Sabtu, 18 Januari 2014

Pencegahan Infeksi untuk Alat dan Bahan Habis Pakai, Kesehatan/ Infection Prevention for Equipment and Consumables, Health


Pencegahan Infeksi untuk Alat dan Bahan Habis Pakai, Kesehatan
(Sumber/ source:Noname.2012.Buku Saku Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial. Jakarta Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.)
(Rewritten by Dimas Erda Widyamarta: www.ithinkeducation.blogspot.com)
Berikut ini adalah empat langkah pencegahan infeksi untuk alat dan bahan habis pakai, yaitu:
A.     Langkah I: Dekontaminasi
Dekontaminasi dilakukan dengan cara merendam dengan larutan Klorin 0,5%. Langkah ini perlu dilakuakn terlebih dulu agar alat atau barang aman bila tersentuh atau terpegang.
Tujuan Dekontaminasi:
1.      Membunuh berbagai jenis virus (misalnya virus hepatitis B, hepatitis C dan HIV) serta berbagai jenis kuman
2.      Membuat alat atau abrang tersebut aman sewaktu pencucian
3.      Membuat alat atau barang tersebut lebih mudah dicuci karena mencegah cemaran darah, cairan tubuh lain dan jaringan mengering pada alat atau barang tersebut.

B.     Langkah II: Pencucian
Pencucian dilakukan dengan deterjen air. Langkah ini perlu dilakukan untuk menghilangakn kotoran seperti darah dan feses yang menghalangi proses sterilisasi atau DTT
Pencucian alat dan bahan habis pakai dilakuakn setelah proses dekontaminasi dengan cara menyikat dengan sikat, deterjen dan air.
Tujuan Pencucian:
1.      Menghilangkan darah, cairan tubuh lain, jaringan dan kotoran yang menempel pada alat dan bahan habis pakai
2.      Mengurangi jumlah kuman
3.      Membuat sterilisasi atau DTT menjadi efektif.
Catatan: bila bercak darah tertinggal dalam sebuah alat, kuman dalam bercak tersebut mungkin tidak terbunuh secara sempurna oleh sterilisasi maupun DTT

C.     Langkah III: Desinfektan Tingkat Tinggi (DTT)
DTT atau sterilisasi dilakukan dengan cara merebus atau mengukus (memanasi dengan uap)
Tujuan DTT:
DTT bertujuan untuk membunuh kuman. DTT perlu dilakukan sebelum penggunaan alat atau penyimpanan. DTT dapat membunuh semua kuman kecuali endospora. Endospora adalah bakteri yang membentuk lapisan luar yang keras, membungkus kuman sehinga sulit terbunuh. Kuman tetanus atau gas gangren dapat membentuk endospora.
DTT dapat digunakan untuk alat atau barang yang akan kontak dengan kulit maupun mukosa membran yang tidak utuh. Bila sterilisasi tidak tersedia, DTT merupakan satu-satunya pilihan.
DTT dapat dilakukan dengan merebus atau mengukus:
1.      Merebus, Desinfektan Tingkat Tinggi dengan merebus dilakukan dengan cara merebus alat yang digunakan untuk resusitasi seperti tabung dan pipa pengisap lendir.
2.      Mengukus, Desinfektan Tingkat Tinggi dengan mengukus dilakukan dengan cara pemanasan menggunakan uap air panas. Untuk pencegahan infeksi alat resusitasi seperti tabung resusitasi dan pipa pengisap lendir dapat dilakukan dengan dikukus.
Keuntungan mengukus dibanding merebus:
1.      Kerusakan lebih sedikit pada sarung tangan dan barang plastik atau barang dari karet
2.      Menggunakan lebih sedikit air
3.      Menggunakan lebih sedikit bahan bakar karena air yang direbus lebih sedikit
4.      Tidak terbentuk garam soda dalam alat logam.

D.     Langkah IV: Penyimpanan
Setelah tidnakan pencegahan infeksi, alat atau barang sebaiknya digunakan atau disimpan secepatnya sehingga tidak terkontaminasi. Penyimpanan secara benar sama pentingya seperti dekontaminasi, pencucian atau DTT.
Tujuan Penyimpanan:
Penyimpanan alat dilakukan sesudah DTT atau sterilisasi sehingga tidak terjadi kontaminasi alat tersebut.
Pencegahan infeksi menurut jenis alat resusitasi:
Berikut ini adalah beberapa contoh alat dan bahan habis pakai yang digunakan dalam resusitas dan cara pencegahan infeksi:
1.      Meja resusitasi: basuh dengan larutan dekontaminasi dan kemudian cuci dengan sabun dan air, dikeringakn dengan udara atau angin.
2.      Tabung resusitasi: lakukan dekontaminasi, pencucian secara teratur misalnya setiap minggu, tiap dua minggu atau setiap bulan tergantung frekuensi resustasi. Selalu lakukan ke tiga langkah pencegahan infeksi jika alat digunakan pada bayi dengan infeksi. Pencegahan infeksi tabung resusitasi juga dilakukan setiap habis digunakan. Pisahkan masing-masing bagian sebelum melakukan pencegahan infeksi.
3.      Sungkup silikon dan katup karet
a.       Sungkup silikon dapat direbus
b.      Lakukan ketiga langkah pencegahan infeksi (dekontaminasi, pencician dan DTT)
4.      Alat pengisap atau sarung tangan yang dipakai ulang:
Lakukan kketiga langkah pencegahan infeksi (dekontaminasi, pencucian dan DTT)
5.      Kain dan selimut:
Lakukan dekontaminasi dan pencucian kemudian dikeringkan dengan angin atau udara atau sinar matahari kemudian simpan di tempat yang bersih dan kering.
6.      Bahan atau alat habis pakai:
Lakukan dekontaminasi untuk bahan atau alat habis pakai seperti kasa, sarung tangan, pipa kateter, jarum dan sebagainya selama 10 menit, sebelum membuangnya ke tempat yang aman.

E.      Rumus membuat larutan klorin 0,5% dari larutan konsentrat berbentuk cairan
Jumlah bagian air=  %larutan konsentrat                           -1
                                    %larutan yang diinginkan
Contoh: Untuk membuat larutan klorin 0,5% dari larutan klorin 5,25% (misalnya: BAYCLIN ®)

1.      Jumlah bagian air =      5,25%   -1= 10-1=9,5
0,5%

2.      Tambahkan 9 bagan (pembulatan ke bawah dari 9,5) air ke dalam 1 bagian larutan klorin konsentrat (5,25%).
Catatan: air tidak perlu dimasak
Sumber: pocket guide for Family Planning Service Providers, JHPIEGO, 1995

F.      Rumus Membuat Larutan Klorin 0,5% dari Sebuk Kering

Jumlah bagian air         =          % larutan yang diinginkan X1000
                                                %konsentrat

Contoh: untuk membuat larutan klorin 0,5% dari serbuk yang bisa melepaskan klorin (seperti kalsium hipoklorida) yang mengandung 35% klorin:
1.      Gram/ liter=     0,5% X1000 =14,3 gram/ liter
35%

2.      Tambahkan 14 gram (pembulatan ke bawah dari 14,3) serbuk ke dalam 1 liter air mentah yang bersih.
Sumber: pocket guide for Family Planning Service Providers, JHPIEGO, 1995