Minggu, 26 Januari 2014

Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja/ Adolescent Growth and Development


Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja
(Sumber/ source :Sukiat.1992.Kumpulan Materi Kesehatan Remaja (KRR). Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.)
(Rewritten by Dimas Erda Widyamarta: www.ithinkeducation.blogspot.com)

A.     Pendahuluan
Pernahkah orang berfikir bahwa bila keluarga berencana betul berhasil mencapai sasaran untuk menekan laju perkembangan penduduk, maka pada tahun 2000 mendapat jumlah bayi lahir akan menyusut. Juga dengna perbaikan pada berbagai sektor kesehatan, maka kematian bayipun dapat ditekan. Konsekuensinya adalah bertambahnya bayi dan anak yang bertahan hidup melewati masa kritis balitaya. Sehingga masa itu akan lebih banyak diisi oleh anak yang meningkat remaja. Mereka inilah yang akan menantang tuntutan jaman dan menghadapi masalah hidup, yan oleh para ahli diramalkan oleh berat, karena terbatasnya kesempatan kerja, sumber daya dan perkembangan pesat ilmu pengetahuan manusia.
Remaja inilah yang menjadi potensi sebagai pembangunan bangsa kelak di kemudian hari. Ironisnya, pada saat ini remaja sering dikatakan identik dengan kekacauan, bruta, hura-hura dan lain sebagainya sebutan yang negatif.
Oleh karena lebih bijaksana bila kita mulai memahami, siapa itu remaja, apa yang terjadi dengan mereka, dan akhirnya bersahabat dengan remaja.

B.     Pengertian Tumbuh Kembang
Proses dalam kehidupan manusia selalu melibatkan aspek fisik dan psikisnya atau badan dan jiwanya. Kemajuan dan kemunduran satu aspek, akan mempengaruhi aspek lainnya. Mengenai hal ini, dapat diingat kembali, moto yang digunakan dalam dunia olah raga yaitu Mens Sana In Corpore Sano (Dalam badan yang kuat terdapat jiwa yang kuat pula).
Proses yang berkaitan dengan aspek fisik dengan spikis ini lazim disebut sebagai proses Tumbuh Kembang.
Tumbuh (Pertumbuhan), akan berkaitan dengan pengertian mengenai aspek yang bersifat fisik. Aspek yang bisa diukur, dihitung, dilihat atau diamati dengan jelas seperti, berat badan, tinggi badan, perubahan suara dan lainnya.
Kembang (Perkembangan), pengertian yang berkaitan dengan aspek psikis. Sesuatu yang lebih berhubungan yang berkaitan dengan aspek psikis. Sesuatu yang lebih berhubungan dengan keadaan “dunia dalam” seorang manusia. Misalnya, kepribadian, kemampuan penyesuaian diri, intelegensi, dan sebagainya.
Dalam siklus hidup manusia dari lahir hingga mati, para ahli membuat tahap dalam kehidupan. Tahap inilah yang memberi batas bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia.
Elizabeth B. Hurlock membedakan perkembangan antara anak laki-laki dan perempuan
Yaitu:
Jika dilihat dari bagian ini maka terlihat adanya tumang tindih antara akhir masa kanak-kanak, remaja dan menjelang dewasa. Ini dijelaskan sebagai berikut, bahwa menjelang akhir masa kanak-kanak, remaja, dan menjelang dewasa. Ini dijelaskan sebagai berikut, bahwa menjelang akhir masa kanak-kanak akan terjadi perubahan fisik dalam diri seorang anak, yaitu dari fisik anak beralih pada tahap kedewasaan dengan mulai berkembangnya organ seksualnya. Masa peralihan dari anak ke dewasa inilah yang kerap disebut sebagai masa puberitas yang dalam bahasa latin berarti “masa dewasa”.
Berlawanan dengan biasa dikatakan orang, ternyata masa peralihan ini tak terjadi begitu saja dengan mudah dan cepat. Tetapi membutuhkan waktu antara dua hingga empat tahun. Pada umumnya terjadi menjelang akhirnya masa kanak-kanak, ini disebut sebagai masa “Preadolescence” (menjelang dewasa). Hingga menjelang masa dewasa, ini disebut “Early Adolescence” (dewasa muda).
Seorang anak mulai meninggalkan cara bicara yang kekanak-kanakan. Tetapi ia juga belum pantas bicara seperti orang dewasa. Sehingga kita kemudian mengatakan sebagai ‘anak dalam masa puber’.
Untuk anak perempuan, masa puber dimulai ketika ia mendapat haid yang pertama (menarche) pada usia sekitar 11-13 tahun. Setelah haid pertama ini terjadi kematangna pada fungsi alat seksualnya. Sehingga pada usia 13 tahun, anak perempuan sudah matang secara seksual.
Sedangkan pada anak laki-laki, kematangan seksual dimuali ia mendapat’mimpi basah’. Peristiwa ini merupakan tanda bahwa alat seksualnya telah mulai berfungsi seperti layaknya orang dewasa. Ini terjadi sekitar usia 14 tahun. Sehingga pada usia sekitar 16 atau 17 tahun seorang anak laki-laki telah dapat dikatakan matang sepenuhnya secara seksual. Ini adalah patokan umum yang biasanya terjadi selain dari pada anak perkembangan seksualnya terlalu cepat atau malah terlalu lambat.

