Kamis, 07 November 2013

Fitrah Manusia Terhadap Agama, di dalam Kesehatan Keperawatan/ Religious Against Human nature, in the Health Nursing


Fitrah Manusia Terhadap Agama, di dalam Kesehatan Keperawatan

(Sumber/ source: Susanti, Sri. 2013. Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi. Ponorogo.)

Manusia merupakan makhluk monodualistik yang bersifat indevide, tidak dapat dipisahkan antara jasmani dan rohaninya. Rohani merupakan pendorong bagi aktivitas jasmani manusia, sedangkan jasmani adalah sarana (wadah) untuk menyalurkan aspirasi rohani. Dengan demikian manusia adalah makhluk dichotomi yang terdiri atas unsur jasmani dan rohani yang secara bersama melakukan pengabdian kepada Tuhan, yang memiliki kekuatan gaib di luar kekuatan manusia. Ditinjau dari peradaban manusia, kekuatan gaib yang diandalkan dapat diukur dari kesiapan komponen jiwa yang dimiliki. Seberapa jauh mereka dapat memahami eksistensi diri sebagai hamba Allah, terletak pada kekuatan jiwa yang ada. Manusia purba yang belum beradap melakukan penyembahan roh atau peristiwa alam akibat kosongnya akal dan ilmu pengetahuan apalagi dakwah rasul yang belum menyentuh hati mereka. Atau sebaliknya, zaman teknologi yang sudah demikian pesat, masih banyak orang yang menyembah benda sebagai kekuatan yang mereka anggap dapat membantu kehidupan mereka; bukan karena kosongnya ilmu pengetahuan atau belum diterimanya dakwah rasul, melainkan jiwanya yang kosong dari hidayah Allah Swt. Eksistensi manusia adalah sebagai makhluk bertuhan. Keinginan kepada hidup beragama adalah salah satu dari sifat asli yang dimiliki manusia. Itu adalah nalurinya, fitrahnya dan kecenderungannya yang telah menjadi pembawaannya dan bukan sesuatu yang dibuat-buat ataupun sesuatu keinginan yang datang kemudian karena adanya pengaruh dari luar dirinya.
                Dengan demikian, pada dasarnya dan sesuai dengan fitrahnya manusia memang makhluk religius yang memiliki kecenderungan untuk hidup beragama, karena hal itu adalah merupakan panggilan hati nuraninya. Pengakuan manusia akan adanya Tuhan bukan merupakan hal yang baru, melainkan sejak adanya makhluk manusia sudah mengenal dan membutuhkan Tuhan. Bahkan kehadiran Rasul bukan secara mutlak membawa berita yang sama sekali baru tetapi merupakan peringantan atas akal manusia. Hakikat bertuhan mengembalikan posisi manusia sebagai makhluk yang paling sempurna. Makhluk yang memiliki perilaku yang baik dan mampu berkomunikasi secara vertikal maupun horizontal.
                Tuhan yang dikenal manusia, eksistensinya adalah abstrak. Keabstrakan Tuhan di mata manusia sebenarnya terletak pada keterbatasan indera belaka. Namun apabila  mereka berfikir bahwa Tuhan yang tidak dpaat dilihat dengan mata pada hakikatnya adalah wujud (ada). Semua yang ada di alam ini adlah makhluk yang meruakan pembuktian atas ke-wujud-an Tuhan.
                Akhirnya sampailah manusia pada keyakinan tentang adanya Tuhan, pencipta alam semesta. Manusia telah menemukan Tuhannya dan keyakinan ini bertambah kuat manakala ia menyelidiki dirinya sendiri. Bahwa sebelum manusia lahir di duna ini, ia telah tumbuh dan berkembang dalam kandungan ibunya yang terdiri dari dua macam unsur, yakni unsur jasmani yang terdiri dari: tulang belulang, daging, darah dan perlengkapan lainnya yang sangat menakjubkan, dan kedua adalah unsur ruhani (roh) atau jiwa, yang hakikatnya tak dapat diketahui oleh akal manusia. Tidak seorangpun dapat mengetahui bagaimana dan apa sesungguhnya roh itu, ia melekat pada tubuh orang yang hidup dan meninggalkan tubuh yang mati. Tidak seorang manusia pun yang berhak mengetahui hakikat ruh, sebagaimana yang dijelaskan Alla dalam Q.S. Al Isra’ ayat 85 yang artinya: “Dan mereka bertanya kepada engkau tentang ruh. Katakanlah ruh itu adalah termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah idberikan kepadamu ilmu tentang ruh ini, kecuali hanya sedikit sekali.
