Minggu, 12 Januari 2014

Termogulasi, di dalam Fisiologi Kepeawatan/ Termogulation, in Physiology Kepeawatan


Termogulasi, di dalam Fisiologi Kepeawatan

(Sumber/ source: Purnawati, Lina Erna.2013. Power Point Termogulasi. Ponorogo.)
(Rewritten by Dimas Erda Widyamarta: www.ithinkeducation.blogspot.com)

A.     Pendahuluan
Manusia merupakan makhluk homeoterm (adaptasi). Suhu bagian dalam (core temperature) pada orang sehat tidak banyak berbeda, perbedaan dipengaruhi oleh laju metabolisme dan kecepatan hantar panas pada jaringan dan organ tubuh. Suhu inti merupakan hasil oksidasi, maka sumber utama panas adalah jaringan yang paling aktif, yaitu hepar, kelenjar sekresi (kelenjar endoktrin) dan otot. Suhu inti adalah temperature tubuh pada struktur tubuh di bawah kulit dan jaringan subkutan (mendekati 37 derajat Celcius atau 98 derajat Farenheit). Suhu rectum biasanya lebih tinggi daripada suhu mulut dan ketiak sebagai petunjuk suhu inti. Pengukuran suhu yang terbaik yakni: rectum, oral, axila atau axiler, dan timpany. Suhu tubuh bagian luar cukup beragam, tergantung pada tempat pengukurannya, aliran darah yang ke otot atau kulit dan suhu lingkungan. Suhu gendang telinga dapat menunjukkan kaitan aktifitas usaha utbuh untuk mempertahankan suhunya, misalnya vasodilatasi atau berkeringat.

B.     Produksi Panas
Panas yang dihasilkan tubuh berasal dari oksidasi makanan (laju metabolisme). Laju metabolisme dipengaruhi oleh:
1.      Latihan (latihan berat)
2.      Sistem saraf (stress)
3.      Hormon (testosterone dan GH) misalnya androgen
4.      Temperature tubuh (demam), temperature meningkat, semakin tinggi metabolise
5.      Konsumsi makanan (SDA), misalnya makanan pedas.
6.      Usia
7.      Faktor lain (jenis kelamin [jenis kelamin laki-laki, laju metabolisme lebih tinggi daripada perempuan], iklim, tidur dan malnutrisi)

C.     Mekanisme produksi panas
1.      Vasokonstriksi (vesel= pembuluh darah)
Impuls dari pusat produksi panas (hipotalamus) => merangsang saraf simpatis => konstriksi pembuluh darah => penurunan aliran darah panas => dari organ internal ke kulit. Reduksi pembuangan panas ini akan membantu peningkatan suhu tubuh internal

2.      Stimulasi Simpatis
Pusat produksi panas menstimulasi saraf simpatis yang menuju medula adrenal => medula mensekresi epineprin dan norepineprin ke darah => meningkatkan metabolisme seluler => produksi panas meningkat (proses termogenesis kimia)

3.      Otot skeletal
Stimulasi pusat produksi panas dapat mengakibatkan stimulasi dari otak yang menimbulkan tomus otot dan peregangan otot agonis => otot berkontraksi meningkatkan produksi panas.

4.      Hormon tiroid
Hipotalamus => TRH => menstimulasi kelenjar pituitari anterior => mensekresi TSH => hormon tiroid dilepaskan ke darah => peningkatan laju metabolisme => peningkatan suhu tubuh

5.      Suhu tubuh normal
Variasinya 36 derajat Celcius-37,5 derajat Celcius. Sebenarnya antar organ punya suhu berbeda, juga dipengaruhi kerja fisik dan lingkungan

6.      Suhu inti (central core), dianggap sebagai suhu tubuh. Pada organ abdomen, saraf pusat, otot rangka, thoraks, bisa vervariasi: 35,6-40 derajat celcius (optimum 37,8 derajat Celcius)

7.      Sebelah luar (outer shell): suhu relatif lebih dingin dan variasi lebar (20-40 derajat Celcius). Kulit, sub kutis. Juga untuk kontrol suhu inti. Suhu oral (36,1 derajat Celcius-37,2 derajat Celcius). Suhu rektal: suhu rektal lebih tinggi suhu oral (selisih 0,6 derajat Celcius).

D.     Mekanisme pemindahan panas
1.      Radiasi, perpindahan panas dalam bentuk gelombang elektromagnetik (dari suhu panas dingin).

2.      Konduksi, perpindahan panas dengan berkontak langsung (dari suhu panas dingin). Air merupakan konduktor yang baik daripada udara (air dengan suhu dingin sama dengan udara misalnya 27 derajat Celcius, air terasa lebih dingin daripada udara). Melalui cara kompres air kran pembuluh darah besar di tempat:d ahi aksila, ingual. Tidak benarkan kompres dengan makar alkohol.

