Kamis, 10 Oktober 2013

Mengetahui Morfin, Heroin, dan Putaw, di dalam Cerita, Napza/ Knowing Morphine, Heroin, and heroin, in the story, drugs


Mengetahui Morfin, Heroin, dan Putaw, di dalam Cerita, Napza

(Sumber: B. A., Barmin. 2006. Awas Bahaya NAPZA Narkoba, Psikotoprika dan Zat Adiktif. Jakarta: Swakarya.)

Walaupun bukan wartawan, ternyata aku berhasil juga mencari informasi tentang barang bukti yang disita polisi dari diskotek di dekat sekolahku. Ternyata ada saja jenis narkoba lain. selain ekstasi, masih ada lagi jenis narkoba yang disita polisi. Aku segera melaporkan informasi yang kuperoleh kepada Kak Erda sebelum kelupaan. “Selain ekstasi, ternyata ada jenis narkoba yang disita polisi dari diskotek di dekat sekolahku itu, Kak.” “apa?” “m, morfin, heroin, dan putaw. Itu zat macam apa lagi, kak?” “agar lebih jelas, saya akan menerangkan jenis narkoba tersebut dari abahn dan tanaman yang menghasilkannya.” “apakah ketiga macam narkoba itu berasal dari bahan atau tanaman yang sama?” “morfin itu dapat diolah menjadi heroin sejak tahun 1994 lebih dikenal dengan sebutan putaw. Morfin berasal dari tanaman opium atau candu. Dalam bahasa latinnya, opium disebut Papaver Somniferum yang cirinya sebagai berikut: pertama, jenis, cirinya termasuk tumbuhan semak; kedua, bagian tanaman: tinggi batang antara 70-110 cm; ketiga, bagian tanaman: daun berwarna hijau keperakan, lebar antara 5-10 cm, panjangnya antara 10-25 cm, dan permukaan tidak rata; keempat, bagian tanaman: bunga, berwarna merah bercampur putih atau purple.” “apakah daun candu juga dirokok seperti daun ganja, kak?” “yang ini lain lagi. Lain dengan ganja atau koka. Bagian tanaman yang menghasilkan candu adalah buahnya yang disebut poppy.” “poppy? Bagus juga namanya, seperti nama temanku.” “buah candu yang disebut poppy itu melekat pada ujung tangkai. Pada tiap tangkai hanya terdapat satu buah saja. buahnya berbentuk polong, bulat, sebesar buah jeruk manis.” “buah itu untuk apa, kak?” “dari buah poppy itulah candu mentah, candu masak, morfin, heroin, dan juga putaw dihasilkan. Sekarang  saya terangkan dulu cara memperoleh candu mentah. Candu mentah itu terdapat pada kulit buah. Buah candu yang sudah mendekati masak, disadap dengan cara menggores memakai alat menyerupai parut kelapa. Cara menggoresnya dimulai dari pangkal sampai ujung buah. Sesudah digores, dari kulit buah tadi keluar getah berwarna putih yang dinamakan latex. Latex dibiarkan mengalir dan menempel pada kulit buah. Setelah kering, latex lalu diambil dan dikumpulkan. Getah yang sudah mengering itu berwarna hitam kecoklaan. Latex kemudian diolah, untuk mendapatkan candu mentah. Candu mentah itu berupa adonan yang lembek. Apabila dibiarkan ditempat terbuka akan mengeras menjadi mirip aspal kering. Warnanya cokelat kehitaman, baunya langu dan rasa manis sedikit. Kalau dicicipi terasa pahit dan menimbulkan mati rasa pada lidah.” “apakah guna candu mentah itu, kak?” “candu mentah itu mengandung 23 macam alkoloida. Alkoloida tersebut terdapat pada semua tanaman opium, kecuali pada akar dan bijinya. Rata kadar kandungan alkoida terdapat tanaman candu antara lain sebagai berikut: pertama, morfin, kandungan kadar zat (%): 10; kedua, codein, kandungan kadar zat (%): 