Selasa, 11 Maret 2014

Abashiri Prison Museum (Abashiri City Hall), Pulau Hokkaido, Jepang (Era Meiji, Kaisar Matsuhito)/ Abashiri Prison Museum (Abashiri City Hall), Hokkaido Island, Japan (the Meiji Era, Emperor Matsuhito)

Abashiri Prison Museum (Abashiri City Hall), Pulau Hokaido, Jepang (Era Meiji, Kaisar Matsuhito)
(Sumber/ source: Gutomo, Tomy C.2014.”Mengunjungi Abashirhi Prison Musium, Penjara Paling Ketat di Era Meiji”. Dalam Jawa Pos, tanggal 24 Februari 2014.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta, www.ithinkeducation.blogspot.com)
            Penjara Abashiri di bagian utara Pulau Hokaido, Jepang, kini menjadi museum yang banyak dikunjungi wisatawan. Bagaimana kondisinya? Berikut laporan wartawan Jawa Pos Tomy C. Gustomo yang mengunjungi museum tersebut.
            Kaisar Meiji atau Matsuhito berhasil mengantarkan Jepang menjadi negara yang disegani. Restorasi Meiji membuat Jepang bangkit dari ketertinggalan. Salah  satu peninggalan pemerintahan era Meiji di Hokkaido adalah bangunan penjara yang besar dan megah di Abashiri. Karena sistem keamanannya yang sangat ketat, hampir tidak ada tahanan yang bisa lolos dari penjara tersebut. kalaupun bisa melarikan diri, mereka akan mati kedinginan atau dimakan binatang buas. Sebab, penjara tersebut dikelilingi hutan dan berada di dataran tinggi.
            Penjara Abashiri dibangun pada 1890 denga nama Abashiri City Hall. Awalnya bangunan itu dibaut untuk mencegah Hokaido diambil oleh Rusia. Para tahanan dikirim untuk membuat jalan sepanjang lebih dari 200 km sebagai bukti pengembangan Jepang di Hokkadio. Pembangunan jalan itu memakan korban jiwa 100 orang lebih, baik dari tahanan maupun sipir. Penyebabnya adalah kedinginan.
            Nama City Hall diiganti menjadi Abashiri Prison pada 1930 dan difungsikan hingga 1983. Bangunan serba kayu itu kemudian dipiindahkan ke lokasi museum sekarang. “Di lokasi asli yang berjarak beberapa kiometer dari museum sudah dibangun penjara baru yang modern dan manusiawi,” ujar Takada Koji, petugas Abashiri Prison Museum.
            Waktu yang paling tepat untuk mengunjungi museum penjara Abashiri adalah saat musim salju. Dengan suhu mencapai minus delapan derajat Celsius, kita bisa merasakan betapa menderitanya penghuni penjara itu di masa lalu. Tak heran ratusan tahanan mati karena kedinginan dan kurang gizi. Setiap tahun tidak kurang dari 350 ribu wisatawan mengunjungi tempat wisata itu.
            Sebelum masuk ke kompleks penjara Abashiri, pengunjung harus melewati jembatan kayu yang membelah sungai Abashiri. Jembatan sepanjang 50 meter itu dulu merupakan satu-satunya akses untuk masuk atau keluar dari penjara. Tiket masuk museum dibanderol 1050 yen atau Rp 126 ribu (1 yn=Rp 120).
            Museum penjara itu sangat luas, mencapai 17 hektare dengan 38 bangunan di dalamnya. Setelah melewati pintu gerbang, masuk government building. Gedung tersebut dibangun pada 1912, yang di era Meiji desain dan fiturnya menggambungkan arsitektur Timur dan Barat. Di gedung tersebut setiap pengunjung mendapat wwelcome dring berupa amasake. Rasanya mirip air tape. “Ini soft sake, tidak mengadung alkohol,” kata Koji.
            Ada beberapa bagian yang merupakan bangunan asli penjara Abashiri yang dipindah ke museum tersebut. yakni, preaching place, radial five wings prison house (rumah tahanan lima sayap), gedung pertanian Futamigaoka, government bulding, sel hukuman bagi tahanan bermasalah (punishment brick chamber), pitnu samping (side gate), pondok penjaga (keepers lodge), dan kuil danau Futamigaoka. Yang mendjadi andalan di museum tersebut adalah rumah tahanan lima sayap. Bangunan berbahan kayu itu sangat khas karena memiliki lima koridor dengan total 600 sel. Desain gedung seluas 3333,72 meter persegi itu dibuat sanggat efisien. Satu pos penjaga bisa mengamati seluruh koridor. “Pemerintahan Meiji mengklaim ini merupakan gedung penjara paling modern di zaman itu. Bangunannya diadposi dari penjara Leuven, Belgia,” kata Koji. Setiap segi luasnya hanya 2x2,5 meter. Setiap sel sebenarnya didesain untuk dihuni seorang tahanan. Namun, pada kenyataaan penjara itu terisi sampai seribu tahanan.
