Kamis, 07 November 2013

Pedoman Komunikasi, di dalam Kesehatan Keperawatan/ Communication guidelines, in the Health Nursing


Pedoman Komunikasi, di dalam Kesehatan Keperawatan

(Sumber/ source: Kozier. Erb. Berman. Snyder.2004. Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan Praktik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran.)

Komunikasi merupakan bagian vital praktik keperawatan. Perawat yang berkomunikasi secara efektif lebih mampu memulai perubahan yang meningkatkan kesehatan; membina hubungan saling percaya (BHSP) dengan klien, keluarga dan teman sejawat; dan mencegah masalah hukum yang berhubungan dengan praktik keperawatan. Komunikasi efektif sangat penting untuk membina hubungan perawat klien yang positif. Teknik komunikasi terapeutik yang dapat membantu meningkatkan pengertian antara perawat dan klien antara lain: diam bila perlu, mengajukan pertanyaan terbuka, menggunakan sentuhan bila perlu, menyatakan kembali atau menguraikan dengan kata sendiri, melakukan klarifikasi, meringkas. Pada beberapa situasi, metode komunikasi yang biasa digunakan tidak cukup, misalnya, ketika memberi asuhan kepada klien yang marah, bingung, atau bicara bahasa asing kepada Anda. Beberapa isu budaya juga memerlukan kepekaan dan pengertian.
I)                   Klien yang Marah
Marah dapat muncul akibat ketakutan, frustasi atau perasaan hilang kendali. Klien sering kali menumpahkan marahnya kepada perawat, hanya karena perawat berada di dekat klien saat klien marah. Kemarahan yang diluapkan klien dapat disebabkan kekhawatiran terhadap pekerjaan, keluarga atau penyakit mereka. Penting bagi Anda mengidentifikasi penyebab kemarahan dan tidak terpancing dengan kemarahan tersebut. Pertahankan sikap tenang Anda. Pedoman untuk merespon terhadap klien yang marah adalah:
Ø  Dengarkan apa saja yang dikatakan oleh klien.
Ø  Jangan biarkan kemarahan klien membuat Anda bereaksi dan tidak mendengarkan klien.
Ø  Gunakan teknik, seperti refleksi, klarifikasi, dan memfokuskan untuk menentukan masalah klien. Anda dapat membuat rencana untuk menyelesaikan masalah hanya jika Anda memahami masalahnya.
Ø  Setelah masalah teridentifikasi, cari jalan untuk menyelesaikannya. Ingat, jangan membuat janji yang tidak bisa ditetapi. Hubungan saling percaya adalah kunci dalam menyalurkan rasa marah yang meledak.
Ø  Jika Anda tidak dapat mengatasi kemarahan klien, atau bila Anda merasa ada ancaman kekerasan, minta bantuan kepada pembimbing Anda atau perawat primer.
Ø  Pastikan untuk mendokumentasi percakapan atau insiden sekecil apa pun.