0,5; thebanin, kandungan kadar zat (%): 0,36;keempat, papaverin, kandungan kadar zat (%): 1,0; kelima, narceine, kandungan kadar zat (%): 0,2; keenam, narcotine, kandungan kadar zat (%): 6,0. Alkoloida tersebut pada garis besarnya terdiri di atas terdiri atas: 1) inti phenatreen, yaitu morfin, codein, dionin dan thebain, turunan phenatreen bersifat mempengaruhi system urat saraf pusat, penggunaannya secara menerus akan menimbulkan ketagihan; 2) inti isoquinoline yaitu: papaverin, narcein, narcotein, dan lain, turunan isoquinoline mempengaruhi otot polos dan tidak menimbulkan ketagihan bagi pemakainya.” “tadi kakak menyebutkan adanya candu mentah. Apaka ada candu masaknya, kak?” “ada, tetapi yang masak pun tidak usah kamu pilih karena sama beracunnya. Untuk mendapatkan candu masak, candu mentah harus diolah lagi. Mula candu mentah dilarutkan ke dalam air panas lalu disaring. Larutan tersebut diuapkan lagi sampai menjadi ekstrak kental dengan kadar air sekitar 6%. Ekstrak kental tersebut lalu dioleskan pada bagian dalam pan besar yang terbuat dari tembaga untuk diasapkan dengan api arang. Bahan yang diasapkan dikumpulkan, kemudian dilarutkan dalam air dingin. Cairan yang larut kemudian diuapkan hingga menjadi kental. Cairan kental ini disebut jicingko, kadar morfin antara 7-9%.” “lalu, apa hubungan antara candu dan morfin, kak?” “morfin merupakan alkoloida terpenting dalam opium atau candu. Morfin merupakan persenyawaan kimia turunan phenatreen dengan rumus C17H19HO3. Istilah morfin itu berasal dari bahasa Yunani ‘morpheus’ yang berarti dewa pemimpi. Istilah ti benar dengan perilaku pencadu morifin yang merasakan hidup bagaikan mimpi. Selanjutnya, dari bahan candu biasanya diolah menjadi morfin sulfat, morfinhydrochlorida, morfin acetat, dan morfin tartraat. Bentuk yang sering dijumpai adalah morfin sulfat berupa serbuk berwarna putih Kristal yang sangat halus. Apabila terkena sinar matahari, lama kelamaan warnanya menjadi agak kelabu. Rasanya sangat pahit, tetapi tidak memiliki bau yang  khas. Mofin sulfat biasanya dijual dengan ukuran berat antara 5 mgr, 8 mgr, 10 mgr, sampai 30 mgr. sedagnakn dalam perdagangna gelap pada umumnya morfin dijual dengan berat antara 600 mgr sampai satu ons. Namun morfin yang digunakan diperjualbelikan secara gelap kebanyakan sudah tidak murni lagi, berupa bubuk berwarna putih kecoklatan.” “maaf kak, apakah heroin itu berbeda dengan morfin?” “dari bahan baku morfin, dapat diperoleh zat yang bersifat narkotis, contohnya heroin. Mula heroin ditemukan oleh Dr. Dresser pada tahun 1884. Heroin atau diacethyl morfin itu terbuat dari morfin. Tahun 1994, heroin yang beredar di pasar gelap lebih dikenal dengan sebutan putaw. Proses pembuatannya dilakukan di laboratorium dengan cara acethilasy dengan aceticanydrida. Heroin bekerja pada system saraf pusat. Di dalam tubuh mula heroin dihydrolisa menjadi monocethyl morfin dan selanjutnya dihydrolisa lagi menjadi morfin. Sebagian dari morfin yang dipakai dikeluarkan dari tubuh bersama air seni berupa morfin bebas atau morfin conyugate.” “heroin atau putaw itu harganya lebih mahal atau murah, kak?” “tidak, menurut pengakuan salah seorang pengedar narkoba yang tertangkap, ada pecandu yang berani membeli putaw seharga