Senin, 11 November 2013

Berpikir Kritis dalam Proses Keperawatan/ Critical Thinking in the Nursing Process


Berfikir Kritis dalam Proses Keperawatan

(Sumber/ source:  Rosjidi, Cholik Harun. 2011. Proses Keperawatan. Ponorogo: Penerbit Umpo Press.)

Perawat bekerja pada klien atau individu unik dan situasi klinik yang unik berbeda dan selalu berubah. Oleh sebab itu perawat bertindak atau mengambil keputusan harus berdasar informasi terkini dan ketrampilan berfikir kritis, ketrampilan berfikir kritiks diperlukan agar dapat mengambil keputusan secara akurat dengan mengumpulkan dan menginterpretasikan informasi secara akurat. Berfikir kritis mencakup sikap jujur dan keterampilan intelektual yang digunakan dalam menalar proses (Wilkinson, 1992 dalam Kinney, 2009). Paul 1988 (Kinney, 2009) menjelaskan ciri seseorang pemikir kritis sebagai berikut:
1)      Intelektual humanity, kesadaran terhadap keterbatasan pengetahuan diri dan kepekaan diri terhadap kemungkinan bisa dan prasangka.
2)      Intellectual courage, keinginan dan keterbukaan untuk mendengar dan secara jujur mengkaji ide orang lain.
3)      Intellectual emphaty, kemampuan untuk membayangkan diri sendiri di posisi orang lain. Emphathy membuat seseorang memahami pandangna dan jalur pemikiran orang lain.
4)      Intellectual integrity, keinginan untuk menerapkan standard bukti intelektual yang kaku dan sama terhadap pengetahuan yang kita miliki yang kita terapkan terhadap pengetahuan orang lain. Hal ini membutuhkan kejujuran menelaah dan mengakui kesalahan diri sendiri.
5)      Intellectual perseverence, keinginan untuk mencarai wawasan dan kebenaran lebih lanjut meskipun sulit dna frustasi.
6)      Faith in reason, percaya pada diri sendiri dan keinginan untuk mencari pemikiran rasional. Percaya bahwa orang  lain juga mampu melakukan hal yang sama.
7)      Intellectual sense of justice, keinginan untuk menelaah sudut pandang orang lain dengan standart intelektual yang sama, tidak dipengaruhi oleh kepentingan atau keuntungan diri sendiri atau orang lain.