II)                 Klien yang Bingung
Bingung dapat terjadi karena obat, proses penyakit, atau gangguan irama sirkadian. Apa pun penyebabnya, menangani klie bingung dapat menimbulkan frustasi sehingga penting untuk mengetahui pencetus dan peredanya. Pedoman untuk berespons terhadap klien yang bingung adalah:
Ø  Bila bingung merupakan kejadian baru, tinjau pengobatan klien dan kemungkinan efek sampingnya. Awitan bingung yang mendadak adalah tanda yang harus dilaporkan. Tinjau temuan Anda dengan pembimbing Anda.
Ø  Pada setiap interaksi dengan klien, orientasikan klien terhadap orang, waktu dan temoat. Usahakan untuk berinteraksi dengan klien sesering mungkin.
Ø  Dengarkan klien secara aktif, klarifikasi setiap kebingungan. Perhatikan klien.
Ø  Minta keluarga untuk turut mengorientasikan klien. Peka terhadap kebutuhan keluarga; mereka juga dapat menjadi frustasi.
Ø  Buat klien tenang, tetapi jangan merendahkan klien.
III)              Klien yang cemas
Rasa takut terhadap sesuatu yang tidak diketahui menyebabkan ansietas. Kita semua pernah mengalaminya. Sebagai perawat, Anda perlu mengidentifikasi penyebab atau asal ketakutan atau ansietas klien. Pedoman dalam berespons terhadap klien yang  cemas adalah:
Ø  Ajak klien bicara dan dengarkan klien secara aktif. Jawab semua pertanyaan yang dapat Anda jawab secara akurat. Gunakan keterampilan refleksi, klarifikasi dan memfokuskan untuk membuat klien bicara mengenai masalah yang sebenarnya.
Ø  Pertanyaan, seperti “Apakah saya akan mati?” atau “Apakah saya mengidap AIDS atau kanker?” paling membingungkan. Tanyakan kepada klien apa yang membuat mereka percaya bahwa mereka akan mati atau bahwa mereka mengidap AIDS atau kanker. Tujuan Anda adalah agar mereka mengatakan ketakutan mereka.
Ø  Bila klien memiliki pertanyaan mengenai diagnosis medis, cari tahu apa yang telah diberitahukan kepada klien. Klarifikasi setiap hal sesuai kemampuan Anda. Jika klien belum diberi tahu apapun, tanyakan apakah klien ingin bicara dengan dokter. Memberi tahu diagnosis merupakan tanggungjawab dokter, bukan Anda.
Ø  Beri perhatian kepada klien. Cek klien sesering mungkin. Tindakan ini dapat membuat rasa percaya terbina dan menunjukkan sikap caring.
Ø  Yang terpenting, jangan membuat klien merasa rendah diri atau jangan pula meremehkan ansietas klien. Tempatkan diri Anda pada posisi klien.
IV)              Komunikasi Melintasi Kendala Bahasa
Terdapat banyak bahasa. Bahasa asing, penurunan pendengaran, gangguan ekspersi (afasia), dan intubasi merupakan rintangan komunikasi efektif dan memerlukan beberapa kreativitas, kesabaran dn ketekunan. Klien harus mampu mengomunikasikan kebutuhannya dan perawat harus mampu mengomunikasikan bahwa ia memahami komunikasi klien. Fasilitas layanan kesehatan di Amerika biasanya memiliki sumber yang dapat membantu perawat, seperti layanan penerjemah bagi klien yang tidak dapat berbahasa Inggrs dan bagi klien yang mengalami gangguan pendengaran. Departemen terapi wicara dapat membantu Anda menemukan cara berkomunikasi dengan klien yang mengalami hambatan bicara.
1)      Klien yang tidak dapat bicara bahasa yang sama dengan Anda.
§  Cari tahu apakah fasilitas layanan kesehatan memiliki layanan penerjemaah
§  Cari tahu apakah ada anggota staf yang mengerti bahasa yang digunakan klien
§  Jangan meneriaki klien. Bicara lebih keras hanya dapat mebuat klien merasa bahwa Anda marah. Bila klien tidak mengerti bahasa Anda, menambah tingkat desibel suara tidak akan membantu menyelesaikan masalah.
§  Bila bahasa tertentu biasa digunakan pada fasilitas kesehatan (misalnya bahasa Spanyol), sediakan sebuah buku idiom bahasa tersebut dan gunakan kesempatan itu untuk menambah ketrampilan bahasa Anda. Anda mungkin juga ingin membuat kumpulan sumber yang berisi istilah yang biasa digunakan dalam berbagai bahasa.
§  Bila semua cara gagal, gunakan gerakan untuk memberi tahu apa yang akan Anda lakukan. Cara ini akan berhasil.
§  Sebagai cara terakhir, buat daftar batuan anggota keluarga atau teman yang mampu menerjemahkan bahasa yang dignakan klien. Namun beri perhatian kepada mereka; menerjemahkan dapat membuat mereka stres. Ingat bahwa mereka adalah sistem pendukung klien, bukan Anda. Klien juga mungkin enggan berbagi informasi kesehatan pribadi kepada anggota keluarga.
2)      Klien mengalami gangguan pendengaran