Rp800000 per gram.” “saya tidak habis pikir. Orang bisa menjadi mlarat dan sakit-sakitan karena kecanduan rokok. Padahal kalau dibandingkan dengan harga putaw, harga rokok masih terbilagn murah. Akan jadi apa orang yang kencaduan putawi itu? Mau mati saja kok pilih yang bayar mahal. Sejak kapan candu mulai digunakan orang, kak?” “adabanyak cerita tentang candu. Konon, candu sudah digunakan orang dalam pengobatan primitive di CIna sejak jaman dahulu. Agar menjadi harum, candu dicampur dengan air sulingan dan disimpan dalam guci selama 8-12 bulan. Salah seorang kaisar Cina pernah melarang pemakaian candu dan mengakibatkan perang candu antara Cina melawan Inggris tahun 1840-1842. Pada abad IV SM, perintis dunia pengobatan barat seperti Hipocrates, Diocorides, dan Galen telah memaklumkan bahwa candu dapat digunakan sebagai penangkal rasa sakit. Tahun 1530, Paracelsius mencapur candu dengan alcohol menjadi cairan obat yang disebut laudanum. Menurut catatan Science Museum, hampir semua obat masa itu mengandung laudanum. Beberapa waktu kemudian, wartawan barat bernama Peter T. White berhasil melacak perjalanan candu dari daerah asalnya. Daerah yang dikenal sebagai penghasil candu adalah Lembah Shewa Khwar dan lembah Siah di Pakista, daerah Rajasthan di India, daerah Alfyon di Turki, Meksko, Tasmania, dan daerah segitiga emas di kawasan perbatasan Thailand- Laos-Myanmar. Sampai sekarang, bisnis opium di meksiko sering menimbulkan masalah serius. Tentara pemerintah berusaha memberantas bisnis candu gelap sering mendapat perlawanan sengit dari tentara bayaran yang mengawal bisnis opium. Perbatasan Meksiko Amerika Serikat merupakan daerah rawan penyelundupan opium. Maka pemerintah Amerika Serikat tak tanggung dalam berusaha memberantas penyelundupan opium dan kasus narkoba padau mumnya. Amerika serikat sejak tahun 1950 telah memiliki Tim Pemberantas obat biusy ang dinamakan US Custom,s P-3 yang dilengkapi dengan pesawat terbang, helicopter, perahu cepat, dan peralatan canggih, memasuki tahun 2002, US custom,s P-3 diperlengkapi 16 pesawat AWAC (Airbone Warning and Control). Pesawat canggih itu dilengkapi radar besar di atas badan untuk memantau penyelundupan obat bius. Amerika serikat begitu serius memerangi narkoba. Tahun 1999, dana yang dikeluarkan untuk memerangi narkoba mencapai 17 miliar dolar AS (Rp 153 triliun rupiah).” “bukan main. Tampaknya pengedar narkoba itu sudah begitu nekad ya, kak. Lalu, saya ingin tahu. Mengapa daerah di perbatasan Thailand Birma Laos itu disebut Daerah Segitiga Emas?” “yang itu ceritanya berbeda lagi. Daerah segitiga emas atau golden triangle merupakan kawasan perbatasan tiga Negara, Thailand-laos-myanmar di tepi sungai Mekong. Pusat kawasan golden triangle terletak di Sop Ruak, 200 km arah Timur Laut Chiang Mai, kota besar kedua di Thailand. Yang bertempat tinggal di daerah tersebut adalah suku di pegunungan seperti suku Akha, suku Yao, dan suku Meo yang merupakan bangsa Yunan (cina selatan). Mereka sudah menanam opium sejak ratusan tahun silam. Sedangkan kegunaan opium mulia diperkenalkan oleh pedagang arab kepada orang cina pada masa khubilai khan di abad XIII. Komoditi bahan obat terlarang tersebut makin tinggi nilainya sehingga kawasan perbatasan