Minggu, 12 Januari 2014

Anatomi dan Fisiologi tentang Proses Perkemihan, di dalam Keperawatan/ Anatomy and Physiology of the urinary process, in Nursing


Anatomi dan Fisiologi tentang Proses Perkemihan, di dalam Keperawatan

(Sumber: Andarmoyo, Sulistyo.2013. Anatomi dan Fisiologi Proses Perkemihan. Ponorogo.)
(Rewritten by: Dimas Erda Widyamarta, www.ithinkeducation.blogspot.com)

A.      Pengertian
Suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).

B.      Susunan Sistem Urinaria
1.       Ginjal (Ren)
                                 i.            Kedudukan
Ginjal suatu kelenjar yang terletak di bagian belakang dari kavum abdominalis di belakang peritonium pada kedua sisi vertebrata lumbalis III, melekat langsung pada dinding abdomen.
                               ii.            Bentuk
Bentuknya seperti biji kacang, jumlahnya ada 2 buah kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari ginjal kanan dan pada umumnya ginjal laki-laki lebih panjang dari ginjal wanita.
                              iii.            Fungsi ginjal
i.                     Memegang peranan penting dalam pengeluaran zat toksis atau racun.
ii.                   Mempertahankan suasana keseimbangan cairan.
iii.                  Mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh.
iv.                 Mempertahankan keseimbangan garam dan zat lain dalam tubuh.
v.                   Mengeluarkan sisa metabolisme hasil akhir dari protein ureum, kreatinin dan amoniak.
                             iv.            Struktur ginjal
Setiap ginjal terbungkus oleh selaput tipis yang disebut kapsule renalis yang terdiri dari jaringan fibrus berwarna ungu tua, lapisan luar terdapat lapisan korteks (subtansia medularis) berbentuk kerucut yang disebut renal pyramid, puncak kerucut yang disebut papilla renalis. Tiap pyramid dilapisi oleh satu dengan yang lain oleh kolumna renalis, jumlah renalis ±15-16 buah. Garis yang terlihat pada pyramid disebut tubulus nefron yang merupakan bagian terkecil dari ginjal yang terdiri dari: Glomerolus, tubulus proksimal (tubulus kontorti satu), gelung henle, tubulus distal (tubuli kontorti dua) dan tubulus urinarius (papila vateri). Pada setiap ginjal diperkirakan ada 1.000.000 nefron, selama 24 jam dapat menyaring darah ±170 liter, arteri renalis membawa darah murni aorta ke ginjal lubang yang terdapat pada pyramid renal masing-masing membentuk simpul dan kapiler satu badan malpigi yang disebut glomerolus, pembuluh afferent yang bercabang membentuk kapiler menjadi vena renalis yang membawa darah dari ginjal ke vena kava inferior.
                               v.            Proses pembentukan urine (air kemih
Glomerolus berfungsi sebagai ultra filtrasi, pada simpai bowman berfungsi untuk menampung hasil filtrasi dari glomerolus. Pada tubulus ginjal akan terjadi penyerapan kembali dari zat yang sudah disaring pada glomerolus, sisa cairan akan diteruskan ke piala ginjal terus berlanjut ke ureter.  Urin berasal dari darah yang dibawa arteri renalis masuk ke dalam ginjal, darah ini terdiri dari bagian yang padat yaitu sel darah dan bagian plasma darah. Ada tiga tahap pembentukan urin:
i.                     Proses filtrasi. Terjadi di glomerolus, proses ini terjadi karena permukaan afferent lebih besar dari permukaan efferent maka terjadi penyerapan darah, sedangkan sebagian cairan darah kecuali protein, cairan yang tersaring ditampung oleh sampai bowman yang terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dan lainnya, diteruskan ke tubulus ginjal.
ii.                   Proses reabsorpsi. Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa, sodium, klorida, forpat dan beberapa ion bikarbonat. Prosesnya terjadi secara pasif yang dikenal dengan obligator reabsorpsi terjadi pada tubulus atas. Sedangkan pada tubulus ginjal bawah terjadi kembali penyerapan dari sodium dan ion bikarbonat, bila diperlukan akan diserap kembali ke dalam tubulus bagian bawah, penyerapannya terjadi secara aktif dikenal dengan reabsorpsi fakultatif dan sisanya dialirkan pada papilla renalis.
iii.                  Proses sekresi. Sisanya penyerapan kembali yang terjadi pada tubulus dan diteruskan ke piala ginjal selanjutnya diteruskan ke luar.
                             vi.            Peredaran darah
Ginjal mendapat darah dari aorta abdominalis yang mempunyai percabangan arteri renalis, arteri ini berpasangan kiri dan kanan, arteri renalisa bercabang menjadi arteri interlobaris kemudian menjadi arteri aorta, arteri interloburalis yang berada di tepi ginjal bercabang menjadi kapiler membentuk gumpalan yang disebut glomerolus. Glomerolus ini dikelilingi oleh alat yang disebut simpai bowman, disini terjadi penyarngan pertama dari kapiler darah yang meninggalkan simpai bowman kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena kava inferior.
                            vii.            Persarafan ginjal
Ginjal mendapat persarafan dari fleksus renalis (vasomotor) saat ini berfungsi untuk jumlah dara yang masuk ke dalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan dengna pembuluh darah yang masuk ginjal.
2.       Ureter
Terdiri dari 2 saluran pipa masing-masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya ±25-30 cm, dengan panjang ±0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis. Lapisan dinding ureter terdiri dari:
                                 i.            Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
                               ii.            Lapisan tengah lapisan otot polos
                              iii.            Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa.

3.       Vesika Urinaria (Kandung Kemih)
a.       Bagian vesika urinaria terdiri dari:
i.                     Fundus yaitu bagian yang menghadap ke arah belakang dan bawah.
ii.                   Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus.
iii.                  Verteks, bagian yang runcing ke arah muka dan berhubuungan dengan ligamentum vesika umbilikalis.
b.      Proses miksi (rangsangan berkemih)
Distensi kandung kemih, oleh air kemih akan mereangsang stress reseptors yang terapat pada dinding kandung kemih dengan jumlah ±250 cc sudah cukup untuk merangsang berkemih (proses miksi). Akibatnya akan terjadi reflek konstraksi dinding kandung kemih dan pada saat yang sama terjadi relaksasi spinter internus, segera diikuti oleh relaksasi spinter eksternus, akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih. Rangsangan yang menyebabkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi spinter internus dihantarkan melalui serabut saraf para simpatis. Kontraksi spinter eksternus secara volunteer bertujuan untuk mencegah atau menghentikan miksi. Kontrol volunteer ini hanya mungkin bila saraf yang menangani kandung kemih uretera, medulla spinalis dan otak masih utuh. Bila ada kerusakan pada saraf tersebut maka akan terjadi inkontinensia urin (kencing keluar terus menerus tanpa disadari) dan retensi urin (kencing tertahan). Persarafan dan peredaran darah vesika urinaria. Persarafan diatur torako lumar dan kranial dari sistem persarafan otonom. Torako lumber berfungsi untuk relaksasi otot dan kontraksi spinter interna.
4.       Uretra
Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar.
a.       Uretra pada laki-laki:
i.                     Uretra prostatika
ii.                   Uretra membranosa
iii.                  Uretra kavernosa

b.       Uretra pada wanita
Terletak di belakang simfisis pubis berjalan miring sedikit ke arah atas, panjangnya ±3-4 cm. Lapisan uretra wanita terdiri dari:
i.                     Tunika muskularis (sebelah luar), lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam).
ii.                   Muara uretra pada wanita terletak di sebelah atas vagina (antara klirotis dan vagina) dan uretra disini hanya sebagai saluran ekresi.
C.      Urin (Air Kemih)
Sifat fisis air kemih terdiri dari:
1.       Jumlah ekresi dalam 24 jam ±1500cc tergantung dari pemasukan (intake) cairan dan faktor lainnya.
2.       Warna, bening dna bila dibiarkan akan menjadi keruh
3.       Warna, kuning tergantung kepekatan, diet obat-obatan dan sebagainya.
4.       Bau, bau khas kemih bila dibiarkan akan berbau amoniak.
5.       Berat jenis 1015-1020
6.       Reaksi asam, bila lama menjadi alkalis, juga tergantung dari pada diet (sayur menyebabkan reaksi alkalis dan protein memberi reaksi asam).

D.      Mikturisi
Peritiwa pembuanan urin yang mengalir masuk ureter ke dalam kandung kemih, keinginan untuk buang air disebabkan penambahan tekanan di dalam kandung kemih, dimana sebelumnya telah ada 170-230 ml urin.