Senin, 03 Februari 2014

Tentang Anatomi Permukaan, Fisiologi dan Anatomi/ On Surface Anatomy, Physiology and Anatomy

Tentang Anatomi Permukaan, Fisiologi dan Anatomi
(Sumber/ Source: Pearce, Evelyn C.2008.Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.)
(Rewritten by Dimas Erda Widyamarta: www.ithinkeducation.blogspot.com)

Anatomi permukaan berarti pelajaran anatomi dalam keadaan hidup. Mereka mempelajari anatomi mempunyai sebuah sumber pengetahuan yang langsung dapat digunakan yaitu tubuhnya sendiri. Ini harus sering digunakan untuk membuktikan hal yang dipelajari dari buku dan dari contoh. Dengan pengetahuan yang diperoleh dengan demikian  maka pengamatan dan pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter dapat diikuti dengan seksama. Dengan cara palpasi, perkusi, dan auskultasi dokter mempelajari keadaan pasien guna mencari data untuk menentukan diagnosa.
Berbagai bagian dari tulang yang menonjol dan dapat diraba melalui kulit dapat digunakan sebagai pedoman. Dan letak dari berbagai organ dan alat dalam dapat dilukiskan dalam hubungannya dengan tulang itu. Aspek permukaan tubuh dan anggota badan yang diperlihatkan yang merupakan petunjuk untuk mengetahui letak dari bahu dan panggul, perkembangan otto dan eltak beberapa toniolan tulang yang mungkin merupakan tempat terjadinya rasa ngilu bagi mereka yang harus lama berbaring di tempat tidur.
A.     Anatomi permukaan kepala. Sebuah garis yang ditarik dari protuberansia oksipitalis externa ke depan melalui puncak tengkorak ke titik tengah basis hidung menunjukkan jurusna fissura longitudinal yang memisahkan belahan otak sebelah kiri dan kanan dan juga kedudukan sinus sagitalis  superior dalam dura mater. Cara untuk menemukan sulkus sentralis atau fisura rolandi ialah dengan menentukan titik tengah antara protuberans oksipital externa dan basis hidung. Sebuah garis yan mengiris melintang satu sentimeter di belakang ittik tengah tadi dan berjalan ke arah telinga menunjuk arah sulkus sentralis itu.
Prosesus masteoid dapat  diraba di belakang telinga.
Kelenjar partoid terjenpit antara prosesus mastoid dan ramus madibula (rahang bawah), tetapi menutupi masseter (otot kunyah) dibawah arkus zigomatikus. Salurannya berjalan ke depan menembus otot pipi (buksinator), akhirnya memasuki mulut di tentang geraham (molare) atas kedua. Arteri fasialis berjalan di atas badan mandibula, anterior daripada angulusnya. Arteri temporalis menyilang prosesus zigomatikus tulang pelipis di depan telinga.

B.     Batang Leher
Leher terbagi atas dua bagian utama yang berbentuk segitiga, yaitu anterior dan posterior, oleh otot sternomastoid yang berjalan menyerong dari prosesus mastoid tulang pelipis ke sebelah depan klavikula dan dapat diraba di sepanjang tulang itu. Klavikula terletak pada dasar leher dan memisahkan dari torax.
Segitiga posterior leher di sebelah depan dibatas oleh otot sternomastoid dan di belakang oleh tepi anterior otot trapezius. Bagian ini berisi sebagian dari plexius brakhialis. Serangkaian kelenjar limfe yang terletak posterior dari sternomastoid dan urat saraf dan pembuluh darah. Di atas segitiga ini terletak iga pertama, dan di atas iga ini berjalan arteri sub klavia. Di tempat inilah penekanan arteri sub klavia dengan jari dapat dilakukan.
Segitiga anterior dari batang leher terbagi dalam beberapa segitiga lagi. Dua darinya yaitu segitiga karotis yang dinamai demikian karena memuat arteri karotis beserta cabang yatu karotis interna dan externa. Juga vena jugularis interna, dan beberapa vena, arteri dan saraf lainnya terdapat di sini.
Segitiga digastrik terletak di bawah rahang. Di sini terdapat beberapa bagian dari kelenjar submandibuler dan kelenjar parotis, cabang saraf fasialis dan arteri fasialis dan struktur lainnya yang terletak lebih dalam, termasuk beberapa pembuluh karotis. Batang leher dari depan. Manubrium sterni merupakan patokan penting, sebab di belakangnya terletak sebagian dari arkus aorta dan vena innominata (tak bernama).
Trakhea dimulai langsung di bawah tulang rawan krikoid dan berjalan masuk ke rongga torax dan berakhir untuk bercabang menjadi bronkhus kanan dan kiri pada setinggi sudut sternal (sudut Louis).
Usofagus juga mulai pada tepi bawah tulang rawan krikoid dan berjalan ke bawah di belakang trakhea.
Kelenjar timus terletak di belakang manubrium dan bagian atas badan sternum pada anak dan adakalanya dapat meluas ke atas sampai batang leher.