tiga Negara tersebut dikenal sebutan golden triangle. Di daerah segitiga emas, sejumlah pengusaha didukung kelompok bersenjata dari Myanmar dan cina memegang kendali distribusi opium illegal ke seluruh dunia. Salah seorang pemimpin sindikat opium yang terkenal dan melegenda di kawasan itu adakah Khun Sa, seorang keturunan Cina dari Suku Shan. Ia sudah mulai bertualang dalam bisnis opium sejak tahun 1950-an dan akhirnya menjadi raja opium di daerah itu. Ia membeli opium dari petani dan menjual keluar daerah golden triangle. Setiap tahun opium yang berasal dari daerah itu mencapai 4000 ton. Kemudian mulai tahun 1983-1984 merupakan awal keruntuhan sindikat Khun Sha. Pemerintah thailan menyerang kawasan golden triangle sehingga daerah kekuasaan Khun Sa sangat terbatas dan ia terpaksa menyingkir ke Myanmar. Sekarang, penanam opium di daerah golden triangle di Thailand tidak sebebas dulu. Petani hanya menanam opium untuk keperluan sendiri atau agen resmi. Pemerintah Thailand kemudian memanfaatkan kepopuleran golden triangle sebagai daerah wisata. Di sop Roak kin telah didirikan sejumlah hotel kelas menengah dan restoran internasional.” “yang berasal dari golden triangle tadi merupakan perdagangna candu illegal ya? Selain itu apakah perdagangna candu yang resmi?” “perkebunan candu yang resmi dan terbesar terdapat di Madhya Pradesh. Pabrik milik pemerintah India di sana setiap harinya menjemur sekitar 800 loyang berisi candu. Setiap Loyang berisi sekitar 35 kg candu. Setiap harinya, berton candu diangkut dari Ghazipur ke luar negeri seperti Inggris, Ameika Serikat, Rusia, dan Jepang.” “bagaimana cerita candu yang terjadi di Indonesia, kak?” “sebelum Perang Dunia Kedua, pengolahan candu di Indonesia dilakukan di pabrik di Jalan Salemba, Jakarta. Pabrik tersebut telah mulai berproduksi sejak tahun 1901. Hasil produksinya dijual secara resmi oleh pemerintah colonial belanda dalam tube atau impling yang terbuat dari timah putih. Setiap tube berisi sekitar 0,5 sampai 50 mata. Setiap mata berisi 386 mgr. penjualannya dilakukan melalui apoten dan badan yag memiliki depot di seluruh Jawa dan Madura. Dalam masyarakat Jawa, di kenal adanya kebiasaan memadat candu dengan menggunakan pipa yang disebut bedutan. Pada bagian dalam kepala pipa yang telah digunakan menempel sisa candu yang disebut jicing atau klelet. Jicing atau medicimal opium ini mengnadung kadar morfin sampai 10%. Selanjutnya, jicing dapat diolah kembali menjadii jicingko untuk digunakan lagi sebagai candu. Pemerintah colonial belanda pada waktu itu mengadakan pembelian jicing untuk dicampurkan ke dalam pengolahan candu.” “mengapa pemerintah colonial membiarkan rakyatnya memadat,kak?” “penjajah itu hanya bertujuan mencari untuk sebanyaknya dan sengaja membiarkan rakyatnya tetap bodoh. Kalau banyak rakyat memadat, malah menguntungkan bagi pihak penjajah. Karena pemadat cenderung bermalasan, melupakan nasib bangsanya yang terjajah dan membiarkan kekayaan tanah airnya dikeruk habis-habisan.” “kalau begitu, pemadat tak ubahnya pengkhianat bangsa.” “apakah pecandu narkoba sekarang juga mau memperhatikan masa bangsa dan negaranya? Sementara memikirkan sendiri saja tidak mampu? Selanjutnya dalam keperluan militer dan perang untuk menghilangkan