Senin, 03 Februari 2014

Anatomi Fisiologi Sistem Pendengaran/ Anatomy Physiology of Hearing System

Anatomi Fisiologi Sistem Pendengaran
(Sumber/ source: Purwanti, Lina Erna. 2013. Anatomi Fisiologi Sistem Pendengaran. Ponorogo.)
(Rewritten by Dimas Erda Widyamarta: www.ithinkeducation.blogspot.com)
Telinga
Aparatus Vestibulocochlearis. Fungsi ganda, yakni: pendengaran (organo auditus), keseimbangan (organo status). Terbagi tiga bagian yakni: auris eksterna, auris media, auris interna.
A.     Auris Eksterna
1.      Auricula/ Pinna, terdiri dari kartilago elastik kecuali lobus. Diinervas Nervus V (Trigeminus) => cabang Nervus X. Bentuk bervariasi => genetik. Posisi normal antara pupul-Helix lurus. Fungsinya: pengumpul suara dan melokalisir arah gelombang suara.
2.      Meatus Acusticus Exsternus (MAE). Terletak dalam Os Temporale berbentuk saluran sempit seperti huruf S => Cegah trauma langsung panjang 2,5-2,7 cm. 1/3 luar tulang rawan elastik, 2/3 os temporal. Diselaputi kulit yang kaya ujung saraf peraba dan kelenjar apocrine tubuler => lemak kecoklatan (cerument). Fungsi cerumen dan rambut sebagai proteksi. Fungsi MAE yakni menghantarkan gelombang suara => membran tympani

B.     Auris Media
Terletak dalam os temporal, terdiri atas: membrana tympani, ossicullae, cavum tympani, tuba eustachius, os mastoid.
1.      Membrana tympani
Batas luar auris media, luas 55-90 mm2, warna keabu-abuan. Letak miring terhadap MAE. Fungsi sebagai lod speaker. Pembagian kuadran: anterior inferior, anterior superior, posterior superior, posterior inferior.
2.      Ossicula
Tiga bua: malleus, incus dan stapes. Sebagai apparatus conducts. Manubrium maleus melekat erat pada membran tympani. Kepala maleus punya permukaan sendi pelana yang berhubungan dengan kepala incus. Incus dan stapes berhubungan melalui processus lentikularis. Lempeng dasar stapes menutupi fenestra vestibularis. Malleus dan incus bekerja seperti dongkrak terhadap stapes. Kaki stapes meneruskan gelombang suara kecairan di dalam auris interna.
3.      Cavun tympani
Merupakan rongga sempit dan tinggi, berisi udara dan ossiculae. Dinding: lateral terhadap MT, medial Fenstra vestibuli dan ovale dan atapnya tegmen tympani. Dilanjutkan ke anterior sebagai Tuba Auditiva ke posterior ke arah antrum mastoid. Dilapisi oleh membran mokosa. Normal dalam keadaan steril yang dijaga: fisiologis silia, enzym penghasil mukus (mramidase), antibody, faktor humoral kapiler sub epitel (PMN dan Fagocyt).
4.      Tuba Auditiva
Saluran menghubungkan auris media dengan nasopharynx (Panjang sekitar 37 mm). Pada bayi: lebih pendek, lebih luas dan lebih horizontal. Mengeluarkan ekresi ke nasopharinx. Membuka saat mengunyah, menguap dan menelan, mengejan, bersin. Fungsinya: mengatur keseimbangan tekanan atmosfir di telinga tengah dan udara luar.

