Minggu, 12 Januari 2014

Cara Menyelamatkan dari Kecanduan atau Adiksi/ How to Save on Addiction or Addiction


Cara Menyelamatkan dari Kecanduan atau Adiksi

(Sumber:Imas.2014.”Kecanduan”. Dalam Jawa Pos, 6 Januari 2014.)
(Rewritten by Dimas Erda Widyamarta: www.ithinkeducation.blogspot.com)

Apa candumu? Jangan menjawab asmara. Kalau Anda menjawab, tak ada, mungkin wajib waspada kualifikasi tahap perama: penyangkalan
            Sesungguhnya semua adiksi, kecanduan, diciptakan secara sukarela. Ibarat tamu, dia diundang masuk rumah dengan tangan terbuka. Sayangnya, kecanduan suka betah dan merasa di rumah sendiri, bertindak sesuka hati. Bahkan, si tuan rumah harus ikut kata si tamu. Anda tertawan, tak bisa melawan
            Kecanduan seperti lagu, “mulanya biasa saja”. Kecanduan biasanya timbul karena ada kemampetan. Kecanduan bisa jadi jalan keluar atau upaya pengalihan dari isu utama.
            Kedua, inti kecanduan adalah gagal kontrol. Sebab, untuk kecanduan bisa bermacam-macam dan pada awalnya tak berbahaya, sampai di satu titik ia menguasai kehidupan seseorang.
            Ketiga, karena awalnya biasa saja, kecanduan cenderung dianggap remeh, disepelekan. Karena bukan hal yang bahaya, dilakukan repetitif, ditingkatkan dosisnya terus-menerus, hingga sampai ke tingkat paling ekstrem.
            Keempat, pada saatnya, ketika Anda hilang kendali, ada kecenderungan untuk menyembunyikannya. Mencoba abeka cara jadi tabib, mengobati diri sendiri, karena merasa malu untuk mencari pertolongan dari pihak yang bisa dipertanggungjawabkan. Tapi seringnya, semua sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur.
            Nona “M”, 34 tahun, seorang wota sejati. Wota adalah sebutan untuk fans berat sebuah idol group yang terdiri atas gadis-gadis muda baru lulus puberitas. Saking ngefansnya, dia berduyun-duyun bersama para wota lain rela memadati teater demi melihat langsung grup idola atau sekadar berjabat tangan beroleh stiker lucu. Bahkan, komposisi tweet hariannya 75 persen berisi mention anggota group (yang tak pernah dibalas), membahas betapa lucunya si ini dan si itu, dan ujaran-ujaran khas pemuja. Saya tanya, “Istrimu nggak papa?” “Gak papa, dia aku ajak juga lihat teater.”
            Tuan “P”, 34 tahun, punya kecanduan pijat. Dia bisa pijat. Dia bisa pijat setiap hari. Mungkin itu pelarian. Mungkin karena tak kunjung berpasangan, tapi butuh sentuhan, intimasi, dan kenyamanan, dia memutuskan untuk membelinya. Toh, tak ada yang tak bisa dibeli dengan uang, kan? Atau, setidaknya dikompensasi dengan sejumlah nilai tukar.
            Bagaimana cara menyelamatkan diri dari jerat candu itu? Mudahnya, jujurlah. Setidaknya pada diri sendiri, selanjutnya pada lingkungan terdekat. Apalagi jika bentuk kecanduan itu mulai berpengaruh ke interaksi sosial Anda. Selanjutnya carilah pertolongan. Anda bisa memanfaatkan lingkungan terdekat sebagai sipir, ciptakan “penjara mental”. Para sipir akan memainakn peran sebagai pengawas. Kalau masih tak mujarab, temui psikolog. Terakhir, gantilah kolan Anda. Artinya, berhenti berenang di kolam yang berbahaya untuk kecanduan Anda. Kalau sudah tahu kolamnya berbuaya, apa Anda masih mau berlama-lama berenang di dalamnya?
Jadi, apa candumu?