Sabtu, 18 Januari 2014

radisi Lisan Masyarakat Dayak di Kalimantan, di dalam Kebudayaan/ Oral tradition of the Dayak in Borneo, in the Culture


Tradisi Lisan Masyarakat Dayak di Kalimantan, di dalam Kebudayaan
(Sumber/ source:Heriyanto.2014.”Banyak Penutur yang Meninggal, Ingin Buat Rekaman”. Dalam Jawa Pos,16 Januari 2014.)
(Rewritten by Dimas Erda Widyamarta: www.ithinkeducation.blogspot.com)
            Suku Dayak di Kalimantan Barat memiliki tradisi seni bertutur atau tradisi lisan yang menawan. Ada beragam jenis seni bertutur di kalangan mereka.
            Penulis buku Karifan Lokal Masyarakat Dayak, Dedy Armayadi, mengungkapkan, pada dasarnya hampir setiap sub suku Dayak di Kalimantan Barat memiliki tradisi seni bertutur atau tradisi lisan. Hanya, penamaan dan penyampaiannya berbeda-beda.
            Misalnya, di kalangan Suku Dayak Desa di Sintang, seni bertutur tersebut dinamakan bekana. Sementara itu, di masyarakat Uud Danum, tradisi tersebut disebut kolimoi. Tentu saja banyak lagi jenis tradisi lisan yang bisa ditemui di masyarakat subsuku Dayak lain seperti Kanayatn, Iban atau Kayaan. “Kalau menyempatkan diri berkunjung ke perkampungan tradisional Suku Dayak, kita akan menjumpai tradisi lisan itu,” kata Dedy.
            Menurut dia, tradisi bertutur tersebut biasanya diturunkan secara turun temurun. Tradisi itu biasanya dilakukan dalam berbagai acara adat, mulai pesta panen, gunting rambut, serta penyambutan tamu. Bentuknya berupa senandung untuk memanjatkan doa, menyampaikan pujian atau memberikan nasihat. “Sejak dulu nenek moyang Suku Dayak terbiasa dengan kesenian sastra tutur ini. Ada banyak pesan yang biasa disampaikan dalam tradisi ini,” ucap Dedy.
            Rafael Syamsuddin, tokoh masyarakat Uud Dabum yang kini tinggal di Pontianak, menambahkan, tradisi seni bertutur juga sangat erat dengan masyarakat Uuud Danum. Masyarakat  menyebut tradisi itu dengna istilah kolimoi.
            Kolimoi biasnaya dituturkan  dalam sejumlah acara. Bahkan, biasanya seni itu dituturkan selama tiga hari tiga malam. Menurut Rafael, tidak banyak yang menguasai seni tersebut karena menggunakan bahasa yang dipercaya merupakan bahasa kahyangan. “Misalnya, bercerita tentang mitos orang-orang kahyangan yang hidup berbaur dengan manusia di dunia,” terang dia.
            Ada juga seni bertutur yang disebut tahtum. Yakni, legenda kepahlawanan nenek moyang masyarakat Uud Danum yang terdiri dari 75 tokoh yang harus dikisahkan.
            Menurut  Dedy, tradisi seni bertutur kini terancam punah. Hanya sedikit orang tua untuk masih menguasainya. Sementara itu, anak-anak lebih tertarik pada kesenian modern.           “Di kalangan Dayak Desa, misalnya, hanya sedikit orang yang kini menguasai seni bertutur bekana. Sudah banyak penuturnya yang meninggal,” jelasnya.
            Bagi anak muda, lagu populer lebih menarik jika dibanding seni itu. Linin Markus, salah seorang warga Dayak, merasa prihatin soal itu. “Banyak yang terpengaruh hiburan dari luar sehingga lupa kebudayaan sendiri. Apalagi sekarang televisi, telepon dan berbagai hipuran mudah didapat,” lanjut dia.
Masuknya televisi dan radio memang sangat berdampak terhadap kebudayaan setempat. Dulu sangat banyak orang yang bisa melantunkan bekana atau seni bertutur lainnya. Tapi, kini hanya bisa dihitung dengan jari,”Kini menguasai tradisi ini hanya kalangan tertentu, terutama orang tua yang berusia lanjut,” jelas Dedy.
            Menurut dia, diperlukan supaya pelestarian tradisi tersebut. Salah satunya mendorong generasi muda belajar seni bertutur itu. Upaya lain adalah membuat rekaman video mengenai berbagai tradisi seni bertutur itu. Upaya merekam tradisi bekana itu diharapkan bisa melestarikan tradisi tersebut untuk generasi mendatang. Setidaknya, generasi Dayak pada masa mendatang masih mengenal seni bertutur itu.