Senin, 03 Februari 2014

Cairan Tubuh, Fisiologi Paramedis/ Body fluids, Physiology Paramedic

Cairan Tubuh, Fisiologi Paramedis
(Sumber/ Source: Pearce, Evelyn C.2008.Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.)
(Rewritten by Dimas Erda Widyamarta: www.ithinkeducation.blogspot.com)

Air beserta unsur di dalamnya yang diperlukan untuk kesehatan sel disebut cairan tubuh, dan cairan ini sebagian berada di dalam dan sebagian di luar sel. Cairan intraseluler merupakan 50% dari berat tubuh letaknya di dalam sel dan mengandung elektrolit serta kalium dan fosfa dan bahan makanan seperti gulokse dan asam amino. Kerja enzim dalam sel adalah konstan, memecahkan dan membangun kembali sebagaimana dalam semua metabolisme untuk mempertahankan keseimbangan. Cairan ekstraseluler atau cairan interstilsiil membentuk 30% dari dalam tubuh (kira-kira 12 liter). Air merupakan medium di tengah maan sel hidup. Sel menerima garam, makann  sert oksigen dn melepaskan semua hasil buangannya ke dalam cairan itu juga. Plasma daerah merupakan lima persen dari berat tubuh (sekitar 3 liter) dan menerima sistem transpor yang melayani semua sel melalui medium cairan ekstraseluler.
Pertukaran dalam jaringan. Cairan dalam plasma berada di bawah tekanan hidrostatik yang lebih besar daripada tekanan interstisiil. Oleh karena itu cairan itu condong untuk keluar dari pembuluh kapiler. Akan tetapi di dalam plasma ada protein, sedangkan cairan interstisiil tidak mengadung itu. Protein plasma ini mengeluarkan tekanan osmotik yang berusaha menghisap cairan masuk pembulu kapiler. Di ujung kapiler arteri tekanan hidrostatik lebih besar daripada tekanan osmotk. Maka imbangan kekuatan mendorong cairan untuk masuk jaringan. Pada ujung vena tekanan hidrostatik kurang tekanan osmotik mengatasinya dan menarik kembali cairan itu masuk kapiler. Secara normal cairan yang meninggalkan kapiler lebih banyak daripada cairan yang kembali masuk ke dalamnya. Kelebihan ini disalurkan melalui limfe (getah bening). Pertukaran antara cairan ekstraseluler dan intraseluler juga bergantung pada tekanan osmotik. Akan tetapi membran sel juga mempunyai permeabilitas selektif dan mengizinkan dilalui oleh bebepra bahan seperti oksigen, karbondioksida dan urea secara bebas, akan tetapi memompa bahan lain masuk atau keluar mempertahankan perbedaan konsentrasi dalam cairan intra dan ekstraseluler. Misalnya kalium dikonsentrasikan dalam cairan intraseluler, sedangkan natrium dipompa keluar.
Catatan klinik
1.      Keseimbangan cairan dan elektrolit. Dalam keadaan normal juga cairan yang masuk ke tubuh adalah sama banyaknya dengan yang dibuang. Air dan eletrolit masuk ke tuuh dalam bentuk airm inum, cairan dan makanan lainnya. Air dibuang oleh tubuh melalui ginjal dalam bentuk air kencing, melalui kulit dalam bentuk keringat, melalui saluran pencernaan bersama kotoran melalui paru dalam bentuk uap air yang keluar bersama udara pernapasan. Elektrolit ikut terbuang melalui air kencing, keringat dan bersama kotoran. Kesanggupan tubuh untuk memprtahankan keseimbangan cairan dan elektrolit ini sungguh mengagumkan. Ginjal akan bertambah aktif bila cairan yang kita minum bertambah banyak dan bila tubuh merasa kekurangan cairan, misalnya sesudah berkeringat banyak, kita akan merasa haus. Pertanda bahwa kita memerlukan tambahan cairan.
2.      Usaha memperbaiki keseimbangan cairan dan elektrolit pada pasien, merupakan hal yang sangat penting, karena baik kekurangan cairan maupun kelebihan zat itu akan membawa akibat yang  lebih parah.
Dehidrasi atau berkurangnya cairan tubuh, ada dua macam, pertama kekurangan air seperti yang terjadi pada pelaut yangterdampar akibat kapalnya pecah. Dehidrasi jenis ini akan menyebabkan rasa hasu, demam dan gangguan mental. Kedua, dehidrasi yang sering terjadi pada bayi dan penderita yang tidak berdaya, misalnya orang tua atau yangtidak sadar, yang tidak mendapatkan cairan dalam jumlah yang mencukupi. Dalam hal ini yang penting adalah kekurangan zat garam (natrium). Dehidrasi jenis kedua ini biasanya disebutkan oleh kehilangan cairan tubuh dalam jumlah besar, misalnya karean muntah atau mencret. Kulit penderita akan mengerut, tekanan darah menurun dan otot melemah. Dalam hal ini rasa haus tidak timbul.
Pada kesadaran shok, denyut nadi sangat cepat, kulit lembab, volume darah yang beredar menyusut dan tekanan darah sangat rendah. Penyebab shok yang tersering ialah perdarahan dan kekurangan zat garam.
Zat garam (natrium) menyusut sehabis berkeringat. Keadaan ini tidak dapat diperbaiki hanya dengan minum air saja. Bila tidak segera diperbaiki, keadaan ini akan  menyebabkan kejang otot, kehilangan tenaga, letih dan pingsan. Ini terjadi misalnya pada orang yang pergi dari daerah dingin ke daerah panas, dan pada mereka yang bekerja di udara yang sangat panas. Keadaan ini dapat diperbaiki dengan memberikan minuman larutan encer NaCl atau makan tablet garam, sampai tubuhnya dapat menyesuaian diri dengan sekitar.
Kelebihan natrium terjadi pada kegagalan ginjal dan juga bila terlalu banyak larutan NaCl yang diberikan melalui infus intravenus.
Kalium merupakan eletrolit yang penting yang lain. Kekurangna kalium terjadi pada beberapa keadaan misalnya muntah, kehilangan cairan karean ileostomi dan setelah mendapat obat diuretika (pemercepat kencing) kecuali bila disertai pemberian kalium.
Keracunan air dapat terjadi apda penderita yang terlalu banyak mendapat air tanpa pemberian natrium, misalnya hanya glukosa dan air sedangkan penderita tersebut tidak mampu membuang kelebihan air  tersebut. Kadar  natrium dalam darah akan menyusut (sering dikacaukan dengan keadaan kurang natrium) dan penderita menjadi kacau dan kejang.
3.      Data keseimbangan cairan .pentingnya catatan di atas merupakan prinsip utama yang mendasari pencatatan jumlah cairan yang masuk dan keluar pada seorang pasien bila diperlukan. Karena catatan tentang hal itu tidak hanya menentukan keadaan kesehatan pasien, tetapi dapat pula mementukan hidup matinya.

ini menekankan pentingnya perhitungan berdasarkan fakta tentang jumlah cairan yang masak dalam bentuk minuman maupun makanan dan dalam bentuk  pemberian cairan lainnya. Sama pentingnya dengan pengukuran jumlah cairan yang keluar, termasuk perdarahan, cairan yang dihisap keluar dari lambung dan bronkhus, muntah dan diarhea, cairan uang terubah akibat kolostomi dan ileostomi, cairan yang keluar melalui luka misalnya luka bakar dan pada kecelakaan serta pembedahan.