Selasa, 17 September 2013

Waktu Standar menurut Konferensi Washington Meridian (1884)/ Standard time in Washington Meridian Conference (1884)

Waktu Standar menurut Konferensi Washington Meridian (1884)

(sumber/ source: Rivai Djamil, A. 1985. Matahari dan Bulan. Jakarta: CVPD&IKHWAN.)


Sesudah shalat Subuh kedua anak itu pergi lagi menikmati udara segar sambil menata cahaya matahari pagi yang sehat. Baik udara maupun cahaya itu diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Waktu matahari sudah agak tinggi, mereka pun bergerak untuk pulang. Setelah ebristirahat sebentar, mereka pergi mandi dulu sarapan. Sementara itu Kak Erda sudah bersiap hendak pergi kulaih. “Pagi ni Kakak kuliah dulu,” ujarnya. “nanti siang, teruskan cerita tentang matahari, ya Kak!” pinta Anto. “Hari ini Kakak pulang jam 12 siang. Setlah siang boleh kita teruskan lagi.” Jawab Kak Erda. Setelah Kak Eerda berangkat kuliah, Ardi lalu mengajak Anto berjalan-jalan melihat kota Bandung. Lewat sore hari mereka pun pulang. Anak itu makan siang, mereka kembali duduk bertiga. Ardi dan Anto telah siap mendengarkan cerita dari Kak Erda. “Kemarin kita telah sampai pada cerita kepandaian orang membuat jam menjad iperhiasan dan jam tanpa jarum serta per,” kata Kak Erda memulai. “tetapi yang lebih penting bagi kita adalah dengan adanya jam, ktia dapat mengatur waktu. Melakukan sesuatu, tepat pada waktu yagn direncanakan adalah sangat perlu. Kalian berangkali pernah mendengar atau pun membaca bahwa Bung Hatta adalah seorang yang sangat teliti menjaga waktu.” “Ya, pernah,” sahut Ardi dan Anto. “Baiklah, semua itu dimaluai dengan mengikuti gerak matahari, benarlah firman Allahm bawah dengna memperhatiakn gerak matahari kita dapat menentukan waktu, bukan waktu sehari semalam saja, tetapi juga berapa lama waktu setahun. Waktu setahun adalah waktu yang diperlukan bumi mengelilingi matahari. Hal ini telah diketahui oleh bangsa Mesir kuno 400 tahun yang lalu, yakni 354 hari. Itu satu tahun matahari.” “kaka menyebut tahun matahari, tetu ada pula tahun yang lain,” potong Anton. “ada, yaitu apa yang disebut dengan tahun bulan. Tentu kalian ingin tahu apa perbedaan kedua tahun itu bukan? Nanti akan kakak ceritakan di mana letak bednya. Kini kakak akan menerangkan lebih dahulu, apa yang disebut waktu standar. Kalian tentu sudah tahu apa yang disebut dengan waktu WIB dan WIT,bukan?” “ya, WIB itu Waktu Indonesia Barat sedangkan WIT Waktu Indonesia Timur,” jawab Anton. “Nah, WIB dan WIB, itu namanya waktu standar atau waktu patokan. Ada Negara yang mempunyai waktu standar lebih dari dua. Bahkan Indonesia sendiri, diam-diam sudah punya tiga waktu standar, yaitu WIB, WIT, dan WTA. Kakak katakana diam-diam, karena dulu diresmikan hanya dua yaitu, WIBd an WIT. WITA itu entah kapan diresmikan kakak tidak tahu, namun telah dipakai saja”. “Bagaimana cara menentukan waktu standar itu?” tanya Anto. “Itulah yang akan Kakak ceritakan. Ardi, tolong ambilkan atlas Dunia!”. Setelah meneria atlas yang dimaksud, Kak Erda langsung membuka beberapa halaman atlas yang menggambarkan bola dunia. “mari kita lihat bersama-sama, kalian lihat di sini, bumi digaris-garis. Ada garis yang membujur dari utara ke selatan dan ada yang melintang dari timur ke barat, ulai dari atas sampai ke bawah. Yang penting bagi kita untuk menentukan waktu standar adalah garis yang membujur. Garis itu disebut garis bujur atau Meridian. Semuanya bernomor pada pangkalnya dan pakai tanda nol kecil di atas angkanya. Nol kecil itu bacaanya derajat. Lihat kota apay ang dilalui garis O derajat itu! Melalui kota London. Sekarang lihatlah garis yang di sebelah kiri dan kanan garis 0 derajat itu bernomor 10 derajat sampai 180 derajat. Itu berarti bahwa seluruh bumi ini diiris oleh 360 derajat. Bukankah lingkaran juga terbagi atas 360 derajat? Itu berarti, bahwa bumi berputar pada sumbunya sebanyak 360 derajat, dan itu berlangsung selama sehari semalam atau 24 jam, tepatnya 23 jam 56 menit 4 detik. Dengan demikian, setiap jam bumi berputar 360:24=15 derajat. Nah, kalau tadi ktia melihat garis bujur 0 derajat di kota London. Maka sejak 7 ½ derajat ke timur, waktunya akan lebih cepat 1 jam dari waktu London. Dan dari 7 ½ derajat ke barat. 