atau mengurangi rasa sakit, yang digunakan adalah morfin. Morfin dimasukkan dalam ampul kecil sebesar 15-30 mgr. ampul yang dilengkapi dengan jarum suntik itu dinamakan syrette.” “bagaimana mulanya orang sampai menyalahgunakan morfin itu, kak?” ‘salahsatu alkoloida terpenting yang disebut morfin, mula ditemukan oleh seorang ahli farmasi jerman yang bernama Setuner yang tahun 1805. Morfin sebetulnya merupakan obat yang berguna dalam dunia medis yaitu sebagai obat terapi untuk penyembuhan dan penggunaannya hanya dengan resep dokter. Namun pada kenyataan, bahan yang berasal dari candu tersebut, terutama morfin banyak disalahgunakan. Sindikat pengedar memberikan nama baru untuk menarik minat pemakainya. Pengedar gelap tak jemunya mencari mangsa walaupun resikonya sangat berat. Mereka menjual atau menyelundupkan morfin dengan cara nekad dan membahayakan. Barang yang diselundupkan tidak hanya disembunyikan di tempat terlindung, tetapi juga di dalam perut.” “sebentar, kak, cara yang nekad dan jorok apakah tidak membahayakan?” “sangat membahayakn. Kaalu ada plastic atau kapsul yang pecah, maka melayanglah nyawa penyelundup narkoba konyol itu. Peristiwa itu pernah terjadi di salah satu hotel di Jakarta. Seorang penyelundup morfin berkulit hitam dari Afrika, kedapatan mati karena bungkusan morfin yang disembunyikan dalam perutnya pecah. Kamu tentu masih ingat bahwa orang dapat meninggal dengan dosis 2 mgr per satu kilogram berat badan. Pencadu obat terlarang menggunakan morfin dengan cara nekat. Ada yang dengan meminumnya, dengan minuman keras, menelan, menghisap rokok, menyuntikan pada otot, pembuluh dara, dan memasukkan ke dalm kulit yang di silet lebih dahulu.” “nekat amat. Apakah akibat setelah orang menerima morfin, kak?” “pengguna morfin akan menyebabkan ketergantungan secara fisik maupun psikis. Apabila pemakainya dihentikan akan menimbulkan gejala yang membahayakan bagi pencadu. Pecandu akan merasakan sakit dan nyeri di sekujur tubuh, menggigil, panic dan gugup, muntah, mencret, kejang-kejang, dan mengakibatkan kematian.” “gejala dan ciri pecandu morfin itub agaimana kak?” “gejalanya yakni; 1) pupi mata mengecil atau menjarum, kurang berani menatap sinar, biasanya selalu memakai kacamata hitam; 2) tekanan darah naik, denyut jantung lambat, pernafasan kurang teratur; 3) seluruh badan terasa sakit, otot tarik menarik, kepala terasa seperti pecah, sampai kadang dibenturukan ke dinding; 4) banyak mengeluarkan air mata, ingus, keringat disertai rasa gatal; 5) kalu ketagihan muntah, kejang, menggigil, fungsi koordinasi badan tidak sempurna; 6) tidur nyenyak, mimpi indah, mendadak gelisah atau takut, dan putus harapan; 7) badannya rusak, kurus kering, pakaian tak teratur, suka berbaju lengan panjang untuk menutupi bekas suntikan pada lengan yang tak dapat hilang; 8) sifat khasnya adalah pembohong, nekad, melanggar peraturan/ hukum/ norma umum dan lingkungan suka mengasingkan diri dari masyarakat. Pokoknya yang jelek, sehingga taksalah lagi kalau mereka diibaratkan sampah masyarakat,” kata Kak Erda tegas. Aku mengangguk menyetujui pendapat Kak Erda. Selanjutnya, pengetahuan yang kuperoleh dari keterangan Kak Erda selama ini membuat sikapku semakin mantap untuk ikut memerangi narkoba.