Selasa, 17 September 2013

Tradisi sejarah dalam masyarakat Indonesia Masa Aksara, di dalam Ilmu Sejarah/ Historical tradition in Indonesian society Literacy Period, in the History of Science

Tradisi sejarah dalam masyarakat Indonesia Masa Aksara, di dalam Ilmu Sejarah

(sumber/ source: Nur, Ali. Modul Bahan Ajar Sejarah. Ponorogo: MGMP Sejarah.)

I) Latar Belakang. Masuknya budaya india pada abad IV Masehi mengakibatkan bangsa Indonesia terkena pengaruh budaya India, diantaranya berbentuk bahasa (bahasa Sansekerta0 dan huruf Palwa dan Pranagari). Huruf dan bahasa dari India tersebut nantinya digunakan oleh bangsa iindonesia untuk menulis tradisi sejarahnya, terutama prasastri. Dalam perkembangannya, huruf Palawa dan Pranagari nantinya di indonesiakan menjadi huruf Jawa Kuno (Kawi) dan bahasanya tidak lagi menggunakan bahasa Sansekerta  melainkan bahasa Jawa Kuno dan bahasa Melayu Kuno. Huruf dan bahasa tersebut selain digunakan untuk menulis prasasti juga digunakan untuk menulis kitab sastra. Setelah bangsa Indonesia mendapat pengaruh budaya arab sekitar abad VII Masehi, bangsa Indonesia juga mengenal bahasa dan huruf Arab. Huruf dan bahasa Arab tersebut nantinya turut mewarnai perkembangan penulisan tradisi sejarah bangsa Indonesia pada masa kerajaan yang bercorak islam, terutama dalam penulisan nisan makan, karya sastra dan berbagai kaligrafi. Pada abad XVI  bangsa Indonesia mendapat pengaruh budaya Eropa dengan datangya bangsa Eropa ke Indonesia (Belanda, Portugis, Inggris dan Spanyol). Mereka nantinya memperkenalkan huruf latin dan bahasa Eropa (Beladna, Inggris, Portugis dan Spanyol). Huruf latin dan bahasa Eropa tersebut nantinya turut mewarnai tehadap penulisan tradisi sejarah bangsa Indonesia.

