Minggu, 16 Februari 2014

Kaitan peran Gender dan Seksualitas/ Gender and Sexuality Linkages role

Kaitan peran Gender dan Seksualitas
(Source/ Sumber:  Noname.2004.Kesehatan Reproduksi.Jakarta: Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia.)
(Rewritten by Dimas Erda Widyamarta: www.ithinkeducation.blogspot.com)
Setiap orang dilahirkan dalam bentuk tubuh perempuan atau tubuh laki-laki, perbedaan fisik ini menentukan jenis kelamin seseorang. Peran gender seseorang mengacu pada apa saja menurut masyarakat meruakan makna menjadi seorang perempuan atau laki-laki. Setiap masyarakat mengharapkan agar perempuan dan laki-laki melihat, berpikir, merasa dan bertindak dengan cara tertentu, hanya karena mereka perempuan atau laki-laki. Sebagai contoh, perempuan diharapkan untuk menyediakan makanan, merawat anak-anak dan suaminya. Sedangkan laki-laki diharapkan untuk mencari nafkah di luar rumah untuk mencukupi kebutuhan keluarganya dan orangtuanya, serta melindungi keluarga dari marabahaya (Burns dkk, 1997)
Berbeda dengan perbedaan fisik laki-laki dan perempuan, peran gender diciptakan oleh masyarakat. Beberapa kegiatan seperti mencuci dan meyetrika pakaian dianggap sebagai pekerjaan perempuan. Tetapi pembagian peran ini berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya, tergantung pada adat istiadat, hukum dan agama yang berlaku di masyarakat. Bahkan dalam satu masyarakat pun peran gender bisa beraneka ragam, tergantung di tingkat pendidikan, status sosial dan usia. Sebagai contoh, di beberapa komunitas perempuan di kelas tertentu diharapkan bertanggung jawab pada pekerjaan rumah tangga, sementara perempuan lain mungkin mempunyai lebih banyak pilihan pekerjaan (Burns dkk, 1997).
Peran gender diturunkan dari orang tua kepada anaknya. Anak mengamati perilaku orang tuanya, menduga bagaimana mereka berperilaku, bagaimana mereka memperlakukan yang lainnya, dan apa perannya di masyarakat. Ketika tumbuh besar, mereka menerima peran ini karena ingin menyenangkan orangtuanya atau karena orangtua lebih memiliki otoritas. Peran ini juga membantu anak mengetahui siapa mereka dan apa yang diharapkan dari mereka (Burns dkk., 1997)
Peran gender dapat diubah
            Saat ini banyak anak muda yang ingin berbeda dengan orang tuanya. Ketika perempuan berjuang untuk menentukan sendiri peran gendernya, mereka memperoleh kendali atas hal yang menentukan kesehatan seksualnya (Burns dkk., 1997) .
Memenuhi peran yang diharapkan masyarakat memang bisa mendatangkan rasa puas dan rasa memiliki. Namun peran tersebut juga dapat membatasi pilihan perempuan, serta membuatnya merasa rendah diri terhadap laki-laki. Ketika hal itu sampai terjadi, yang merugi tidak hanya perempuan itu sendiri, tetapi juga keluarga serta masyarakatnya (Burns dkk., 1997). Berikut ini adalah peran gender yang merugikan perempuan.
A.     Perempuan diharapkan masyarakat menjadi istri atau ibu. Banyak perempuan menyukai peran ini karena dapat memuaskannya serta memberinya status di masyarakat. Ada juga yang sebenarnya lebih memilih mengikuti minat mereka sendiri, tetapi sering terhalang oleh keluarga dan masyarakat. Saat ia diharapkan untuk memiliki banyak anak, seorang perempuan mungkin tidak punya waktu untuk mempelajari keterampilan baru atau menumpuh pendidikan. Sebagian besar waktu dan energinya akan terbuang hanya untuk mengurusi kebutuhan orang lain. Sementara saat ia tidak mampu memiliki keturunan, masyarakat akan menilainya rendah.
B.     Pekerjaan laki-laki sering dianggap lebih berarti dibandingkan pekerjaan perempuan. Sebagai contoh, walaupun seorang perempuan mungkin bekerja sepanjang hari-memasak, membersihkan rumah dan merawat anak- tetapi karena pekerjaan suami dianggap lebih penting, dia akan mengutakan saat istirahat suami dan bukan dirinya. Sehingga ketika sang anak tumbuh besar mereka akan berpikir bahwa pekerjaan laki-laki lebih penting sedangkan pekerjaan perempuan tidak penting.
C.     Perempuan dianggap lebih emosional dibandingkan laki-laki dan mereka bebas mengekspresikan perasaannya di hadapan orang lain. Sementara laki-laki selalu diajarkan bahwa menunjukkan kesedihan dan kelembutan sebagai tindakan “tidak jantan” sehingga membaut mereka cenderung menyembunyikan perasaannya. Justru jika laki-laki mengekspresikan perasaan dalm bentuk kemarahan atau kekerasan, lebih bisa diterima. Kesulitannya adalah bentuk kemarahan atau kekerasan, lebih bisa diterima. Kesulitannya adalah saat seorang laki-laki menunjukkan perasaannya seperti hal tersebut, justru hanya akan menciptakan jarak terhadap anaknya dan ia sulit mendapatkan dukungan dari orang lain saat menghadapi masalah.

D.     Perempuan dilarang berbicara dalam pertemuan di masyarakat. Artinya masyarakat hanya mendengarkan apa yang dipikirkan laki-laki tentang suatu permasalahan dan pemecahannya. Padahal banyak perempuan yang juga memiliki pengetahuan dan pengalaman tetapi tidak dilibatkan dalam urun rembuk, akibatnya masyarakat yang merugi.