C.     Batang Tubuh
Banyak organ telah diuraikan dalam hubungannya dengan anatomi permukaan dan untuk keterangan mengenai kedudukan organ itu.
Dalam perbandingan dengan tulang belakang maka puncak sternum terletak berhadapan  dengan sambungan antara ruas kedua dan ketiga vertebrata torakalis. Sudut Louis ad di antar ruas ke empat dan kelima dan sendi antara batang sternum dan prosesus xifoideus  terletak kira pada ketinggian diskus ruas kesembilan dan kesepuluh vertebra torakalis.
Pandangna depan batang tubuh. Sudut sternum atau sudut Louis dapat diraba dari luar. Terletak pada ketinggian persambungan iga kedua dengan sternum. Pada ujung lain dari sternum terdapat sudut infrasternal atau xifoid, di maan tampak atau teraba sebuah lekukan dangkal. Dengan menggeserkan jari dari sudut ini melalui tepi bawah tulang iga ke samping akan teraba iga ketujuh, delapan, sembilan, dan sepuluh yang dibentuk oleh tulang rawan. Pada orang kurus batas ini dapat dilihat.
Debaran apex jantung dapat diraba, malah kadang yang dapat dilihat, pada ruang interkostal (antaiga) kelima kiri 9 cm dari garis tengah.
Untuk memudahkan maka abdomen di bagi oleh empat bidang atau garis imaginar, dua vertikal dan dua horizontal, menjadi sembilan daerah. Maka dengan demikian organ di dalam dapat dijelaskan letaknya. Apakah organ itu terletak dalam satu baian atau menempati beberapa bagian dari satu atau lebih daerah.
Hepar, misalnya menempati bebeapa bagian dari hipokhondria dan epigastrik kanan, membentang ke samping sampai hipokondria kiri dan menempati juga sebagian dari daerah lumbal kanan.
Apex paru menjulang di atas klavikula (tulang selangka), di mana nampak kedudukan paru dan pleura dalam perbandingannya terhadap jantung dan dinding dada.
Ruangan di sebelah belakang yang ditempati paru. Batas bawah pleura dengna garis terputus. Limpa ada di sebelah kanan di bawah iga kesembilan, sepuluh dan sebelas. Ginjal kiri ada di antara ruas vertebra torakalis kesebelas samping ruas pinggang (vertebrata lumbalis) ketiga. Ginjal kanan sedikit lebih rendah karena kutub atasnya tertumbuk pada hepar.

D.     Abdomen
Linea alba membentuk lekukan yang berjalan melalui garis tengah abdomen dari tulang rawan xifoid ke simfisis publis. Pada kiri kanan garis ini dapat diraba otot rektus abdominis. Kita dapat menyuruh otot ini berkontraksi dengan jalan berebahan telentang dengan lengan di samping dan mengangkat bahu dan kedua tungkai bawah ke atas. Dengan satu tangna mudah diraba kontraksi otot itu. Umbilikus atau pusar berada dalam ketinggian cakram antara ruas vertebra lumbalis ketiga dan keempat.
Spina iliaka superior anterior dapat diraba dengan jelas. Danakalu kita menarik garis dari umbilikus ke spina iliaka superior di sebelah akann dan membagi garis ini menjadi tiga maka titik batas antara sepertiga luar dan sepertiga tengah, yaitu titik Mc Burney merupakan tempat yang terasa paling nyeri pada peradangan usus buntu.
Lambung terletak di sebelah atas kiri abdomen, sebagian terlindung di belakang iga sebelah bawah beserta tulang rawannya. Orifisium kardia terletak di belakang tulang rawan iga ketuju kiri. Fundus lambung mencapai ketinggian ruang interkostal (antariga) kelima kiri.
Kedudukan hati, pangkreas (kelenjar ludah perut), duodenum (usus duabelas jari), kandung empedu dan beberapa bagian dari kolon (usus besar). Kandung empedu sedikit melampaui tepi iga pada ketinggian tulang rawan iga kesembilan kanan. Pangkreas ada di bagain belakang rongga abdomen, berhadapan dengan vertebra lumbalis pertama. Aorta atau batang nadi terbagi dalam arteri iliaka komunis di depan vertebra lumbalis keempat. Sekum di sebelah anan dan permulaan fari flexura sigmoid dari kolon di sebelah kiri: yang pertama di sebelah kanan fosa iliaka yang kedua di sebelah kirinya.

E.      Pandangan posterior batang tubuh
Dari belakang spinae vertebrae (taju duri tulang belakang) dapat diraba. Taju dari vertebra servikalis (ruas tulang belakang bagian  leher) ketujuh lebih menonjol; taju ini dan sudut bawah skapula (tulang belikat) dpat diraba dan terlihat pada orang kurus. Letak skapula dalm perbandingannya dengan kolumna vertebralis berada pada ketinggian tulang punggung kedua sampai ketujuh.

Kedudukan spina iliaka superior posterior diketahui dengan adanya lekukan. Seluruh panjang krista dari tulang ileum dapat diraba dan titik tertingginya terletak pada satu ketinggian dan abtas vertebra lumbalis ketiga dan keempat. Dengan menandai garis ini dengan pensil kulit maka tergambar batas temapt yang aman untuk punksi lumbal. Sumsum tulang belakang berakhir pada ketinggian vertebra lumbalis kedua.