II) Cara merekam dan mewariskan tradisi sejarah, diantaranya.
a) Melalui prasasti. Prasasti adalah semacam peringatan atau maklumat yang tertulis untuk mengabadikan suatu peristiwa yang penting yang dilami seorang raja atau sebuah kerajaan. Prasasti biasanya dibuat dari bahan yang tidak mudah rusah seperti batu, tanah liat, logam mulia dan tanduk binatang. Prasasti dibuat dengan tujuan: untuk menyampaikan informasi, untuk mencatat atau memperingati peristiwa yang dianggap penting, untuk sekedar menyatakan keindahan. Sebuah prasasti basanya memuat bagian sebagai berikut: pembuka berisi hormat kepada dewa, penanggalan, nama raja pemberi perintah, nama pejabat yang menerima perintah, penetapan sima (tanah berdikan), sambadha berisi alasan penetapan sima, upacara jalannya penetapan sima, daftar nama pejabat yang hadir,  sumpah atau kutukan yang melanggar ketentuan, penutup. Namun apabila dianalisis secara mendalam, di dalam Prasasti termuat struktur pemerintahan, kerajaan, birokrasi, kemasyarakatan, perekonomian, agama, kepercayaan, dan adat istiadat, contoh prasasti: prasasti yupa dari kerajaan kutai, prasasti calcuta dari dinasti isyana dan lainnya. Pada zaman kerajaan islam, penulisan semacam Prasasti tersebut banyak dijumpai pada makam pemeluk agama islam, misalnya: pertama, nisan makam Fatimah binti maimun bin hibatullah di Leran, Gresik, pada nisan makam tertera tanggal 1 Rojab 475/ 25 November 1082; kedua, nisan makam sultan malik al saleh dari kerajaan samudera pasai di aceh, pada nisan makamnya tertera bulan ramadhan 676 Hijriah/ 1297 Masehi; ketiga, nisan makam komplek pemakaman islam di Tralaya, Mojokerto, pada nisan tertua tertulis tahun 1369 Masehi, sedangkan angka tahun termuda tertulis 1611 Masehi; keempat, nisan makam maulana malik Ibrahim di Gresik, pada nisan makam tertulis angka tahun 882 Hijriah atau 1419 Masehi. Penulisn peristiwa sejarah pada nisan tersebut pada dasarnya bertujuan: memberikan informasi tentang tahun meninggalnya orang yang dimakamkan, secara tidak langsung memberikan informasi tentang perkembangan agama islam di suatu daerah atau kerajaan tertentu.
b) Melalui Kitab (Karya Sastra) kitab adalah karya sastra pujangga pada masa lalu yang dapat dijadikan petunjuk untuk menyingkap suatu peristiwa sejarah di jamannya. Pada masa kerajaan Hindu Budha karya sastranya banyak ditulis pada daun lontar, bambu dan kulit kayu. Ditinjau dari isinya, karya sastra jaman Hindu Budha dibedakan menjadi: Pertama, Tutur yaitu karya sastra yang berisi tentang masalah keagamaan, misalnya sang Hyang Kamahayanikan karya Sambhara Suryawarana pada masa Raja Mpu Sendok dari dinasti Isyana; kedua, Wiracarita yaitu karya sastra yang berisi tentnag kisah kepahlawanan, misalnya kitab mahabrata karya Wyasa Kresna Dwipayana dan Ramayana karya Walmiki, kedua kitab tersebut berasal dari India; ketiga, sastra yaitu karya sastra yang berisi tentang hukum atau peraturan dan sejarah, misalnya negarakertama karya Mpu Prapanca dan kitab pararaton (tanpa pengarang) yang berasal dari kerajaan singosari dan majapahit. Ditinjau dari gubahan kaya sastra pada masa Hindu  Budha dibedakan menjadi dua macam, yaitu: pertama, Ganca ran (prosa) yaitu sastra yang ditulis dengan bahasa yang  bebas tanpa terikat oleh kaidah seperti dalam puisi (pantun, gurindan dan lainnya); kedua, tembang (puisi) yaitu karya sastra yang ditulis dengan bahasa yang terikat oleh irama, matra, rima serta penyusunan larik dan bait, tembang jawa kuno umumnya disebut kakawin, seperti mahabrata, Ramayana, arjuna wiwaha, asmaradana, bharatayuda, gatotkacasyara dan negarakertagama, di jawa tengah, tembang atau kakawin sering disebut kdung, seperti kidung pararaton, calon arang, tantu panggelaran, korawasrama dan lainnya. Pada masa kerajaan islam, kitab atau karya sastra ditulis pada daun nifah, dluwang, kain dan kertas. Sedangkan untuk kaligrafi biasanya ditulis dengan bahan kayu. Ditinjau dari isinya karya sastra islam dibedakan menjadi: pertama, babat yaitu sastra yang berisi cerita sejarah yang diutamakan adalah ceritanya ketimbang nilai sejarahnya; kedua, hikayat yaitu karya sastra yang berisi dongeng belaka, keajaiban dan hal yang tidak masuk akal menjadi bagian utamanya, contoh antara lain: hikayat amir hamzah, hikayat pandawa lima, hikayat bayan budiman dan lainnya; ketiga, suluk yaitu karya sastra yang membentangkan soal tasawuf dan bersifat panteisme (bersatunya manusia dengan Tuhan) contoh: suluk Sukarsa dan SUluk Wijil sedangkan suluk hasil karya Hamzah fansuri diantaranya yair perahu dan syair si burung pingai; keempat, primbon yaitu karya sastra yang bercorak kegaiban, berisi ramalan serta penetuan baik dan buruknya serta memberi makna pada suatu kejadian. Ditinjau dari gubahan sastra masa islam dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: gancaran (prosa) adalah biasanya digunakan untuk menulis babad dan hikayat; tembang (puisi) adalah biasanya digunakan untuk menulis hikayat terutama yang berasal dari pengaruh arab, seperti hikayat amir hamzah, hikayat 1001 malam; syair (puisi lama dari arab) adalah biasanya digunakan untum menulis suluk dan sebagian hikayat.
c) Melalui Dokumen. Dokumen adalah surat yang tertulis atau tercetak yang dapat dipakai sebagai bukti keterangan, barang cetakan atau naskah yang dikirim melalui pos, rekaman suara, gambar di film dan sebagainya yang dapat dijadikan bukti keterangan.l dokumen pada waktu itu biasanya ditulis pada logam mulia (emas, perak dan perunggu), sedangkan kmasa islam dan belanda biasanya ditulis pada bahan kertas, misalnya dokumen perjanjian Bongaya, dokumen perjanjian Giyanti dan lainnya.

III) Berbagai Tradisi Sejarah dalam Msyarakat Indonesia Masa Aksara. Yang dimaksud dengan tradisi sejarah pada masyarakat di berbagai daerah di Indonesia sesudah mengenal aksara aldahatradisi dalam mempertahankan nilai moral, keagamaan, norma, adat istiadat, petuah leluhur, peribahasa, system ekonomi, politik dan lainnya dalam bentuk tulisan (tradisi tulis). Contoh tradisi tulis dari beberapa daerah di Indonesia.
1) Tradisi Tulis Sunda (Jawa Barat). Tradisi tulis Sunda tertua berupa prasasti dikeluarkan raja Purnawarman dari kerajaan Tarumanegara pada abad V Masehi. Prasastinya ditulis dalam bahasa Sansekerta dan Huruf Pallawa. Prasasti tersebut diantaranya ciaretuen, kebon kpi, pasir awi, muara cianten, tugu dan lainnya. Dalam perkembangannya digunakan huruf Kawi dan bahasa jawa Kuno seperti prasasti Sanghyang Tapak (1050) yang dikeluarkan oleh Raja Sri Jayabhupati dari kerajaan pajajaran. Selanjutnya tradisi tulis sunda berkembang dalam bentuk kitab (karya sastra), media yang digunakan adalah daun palem, bambu dan kertas. Bahasa yang dipakai adalah sunda kuno, sunda jawa (cacarakan). Kita tersebut diantaranya kunjakarna, sanghiyang hayu, sanghiyang siksakandang karesian, amanat dari galunggung, sewaka darma, bujangga manic, dan pantun Ramayana. Pada masa kerajaan islam dipergunakan bahasa dan huruf arab (pegon) seperti carita parahiyangan, carita perang istambul dan wawacan ningrum kusumah.
2) Traidisi Tulis Jawa. Tradisi tulis jawa tengah yang tertua berasal dari DInasti Sanjaya yaitu prasasti canggal (732) yang dikeluarkan oleh raja sanjaya. Prasasti ini menggunakan huruf pallawa dan bahasa sansekerta. Prasasti lainnya prasasti kalasan (778) dikeluarkan oleh raja rakai panangkaran dari dinasti syailendra dan ditulis dengan huruf pallawa dan bahasa sansekerta. Sedangkan di jawa timur berupa prasasti dinoyo (760) yang dikeluarkan oleh raja gajayana dari kerajaan kanjuruhyan, prasasti ini menggunakan huruf kawi dan bahasa sansekerta. Dalam perkembangan, tradisi jawa ditulis dalam bentuk kitab (karya sastra) diataranya: pertama, pada masa dinasti isyana-kediri, diantaranya: kitab sanghyang kamahayanikan karya sambhara suryawarana, kitab arjuna wiwaha karya mpu kanwa, kitab samaradhana karya mpu dharmaja, kitab bharatayudha karya mpu dharmaja dan mpu panuluh, kitab hariwangsa dan gatotkacasraya karya mpu panuluh, kitab lubdaka dan wertancaya karya mpu tan akung; kedua, pada masa kerajaan majapahit, diantaranya: kitab negarakertagama karya mpu prapanca, kitab sutasoma dan arjunawiwaha karya mpu tantular, kitab tanpa diketahui pengarangnya (pararaton, sorandaka, ranggalawe, dan lainnya). Pada masa kerajaan islam dihasilkan karya sastra sebagai berikut: pertama, babad, seperti babad tanah jawa, babad gianti, babad salatiga; kedua, hikayat, seperti hikayat pandawa lima, hikayat perang pandawa jaya, hikayat sri rama, hikayat maharaja rahwana, hikayat panestantra; ketiga, suluk, seperti suluk wijil dan suluk sukarsa; keempat, primbon yang dianggap hasil karya para wali.
3) tradisi tulis sumatera selatan, riau dan lampung. Tradisi tertua sumatera selatan, riau dan lampung dapat diketahui denan di temukan prasasti kedukan bukit (683) yang dikeluarkan oleh raja Dapunta Hyang Sri Jayanaga dari kerajaan Sriwijaya, prasasti ini diketemukan di Palembang dengna menggunakan huruf palawa dan bahasa melayu kuno. Prasasti lainnya adalah prasasti talang tuwo, prasasti telaga batu, prasasti karang berahi. Dalam perkembangannya, tradisi tulis di daerah tersebut nantinya berubah dalam bentuk naskah dan kitab (karya sastra) yang ditulis dengan tiga jenis aksara (huruf) yakni aksara kerinci, aksara melayu pertengahan  (rencong renjang) dan aksara lampung. Kemudian digunaka pula aksara arab setelah mendapat pengaruh islam. Naskah dan kitabnya ditulis pada gelumbai (lembar bambu), kulit kayu) dan gulungan kertas. Contoh karya sastra yang dikenal adalah karangan raja ali haji dari Riau dengan judul “gurindan dua belas” “silsilah melayu dan bugis’ dan “syair abdul muluk”.
4) tradisi tulis sumatera barat. Tradisi tulis tertua sumatera barat berupa prasasti yang dikeluarkan oleh raja Adityawarman, yakni prasasti Kapalo Bukit Gembak (1347). Prasasti ini dtiemukan di Pagaruyung yang ditulis dengan menggunakan bahasa Sansekerta dan tulisan Pallawa. Selain prasasti, masyarakat sumatera Barat (Minangkabau) menulis tradisi sejarah dalam bentuk kitab (karya sastra) dengan menggunakan bahasa Melayu dan huruf Arab. Karya sastra yang dikenal adalh “Tambo Minangkau” dan “Kaba Minangkabau” yang keduanya berisi tentang sejarah masyarakat Minangkabau, namun pengarangnya tidak diketahui pasti.
5) Tradisi Tulis Sulawesi. Suku bangsa di Sulawesi yang mempunyai tradisi tulis yang sangat kuat berasal dari suku bugis, makasar, dan mandar. Tradisi tulis mereka berbentuk kitab (karya sastra) yang ditulis dengn aksara lontara dan aksara serang (arab).sedangkan bahasa yang digunakan disesuaikan dengan bahasa daerah mereka, yakni suku bugis menggunakan bahasa ugi, suku makasar dengan menggunakan bahasa mangasara, sedangkan suku mandar menggunakan bahasa mandar. Media yang digunakan adalah daun lontar dan kertas. Tradisi tulis makasar meliputi: a) Patturiolang, yaitu karya sastra yang mengisahkan sejarah kerajaan makasar (goa dan tallo), b) lontara bilang yaitu karya sastra yang berisi catatan harian raja makasar; c) rapang yaitu karya sastra yang berisi peraturan adat, undang-undang dan keputusan pemimpin adat; d) rupama yaitu karya sastra yang berisi dongeng atau cerita yagn sifatnya menghibur; e) sinrilig yaitu karya sastra yang bersifat sejarah kepahlawanan; f) elang malliung bettuana yaitu karya sastra yang berbentuk nyanyian dengan makna yang tersembunyi yaitu semacam teka teki. Tradisi tulis suku bugis meliputi: a) la galigo yaitu karya sastra yang berisi mitos kepahlawanan bugis, diperkirakan berjumlah 6000 halaman; b) attoriolong yaitu karya sastra tentang sejarah raja bugis; c) lontaraq bilang yaitu karya sastra tentang catatan harian raja bugis; d) lontaraq pangoriseng karya sastra berisi silsilah raja bugis; e) tolog yaitu karya sastra yang berisi syair sejarah kepahlawanan. Tradisi tulis suku mandar meliputi: a) pappasang yaitu karya sastra tentang adat istiadat dan pengajaran adat setempat; kalindaqdaq yaitu karya sastra yang berisi kumpulan syair kepahlawanan; c) titapayo yaitu karya sastra yang berisi kumpulan syair tradisional.