                Yang dapat diketahui oleh manusia hanyala gejala dan ruh atau jiwa yaitu: pikiran, kemauan dan perasaan, yang pengaruhnya kelihatan pada sikap, gerak gerik dan tindak tanduk manusia itu. Pengenalan manusia terhadap dirinya ini juga merupakan jalan untuk mengenal Tuhan. Oleh sebab itu, cendekiawan berkata “man ‘arafaa nafsahu ‘arafa rabbahu” barang siapa telah mengenali dirinya, niscaya ia mengenal Tuhannya.
                Dengan adanya keyakinan tentang Tuhan ini, maka lahirlah agama yaitu agama “ciptaan manusia” (agama budaya). Mereka mulai hidup bertuhan dan mulai hidup beragama. Dalam perkembangan selanjutnya merkea menciptakan hukum dn peraturan agama, yang dihimpun dalam kitab suci.
                Beragama pada dasarnya merupakan kecenderungan manusia yang sesuai dengan fitrahnya untuk mengakui adanay kekuatan supranatural yang luar biasa dan menguasai dirinya dan seluruh alam yang ada. Instink ini lahir karena kekaguman manusia melihat ciptaan yang ada. Beragama merupakan tabiat atau naluri kemanusiaan, sejak manusia hidup di jaman purba hingga manusia modern. Pada manusia purba instink mengagumi kekuasaan dan keagungan itu dalam bentuk mengakui banyak Tuhan yang dimanifestasikan dalam pengakuannya bahwa tiap sesuatu aday nag menguasai; ada pengausa angin, penguasa air dan penguasa setiap gerak manusia yang menimbulkan kerusakan dan kemakmuran di alam ini.
                Pemahaman tentang beragama ini berjalan seiring dengan perkembangan pola pikir manusia. Semakin maju tingkat pengetahuan manusia maka makin sedikit Tuhan yang mereka percayai; dari mempercayai banyak Tuhan (polytheisme) berangsur mulai mengakui adanya Tuhan yang satu (monotheisme). Perjalanan pemahaman keagamaan ini tidak terlepas dari sifat manusia yang monodualistis, manusia yang tidak terlepas antara aktifitas jasmani dengna aktifitas rohani. Antara aktifitas jasmani dan kebutuhan rohani senantiasa didorong oleh dua hal yang dominan yaitu harapan dan kecemasan, berharap akan kehidupan baik atau sebaliknya ia cemas menghadapi kegagalan dan kesengsaraan. Kegagalan dan kesengsaraan ini mengakibatkan mereka mencari bantuan kepada yang lebih mampu atau yang lebih kuat dari dirinya. Kondisi jiwa seperti ini digambarkan oleh Allah dalam QS Al Ma’arij ayat 19-23: “Sesungguhnya manusia itu diciptakan sebagai makhluk yang bersifat keluh kesah lagi kikir. Bilamana ditimpakesusahan ia berkeluh kesah dan mengaduh. Dan apabila ia mendapatkan kebaikan, kegembiraan iapun bersikap kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.”
                Dengan adanya gejolak hati manusia tersebutm aka manusia berusaha secara lahir dan batin sesuai dengan apa yang diharapkan dan menghindari apa yang ditakutkan. Usaha tersebut dipengaruhi oleh alam atau lingkungan di maan manusia itu bertempat tinggal atau hidup. Usaha lahiriyah akan menghasilkan kebudayaan, dan usaha di bidang rohani akan menimbulkan atau melahirkan kebutuhan agama atau kebutuhan hidup.
                Karena lingkungan hidup berpengaruh, maka timbullah berbagai macam kebudayaan sesuai dengan alam lingkungan. Dengan demikian pula dalam bidang kebutuhan rohani, karena tempat yang berbeda maka timbullah jalan kehidupan rohani yang berbeda, pada hal kebutuhan rohani adalah sam yaitu rasa aman.
                Agama merupakan jawaban terhadap kebutuhan rasaman terutama pada hati manusia. Banyak manusia yang telah merasa menemukan agama atau jalan hidupnya sesuai dengan keyakinannya sendiri. Walaupun sebenarnya hanya agama Islamlah yang akan benar memberikan rasa aman dan memberikan harapan yang nyata baik untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat.