Senin, 20 Januari 2014

Artikel tentang Penyesalan Pernikahan, dalam Kejiwaan/ Articles on Regret Marriage, in Psycho

Artikel tentang Penyesalan Pernikahan, dalam Kejiwaan
(Sumber/ source:Nalini.2014.”Merasa Terjebak Perkawinan”. Dalam Jawa Pos,18 Januari 2014.)
(Rewritten by Dimas Erda Widyamarta: www.ithinkeducation.blogspot.com)
 Konsultasi Kejiwaan
Bebi: Good day, Mam. Saya suka membaca rubrik Anda di Jawa Pos. Singkat ceritanya, usia saya dan suami selisih jauh. Sekarang saya 35 tahun. Sebenarnya saya tidak menyesali pernikahan saya itu. Sebab, setiap orang yang menikah pasti mengharapkan bahagia.
Namun, setelah menikah, saya malah merasa tidak bahagia. Saya stres berat karena mertua beda latar belakang dan kebiasaan. Suami kurang bijak menjadi penengah. Padahal, kami tinggal bersama orang tua suami.
            Dari permasalahan rumah tangga yang terus mengganggu, saya berkenalan dengan seorang lelaki di tempat kerja saya. Namun, hubungan itu hanya singkat karena kami masing-masing punya pasangan dan anak. Saya pindah kerja.
            Saya merasa jiwa saya masih haus. Sampai saya bertemu dengan pria lajang smart, free, crazy, funny dan sayangnya dia menyukai saya. Hubugnan kami berlanjut. Tapi, kami mau semuanya berjalan secara natural. Juga tidak menyakiti siapapun. Dia menika, tapi kemudian melanjutkan hubungan dengan saya.

Nalini M. A. (Consultant Psychiatrist on Women’s Mental Health):
Rumit dan suntuk, itulah yang And rasakan saat ini, ya kan? Anda dalam konflik sebuah simalakama. Tapi apa boleh buat, semakin alam Anda menggantung masalah, Anda akan menuai kebingungan dan ketidakbahagiaan itu.
Perkawinan memang unik dan aneh, seperti mengais kucing dalam karung. Kalau beruntung, kita akan mendapat kucing persia yang manis dan menyenangkan. Sebaliknya bila buntung, ya mendapat kucing kurapan yang suka mencakar atau menjengkelkan.
Untuk mengurangi potensi konflik dan tidak membahagiakan, ada beberapa guidance (terutama bagi yang belum menikah) yang diformulasikan oleh konsultan perkawinan Sari Harrar dan Rita de Maria. Yaitu, adanya kesamaan nilai, apakah itu agama, filosifi, dan tujuan hidup, suku (yang tampak sepele, namun kerap menjadi sumber perbedaan nilai).
            Kedua, lama kita mengenal pasangan juga menentukan kita lebih paham siapa dia sebenarnya dan menghindari kita mengambil kucing dari dalam karung, atau apakah semakin hari kita betul mencitainya atau sekadar simpati sesaat.
            Ketiga, dengan berjalannyawaktu, kita akan memahami bagaimana bentuk komunikasi kita paakh selaras atau berbeda sekali karena akan menuai konflik besar bila berbeda sekali. Kemampuan berkomunikasi yang baik sebaiknya mulai dibina sebelum perkawinan lantaran memegang pernana, bahkan dikatakan terbesar dalam menentukan keberhasilan perkawinan. Kemudian, yang juga berperan besar, kemampuan kedua pasangan dalam menyelesaikan masalah atau konfil yang muncul. Di sinilah sangat krusial kalau komunikasinya buntu atau saling berbeda.
Dan fondasinya cinta juga harus terbangun dulu. Cinta memang bukan faktor terpenting, tapi juga penting sebagai perekat perkawinan. Apalagi bila sedang ada masalah. Artinya, cinta, komitmen, kepercayaan, dan rasa nyaman, kemudan pelan bisa tumbuh. Kalau setelah menikah isinya konflik melulu, perkawinan tinggal formalitas belaka.

            Seperti begitulah yang terjadi apda Anda? Lantas, Anda terantuk-antuk apda batu sandungan dua kali. Bahagia itu kita tentukan sendiri, bukan dari orang lain. Jadi Anda yang harus memilih. Masalahnya, semua pilihan ada risiko enak dantidak enaknya. Tentukan pilihan menurut kebutuhan Anda beserta anak-anak. Jadi, untuk beberapa saat menjauhlah dari semua masalah Anda dna orang-orang yang berkaitan. Lalu, dengarkan hati nurani yang sebenarnya dan mempunyai keberanian untuk menentukan pilihan.