6) tradisi tulis Bali. Tradisi tulis bali dapat diketahui dengan diketemukan prasasti cintamani (882) yang ditulis dengan huruf Pranagari dan bahasa Bali Kuno. Sayangnya prasasti ini tidak menyebutkan tentang raja yang memerintah waktu itu. Prasasti yang pertama yang menyebutkan raja yang memerintah adalah prasasti sanur (dekat denpasar) berangka tahun 914. Prasasti ini ditulis dalam dua bagian, bagian pertama dalam bahasa bali kuno dengan huruf paranagari dan kedua ditulsi bahasa sansekerta  dan huruf bali kuno. Selain prasasti, masyarakat bali menulis tradisi sejarah alam bentuk kitab (karya sastra) berbagai karya peninggalan kerajaan majapahit banyak ditemukan di Bali. Seperti Kitab Negarakertagama, Sutasoma dan lainnya. Berbagai tradisi Majapahit tentang sejarah dan agama banyak diterjemahkan kembali oleh masyarakat bali dari bahasa Jawa kuno ke dalam bahasa Bali dalam bentuk tradisi Mobasan. Selain tradisi tulis diambil alih dari sisa kerajaan Majapahit, masyarakat Bali juga menulis tradisi sejarahnya dalam bentuk: pertama, kidung yaitu karya sastra berbentuk syair yang dilagukan; kedua, gita yaitu karya sastra yang berbentuk sajak untuk memuliakan dewa; ketiga, geguritan yaitu karya sastra yang berbentuk puisi yang berirama (pantun).