C.     Auris Interna
Auris interna disebut juga labyrinth. Terdapat dua macam labyrinth yakni: labyrinth membranosa, labyrinth ossoesa.
1.      Labyrinth membranosa, merupakan kantong-kantong membran yang terdapat dala labyrinth osseosa dan merupakan saluran berisi cairan endolymph
2.      Labyrinth Osseosa, terdiri atas rongga yang irreguler: canalis semisirkularis (vestibulum). Cochlea. Labyrinth osseosa mengandung cairan perilymph dan di dalamnya terendam labyrynth membranosa. Ruang perilymph berhubungan dengan ruang sub arachnoid melalui ductus limfaticus.
a.       Vestibulum. Dinding posterior terdapat tiga canalis semi siruklaris (anterior, lateral dan posterior). Bagian anteror berhubungan tidak teratur berhubungan dengan cochlea dan terdapat sakulus dan utrikulus. Canalis semisirkularis, sakulus dan utrikulus merupakan organ utama keseimbangan. Makula utrikulus berperan menentukan kepala sesuai arah gravitasi ketika berdiri. Makula sakulus menjaga keseimbangan saat berbaring.
b.      Cochlea. Saluran osseaosa berbentuk spiral dengan panjang sekitar 35 mm. Mengandung sel ganglion spiralis yang merupakan berkas syaraf yang berasal dari nervus Cochlearis. Saluran cochlea mengandung ductus cochlearis yang berisi endolymph (skala media). Di atas ductus ini terdapat skala vestibulit dan dibawahnya skala tympani yang mengandung perilymph. Dibawah ductus cochlearis terdapat lamina basilaris yang mengandung reseptor suara dan organ corti. Dinding superior membentuk membrana reissner. Skala vestibuli dan tympani bergabung pada helikotrema.
c.       Organ Corti. Terbentang sepanjang cochlea sampai helikotrema. Merupakan struktur kompleks yang peka terhadap gelombang suara. Terdapat sel-sel yang berfungsi sebagai sensor gelombang suara.

D.     Fisiologi Pendengaran
Gelombang suara => aurikula => MAE => MT (membran tympani) bergetar => osicula => menggerakkan perylimph (skala vestibuli) => membran reisaner => endolymph dan membran basiller terdorong ke perylimph => skala tympanu bergerak foramen ovale terdorong ke luar => sel rambut (gelombang suara -> gelombang listrik oleh elektrolit) => Nervus VIII => pusat pendengaran area 39-40 lobus temporal.

E.      Gangguan Pendengaran
Aurikulum => Meatus akustikus eksternus => membran timpany => osikula auditiva (melleus, inkus, stapes) [Konduksi] => perilimpe endolimfe => organ corti=> nervus askustikus => batang otak => pusat pendengaran -> endengar dengan sadar korteks serebri (pusat wernicks) [tuli campuran] psensori neural]

F.      Saraf Pendegaran
1.      Nervus auditori mengumpulkan sensibilitas dan bagian vestibuler rongga telinga dalam yang mempunyai hubungan dengan keseimbangan.
2.      Bergerak menuju nukleus vestibularis yang berada pada titik pertemuan antara pons dan medula oblongata => serebelum.
3.      Bagian koklearis pada nervus auditori saraf pendengaran, serabut saraf dipancarkan ke nukleus di belakang thalamus, menuju korteks otak (bagian temporalis).
4.      Kehilangan pendengaran konduktif, kehilangan pendengaran dimana transmisi bunyi yang efektif ke telinga dalam terputus oleh sumbatan atau proses penyakit (impaksi serumen, otitis media, otosklerosis/ pembentukan tulang baru)
5.      Kehilangan pendengaran sensorineural, kehilangna pendengaran sehubungan dengan kerusakan organ akhir untuk pendengaran dan atau nervus kranialis VII (Kerusakan kochlea atau saraf vestibulokokhlear).

G.     Uji
1.      Uji Urine
Membandingkan hantaran atau konduksi suara melalui tulang pendengaran dengan udara. Normal; konduksi udara berlangsung lebih lama dari konduksi tulang. Bila ada kehilangan pendengaran konduktif konduksi tulang akan melebihi konduksi udara “begitu konduksi tulang menghilang, pasien tidak mampu lagi mendengar mekanisme konduksi yang biasa”. Bila ada kehilangan pendengaran sensorineural suara yang dihantarkan melalui udara lebih baik dari tulang, meskipun keduanya merupakan konduktor yang buruk dan segala suara yang diterima seperti sangat jauh dan lemah.
2.      Uji Weber
Memanfaatkan konduksi tulang untuk menguji adanya lateralisasi suara. Normal: mendengar suara seimbang pada kedua telinga atau suara terpusat di tengah kepala
a.       Bila ada kehilangan pendengaran konduktifr suara akan lebih jelas terdengar pada sisi yang sakit.

b.      Bila ada kehilangan pendengaran sensorineural suara akan mengalami laterisasi ke telinga yang pendengarannya lebih baik.