperti joglo, serotong, limasan; seni kerajinan tangan tadisional; pakaian tradisional; obat rakyat; alat music tradisional. Peralatan dan senjata tradisional; makanan dan minuman khas daerah.

II) Mitologi (Mite atau Mitos). Mitologi adalah cerita prosa rakyat yang ditokohi para dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi di dunia lain (khayangan) dan dianggap benar terjadi oleh pengikutnya. Mitologi di Indonesia dapat dibagi menjadi dua macam berdasarkan tempat asalnya yaitu: pertama, mitologi yang berasal dari luar negeri, yang sudah di indonesiakan terutama dari india, arab, dan Negara di sekitar laut tengah, misalnya tentnag gunung Mahameru (berasal dari india); kedua, mitologi yang berasal dari Indonesia sendiri, misalnya: mitos dewi sri tentang terjadinya padi (jawa timur), nyi roro kidul tentang penguasa laut selatan (jawa), ratu watu gunung (jawa).

III) Legenda (Legend) yaitu cerita prosa rakyat yang dianggap ole hepnganutnya sebagai kejadian yang benar terjadi. Legenda bersifat sekuler (keduniawian) terjadi  pada masa yang belum lampau dan bertemapt di dunia seperti yang kita kenal sekarang. Legenda seringkali dipandang sebagai sejarah kolektif dari masyarakat tertentu dan bersifat migratoris yakni dapat berpindah sehingga dikenal luas di daerah yang berbeda. Menurut Jan Harold Brunvand, Legenda dibagi menjadi empat kelompok yaitu: Pertama, Legenda keagamaan yaitu v orang yang dianggap suci atau saleh, misalnya: Legenda sunan ampel, Legenda ki pandan arang, Legenda syekh siti jenar; kedua, Legenda alam gaib yaitu Legenda tentang kisah seseorang yang berhubungan dengan makhluk gaib, fungsinya untuk meneguhkan kebenaran takhayul atau kepercayaan rakyat, misalnya Legenda tentang genderuwo, sundel bolong, hantu; ketiga, Legenda perseorangan yaitu Legenda tentang tokoh tertentu, misalnya Legenda kethek ogling, Legenda si gasien (aceh), Legenda joko linglung (jawa tengah), Legenda si pitung (Jakarta); Legenda setempat yaitu Legenda yang berhubungan dengan suatu tempat atau nama tempat/ daerah tertentu, misalnya Legenda asal mula nama Banyuwangi, asal mula Desa Jember (Jawa Timur), asal nama Tengger, terjadinya Gunung Batok (Jawa Timur).

IV) Dongeng (Folktale) adalah cerita prosa rakyat yang dianggap tidak benar terjadi. Dongeng dianggap sebagai cerita pendek kolektif kesusastraan lisan. Dongeng biasanya berfunsi untuk hiburan, walaupun banyak juga yang melukiskan kebenaran, berisikan pelajaran moral atau bahkan sindiran. A) dongeng binatang yaitu Dongeng yang ditokohi binatang peliharaan atau binatang liar, binatang tersebut dianggap dapat berbicara dan berakal budi seperti manusia, binatang menjadi tokoh cerita berbeda setiap bahasa tergantung dari bagnsa yang bersangkutan, misalnya  di Eropa (Belanda, Jerman dan Inggris) binatang yang menjadi tokoh cerita adalah rubah (fox) yang bernama Reynard de Fox, di Amerika terutama Negro Amerika adalah kelinci yang bernama Brier Rabbit, sedangkan Indian Amerika adalah Coyote (anjing Hutan), rubah, burung gagak dan laba-laba, di Pilipina adalah kera, sedangkan di Indonesia adalah kancil dan kera; B) Dongeng biasa yaitu dongeng yang ditokohi manusia dan biasanya mengenai kisah suka dan duka seorang, di Indonesia, Dongeng biasanya paling popular adalah dongeng dengan tipe: Pertama, tipe Cinderella dengan motif unpromising heroin (tokoh wanita yang tidak ada harapan dalam hidupnya), misalnya: ande-ande lumut, si melati dan si kecubung (Jawa Timur dan Jawa Tengah), bawan putih dan bawang merah (Jakarta), I Kesuna dan I Bawang (Bali); kedua, tipe male Cinderella (Cinderella lelaki) dengan motif unpromising (tokoh lelaki tidak ada harapan dalam hidupnya), misalnya: joko kendil (jawa timur dan jawa tengah), I Rage Sigaran Si Belah (Bali); ketiga, tipe Oedipus tentang pembunuhan seorang ayah oleh anak kandungnya sendiri atau perkawinan sumbang antara seorang anak lelaki dengan ibu kandungnya sendiri, misalnya: Dongeng sangkuriang/ legenda tangkubanperahu (jawa barat), ratu watu gunung (jawa timur, jawa tengah, bali), bujang munang (Kalimantan barat); keempat, tipe Swan Maiden (gadis burung undan atau bidadari), misalnya Dongeng jaka tarub (tuban, jawa timur), raja pala (bali), pasir kujang (jawa barat); kelima,  tipe value of salt (nilai garam) dengna motif cinta kasih bagaikan garam, misalnya Dongengputeri bungsu dengan garam (jawa tengah) dan Dongeng puteri dewi (bali); keenam, tipe the  frog king (raja katak), misalnya pangeran katak (bali); ketujuh, tipe beauty and the beast (si jelita dan binatang), misalnya si molek dari bali; kedelapan, tipe anak lelaki yang mencuri harta raksasa, misalnya kacang ajaib (Bali); kesembilan, tipe nelayan dan istrinya, misalnya pak kasim dengan ular (bali).

