Selasa, 11 Maret 2014

Aksara Korea (Hangeul) terdapat di suku Cia-Cia, Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, Indonesia/ Korean alphabet (Hangeul) contained in the Cia-Cia tribe, Bau-Bau, Southeast Sulawesi, Indonesia

Aksara Korea (Hangeul) terdapat di suku Cia-Cia, Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, Indonesia
(Sumber/ source: A, Sekaring Ratria.2013.”Bahasa Ibu Mulai Punah, Aksara Hangeul Jadi Pengganti”. Dalam Jawa Pos, tanggal 23 Oktober 2013.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta, www.ithinkeducation.blogspot.com)
            Demam Korea Pop (K Pop) tidak hanya menjangkiti anak muda di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya. Budaya dari daratan Korea Selatan juga itu melanda kota kecil bernama Bau-Bau di Kepulauan Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra). Bedanya, bukan hanya K-Pop yang digandrungi, tapi aksara Korea, Hangeul, yangditerapkan dalam bahasa asli suku Cia-cia di Bau-bau. Mayoritas suku Cia-Cia berada di kota Bau-bau bermuking di kecamatan Sorawalio. Kecamtan itu berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan darat dari pusat kota. Jalnnya cukup menantang: naik turun gunung dan bergelombang. Kecamatan Sorawolio dikelilingi hutan dan lembah. Rumah penduduk berdampingan dengan lahan pertanian. Meski belum banyak tersentuh modernisasi, nama jalan, nama sekolah, atau instansi pemerintahan lainnya ditulis dengan dua aksa.a yakni, latin dan Hangeul. Misalnya, Sekolah Dasar Negeri Karya Baru dan SMA Negeri 6 Bau-Bau. Bagaimana mungkin kota terpencil di Sultra itu bisa welcome terhadap salah satu budaya dari Negeri Gingseng tersebut? bahkan, aksara Korea sampai dimanfaatkan untuk menuliskan bahasa suku Cia-Cia di Bau-bau.
            Itu semua, rupanya, bermula dari hubungan kerjasama Pemerintah Kota Bau-Bau dan kota Seoul, ibu kota Korea Selatan. Dua kota tersbut menyepakati nota kesepahaman yang menjadikan mereka sister city (kota kembar). Menurut Abidin, salah seorang perintis aksara Korea di Sorawolio, pada 2005 wali kota Bau-bau (kala itu) Amirul Tamim bertemu Prof Chun Thai Yun dalam Simposium Penaskahan Budaya Internasional.  Kepada Chun Thai, Amrirul bercerita bahwa suku Cia-cia di Bau-Bau terancam kehilangan bahasa ibu mereka. Mereka juga tidak memiliki aksara untuk menuliskan bahasa pergaulan masyarakat itu. “Mendengar soal bahasa Cia-Cia tersebut, Prof Chun Thai Yun tertarik untuk mempelajarinya,” paparnya guru bahasa Inggris di SMA Negeri 6 Bau-Bau tersebut, selasa 22 Oktober. Ancaman kepunahan bahasa Cia-cia tersebut, kemudian diceritakan guru besar di Hankuk University for Foreign Studies tersebut kepada kawan akademisinya di Korea Selatan. Antara lain, seorang ahli fonetik di Seoul National University Prof Lee Ho Young. Singkat cerita, setelah itu, Desember 2008, Prof Chun Thai Yun mulai melakukan penelitian soal kebahasaan tersebut di Kecamatan Sorawolio.
            Berkat bantuan Prof Chun Thai Yun, sebuah yayasan nonprofit di Korsel, Hunmingjongeum Institute, bersedia memberikan beasiswa pendidikan bahasa Koreaselama enam bulan kepada guru sekolah di Bau-Bau. Wali kota Amirul pun diminta mengirimkan dua guru asli Cia-cia untuk belajar bahasa di Seoul National University (SNU). “Yang dipilih adalah guru bahasa Inggris saya dan seorang teman dari SMA Negeri 1,” ujar Abidin. Pada 1 Desember 2008, Abidin dan kawannya sudah berada di Seoul. Bahkan mereka langsung belajar di SNU. Kebetulan pun sangat tersiksa dengan kondisi cuaca yang amat dingin itu, mereka juga bermasalah dengna makanan Korea. “ Kami heran dengan musim dingin di sana. Makanannya tidak ada yang cocok dengan perut kami. Serbasusah penyesuaiannya pada awalnya,” kenang guru 38 tahun itu. Kesulitan beradaptasi tersebut ternyata agak lama. Bahkan, kawan Abidin akhirnya tumbang. Dia tidak kuat dengan cuaca dingin yang menusuk tulang. Bahkan, dia tidak bisa makan hingga badannya kurus kering. “Badannya sampai kurus sekali. Melihat kondisinya, saya jadi khawatir. Dia bilang kalau terus di korea, dia bisa game (over)”, kata Abidin. Kawan Abidn itu akhirnya hanya bisa bertahan selama 45 hari. Jadilah Abidin sendirian di Korea. “Kalau dibilang ingin pulang, ya memang ingin. Tapi, saya kasihan kepada Pak Wali Kota karena beliau yang merintis program itu. Saya tidak ingin membuat malu wali kota,” papar ayah tiga anak tersebut.
            Abidin pun meneruskan pendidiikan bahasa Koreanya dengan segala upaya. Meski dingin, dia makin giat dan antusias. Selain Prof Chun Thayi Yun, guru besar Prof Lee Ho Young dari SNU tampak sangattertarik terhadap upaya pelestarian bahasa Cia-cia. Jadilah Abidin sebagai seorang objek penelitian Lee Ho Young. Setiap dua minggu dia diminta mengucapkan ribuan kata dalam bahasa Cia-cia, lalu direkam. Abidin juga membantu menerjemahkan ribuan kata bahasa Cia-cia dalam bahasa Inggris. “Akhirnya, dia beri kesimpulan bahasa Cia-cia bisa menggunakan aksara Hangeul. Saya pun senang sekali kalau bahasa Cia-cia akan terdokumentasikan dan bisa dilestarikan dengan aksara Hangeul,” katanya.
            Namun Aidin sadar, aksara Hangeul tidak bisa sepenuhnya diadopsi untuk bahasa Cia-cia. Karena itu, dia melakukan sejumlah penyesuaian. Dia menguraikan, aksara Hangeul memiliki 40 karakter yang terdiri atas 19 konsonan dan 21 vokal. Sementara itu, yang dinilai sesuai dengan bahasa Cia-Cia hanya 27 karakter. “Jadi kami tidak mengadopsi, tapi mengadaptasi. Sebab, tidak bisa persis sama,” jelas Abidin.
            Guna memudahkan pelajaran aksara Hangeul untuk bahasa Cia-cia, Abidin bersama Lee Ho Young (kawan Prof Chun Thai Yun) dan diantu seorang asisten, Ho Young, membikin buku pelajaran bahasa Cia-cia dengan aksara Korea tersebut. karnea itu, begitu kembali ke Indonesia pada 2009, Abidin langsung mengajar.

            Di SMA Negeri 6 Bau-bau, Abidin mulai mengajarkan bahasa Korea kepada para siswa. Sementara itu, untuk pengajaran aksara Hangeul, dia menularkannya kepada para siswa di SD Negeri Karya Baru ternyata, setelah diperkenalkan, para pelajar, khususnya siswa SD Negeri Karya Baru, mudah menyerap pelajaran tersebut. hanya dalam 2-3 petemuan mereka sudah bisa membaca dan menulis bahasa Cia-cia dengan aksara Hangeul. “Mungkin karena sehari-hari mereka terbiasa bahasa Cia-cia di rumah. Jadi, ada kemudahan buat anak untuk proses transfaer huruf Hangeulnya,” ujar Abidin. Setahun kemudian permintaan dari berbagai sekolah berdatangan. Yakni, dari SD negeri Bugi 2 dan SD Negeri Bugi 2 untuk diajari huruf Hangeul. Hal tersebut didukung penuh komunitas Cia-cia yang berkumin di Kecamatan Sorawalio. Namun, Abidin mulai kewalahan dirinya juga memiliki jadwal mengajar full di SMA Negeri 6 Bau-bau. Karena itu, dia pun menggelar pelatihan penulisan aksara Hangeul untuk bahasa Cia-cia bagi beberapa guru SD dan SMP. “Saya mengajar mereka satu minggu dua kali pertemuan. Saya minta mereka membatu saya mengajar di sekolah-sekolah,” ujarnya.