3.      Konveksi
Perpindahan panas melalui arus udara. Suhu tubuh yang berpindah ke udara karena konduksi, maka udara dekat kulit akan lebih hangat. Udara hangat ini lebih ringan kemudian akan di gantikan oleh udara dingin yang mendekati kulit sehingga udara ini lebih hangat dan udara yang telah hangat akan digantikan lagi oleh yang dingin disitu sehingga timbul arus konveksi.

4.      Evaporasi
Panas diperlukan untuk mengubah cairan menjadi uap, misal keringat menjadi uap air sehingga tubuh lebih dingin.

E.      Mekanisme kehilangan panas dari tubuh ke lingkungan
1.      Radiasi (18%), jika suhu tubuh lebih besar tubuh memancarkan panas ke lingkungan (bentuk gelombang panas infra merah)
2.      Konduksi, melalui benda (sedikit)
3.      Konveksi, konduksi melalui udara (15%) (aliran udara)
4.      Evaporasi, proses humidifikasi (panas yang hilang melalui uap H2O) saluran napas, evaporasi pasif tidak di bawah pengaruh kontrol fisiolopis (tetap berlangsung meski dingin).
5.      Paparan air. Kecepatan kehilangan panas pada air lebih besar dapat udara, evaporasi melalui kulit dan paru invisible dan tidak dapat  dikendalikan untuk pengaturan suhu. Evaporasi keringat visible dan dapat diatur.
6.      Pakaian. Baju dapat menurunkan kehilangan panas, baju basah tidak efektif karena kecepatan, kehilangan panas pada air lebih besar.
7.      Keringat. Panas => rangsangan pada hipotalamus anterior (area preoptik) => sekresi keringat oleh kelenjar keringat (saraf kholinergik tapi bisa juga dirangsang oleh adrenalin). Ion natrium, klorida, kalium, air, urea, asam laktat. Kecepatan erkeringat tinggi konsentrasi ion Na dan Cl tinggi, maka setelah berkeringat akan merasa haus dan memiliki tensi yang  rendah.
8.      Suhu kulit. Panas hilang melalui radiasi dan konduksi, evaporasi. Suhu lingkungan meningkat: tubuh dapat panas dengan cara radiasi dan konduksi, (tetap melepaskan panas dengan cara evaporasi).
9.      Hipotalamus. Sebagai pusat pengaturan suhu hipotalamus anterior diaktifkan oleh rasa hangat. Hipotalamus posterior diaktifkan oleh rasa dingin.
10.  Suhu tubuh panas. Vasodilatasi kulit karena ada ada hambatan pusat simpatis dihipotalamus posterior yang menyebabkan vasokonstriksi. Berkeringat (evaporasi) kecepatan berkeringat mulai meningkat saat suhu inti lebih dari 37 derajat Celcius. Produksi panas. Perilaku.
11.  Suhu tubuh dingin. Vasokonstriksi kulit, piloereksi. Produksi panas meningkat, metabolisme meningkat, cara: menggigil, rangsang simpatis pembentuk panas, sekresi tiroksin, perilaku.
12.  Menggigil. Pusatnya: hipotalamus posterior (bagian dorsomedial). Dirangsang oleh sinyal dingin dari kulit dan medula spinalis. Tonus otot skelet meningkat hingga mencapai titik kritis menggigil. Panas tubuh dapat 4-5 kali. Dihambat oleh sinyal dari pusat panas di area preoptik hipotalamus anterior.
13.  Demam. Demam merupakan produk bakteri atau degenerasi sel, misalnya toxin. Mekanisme: bakteri di fagositosis leukosit mencerna bakteri dan melepaskan interleukin-1 )sampai porogen/ leukosit/ pirogen endogen) ke hipotalamus dengan menginduksi pembentukan protaglandin E2 (aspirin menghambat pembentukan protaglandin E2).
14.  Heat stroke. Batas ekstrim panas yang diterima tergantung kelembapan. Jika suhu tubuh makin tinggi (melampaui suhu kritis lebih dari 40 derajat Celcius) heat stroke. Gx: cephalgi, nausea, vomiting, delirium, hilang kesadaran. Hiperpireksia merusak jaringan tubuh (termasuk perdarahan otak dan degenerasi parekimatosa sel). Tx: didinginkan (pendinginan dengan spon/ disemprot apda kulit)
15.  Terpapar dingin (Frosbite), hipotermia: suhu tubuh (29 derajat Celcius) selama 20 menit-30 menit, bertambah karena fibrasi jantung, suhu tubuh lebih rendah 32 derajat Celcius kemampuan hipotalamus mengatur suhu tubuh ketika setiap penurunan 20 derajat Celcius maka kecepatan produk panas ditekan -2 kali. Frosbite: terpapar suhu sangat rendah, jika terbentuk kristal dalam sel rusak, permanen, otot polos pembuluh darah ketika dingin, mempengaruhi jantung.