1 jam lebih lambat dari waktu London. Semua itu disebabkan karena waktu London itu sendiri meliputi daerah seluas 15 derajat atau 7 1/2 derajat ke kiri dan kanan garis bujur 0 derajat melalui London. Jadi setiap daerah yang meliputi 15 derajat mempunyai waktu standar sendiri. Mari kita lihat Indonesia. Indonesia teletak antar 95 derajat dan 140 derajat Bujur Timur. Itu berarti bahwa luas Indonesia 45 derajat. Dan karena setiap 15 derajat selisih waktu 1 jam maka tepatlah Indonesia mempunyai 3 waktu standar, WIB, WIT dan WTA. Tiu berarti pula bahwa WIB berbeda (95-7 ½) derajat:15 derajatx1 jam atau dibulatkan menjadi 6 jam dengan waktu London. Dan karena Indonesia terletak pada Garis Bujur yang di sebelah timur dari garis 0 derajat maka waktu Indonenesia akan lebih cepat dari waktu London sebanyak 6 jam. Contohnya, adalah seperti ini! Bila sekarang di Bandung, jam menunjukkan pukul 16 atau 4 sore, maka waktu di London adalah pukul 10 pagi. Adakah terpikir kalian mengapa garis bujur 0 derajat melalui kota London? Pada mulanya masing-masing Negara menganggap bahwa garis bujur utama atau garis bujur bernomor 0 derajat itu melalui kotanya sendiri. Akan tetapi hal itu ternyata kemudian mendatangkan kesulitan bagi dunia pelayaran. Kesulitan akan terasa sekali bila sebuah kapal dari sebuah Negara mengalami kecelakaan. Katakanlah itu kepunyaan Italia yang sedang berlayar di Laut Tengah sekitar pulau Sardinia. Daerah itu letaknya 5 derajat bujur barat dari Roma. Lalu kapal itu mengirim isyarat tanda meminta bantuan. Kebetulan diterima pula oleh sebuah kapal yang tengah berlayar di teluk Gibraltar. Karena orang Gibraltar menganggap bahwa Garis bujur 0 derajat melalui kotanya pula maka dicari kapal itu 5 derajat Bujur Barat dari Gibraltar. Itu berarti bahwa kapal terseut dicarinya di Laut Atlantik. Dengan ini berarti kapal Italia ttak tertolong lagi. Kedua belah pihak akan merugi. Karena itu orang jadi berpikir, bahwa paham mementingkan Garis Bujur 0 derajat harus melalui kotanya sendiri sangat merugikan. Lalu pada  tahun 1884, bangsa di dunia mengadaka sidang membahas hal tersebut di Washington. Sidang itu akhirnya disebut Washington Meridian Conference. Dalam konferensi itu suara Inggris, karena memang pada waktu itu kappa Inggris yang banyak mengarungi lautan. Lagi pula jajahannya terdapat di mana-mana, di barat dan timur. Sehingga ada pameo dalam bahasa asing, England Rules the Waves (Inggris raja di laut) dan di daerah Inggris matahari tak pernah terbenam. Karena kekuasaannya yang besar itula ketika Inggris mengusulkan Garis Bujur 0 derajat melalui ktoa London, tak ada orang lain yang menolak. Maka mulai saat itulah resmi meridian London menjadi meridian atau Garis Bujur 0 derjaat sampai kini. Meridian yang melalui London itu tepatnya melalui suatu distrik dalam Kota London yang bernama Greeenwich (baca: Greenitsy). Inggris juga mengusulkan agar untuk keperluan internasional, dipakai jgua waktu Greenwich sebagai waktu standar. Usul ini pun diterima dan sejal itu pula waktu Greenwich menjadi waktu standar Internasional. Kemudian kita kenal dengan GMT atau Greenwich Mean Time, artinya Waktu Utama Greenwich. Maka seluruh waktu di dunia kalau untuk keperluan internasional, misalnya radio, penerbangan, dan sebagainya harus memakai waktu local atau daerah setempat, tetapi hanya sebagai pendamping. Misalnya orang di Jakarta mengirimkan berita radio pada pukul 19 maka harus disebutkan, local time 19 p. m. GMT 13 p. m. P. M. adalah kependekan dari post meridian yang dimaksudnya lewat tengah hari. Ada pula a. m. yakni anti meridian yang dimaksudnya sebelum tengah hari. Terutama untuk keperluan internasional a. m. dan p. m. ini harus dipakai. Karena dengna a.m. dan p.m. tidak diketahui pasti apakah pagi, siang atau sore juga malam, maka tentara Ameriak Serikat mendapat cara lain, yakni  dengan menggunakan angka lebih besar dari 12. Misalnya jam 1 siang disebutkan dengan jam 13 dan seterusnya sampai jam 24 untuk pukul 12 tengah malam. Nah, hari telah sore, kita akhiri dulu sampai disini.” Ajak untuk Kak Erda menutup cerita. “ Wah, nanti malam kita harus belajar,” kata Anto dan Ardi. Semua masuk ke kamar masing-masing.