Senin, 20 Januari 2014

Lingkungan Kerja Nyaman Berpotensi Pengaruhi Kinerja dan Karir, di dalam Career Corner/ Comfortable Working Environment Affect Performance and Career Potential, in the Career Corner

Lingkungan Kerja Nyaman Berpotensi Pengaruhi Kinerja dan Karir, di dalam Career Corner
(Sumber/ source:Doyle, Alison.2014.”Lingkungan Kerja Nyaman Berpotensi Pengaruhi Kinerja dan Karir”. Dalam Jawa Pos,18 Januari 2014.)
(Rewritten by Dimas Erda Widyamarta: www.ithinkeducation.blogspot.com)

            Bagi sebagian besar job seeker, gaji mungkin menjadi pertimbangan terbesar saat menerima pekerjaan. Tapi, saat tawaram datamg lebih dari satu, ada hal lain di luar uang yang harus ikut dipikirkan?
            Biasanya, fresh graduate memiliki kebiasan menyebar CV ke banyak perusahaan sekaligus. Harapannya, tentu ada salah satu CV yang nyantol di instansi yang tengah di incar. Nah, karena motivasinya baru coba-coba, tidak jarang mereka melamar pekerjaan tanpa melihat bidang kerja yang akan dihadapi. Kalau ada satu panggilan dengan tawaran yang oke, tentu tidak masalah. Bagaimana kalau ternyata ada beberapa perusahaan sekaligus yang tertarik dengan portofolio lantas memberikan pekerjaan? Apa saja yang harus dipertimbangkan sebelum menerima tawaran tersebut?
            “Salary memang penting. Tapi, kalau ada beberapa tawaran sekaligus, kita tidak bisa semata-mata memilih pekerjaan yang gajinya paling tinggi. Pertimbangkan  juga hal-hal lain,” saran Alison Doyle, advisor karir. “Kenyamanan bekerja sering kali lebih memengaruhi kinerja daripada sekadar uang,” lanjutnya. Faktor penetu kenyamanan bekerja itu sangat banyak. Satu yang paling penting adalah kesesuaian antara job desc dan passion. “Kadang kan fresh graduate cenderung menerima tawaran pertama yang menghampiri, sampai tidak memperhatikan jenis pekerjaan. Make sure dulu job desc sesuai dengan keinginan,” katanya.
            Selain gainya, tanyakan apakah perusahaan memberikan hak karyawan yang paling dasar, yakni asuransi kesehatan. Juga, aneka insentif lain seperti tunjangan prestasi dan bonus. Setelah itu, baru dicek benefit lain.
            Misalnya, jumlah cuti yang dijanjikan, jam kerja yang fleksibel, dan kebebasan memilih hari libur (untuk industri kreatif). Bisa juga beurpa fasilitator kantor seperti gym gratis, tes kesehatan rutin, kesempatan kursus bahasa, dan sebagainya. Bagi beberap orang, cara berpakaian sangat penting sehingga harus ditanyakan juga apakah boleh berpakaian kasual di kantor.
            Lantas bagaimana memilihnya? Doyle menjelaskan, memang tidak ada pandaun baku untuk itu. Tentu, setiap job seeker bebas memilih work environment yang paling sesuai dengna karakternya. Kira-kira lingkungan kerja mana yang berpotensial mendongkrak kinerja. “Sebagai contoh, kantor yang tidak menerapkan dress code cocok untuk mereka yang berjiwa kreatif, tidak suka terikat, dan tidak suka memakai busana resmi,” jelas Doyle.

            Sebaliknya, bagi yang tidak punya rencana berkeluarga dalam waktu dekat, kantor yang dilengkapi nursery room dan penitipan anak tentu tidak memberikan dampak yang signifikan. Demikian pula, perusahaan dengan jam kerja yang sangat tinggi (meski gajinya teramat besar), tidak cocok bagi orang yang menginginkan jam kerja yang fleksibel.