Selasa, 14 Januari 2014

Latihan Rutin, Perbanyak Sharing, Jadi Diri Sendiri, di dalam Pekerjaan/ Exercise Routine, Expand Sharing, Be Yourself, in the Works


Latihan Rutin, Perbanyak Sharing, Jadi Diri Sendiri, di dalam Pekerjaan

(Sumber/ source:Fischler, Gary L. “Latihan Rutin, Perbanyak ShARING, Jadi Diri Sendiri”. Dalam Jawa Pos. Tanggal 31 Agustus 2013.)
(Rewritten by Dimas Erda Widyamarta: www.ithinkeducation.blogspot.com)

Psikotes merupakan cara perusahaan untuk mendapatkan kandidat karyawan yang tak hanya pintar, tapi juga memiliki kepribadian bagus. Tapi, justru di tahap ini, job seeker sering tersandung.
Salah satu kunci kesuksesan dalam pelamaran kerja adalah melewati proses psikotes dengan baik. Satu sesi ini tidak jarang menjadi momok tersendiri karena dapat menguras pikiran dan tenaga. Tapi, dengan persiapan yang tepat, psikotes tidak sulit untuk ditaklukan.
Psikotes memang tidak mutlak menjadi penentu diterima atau tidaknya pelamar. Tapi, perusahaan ingin mengetahui kepribadian calon pekerja. “Mereka berusaha mencari orang yang tepat untuk posisi yang dibutuhkan. Memiliki skill tinggi belum tentu dapat produktif dalam memberikan kontribusi,” jelas Gary L. Fischler PhD, psikolog asal AS.
            Agar bisa mendapat hasil yang maksimal, kata Fischler, persiapkan diri dengan baik. Mencari referensi dan berlatih merupakan langkah awal yang tepat. Coba ngobrol atau sharing dengan yang pernah psikotes, kalau bisa yang sudah beberapa kali melakukannya. Job seeker bisa belajar dari pengalaman mereka yang beragam.
            Setiap perusahaan tidak jarang memiliki cara yang berbeda untuk psikotes di luar metode standar. Ikuti langkah ini dengan banyak belajar soal-soal psikotes. Saat ini sudah tersedia buku tentang soal psikotes populer. Di internet pun, banyak tersedia contoh terbaru materi psikotes. Ini berguna untuk meng-upgrade kecepatan dan ketepatan berpikir.
            Latihan rutin juga dapat mengasah konsentrasi dan fokus dalam memyelesaikan soal-soal. Biasanya psikotes terbagi menjadi tes kepribadian dan kuantitatif. Untuk tes kuantitatif, memperhatikan alokasi waktu menjadi faktor penting. Setiap soal memiliki nilai sama. So, bagi konsentrasi dan energi untuk nomor yang lain.
            Sedangkan untuk tes kepribadian, lanjut Fischler, ada beberapa hal yang ingin diketahui perushaan dari job seeker. Yakni, penilaian terhadap fenomena sosial, kejujuran dan integritas, juga attitude dalam menghadapi teman sekerja.. “Misalnya, kesediaan menerima kritik yang membangun serta bisa bertahan dengan kultur perusahaan,” jelasnya.
            Berikutnya adalah kemampuan memimpin, tidak punya keberpihakan terhadap sesuatu, berorientasi terhadap tim, tidak gampang stres, serta tidak menggunakan alkohol dan obat-obatan terlarang.
            Yang tidak kalah penting adalah mempersiapkan fisik dengan sangat baik. Ushakan tubuh dalam keadaan sehat dan tidak loyo atau malah kurang tidur, sehingga bisa mengerjakan dan berpikir dengan maksimal.
            Hal lain yang bisa dilakukan adalah memeriksa lokasi tes. Bisa jadi, tempatnya berada di beberapa lembaga khusus dan bukan di perusahaan yang dituju. Datang tepat waktu ketika hari pengerjaan plus usahakan untuk tetap tenang. Bawa peralatan tulis sendiri, jangan sampai meminjam.