C.     Konsekuensi masa puberitas
Perubahan fisik yang terjadi pada masa puberitas, selalu akan diikuti dengan perubahan dalam tingkah laku dan sikap.
1.      Intelektual
Konsep apa yang mulai berkembang pada anak
Tahap dalam Piaget?
Generation gap.
2.      Intelektual
Konsep apa yang mulai berkembang pada anak.
Tahap dalam piaget?
Generation gap.
3.      Kepribadian
Pada masa puberitas, perubahan tingkah laku ini disebabkan karena adanya perubahan dalam pola hidup yang sudah menetap. Yaitu pola hidup sebagai kanak-kanak yang kemudian berubah ke pola hidup sebagai orang dewasa. Pada diri anak kemudian terdapat rasa ketidak  pastian, bingung dan rasa tidak aman. Tingkah lakunya menjadi tidak dapat diterka dan terkadang di luar dugaan. Tingkah lakunya menjadi tidak dapat diterka dan terkadang di luar dugaan. Oleh sebab itu masa pubertas, dikatakan pula sebagai tahap negatif.
Jika gerakan pertumbuhan mulai menurun, fisik pun mulai berkembang dengan sempurna. Maka tingkah laku dan sikap akan lebih tenang dengan sempurna. Maka tingkah laku dan sikap akan lebih tenang dan seimbang.
Masa dengan gerakan pertumbuhan yang cepat dan juga merupakan masa yang paling sulit dari tahap negatifik ini adalah pada masa akhir dari masa kanak-kanak. Efek dari masa ini akan masih terlihat hingga pada masa dewasa muda.
Tentu pada tiap anak akan terdapat keunikan ketika memasuki masa puberitas ini. Tetapi pada hal yang umumnya dialam oleh setiap anak yaitu kegelisahan, perasaan yang “angin-anginan”, senang menyendiri dari keluarga ataupun teman, peka (mudah tersinggung), keinginan untuk menentang tokoh otoritas, keingnan untuk berdiri sendiri. Suka berdepat menyerang pendapat orang lain, menyepelekan tugas rutin di rumah atau sekolah, dan perasaan yang mengungkapkan adanya rasa kurang bahagia.

