Selasa, 14 Januari 2014

Inkontinensia Urine: Urgensi, Risiko (1998), Diagnosa NANDA, NIC NOC, Keperawatan/ Urine Incontinence: Urgency, Risk (1998), Diagnosis NANDA, NIC NOC Nursing


Inkontinensia Urine: Urgensi, Risiko (1998), Diagnosa NANDA, NIC NOC, Keperawatan

(sumber/ source: Wilkinson, Judith M.2009. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 9. Jakarta:EGC.)
(Rewritten by Dimas Erda Widyamarta: www.ithinkeducation.blogspot.com)

A.     Definisi
Berisiko terhadap pengeluaran urine secara involunter yang berhubungan dengan sensasi urgensi berkemih yang kuat dan mendadak.

B.     Faktor Resiko
1.      Hiperrefleksia detrusor (misalnya, akibat sistitis, tumor, batu ginjal, gangguan sistem saraf pusat di atas pusat berkemih di pontin)
2.      Efek obat, kafein, atau alkohol
3.      Gangguan kontraktilitas kandung kemih
4.      Ketidakefektifan kebiasaan eliminasi
5.      Relaksasi sfingter involunter
6.      Kapasitas kandung kemih kecil

C.     Saran penggunaan: tidak ada

D.     Alternatif diagnosa yang disarankan
Inkontinensia urine: urgensi

E.      Hasil NOC
1.      Kontinensia Urine: kendlikan eliminasi urine dari kandung kemih
2.      Eliminasi urine: pengumpulan dan pengeluaran urie

F.      Tujuan/ Kriteria Evaluasi
Lihat tujuan/ kriteria evaluasi untuk inkontinensia urine: fungsional

G.     Intervensi NIC
1.      Pelatihan kandung kemih: meningkatkan fungsi kandung kemih pada individu yang mengalami inkontinensia urgensi dengan meningkatkan kemampuan kandung kemih untuk menahan urine dan kemampuan pasien untuk menekan keinginan berkemih
2.      Manajemen eliminasi urine: memelihara pola eliminasi urine yang optimum
3.      Pelatihan kebiasaan berkemih: menetapkan pola pengosongan kandung kemih yang dapat diperkirakan untuk mencegah inkontinensia pada individu yang mengalami keterbatasan kemampuan kognitif dan menderita inkontinensia urgensi, stress atau fungsional.

H.     Aktivitas Keperawatan
1.      Pengkajian
a.       Kaji faktor risiko
b.      Evaluasi lingkungan terhadap kendala untuk melakukan eliminasi tepat waktu
c.       Kaji kemampuan perawatan diri pasien dengna mobilitas
d.      Perawatan inkontinensia urine (NIC): pantau eliminasi urine, termasuk frekuensi, konsistensi bau, volume dan warna.

2.      Penyuluhan untuk Pasien atau Keluarga
a.       Ajarkan kepada pasien teknik yang meningkatkan kapasitas kandung kemih, seperti mulai mengangkat dasar panggul saat merasakan dorongan untuk berkemih dan menggunakan jadwal pelatihan kandung kemih yang memperpanjang waktu antar-berkemih.
b.      Diskusikan bersama pasien dengan keluarga cara memodifikasi lingkungan untuk menyingkirkan penghalang dan meningkatkan kemampuan perawatan diri, pertimbangkan strategi berikut:
                                                                    i.            ,emomglatlam pencahayaan lingkungan untuk meningkatkan penglihatan
                                                                  ii.            Memasang dudukan toilet yang lebih tinggi dari susur tangan
                                                                iii.            Memberi pispot, kursi buang air, dan urinal portabel
                                                                iv.            Menggunakan alat bantu (misalnya, kursi roda, tongkat, walker dan sepatu anti selip)

c.       Aktivitas kolaboratif
Konsultasikan dengan dokter dan ahli terapi okupasi untuk mendapatkan bantuan dengan melatih ketangkasan manual.

d.      Aktivitas lain
                                                                    i.            Anjurkan pasien mengenakan pakaian yang mudah dibuka
                                                                  ii.             Ganti risleting, kancing dan alat pengait dengan ikat pinggang atau Velcro, kapan pun memungkinkan
                                                                iii.            Bantu pasien berkemih sebelum tidur dan dorong berkemih di malam hari untuk mengurangi urgensi
                                                                iv.            Anjurkan pasien menghindari  zat yang dapat mengiritasi kandung kemih, seperti kafein, alkohol jus jeruk, minuman berkabonasi, merokok kretek, dan makanan pedas tertentu,