V) Upacara Adat adalah kegiatan ritual yang dilakukan pada saat tertentu oleh kelompok atau masyarakat tertentu yang diserti dengan korban hewan atau sesaji. Upacara adat dilakukan dengan tujuan untuk mencari berkah agar kehidupan keluarga dan masyarakat tetap aman dan tentram. Atas dasar bentuk dan tujuan terdapat beraneka ragam upacara adat di Indonesia, yaitu sebagai berikut: pertama, upacara untuk meredam kemarahan dewa, misalnya: upacara larung samudera di pantai selatan, upacara kasodo dalam masyarakat tengger (jawa timur); kedua, upacara memperkokoh legitimasi kekuasaan, misalnya upacara grebeg di keraton Jogjakarta dan Surakarta; ketiga, upacara kematian, misalnya upacara ngaben di bali, upacara tiwah di Kalimantan tengah; keempat, upacara perkawinan, misalnya upacara perkawinan adat jawa, upacara perkawinan adat sunda.


VI) Nyanyian Rakyat (Folksongs) adalah salah satu bentuk folklore yang terdiri dari kata dan lagu yang beredar secara lisan di antara masyarakat tertentu dan berbentuk tradisional serta banyak memiliki farina. Atas dasar materi (isi) dari lirik dan lagunya, Nyanyian Rakyat (Folksongs) dibedakan menjadi: pertama, Nyanyian Rakyat (Folksongs) anak-anak, untuk permainan maupun pengiring tarian, misalnya cublak cublak suweng; kedua, Nyanyian Rakyat (Folksongs) umum, baik untuk tarian atau permainan, misalnya nyanyian pengiring tari kecak di Bali; ketiga, Nyanyian Rakyat (Folksongs) religious, misalnya untuk kalangan umat islam dikenal nyanyian kasidah, dan untuk umat Kristen dikenal nyanyian dari alkitab. Atas dasar fungsi dan lirik lagunya, Nyanyian Rakyat (Folksongs) berfungsi sebagai: pertama, pelipur lara, misalnya nyanyian jenaka, nyanyian nina bobo; kedua, pembangkit semangat, misalnya holopis kuntul baris (jawa timur) dan rambate rata (Sulawesi selatan); ketiga: pemeliharan sejarah setempat, misalnya nyanyian holo dari nias untuk memelihara silsilah klan besar yang disebut mado; keempat, sebagai protes social mengenai ketidak adilan masyarakat, Negara atau dunia. Sedangak n Nyanyian Rakyat (Folksongs) yang dapat dijadikan sebagai sumber sejarah adalah Nyanyian Rakyat (Folksongs) yang bersifat berkisah (narrative folksong), misalnya balada dan epos. Keduanya mempunyai lirik dalam bentuk bahasa yang bersajak. Sedangkan perbedaannya: pertama, balada adalah biasanya tema cerita mengenai kisah sentimental dan romantic (perihal cinta gagal, berkurban demi cinta dan sebagainya) misalnya pantun sunda mengenai lutung kasarung; kedua, epos adalah juga disebut wiracarita dan tema ceritanya terutama mengenai kepahlawanan, misalnya epos dari kitab Ramayana dan mahabarata, sedangkan di jawa timur dan jawa tengah epos yang dikenal disebut dengan “gending” (sinom, pucung, dan asmaradhana).