4.      Sosial
a.       Kelompok se usia (peer group)
Pada masa pubertas, anak mulai meyadai adanya rasa tertark pada lawan jenis. Pada masa ini anak mulai mempunyai konsep tentangn hubungan antara  lawan jenis. Konsep  ini biasanya berbentuk melalui film yang disukainya, komik, acara TV, atau melalui tokoh yang dikaguminya. Jika mereka salah dalam mendapatkan patokan atau pandangan mengenai hubungan antar lawan jenis ini. Konsekuensi yang terbatas dari mas pubertas ini adalah efeknya pada kehidupan yang akan datang (long term effect) terhadap minat, sikap, tingkah laku dan kepribadian si anak.
Buat seorang anak laki-laki masa pubertas merupakan masa di mana ia mencoba pengalaman sosialnya. Dia mulai berkelompok dengan teman seusia. Mereka mempunyai norma sendiri yang dianut kelompoknya. Adakalanya postur tubuh menentukan penerimaan seseorang anak dalam status di kelompoknya. Jika norma kelompok ini positif, maka si anak di kemudian hari akan menjadi atlit yang baik, misalnya. Sedangkan jika norma kelompok  negatif, maka si anak cenderung mempergunakan kekeran tubuh dengan menjadi jagoan jalanan.
Sedang bagi anak perempuan, pengakuan atas keberadaan sebagai wanita dewasa adalah bila ia dapat mabuk kepayang terhadap anak laki-laki. Anak perempuan juga mempunyai keterlibatan emosi yang dalam dengan anak laki-laki yang menjadi pujaannya. Sedangkan bagi anak laki-laki itu sendiri, peristiwa pacaran, cinta dan sebagainya merupakan hal yang bersifat petualangan belaka. Karenanya pada usia ini, biasanya anak perempuan lebih tertarik pada anak laki-laki yang lebih tua dari usianya. Menjelang masa muda, ketika pertumbuhan mulai labil, baru anak perempuan  kembali bergaul dengan anak laki-laki seusianya.
Adanya hambatan pada kematangna seksual dalam usia ini, akan menyebabkan penyimpangan dalam sikap dan perilaku yang relatif menetap pada tahap perkembangan berikutnya.
Jadi adanya penerimaan, pengakuan dan kelompok atau lawan jenisnya terhadap keberadaannya sangat mempengaruhi pembentukan diri di kemudian hari.

b.      Pola pengertian hubungan seksual
Arti perkawinan bagi anak laki-laki dan perempuan
Ketika keanggotaan seorang remaja dalam sebuah kelompok mulai diakui, mereka biasanya mulai mencari pasangan yang dianggap sesuai dengan dirinya. Dengan perkataan lain, mereka mulai mencoba ‘kencan’ atau pacarn dengan lawan jenisnya. Ini bisa terjadi antar anggota kelompok atau dengan orang di luar kelompoknya. Mereka mulai mempersoalkan kebebasan pribadi. Artinya mereka tak ingin dicampuri urusan yang bersifat pribadi. Itulah terlihat mereka suka mengadakan pertemuan ditempat yang sepi menyimpan lebih rapi ‘buku harian’, dan sebagainya.
Adanya keinginan untuk berhubungan dengan lawan jenisnya karena adanya hasrat untuk mempunyai teman atau partner yang setara, keinginan untuk dapat saling menumpahkan perhatian dan kasih sayang. Kadang juga adanya keinginan untuk mengikatkan diri dalam perkawinan. Walaupun untuk konsep ini terdapat perbedaan antara remaja putra dan remaja putri.
Remaja putra, mempunyai dorongan seksual lebih kuat, dan lebih aktif dalam mencapai objek seksualnya. Kebutuhan untuk terikat dengan pasangannya tidak sebesar remaja putri. Sehingga pada remaja putri kadang terjadi trauma yang mendalam pada masa remaja akibat hubungannya dengan remaja putra. Oleh sebagian orang perbedaan ini dapat diungkapkan dengan perkataan, bahwa buat anak laki-laki ‘cinta untuk seks’. Sedangakn untuk remaja putri ‘seks untuk cinta’. Karena remaja putri lebih membutuhkan suatu ikatan yang kuat dan lebih lama dalam hubungan dengan lawan jenisnya.

c.       Kehamilan di luar nikah
Sebagian besar kehamilan remaja di luar nikah disebabkan karena:
                                                                    i.            Tidak adanya pendidikan seks
                                                                  ii.            Penyalahgunaan alat kontrasepsi
                                                                iii.            Tidak tahunya remaja akan konsekuensi dari tingkah laku seksual yang dilakukannya
                                                                iv.            Melemahnya sistem nilai dan norma dalam masyarakat
Mengenai hal ini, kadang terdapat suatu masalah yang dapat dianggap unik. Yaitu adanya pendapat bahwa, remaja putri itu mengandung dan mempunyai bayi, untuk memenuhi kebutuhannya akan cinta dan ketergantungan pada orang lain.