§  Berdiri di depan klien yang mengalami gangguan pendengaran dan bicara dengan jelas menggunakan nada yang normal. Pastikan klien dapat melihat Anda dengan jelas. Banyak klien yang mengalami gangguan pendengaran membaca bibir.
§  Letakkan kertas dan pensil di sisi tempat tidur dan buat catatan, terutama bila privasi sangat penting.
§  Untuk klien yang menggunakan bahasa isyarat, minta bantuan dari layanan penerjemah, bila tersedia.
§  Nbila tidak ada pelayanan penerjemah untuk membantu Anda dan menggunakan media tulisan yang tidak mungkin, gunakan gerakan untuk memberitahu apa yang akan Anda lakukan.
§  Gunakan kesempatan untuk belajar bahasa isyarat.
3)      Klien afasia
§  Dengarkan klien dengan seksama, anjurkan klien agar tidak tergesa-gesa. Jangan takut untuk meminta klien mengulang kembali.
§  Gunakan kertas dan pensil, atau papan gambar bila perlu.
§  Bila afasia merupakan kondisi jangka panjang, minta bantuan dari keluarga.
§  Hubungi departemen terapi wicara untuk bantuan tambahan, bila perlu.
4)      Koien yang diintubasi
§  Gunakan kertas dan pensil untuk berkomunikasi atau papan gambar sebagai alat untuk digunakan klien untuk mengungkapkan kata-kata.
§  Bila membutuhkan jawaban ya atau tidak, minta klien untuk mengedipkan mata sekali bila jawabannya adalah ya dan mengedipkan mata dua kali bila jawabannya adalah tidak.
V)                Isu Budaya
Di hampir setiap daerah, perawat kontak dengan individu dari budaya yang berbeda dengan budaya perawat. Analisis sikap Anda sendiri. Bagaimaan sikap Anda terhadap individu dari budaya yang bebreda? Pengalaman apa yang Anda miliki dengan ras dan kelompok budaya yang berbeda? Apa yang mempengaruhi penerimaan dan penolakan Anda terhadap satu kelompok budaya? Apakah Anda percaya terhadap budaya tertentu berdsarkan pengalaman atau berdasarkan apa yang Anda dengar atau Anda baca? Pedoman untuk berespons terhadap klien dari budaya yang berbeda adalah:
§  Selalu perilaku klien dengan hormat
§  Budaya yang berbeda dapat menggunakan cara yang berbeda untuk memperhatikan rasa hoormat atau pengertian. Jangan menganggap Anda mengetahui makna perilaku tertentu.
§  Kenali dan biasakan diri Anda dengan adat dan kepercayaan kelompok budaya di area Anda.
§  Usahakan menggabungkan simbol dan praktik budaya ke dalam rencana asuhan klien bila mungkin; hal ini dapat membuat klien merasa nyaman.
§  Ingat bahwa warna kulit seseorang tidak selalu menunjukkan latar belakang budaya orang tersebut.
§  Pelajari bagaimana klien memandang kesehatan, penyakit, dukacita, dan sistem pelayanan kesehatan.
VI)              Perawatan Khusus pada Lanjut Usia (Lansia)
Komunikasi
Lansia dpaat memiliki masalah fisik atau kognitif yang memerlukan intervensi keperawatan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi. Beberapa masalah yang umum adalah:
§  Defisit sensori, seperti pendengaran dan penglihat
§  Kerusakan kognitif seperti demensia
§  Defisit neurologis karena stroke atau masalah neurologis lain, seperti afisia (ekspresif dan/ atau reseptif), dan hambatan pergerakan.
§  Masalah psikososial, seperti depresi.
Mengetahui keutuhan khusus dan mengumpulkan sumber bantuan yang tepat untuk klien dapat meningkatkan sosialisasi dan kualitas hidup mereka. Intervensi yang bertujuan meningkatkan komunikasi klien yang memiliki kebutuhan khusus ini adalah:
§  Memastikan alat bantu, kacamata, dan alat bantu dengar digunakan dan berfungsi baik.
§  Membuat rujukan kepada sumber bantuan tepat, seperti terapi wicara.
§  Menggunakan alat bantu komunikasi, seperti papan tulis, komputer dan gambar, bila mungkin.
§  Mempertahankan tingkat distraksi lingkungan minimum
§  Bicara menggunakan kalimat pendek dan sederhana, satu subjek pada sawi waktu-perkuat atau ulangi apa yang dikatakan klien bila perlu.
§  Selalu berhadapan dengan lawan bicara-uncul dan bicara di belakang bicara dapat membuat mereka takut.
§  Melibatkan keluarga dan teman dalam pembicaraan.
§  Menggunakan kenangan, baik dalam pembicaran pribadi atau berkelompok untuk memelihara hubungan memori dan meningkatkan identitas diri serta harga diri lansia.
§  Memercayai ekspresi nonverbal bila ekspresi verbal dan nonverbal tidak sesuai (klasifikasi ini dan perhatian terhadap perasaan mereka meningkatkan perasaan caring dan penerimaan).
§  Mencari tahu apa yang penting dan berarti bagi individu dan berusaha mempertahankan hal tersebut sedapat mungkin. Hal yang sederhana, seperti ritual sebelum tidur sekalipun menjadi penting bila tidak ditemukan di rumah sakit atau tatanan perawatan jangka panjang.