            Di salah satu koridor terdapat patung tahanan yang sedang merangkak di plafon gedung itu adalah patung Yoshhie Shiratori, tahanan yang menghuni sel 24 di koridor 4. Shiratori dijuluki sebagai prison break magician of the showa era. Dia kali pertama ditahan di Aomori karena kasus pembunuhan pada 1936. Dia berhasil kabur menggunakan kabel untuk membuka kunci. Shiratori kemudian tertangkap dan dijebloskan di pejara Akita pada 142. Di situ dia juga berhasil kabur. Pada 1943, Shiratori tertangkap lagi dan dibawa ke Hokaido untuk dijebloskan ke Abashiri Prison yang terkenal sebagai penjara paling ketat di Jepang. Namun, dia juga berhasil kabur dari penjara Abashiri pada 144 saat musim panas. Setiap hari Shiratori menumpahkan miso soup jatah makanannya ke borgol dan gembok sel. Setelah satu tahun empat bulan, rantai borgolnya aus dan bisa terlepas. Begitu juga gembok di pintu selnya. Dengan mudah dia naik ke atap dan melarikan diri. Dua tahun kemudian, Shiratori dikabarkan meninggal di penjara Sapporo. Namun, ada juga kabar yang menyebutkan bahwa dia melarikan diri dari penjara tersebut. “Kisa Shiratori ini dituangkan dalam novel berjudul “Hagoku” pada 1983 oleh Akira Yoshimura. Dari novel itu dibuat film TV di NHK pada 1985,” ujar Koji. Penjara Abashiri sendiri pernah difilmkan pada 1965 dengan judul A Man From Abashiri Prison. Film tersebut disutradai Teruo Ishii dan dibintangi Ken Takakura.
            Bagian lain yang menarik dari penjara Abashiri adalah tempat mandi (bathhouse) para tahanan. Di salah satu bangunan terdapat kolam bangunan terdapat kolam mandi yang bisa diisi hingga 30 tahanan. Karena tahanan di penjara Abashiri mencapai seribu orang, dibuat sistem bergirili yang sangat ketat. Setiap tahanan hanya diberi waktu mandi 15 menit. “Jatah mandinya juga hanya dua atau tiga kali sebuan,” ujar Toshihiro Kamba, pemandu dari Japang Guide Association. Tahanan hampir habis masa hukumannya dan berkelakuan baik, diberi kesempatan bekerja di kebun atau di lingkungan penjara. Mereka tidak harus seharian berada di sel. Namun, yang melanggar aturan ditempatkan di sel khusus di luar gedung. Bisa dibayangkan di musim saljo mereka akan kedigninan di sel hukuman tersebut.
            Tidak lengkap rasanya ke penjara Abashiri tanpa mencicipi makanan para tahanan. Pengunjung bisa menikmati makanan siang di gedung pertanian Futamigaoka. Ada dua men yang disediakan, masing-masing seharga 800 yen dan 700 yen. Lauknya berupa ikan, miso soup, dan sayuran. Kalau yang 800 yen, ada tambahan mi. Di museum tersebut juga ditampilkan iniatur penjara Abashiri baru alias yan sekarang masih digunakan. Kondisi selnya jauh lebih manusiawi. Di dalamnya tersebut terdapat kasur, televisi, penghangat ruangan, wastafel, kamar mandi dalam, rak buku, selimut dan baju tidur. Alasannya berupa tatami tikar tradisional Jepang yang dibuat dari jerami yang ditenun. “Ini kondisi penjara Abashiri saat ini, sudah sangat modern dan nyaman bagi para tahanan,” kata Toshi, sapaan Toshihiri Kamba, sambil menunjukkan contoh ruangan tahanan.

            Selain museum penjara, di Abashiri terdapat museum lain yang tak kalah menarik. Yakni, Okhotsk Ryu Hyo Museum atau Drift Ice Museum. Ini adalah museum es yang cukup terkenal di Abashiri. Setiap tahun museum ini dikunjungi 120 ribu wisatawan. Sebenarnya paling enak mengunjungi museum tersebut saat summer. Sebab, saat musim saljo, rasanya akan sama saja, di luar atau di dalam. Dengan membayar 520 yen atau Rp62400, pengunjung bisa menikmati koleksi ikan dan hewan yang muncul di musim salju. Di museum tersebut ada satu ruangan es yang suhunya minus 18 derajat Celsius. Setiap pengunjung yang masuk ruang itu dibekali sapu tangan basah. Saat di dalamnya sapu tangan itu harus dikibaskan di udara. Hasilnya, sapu tangan itu kaku alias beku. Dari puncak gedung museum, kita bisa menyaksikan danau Abashiri dan Sakura Park yang sangat indah. Ketika musim salju seperti sekarang, danau itu tertutup es. Begitu juga taman Sakura yang hanya terlihat putih.